
Tuan Devon sedikit kaget dia tidak menduga jika ternyata wanita di hadapannya yang sangat menggilai uang dan nampak tidak terima disaat dia mengambil sedikit uang gajinya tadi untuk membeli makanan kini malah rela mau memberikan semua uangnya untuk dia potong, agar bisa melunasi semua hutangnya lebih cepat, dia nampak mengerutkan kedua alisnya, menatap sangat lekat ke arah Yuki karena masih belum bisa mempercayai hal itu sepenuhnya.
Tetapi di sisi lain Yuki sebenarnya tidak terima dengan benar-benar ikhlas, karena sebenarnya dia juga sudah tidak memiliki uang lagi selain dari selembar dua puluh ribu yang ada di saku celananya tersebut, tapi dia tetap harus melakukan hal itu untuk meyakinkan tuan Devon agar dia bisa mempercayai dirinya bahwa dia memang sungguh ingin mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang pernah dia perbuat sebelumnya.
Dengan tangan yang gemetar dia terus menyuruh tuan Devon untuk mengambil kartu atm-nya tersebut, tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia justru merasa sangat tidak terima dan berharap tuan Devon tidak akan mengambil semua uangnya, melainkan memberikan dia tambahan waktu lagi dan tidak memotong gajinya terlalu banyak karena dia juga ingin menikmati hasil dari kerja kerasnya selama ini.
Namun sayangnya semua itu benar-benar di luar ekspektasi dirinya karena tuan Devon justru malah mengambil ATM tersebut dari meja dan malah bicara dengan begitu santai untuk memotong semua gaji milik Yuki dalam setiap bulannya hingga hutang dia lunas sepenuhnya. "Eum.. baiklah kalau kau mau begitu, aku tidak akan menolaknya, mau sungguh tidak membutuhkan gaji sepuluh juta pertamamu kan?" Tanya tuan Devon untuk memastikan terakhir kalinya.
Dengan berat hati Yuki mulai mengangguk pelan dan dia menahan tangisan serta rasa sedih di dalam dirinya saat itu. "I..i..iya tuan aku tidak butuh uang itu, ambil saja, agar hutangku cepat lunas padamu." Balas gadis tersebut dengan gugup dan tangannya yang masih saja memegangi ATM tersebut dengan erat.
Mulut Yuki mungkin bisa berbohong tetapi ekspresi yang dia perlihatkan serta gerak gerik dan tangannya sungguh tidak bisa dibohongi begitu saja, wajahnya jelas terlihat sangat berat dan tangannya tidak terima jika dia harus memberikan uang senilai sepuluh juta itu kepada tuan Devon, padahal dia belum bisa merasakannya sedikit pun walaupun sudah di kurangi dia juta karena membeli makanan sebelumnya, tetapi sisanya masih tetap sangat banyak itu bisa untuk biaya hidupnya delapan bulan ke depan tanpa bekerja sekalipun, itulah kenapa Yuki begitu berat untuk melepaskan ATM tersebut dari tangannya.
Tuan Devon yang menyadari hal itu, dia justru malah semakin senang untuk mengerjai Yuki, terlebih Yuki sendiri yang sudah bicara seakan dia benar-benar tidak membutuhkan uang itu lagi, jadi tuan Devon tidak segan untuk mengambilnya.
Dia bahkan terus menarik ATM itu dengan sekuat tenaganya hingga berhasil dia rebut dari tangan Yuki saat itu. "Ya sudah berikan padaku kalau kau tidak membutuhkannya, sini!" Ucap tuan Devon terus merampas ATM itu dengan kasar.
Yuki menahan wajahnya yang hampir saja menangis karena melihat ATM miliknya sudah berpindah tangan kepada tuan Devon. "Ja..jadi bagaimana dengan hutangku, butuh berapa uang lagi untuk melunasinya?" Tanya Yuki dengan matanya yang terus saja tiada henti menatap ke arah ATM yang di pegangi oleh tuan Devon saat itu.
