
"AA..AA..apa, tidak ada suara apapun, kau salah dengar mungkin." Balas Yuki masih dengan wajahnya yang panik dan tatapan mata yang sangat gugup.
"Aahh tidak mungkin kau tidak bisa mendengarnya, nah itu terdengar lagi, itu suara kau ya, apa kau lapar?" Balas tuan Devon membongkarnya.
Yuki terus saja menahan malu yang sangat besar pada dirinya tersebut, karena sialan justru perut dia malah kembali bersuara lagi disaat yang tidak tepat dan bersuaranya itu tepat ketika tuan Devon bicara dengannya, membuat Yuki kesulitan untuk memalingkan pembicaraan lagi. Walau begitu Yuki masih berusaha untuk menahan diri dan bersikap santai sebisanya, walaupun sebenarnya kaki dia sudah gemetar dan sulit untuk dia kontrol saat itu, tuan Devon juga tidak sengaja melihat ke bawah sebab sendoknya jatuh kala itu, sehingga dia bisa melihat rasa gugup pada Yuki begitu jelas lewat kakinya tersebut.
"CK..dasar gengsi, sudah se gugup itu masih saja berusaha menyembunyikannya." Batin tuan Devon sembari menahan tawa dengan cukup kuat pada dirinya sendiri. Dia malah semakin menggoda Yuki lebih parah lagi.
"Hei, kalau kau memang lapar makan saja denganku masih banyak makanan yang ada disini, kau juga tidak perlu malu-malu denganku, lagi pula semua makanan ini dibeli dengan uangmu bukan, ayo cepat makan saja jika kau lapar." Ujar tuan Devon sambil menggeserkan satu porsi makanan lain yang ada diatas mejanya kala itu.
Gadis muda itu perlahan menatap ke arah makanan lezat yang nampak begitu menggugah seleranya, semua makanan yang ada disana begitu menggiurkan dan dia bahkan sudah menelan salivanya sendiri ketika melihat makan-makan tersebut, hingga akhirnya Yuki tidak bisa menahan diri lagi sembari memegangi perutnya yang lapar dan beberapa saat kembali beralih ke arah makanan milik tuan Devon dia bertanya sekali lagi untuk memastikan apakah dia bisa memakan makanan itu atau tidak.
"Tuan apa kau yakin aku boleh memakan makanan mu? Tapi tenang saja ini hanya mencicipinya sedikit kok, aku tidak akan menghabiskan semuanya jadi kau tidak perlu cemas." Ucap Yuki bertanya sekaligus mengatakan niatnya itu.
__ADS_1
Tuan Devon menaikkan kedua aslinya yang menandakan dia tidak keberatan sembari terus memberikan sepotong pizza yang ada di tangannya. Yuki segera mengambil pizza tersebut sembari tersenyum kecil dan sekaligus melahapnya hanya dalam satu suapan besar, tidak hanya sampai disitu tapi Yuki juga langsung membelalakkan matanya begitu lebar sebab kaget ketika merasakan rasanya begitu enak dan sangat nikmat berbeda dengan pizza murah yang pernah dia beli sebelumnya, mengetahui makanan disana enak, dia langsung mencicipi yang lainnya dan terus saja kehilangan kesadaran karena perut yang lapar dan rasa nikmat yang mengontrol dirinya kala itu.
"Eumm..tuan ini sangat enak, aku mau coba yang ini lagi ya, eummm enak sekali ini benar-benar luar biasa." Ucap Yuki yang bicara sambil memasukkan banyak makanan ke dalam mulutnya, hingga pipinya menjadi kembung dan mirip ikan buntal yang mengembang, tuan Devon sampai terus tersenyum lebar menampakkan giginya di depan Yuki, dia juga menutupi bibirnya yang tertawa lebar dengan sebelah tangan saat itu.
Gadis 20 tahun itu benar-benar sudah kehilangan kesadaran, dia memakan semua makanan yang ada disana hingga habis, bahkan membuat tuan Devon kaget melihat dia yang makan sangat lahat dan jauh lebih banyak dibandingkan dirinya sendiri, sampai ketika dia selesai menghabiskan semuanya, Yuki malah menyandarkan tubuhnya ke belakang sofa dan merasakan perutnya yang sudah penuh.
