
Mengetahui tentang hal tersebut Yuki langsung menjadi murung, dia terlihat begitu lemas, terduduk di salah satu kursi yang ada di hadapan meja kebesaran sang manager Yopi, dan terus saja menghembuskan nafas dengan lesu.
"Hmm.. semuanya juga sudah begini, artinya apa aku sudah tidak bisa bekerja lagi di seluruh minimarket yang ada di sini?" Tanya Yuki kembali dengan wajahnya yang sudah begitu lemas dan lesu.
"Tidak, bukan hanya di sekitar sini saja tetapi di seluruh negara ini, bahkan di luar negeri sekalipun, kau tahu bukan tuan Devon ini bukan orang sembarangan, ayahnya pendiri toko minimarket terkenal yang memiliki cabang dimana-mana, dia juga tidak tinggal di negara ini, dia kemari hanya karena tengah melakukan ujian dari kedua orangtuanya, untuk menjadi penerus di perusahaan pusat nantinya, dia memiliki banyak cabang di seluruh wilayah dan menjadi orang yang paling berpengaruh dalam bisnis luar maupun dalam negeri, sementara dia sudah mengatakan bahwa kau tidak akan bisa di terima di seluruh tempat yang ada dibawah naungan dirinya. Jadi...." Ucap sang manager menjelaskan kembali.
Langsung saja Yuki menghentikan sang manager karena dia tidak mau mendengarnya lagi, sudah cukup baginya menerima semua kepahitan dalam hidupnya dan sekarang dia sudah mengerti dengan apa yang sudah di katakan oleh sang manager terhadap dirinya.
"Sudahlah manager, kau tidak perlu membeberkan semuanya dengan begitu jelas, aku sudah mengerti semuanya, aku memang bernasib buruk, aku pergi saja, mungkin selamanya aku akan menjadi pengangguran dan menjadi pengemis jalanan di usia muda." Balas Yuki sambil segera bangkit dengan kepala yang terus tertunduk, tidak ada sedikitpun semangat dalam dirinya saat itu.
Namun disaat Yuki hendak pergi dari sana dengan cepat sang manager kembali memanggilnya, dan menahan Yuki untuk pergi karena dia merasa tidak tega melihat wajah Yuki yang terus saja murung dan sangat ditekuk seperti itu.
"Eh ...Yuki tunggu!" Teriak sang manager memanggilnya lagi.
Yuki langsung berbalik dengan begitu lemas dan masih dengan wajahnya yang tertunduk sangat lesu, berjalan sangat pelan sambil terus saja menghembuskan nafas berat beberapa kali.
__ADS_1
"Huuhh... Ada apa lagi manager?" Tanya Yuki kepadanya.
"Aishh... Berhenti memasang wajah menyedihkan begitu, aku sangat sebal melihatnya, ayo cepat kemari, ayo cepat..." Ucap sang manager menyuruhnya segera mendekat.
"Eugh.... Ada apa lagi sih, aku sudah tidak ada semangat hidup manager Yopi, kau kan tahu kesempatan ku satu satunya sudah musnah, apa lagi yang mau kau lakukan sekarang, tidak mungkin kau mau memberikan aku pekerjaan kan?" Balas Yuki yang benar-benar sangat putus asa.
"Dasar kau anak konyol! Cepat kemari, kau jangan putus asa seperti itu dong, meskipun kau sudah tidak bisa bekerja dan aku tidak bisa memberikan pekerjaan padamu tapi aku punya sebuah ide bagus untukmu." Ucap sang manager yang langsung saja membuat Yuki membelalak matanya dan kembali terlihat lebih cerah dibandingkan sebelumnya.
"Oh ya? Apa itu?" Tanya Yuki yang seketika menjadi lebih ceria.
Tetapi Yuki sama sekali tidak tersinggung dengan ucapannya, karena mau apapun yang diucapkan oleh sang manager semua itu memang sesuai dengan kenyataannya, dia memang sangat suka uang dan selalu mengutamakan segalanya yang bersangkutan dengan uang juga pekerjaan.
"Eheh... Kau kan tahu aku harus bekerja keras sendiri untuk mendapatkan apapun yang aku inginkan, jadi wajar saja jika aku selalu mementingkan dan memprioritaskan uang juga pekerjaan, karena hanya pekerjaan yang bisa membuat aku menyambung hidup dan hanya dengan uang aku bisa terus mengisi perutku." Balas Yuki mengatakan kenyataan tentang dirinya sendiri.
Manager Yopi pun hanya bisa menggelengkan kepala menanggapi ucapan dari Yuki, dan dia segera saja memberitahukan ide yang dia miliki terhadap Yuki secepatnya.
__ADS_1
"Sudahlah, kau dengarkan ucapanku, ada satu kesempatan untukmu agar kau bisa tetap kembali mendapatkan pekerjaan di mini market ataupun di tempat lain yang lebih baik dalam naungan perusahaan ini." Ucap sang manager membuat Yuki mengerutkan kedua alisnya dengan kuat dan terus merasa kebingungan sendiri.
"Manager apa kau sakit atau otakmu terbalik? Kenapa kau bisa bilang begitu disaat kau sudah mengatakan bahwa namaku sudah di blacklist dari semua tempat yang berada dalam naungan keluarga tuan Devon." Balas Yuki yang sama sekali tidak mengerti dengan maksud yang akan di katakan oleh sang manager tersebut.
Hingga manager Yopi langsung saja menyuruh Yuki untuk diam terlebih dahulu, agar dia bisa segera menjelaskan semua maksud dari ucapannya dengan lebih jelas dan lebih banyak lagi.
"Aishh... Diamlah sebentar dan dengarkan aku dengan baik, kau ini seenaknya memotong ucapan orang saja, aku kan belum selesai bicara!" Bentak sang manager sambil menyentil jidat Yuki dengan jarinya cukup kuat.
Yuki meringis kesakitan sambil mengusap jidatnya yang mulai terlihat memerah akibat mendapatkan sentilan dari manager Yopi yang cukup kencang dan itu tidak hanya sekali.
"Aw... Iya iya aku akan mendengarkanmu, aahh sentilanmu kenapa harus sesakit ini sih." Balas Yuki langsung mendengarkannya dan menuruti sang manager.
"Begini, kau pergilah untuk menemui tuan muda Devon secara langsung, meminta maaflah kepadanya dan memohon dengan sungguh-sungguh di hadapannya, jika perlu kau juga boleh bersujud di kakinya agar dia mau memaafkan kau dan memberikan pekerjaan kembali kepadamu." Jelas sang manager membuat Yuki langsung saja kaget dan tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh mantan manager di tempat kerjanya tersebut.
"Astaga... Apa kau mau menghinaku atau bagaimana? Meski aku miskin dan begitu melarat seperti ini, aku tetap tidak akan menurunkan derajatku, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah merendahkan harga diriku kepada siapapun!" Balas Yuki dengan wajah yang begitu yakin dan dia terlihat sangat tegas saat mengatakannya.
__ADS_1