Tuan Devon semakin senang untung menggodanya dan dia pun terus saja mendekati Yuki sambil mengarahkan ATM di tangannya ke dekat wajah Yuki, sengaja tuan Devon melakukan hal itu untuk membuat Yuki kesal karena dia akan merasa sayang dan terus tidak terima dengan ATM dan uang di dalamnya yang harus dia relakan untuk membayar hutang terhadap dirinya.
"Hutangmu lima puluh juta dan kau sudah membayarnya sepuluh juta pertama, jadi di kurangi delapan juta saat ini sisa 32 juta lagi yang tersisa, dan masalah ganinrugi bukunya aku sudah mengikhlaskan itu." Balas tuan Devon menjumlahkan semuanya dan membuat Yuki merasa senang karena setidaknya kali ini hutang yang dia tanggung sudah mulai berkurang, dan dia bisa sedikit menghembuskan nafas dengan lega, bebannya mungkin akan terus berkurang setiap kali dia bisa melunasi hutangnya kepada tuan Devon.
"Aahh...32 juta masih sangat banyak untukku, masih perlu empat bulan lagi bekerja denganmu jika harus melunasi semuanya, itupun aku tidak akan mencicipi uang gajiku sedikitpun, benar-benar menyulitkan." Gerutu Yuki pelan dan mulai mengeluh, dia hanya bisa tertunduk dengan lesu tetapi walau bagaimanapun pun dia masih tetap merasa bersalah serta tidak lupa berterima kasih kepada tuan Devon karena sudah mau memaafkan kesalahan dia yang merusak buku miliknya itu.
"Tapi tidak papa, aku tetap berterima kasih denganmu tuan, terimakasih karena sudah mau memaafkan aku dan tidak menambah hutangku lagi." Balas Yuki kepadanya sambil membungkuk memberikan hormat kepadanya.
Tetapi baru saja Yuki berterima kepada tuan Devon dan dia mengira tuan Devon sudah sedikit berubah menjadi orang yang baik serta berperasaan, sayangnya selang beberapa detik saja tuan Devon sudah langsung kembali berubah.
__ADS_1
"Eits...tunggu, kau jangan senang dulu dan berterima kasih denganku seperti itu, begini aku memaafkanmu atas buku itu bukan berarti kau akan lepas tanggung jawab begitu saja, sebagai gantinya kau harus menyediakan sarapan untukku selama satu bulan penuh, dengan begitu kita akan adil, bagaimana? Ini kesempatan yang hebat bukan?" Balas tuan Devon yang membuat Yuki kembali terperangah kaget dibuatnya.
"APA? Jadi maksudmu, untuk membayar semuanya aku harus membuatkan sarapan setiap pagi selama satu bulan penuh untukmu, begitu?" Tanya Yuki meminta penjelasan sekali lagi kepadanya.
Tuan Devon segera menganggukkan kepala dengan tersenyum kecil dan penuh keyakinan, dia merasa senang karena setidaknya mulai saat ini dia tidak perlu memakan masakan pelayannya yang cukup membosankan bagi dia ataupun menikmati makanan dari restoran mewah yang rasanya tidak terlalu menarik untuk dia cicipi, sebab dia sudah terlalu sering merasakan dan ingin mencoba menikmati menu sarapan orang biasa seperti Yuki, kebetulan ada kejadian seperti ini dan dia muncul ide cemerlang untuk menikmati makanan yang juga di makan oleh orang biasa.
Berbeda dengan Yuki yang saat itu nampak sangat keberadaan dan dia jelas tidak setuju, dia merasa dengan dirinya menyiapkan sarapan untuk tuan Devon, itu lebih mirip dia sebagai pelayan pribadinya dan Yuki sangat benci jika ada karyawan lain yang meledeki dia atau mengatai dirinya sebagai pelayan apalagi babunya tuan Devon karena jabatan dia sebenarnya di kantor tersebut adalah sisten pribadinya, tetapi karena perintah dari tuan Devon begitu aneh dan di luar nalar semua, maka dari itu orang lain malah mengira bahwa aku dijadikan alat atau sebagai pelayan pribadi yang melayani tuan Devon setiap saat dan waktu, jadi saat mendengar tawaran itu dari tuan Devon secara langsung, Yuki menolaknya dengan tegas dan terus menyilangkan kedua tangannya.