"Aaahh aku kenyang sekarang, terimakasih banyak tuan." Balas Yuki yang masih belum sadar posisinya saat itu dan apa yang sudah dia lakukan sebelumnya.
Membuat Yuki langsung tersadar dengan siapa dia bicara dan berhadapan saat itu, dia langsung bangkit duduk dengan tegak dan menatap ke depan, melihat tuan Devon yang sudah duduk menyilangkan kaki sembari melipat kedua tangannya di dada, dan memberikan sorot mata tajam ke arahnya yang begitu menusuk.
"Astaga... bagaimana aku bisa lupa aahh semua makanannya sudah habis aku makan lagi, dia pasti akan marah besar denganku saat ini." Gumam Yuki dalam hati kecilnya.
Dia sendiri bahkan tidak habis pikir dan tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang malah tidak sadar dengan tindakan yang sudah dia lakukan barusan.
__ADS_1
Kini sudah saatnya tuan Devon yang bicara pada Yuki mengenai hutang piutang antara mereka yang harus segera di selesaikan.
"Karena kau sudah kenyang, sekarang ayo bahasa masalah tanggung jawabku dengan mobil kesayanganku dan untuk buku itu, aku sudah mengikhlaskan nya." Ucap tuan Devon membuat Yuki kebingungan sekaligus merasa tidak percaya jika seorang tuan Devon yang kejam dan begitu menyeramkan bisa mengiklankan kesalahan yang dia buat, bahkan yang dirusak oleh Yuki adalah buku yang begitu antik dan langka lebih sulit ditemukan daripada mobil tuan Devon yang sudah bisa diperbaiki dan digunakan kembali saat ini.
"Tuan apa kau yakin sudah mengikhlaskan buku itu, bukannya kau bilang itu buku yang belum selesai kau baca dan sangat istimewa bagimu?" Tanya Yuki dengan penasaran dan terus merasa tidak percaya.
"Kau benar, tapi jika aku menuntut kau untuk mencarikan buku yang sama itu tidak mungkin aku sudah mencoba mencarinya tapi tetap saja tidak bisa mendapatkan buku seperti itu lagi, lalu bagaimana denganmu, dan jika di ganti dengan uang aku sudah punya banyak uang untuk apa lagi punya uang jika bukunya tidak ada, aku butuh bukunya bukan uangmu." Balas tuan Devon menjelaskan, membuat Yuki semakin merasa bersalah karena dia tidak dapat mengembalikan buku tersebut lagi.
Yuki menunduk dengan lesu dan ini pertama kalinya Yuki meminta maaf dengan sangat tulus terhadap orang lain, bahkan kepada tuan Devon yang sangat dia benci dan selalu dia rutukinsepuasnya. "Hmm...tuan aku minta maaf, karena kecerobohanku kau tidak bisa membaca buku itu lagi dan sekarang bukunya jadi rusak, aku sungguh minta maaf denganmu." Ucap Yuki penuh rasa bersalah.
"Hah? Apa kau baik-baik saja, hahah kau meminta maaf denganku, astaga...ayo cepat kau ulangi lagi biar aku rekan dan aku abadikan, ayo cepat ulangi kameranya sudah siap." Balas tuan Devon yang memancing emosi di waktu yang tidak tepat seperti ini.
"Tuan yang benar saja, apa kau tidak punya otak? Saat ini aku sedang serius, dan aku juga mau membayar hutangku padamu secepatnya, aku ingin segera mengakhiri semua ini, aku tidak mau menjadi pengacau lagi dalam hidupmu, ataupun dalam pekerjaanmu, jadi ini ambil saja semua uang sisa yang ada di ATM ku itu, aku tidak masalah sekalipun kau mau memotong semua gajiku setiap kali aku gajian di tiap bulannya, aku masih sangat untuk makan mie instan dan nasi goreng setiap hari." Balas Yuki sembari mengeluarkan kartu ATM nya dan menaruhnya di meja menggeserkan kartu itu ke depan tuan Devon, berniat untuk memberikannya.
__ADS_1