Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Melihat Secara Langsung


__ADS_3

Yuki segera mengambilnya dan membuka foto yang terbalik di atas meja tersebut, saat membalikkannya dia langsung mengerutkan kedua alis dengan sangat kuat dan terus saja menatapnya semakin dekat, hal itu membuat Yuki merasa semakin tidak menduga sekaligus kaget karena melihat foto kekasihnya yang tengah duduk di sebuah restoran berasa seorang perempuan yang baginya terasa sangat tidak asing, meskipun wajahnya tidak terlihat dengan jelas.


"Jonas. Tuan apa maksudnya ini? Kau mengenal tunanganku?" Tanya Yuki berusaha untuk mencari kejelasan dari tuan Devon yang memberikan dia foto tersebut, sementara tuan Devon nampak begitu santai.


Tingkah tuan Devon yang terlalu santai membuat Yuki semakin terpancing emosi dan dia sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui kebenarannya dari foto yang dia pegang saat itu, karena dia sangat mempercayai Jonas selama hubungannya yang sudah bertahun-tahun.


"Tuan kenapa kau menatapku begitu, aku katakan darimana kau bisa mendapatkan foto ini dan kenapa kau bisa mengenali tunanganku?" Tanya Yuki mendesaknya lagi dengan nada suara yang mulai meninggi, hingga akhirnya berhasil membuat tuan Devon angkat bicara kepadanya.


"Aku tidak mengenali pria itu hanya saja kemari aku tidak sengaja melihat kau makan di sebuah restoran bersama pria tersebut dengan sangat mesra, aku pikir pria itu pasti pacarmu dan hari ini sepulang aku meeting dengan kilen aku juga kembali bertemu dengan pria tersebut dan dia bersikap lebih romantis dengan wanita lain, aku pikir kau adalah selingkuhannya jadi aku memotret foto itu sendiri dan mematikan dengan langsung bersama sekretaris Geri, dan kami menemukan bahwa wanita tersebut jauh lebih dekat dengan pria tersebut dibandingkan saat bersama denganmu." Jelas tuan Devon kepada Yuki saat itu yang langsung membuat Yuki menatap sinis sembari bangkit berdiri dan berkacak pinggang dengan melipat bibirnya menahan rasa kesal yang menurut dalam dada kala itu, sekretaris Geri juga segera mendekati Yuki dan berusaha untuk menenangkan dia sebisanya.


"Hah, wanita ini lebih dekat dengan tunanganku? Haha..yang benar saja disini akulah tunangannya aku sudah berhubungan dengan dia sejak kami di SMA, dan dia bukan pria yang akan berselingkuh di belakangku." Balas Yuki mulai terpancing emosi dan tuan Devon malah terus saja memanas manasi dia.


"Kalau dia bukan pria yang suka berselingkuh, kenapa pula dia makan dengan seorang wanita yang seksi dan begitu romantis seperti itu, kau lihat baik-baik fotonya, tunanganmu yang sangat kau cintai itu memegangi paha wanita itu, dan bahkan dia mengelusnya, aku melihat semua itu secara nyata dan tentunya tidak hanya aku, ada Geri yang juga menjadi saksi mata, kau tidak mungkin tidak mempercayai dia mata sebagai saksi dan foto sebagai bukti bukan, kau kan bukan wanita bodoh." Balas tuan Devon kepadanya lagi, membuat Yuki semakin kebingungan dan resah.


"Yuki sudah tenangkan dirimu, sekalipun itu benar mengetahui semua ini lebih cepat sangat baik daripada kau tidak mengetahuinya sampai dia menjadi suamimu nanti." Ucap sekretaris Geri sembari mengelus punggung Yuki dengan lembut.


Tetapi walau sudah ditenangkan begitu Yuki tetap saja tidak bisa merasa tenang, dia sangat panik dan terburu-buru mengambil ponsel di mejanya, dia sekaligus berlari keluar mengambil ponsel dan berusaha untuk menghubungi Jonas detik itu juga, sudah dia kali Yuki memanggil pria itu tetapi tetap saja tidak ada satu panggilan pun yang dapat terhubung, membuat Yuki semakin panik dan dia kembali berlari masuk ke dalam ruangan tuan Devon. Lalu tiba-tiba saja meminta tuan Devon untuk mengantarkan dia ke tempat dimana dia menemui Jonas dengan wanita tersebut.


"Tuan jika apa yang kau katakan benar, antar aku ke tempat itu sekarang juga!" Tegas Yuki dengan mata yang sudah berkaca-kaca saat itu dan kedua tangan yang mengepal dengan kuat, satu memegangi foto dari tuan Devon dan satunya lagi memegangi ponselnya dengan erat.


Tanpa pikir panjang tuan Devon langsung mengangguk menyetujui apa yang di pinta oleh Yuki dan dia segera meminta kunci mobil kepada sekretaris Geri, meski saat itu Geri mencoba untuk menahannya. "Baik, Ger mana kunci mobilku." Ucap tuan Devon memintanya.