"TIDAK. Tuan disini aku sebagai asisten pribadimu, bukan asistenmu apalagi koki untukmu, jadi aku mana mungkin sempat datang ke kantor dalam waktu yang sesuai jika aku harus menyiapkan makanan untuk sarapanmu dahulu sebelumnya. Itu pasti akan menghabiskan waktu berhargaku nantinya." Balas Yuki dengan wajah penuh ketidak setujuan, dan dia jelas sangat kesal.
"Hei...hei...apa peduliku jika kau asistenku, atau pelayanku, atau siapapun itu, ini kan perjanjian dan persetujuan yang akan kita buat bersama, kalau kau tidak setuju ya sudah kembali buku ku seperti semula, apa kau bisa?" Balas tuan Devon lagi sengaja mendesak Yuki untuk menyetujui semua yang sudah dia rencanakan sejak awal.
Yang pada akhirnya tidak ada pilihan lain lagi bagi seorang Yuki, dia hanya bisa mendengus kesal sesekali dan terus menyetujui apa yang di katakan oleh tuan Devon saat itu. "Huuh, oke oke aku akan menyetujuinya, mau bisa mendapatkan sarapanmu mulai besok dan aku akan membuatkan sarapan untukmu setiap harindalam satu bulan penuh mulai besok, bagaimana apa kau puas sekarang?" Ucap Yuki dengan nada yang tinggi dan sorot mata yang lebar.
Tuan Devon tersebut kecil dan dia mengangguk sambil segera bangkit berdiri kemudian menyuruh Yuki untuk pergi dari ruangannya sebab dia merasa semua yang dia inginkan sudah terkabulkan saat itu.
Dengan wajah yang penuh emosi dan kedua tangan yang dikepal sangat kuat, Yuki langsung bangkit dan pergi dari sana dengan memalingkan pandangan dari tuan Devon, dia juga terus menggerutu kesal sambil mengucek ujung kemeyyang dia pakai untuk melampiaskan emosi dalam dirinya yang sulit untuk dia kendalikan.
"Aarghh... benar-benar manusia menjengkelkan, kenapa sih aku sial sekali harus berhubungan dengan manusia seperti dia, apa dia pikir semua orang di dunia ini ada di bawah kendali jari telunjuknya, aku sama sekali tidak memiliki pilihan apapun saat dia yang memberikannya, aishh..aku benar-benar ingin menjambak kepalanya itu hingga dia botak sekaligus." Gerutu Yuki habis-habisan merutuki tuan Devon.
Dia bahkan dengan sengaja mencoret-coret wajah poster tuan Devon yang ada di atas mejanya kala itu, dia terus mencoretnya sampai poster itu rusak dan sobek tidak karuan, kemudian Yuki membuangnya pada tong sampah seakan dia tengah benar-benar membuat wajah tuan Devon yang sangat dia benci selama ini.
"Eughh....mati saja kau sama, dasar manusia sialan!" Bentak Yuki sangat kencang.
Disaat dia tengah emosi dan terus saja merasa kesal, tiba-tiba saja dia malah mendapatkan panggilan telepon dari kekasih tercintanya Jonas, dia pun segera mengangkat panggilan tersebut dan berusaha untuk menurunkan emosi dalam dirinya dahulu sebelum berbicara kepada Jonas.
"Sayang kamu pulang bekerja jam berapa? Kita makan malam bersama ya, aku sudah lama sekali tidak makan malam denganmu." Ucap Jonas yang mengajak Yuki makan malam bersama malam ini.
__ADS_1
Yuki langsung membelalakkan matanya dan terus menutup mulutnya yang terbuka lebar, dia tidak menduga jika tuanangannya itu bisa mengajak dia pergi makan malam secara tiba-tiba seperti ini, setelah sekian lama dia merasa hubungannya mulai hambar, kini bisa di hidupkan lagi hanya dengan Jonas yang mengajak dia nge date di restoran.
"AA.. apa? Kamu mengajak aku ngedate? Apa kamu tidak sibuk?" Tanya Yuki yang seakan belum bisa mempercayai semua itu sepenuhnya.
