Usai Pernikahan

Usai Pernikahan
Penuh dengan pikiran


__ADS_3

Sedangkan Liyan tengah menunggu dua mangkok bakso untuk dibawa pulang. Setelah Aditya mengambil motornya, segera menghambat Liyan.


Kemudian, keduanya melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Jarak yang tidak jauh dengan rumah, akhirnya sampai juga.


Saat hendak masuk kedalam rumah, Savan putranya sudah menghadang di ambang pintu.


Liyan langsung menggendong putra kesayangannya.


"Savan anaknya Bunda, kesayangannya Bunda. Maaf ya, sayang, Bunda pulangnya telat. Soalnya tadi motornya Paman Aditya bocor, jadi pergi ke bengkel dulu."


"Tara ... Paman beliin bakso buat Savan sama Nenek. Nih, bawa ke dalam, makan bareng Nenek, ya." Ucap Aditya ikut nimbrung.


Liyan segera menurunkan Savan dari gendongannya.


"Hore ... Savan dibeliin bakso lagi. Terima kasih, Paman." Kata Savan dengan riang.


Setelah itu, Savan masuk kedalam rumah bersama ibunya. Aditya hanya memandanginya.

__ADS_1


'Andai saja aku diizinkan untuk menikahi kamu, betapa bahagianya aku mempunyai kalian, Savan dan Liyan.' Batin Aditya ditengah lamunannya.


"Hayo loh, lagi mikirin Liyan, ya. Sabar dulu aja. Mungkin kamu akan mendapatkan jawaban setelah Liyan dan ayah biologis Savan dipertemukan, mungkin kamu baru mendapatkan jawaban yang sebenarnya." Ucap Yena ikut berkomentar.


"Entah lah, aku harus menunggunya sampai kapan lagi. Sudah bertahun-tahun masih saja sama. Mungkin karena Liyan takut akan melukai perasaan putranya, makanya dia memilih untuk mengutamakan perasaan anaknya dari pada perasaan dia sendiri." Jawab Aditya.


"Aku dapat mengerti posisinya Liyan, pasti sangat sulit. Apa lagi ada seorang anak, pastinya lebih mengutamakan anaknya dari pada kepentingannya sendiri." Ucap Yena yang juga sependapat dengan ucapannya Aditya.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku mau mandi sekaligus mau istirahat." Jawab Aditya yang memilih untuk segera ke kamarnya, yakni untuk istirahat agar badan dan pikirannya jauh lebih baik lagi.


Saat sudah berada di dalam kamar, Aditya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun, tiba-tiba ia teringat dengan sesuatu, sesekali dirinya menyibukkan dengan laptopnya.


"Haruskah aku menemuinya? tidak tidak tidak, aku tidak mau melakukannya. Aku lebih menyukai suasana yang seperti ini. Juga, belum saatnya aku membuka identitas ku." Gumamnya.


Badan yang sudah terasa capek dan juga tidak nyaman karena bercampur keringat, Aditya memilih untuk segera mandi. Kemudian, beristirahat dengan tenang. Sedangkan Liyan tengah menemani putranya yang sedang makan bakso bersama Ibu Arum.


"Nak Liyan, kamu beneran udah makan?" tanya Ibu Arum saat menikmati baksonya.

__ADS_1


"Sudah tadi, Bu. Liyan, Yena, juga Aditya udah makan di warung bakso. Soalnya mau dibawa pulang, tapi nunggu motornya di tambal. Jadi sekalian nunggu sekalian makan bakso, Bu." Jawab Liyan yang tengah menyuapi putranya.


"Ya udah kalau kamu mau mandi, biar Savan sama Ibu. Ini udah sore loh, bentar lagi malam, mandi dulu sana. Ibu mah sudah terbiasa makan bareng sama Savan, kamu tidak perlu sungkan. Ibu sudah menganggap kamu anaknya ibu sendiri, kamu, juga Aditya, juga Yena." Ucap Ibu Arum.


"Makasih banyak ya, Bu. Dari awal Ibu udah banyak perhatian kepada Liyan, juga dengan Savan. Liyan akan giat kerjanya, agar bisa nyari pengganti untuk menjaga Savan. Ibu sudah tua, pasti mudah lelah. Liyan gak mau Ibu kecapean, dan apa lagi sakit, Liyan gak mau, Bu."


"Kamu ini gimana sih. Justru itu, adanya Savan, membuat Ibu tidak jadi malas-malasan. Banyak gerak sangat bagus, dari pada harus diam tanpa aktivitas. Asalkan Ibu masih mampu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sudah sana mandi, gak baik mandi malam-malam." Ucap Ibu Arum.


Liyan mengangguk dan mengiyakan. Setelah itu, Liyan segera masuk ke kamar dan membersihkan diri.


Sedangkan Ibu Arum tengah menyuapi Savan dengan penuh kasih sayang. Benar-benar sangat beruntung buat Liyan dan Savan.


Bukannya langsung mandi, justru Liyan teringat dengan Vando, lelaki yang statusnya ayah biologis Savan.


"Sudah beberapa tahun lamanya, tidak juga bertemu dengan Mama dan juga Papa, juga kak Zivan, juga Vando. Begitu sibuk kah mereka semua? sampai-sampai tidak ingin bertemu denganku dan Savan?" gumamnya dengan perasaan sedihnya.


Kemana harus berharap, Liyan tidak mampu bertindak. Sungguh hancur perasaannya. Entah dengan siapa harus menyampaikan kabar kepada Vando bahwa dirinya telah memiliki seorang putra.

__ADS_1


Ayahnya? tidak mungkin sang ayah memberi kabar kepada Vando, pikirnya. Tidak ingin larut dalam kesedihan, Liyan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


__ADS_2