Sekretaris Geri terperangah kaget dengan kedua bola mata yang terbuka sangat lebar, dia tidak habis pikir jika bosnya benar-benar bersedia untuk mengantarkan Yuki melihat semuanya secara langsung, padahal semua ini sama sekali tidak akan menguntungkan bagi bosnya tersebut, dan biasanya tuan Devon tidak pernah se perduli ini kepada siapapun bahkan pada dirinya sendiri yang sudah sangat dekat dan mengabdikan dirinya bertahun-tahun bersama tuan Devon selama ini.


"Tu..tuan apa anda yakin mau mengantarkan Yuki, bagaimana jika aku saja yang pergi?" Balas sekretaris Geri menawarkan pertukaran kepada-nya.


"Tidak perlu kau urus saja pekerjaan di perusahaan, dia meminta aku yang mengantarnya jadi biarkan aku menyelesaikan semuanya sekaligus membuktikan pada gadis bodoh ini bahwa semua yang kita berikan padanya adalah kebenaran." Balas tuan Devon sambil meraih kunci mobil yang diberikan oleh sekretaris Geri ke tangannya.


Dia kemudian menggandeng tangan Yuki dan membawanya keluar dari kantor, hingga masuk ke dalam mobil yang sudah dia siapkan, selama perjalanan tuan Devon sama sekali tidak mengajak Yuki bicara sedikitpun, sebab dia tahu bahwa kondisi mood Yuki sedang tidak stabil saat itu jadi dia hanya diam saja karena tidak mau memperburuk suasana diantara mereka, hingga sesampainya di restoran tersebut, tuan Devon menahan Yuki terlebih dahulu disaat gadis itu hendak turun dari mobilnya.

__ADS_1


"Tunggu, apa kau yakin akan pergi melihatnya dengan wajah seperti itu? Ini hapus dulu air matamu." Ucap tuan Devon sambil memberikan selembar tisyu kepadanya.


Dengan cepat Yuki mengambil pemberian itu dan terus saja mengusap sisa air mata di kedua pipinya dan dia segera keluar bersama Yuki dari mobil tersebut.


Membawa Yuki masuk ke dalam restoran dan terus saja tuan Devon mengingat meja yang digunakan oleh pria tersebut sebelumnya, hingga dia duduk di salah satu meja yang jaraknya cukup dekat dan bisa melihat jelas ke arah wajah pria tersebut, meskipun wajah wanitanya tidak dapat dia lihat sebab memunggungi bagian itu.


"Lihatlah, itu tunanganmu bukan, dia bahkan terus menggenggam tangan wanita itu, mereka juga bicara dengan kalimat sayang sangat keras, apa kau masih mengira aku membohongi diriku?" Ucap tuan Devon kepada Yuki.


Yuki benar-benar merasa sangat hancur dan dia sama sekali tidak dapat bereaksi apapun, hanya bisa tertunduk lesu dengan wajah yang ditutup oleh buku menu, dia menahan diri untuk tidak menangis disaat dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa itu sungguh Jonas tunangannya, pria yang sangat dia cintai selama ini dan hampir menjadi calon suaminya tersebut. "Aku harus memergoki mereka." Ucap Yuki sambil bangkit berdiri dan hendak pergi untuk melabrak kekasihnya tersebut.


Dengan cepat tuan Devon menahan tangan Yuki dan tidak memberikan izin dia untuk melabrak pria tersebut sebab hal itu pasti akan membuat kekacauan dan tuan Devon tidak mau hal itu terjadi kepada Yuki.


"Hei..hei..tenangkan dirimu, kau tidak bisa melabrak dia secara langsung di telat umum begini, jika kau melakukannya orang-orang akan menatap ke arahmu dan kekacauan tidak akan bisa dihindari, sudahlah ayo kita pergi saja dari sini lagi pula kau sudah mengetahui kebenarannya kan." Balas tuan Devon sambil terus menarik tangan Yuki dengan paksa dan menyeretnya keluar dari restoran tersebut.


"Tuan lepaskan aku! Kau yang memberitahuku tentang semua ini tapi kenapa kau melarangku untuk memergokinya secara langsung, kenapa, hah?" Bentak Yuki merasa sangat tidak terima atas perlakuan tuan Devon yang baginya terlalu ikut campur dengan urusan pribadi percintaan dia saat ini.


"Hei aku menahan mu karena semua ini demi kebaikan dirimu juga, kau akan bertengkar dengan mereka di depan umum itu buruk untuk harga dirimu, jika kau mau melawannya bukan dengan cara seperti itu, dan kau juga bisa memberikan bukti foto tersebut kepadanya jika kau mau menangkap dia, tidak perlu memergokinya di depan umum seperti itu, kau punya harga diri bukan?" Balas tuan Devon menjelaskannya kepada Yuki.


Kini Yuki hanya bisa terus berlari masuk ke dalam mobil dan menangis seorang diri tanpa suara dengan wajah yang datar serta tatapan mata yang kosong ke depan.


Tuan Devon yang melihat wajah Yuki sangat merasa iba dan dia tidak tahu bagaimana caranya menghibur Yuki agar tidak sedih lagi seperti itu.