"Iya, aku mengajakmu ngedate, kita kan sudah bertunangan, aku juga sudah lama tidak bertemu denganmu, aku sangat merindukanmu dirimu dan ingin mengobrol bersama denganmu, kamu bisa kan?" Balas Jonas lagi dengan kalimat manisnya tersebut.
Tentu saja Yuki menyetujuinya karena dia juga sudah sangat merindukan Jonas dan masih begitu mencintainya. Dia langsung menyetujui hal itu dan sudah membuat janji dengan Jonas untuk bertemu di salah satu restoran yang sudah di pesan khusus oleh Jonas, dia melarang Jonas untuk menjemput dia ke tempat kerja sebab Jonas belum mengetahui tempat kerja dia yang baru dan Yuki tidak ingin merepotkan Jonas saat itu, dia juga sengaja menyembunyikan tempat kerjanya yang baru agar bisa membuat kejutan pada Jonas nantinya.
"Ya sudah kalau begitu aku akan menunggumu disana beberapa jam lagi, sampai bertemu nanti sayang." Balas Jonas kepada Yuki.
Panggilan pun tertutup, sekretaris Geri datang ke tempat Yuki dan ingin memberikan beberapa tugas dari tuan Devon, dia juga hendak memberikan beberapa berkas yang harus di tandatangani oleh tuan Devon kepada Yuki dan sengaja meminta agar Yuki yang menyerahkan kepada tuan Devon sebab dia begitu terburu-buru untuk melanjutkan pekerjaan dia yang tertinggal sebelumnya.
Tapi disaat sekretaris Geri hendak memberikan berkas di tangannya ke meja Yuki dia mulai merasa heran sebab melihat Yuki yang terus saja tersenyum cengengesan sendiri, sangat berbeda dengan tingkah dia yang biasanya tampak kecut juga memiliki mood yang sangat buruk di setiap waktu, apalagi saat ini sekretaris Geri tahu bahwa Yuki dalam kondisi yang dipenuhi emosi kepada tuan Devon karena dia di pindah tempatkan ke luar.
"Hei, kenapa kau tersenyum begitu, apa kau baru saja mendapatkan bonus atau gajimu sudah masuk ya?" Tanya sekretaris Geri menebaknya saat itu.
"Ehehe...tidak kalau gajiku sih memang sudah masuk tapi tuan Devon sialan itu malah mengambil seluruhnya, aku tetap miskin meski sekarang hari gajian semua orang, itu sangat meyedihkan untukku." Balas Yuki kepadanya dengan memasang wajah lesu tetapi kembali berubah dalam beberapa detik setelahnya.
"Kalau begitu kenapa kau terlihat senang dan terus tersenyum begitu, apa kau sudah gila ya?" Tambah sekretaris Geri yang masih tidak mengerti.
"Bukan karena itu aku merasa senang dan tersenyum seperti ini, kau tahu sekretaris Geri, tunanganku baru saja pulang dari luar negeri dan dia mengajak aku untuk makan malam di restoran mewah malam ini juga, aaahh aku sangat merindukan dia dan sudah tidak sabar untuk menikmati makan malam romantis kita nantinya." Balas Yuki menjelaskan semuanya kepada sekretaris Geri dan dia benar-benar terlihat sangat antusias serta tidak sabar untuk datang ke makan malamnya bersama Jonas.
Mendengar itu sekretaris Geri langsung membuka matanya sangat lebar, dia tidak menduga jika ternyata Yuki sudah memiliki tunangan selama ini.
"Apa tunanganmu? Jadi selama ini kau sudah punya tunangan? Aku pikir kau masih jomblo." Balas sekretaris Geri dengan wajahnya yang kaget.
"Begini-begini aku sudah laku memangnya kau sudah setua itu masih saja sendiri, aishh sangat menyedihkan, sudahlah kau hanya meminta aku memberikan ini pada bos konyolmu itu kan, aku akan melakukan segera untukmu, hari ini aku sangat senang sekali, minggir aku akan pergi ke sana saat ini juga, mungpung moodku sedang baik." Balas Yuki sambil menyenggol sedikit tangan sekretaris Geri saat itu.
__ADS_1