Untuk menghibur Yuki tuan Devon mencoba mengeluarkan suara dan memulai pembicaraan lebih dulu dengannya.


"Ekm...apa kau menangis?" Tanya tuan Devon sedikit ragu dan gugup, dia tidak tahu harus bertanya apa dan hanya pertanyaan konyol itu yang malah keluar dari mulutnya. Membuat Yuki langsung menoleh ke arahnya sambil menatap tajam.


"Tuan apa kau tidak punya mata, lihat mataku dengan baik, apa mungkin aku sedang tertawa saat ini? Aku menangis tapi aku tidak mau menjadi lemah, aku tidak ingin menangis di depanmu atau siapapun, tapi aku tidak bisa menahan air mataku, aku..aku...aku tidak tahu harus bagaimana lagi hiks...hiks..hiks.." ucap Yuki yang pada akhirnya tetap menangis dengan suara keras dan dia mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya yang sudah dia tahan sejak lama.


Tuan Devon bahkan sampai kaget dan telinganya terasa sangat kebas karena mendengar tangisan Yuki yang begitu kencang secara tiba-tiba, langsung saja tuan Devon membelokkan mobilnya dan sengaja membawa Yuki ke bukit tinggi yang dekat dari tempat tersebut, karena hanya tempat itu yang dipikirkan oleh tuan Devon akan menjadi tempat sepi dan tidak akan membuat dia menanggung malu saat membawa Yuki yang menangis seperti anak kecil.

__ADS_1


Hingga saat tuan Devon menghentikan mobilnya, dia langsung mengajak Yuki untuk keluar. "Heh, berhenti menangis begitu, ayo cepat keluar, kau mengganggu telingaku sekali." Ucap tuan Devon sembari membukakan pintu mobil untuk Yuki, meski awalnya Yuki menolak karena dia tidak mau keluar dengan penampilan wajahnya yang sudah bengkak karena menangis, tapi tuan Devon tetap memaksanya dan terus menarik tangan Yuki dengan paksa, sehingga pada akhirnya gadis itu terpaksa keluar juga.


"Tuan aku tidak mau keluar, bagaimana mungkin aku keluar dengan keadaan seperti ini, aku malu." Ucap Yuki kepada tuan Devon.


"Kau masih punya malu ternyata? Aku pikir kau sudah tidak punya urat malu, sudahlah ayo cepat keluar, kau juga tidak malu saat menangis selama di perjalanan." Ucap tua Devon yang terus memaksa Yuki terus menerus.


Yuki keluar dengan menutupi matanya menggunakan kedua tangan dan dia terus saja berjalan menunduk untuk sampai mengikuti tuan Devon yang terus saja membawa dia ke ujung bukit tersebut, dimana ada banyak tumbuhan teh yang sangat asri dan udara yang sangat sejuk disana, membuat Yuki merasa lupa bahwa dia baru saja selesai menangis dan wajahnya masih sangat bengkak.


"Wahh....indah sekali, eummm udaranya begitu sejuk, ahahah tuan ini indah sekali, boleh aku pergi ke tengah kebun teh sana?" Ucap Yuki yang bisa bisanya langsung berubah drastis menjadi lebih ceria dibandingkan beberapa detik yang lalu.


Tuan Devon mengangguk dan mengijinkannya, dia terus saja terlihat tidak perduli dengan apapun yang Yuki lakukan disana.


"Dasar konyol, bisa bisanya dia mengubah ekspresi di wajahnya hanya dalam waktu beberapa detik saja, padahal sebelumnya dia terlihat sangat sedih, dasar konyol." Gerutu tuan Devon yang melihat tingkah Yuki, dimana dia malah terus berlari mengejar kupu-kupu yang sesekali hinggap pada dedaunan teh yang ada disekitar sana.


"Ahaha....ini sangat menyenangkan, Jonas aku tidak perduli meski kau selingkuh, sana kau selingkuh saja, aku akan dapatkan pria yang lebih tampan dan lebih baik darimu! Lihat saja nanti!" Teriak Yuki sangat kencang dan membuat tuan Devon kaget mendengarnya, karena suara Yuki yang begitu menggelegar.


"Astaga..apa dia mau membuat aku malu, dia pikir hanya ada dia manusia yang bermain di kebun teh ini, aaahhh benar-benar bocah." Gerutu tuan Devon sembari berlari cepat untuk menghentikan tingkah konyol yang dilakukan oleh Yuki saat itu.


Dia menghampiri Yuki secepatnya lalu langsung saja membekap mulut gadis tersebut dengan tangannya dan terus saja memperingati Yuki agar tidak coba-coba untuk berteriak seperti yang dia lakukan barusan.


"Sekali lagi kau berteriak seperti orang gila, aku akan membius mu sampai kau pingsan sekalian." Ancam tuan Devon membuat Yuki langsung mengangguk cepat.


Tuan Devon pun menghembuskan nafas lesu dan dia segera melepaskan tangannya yang menutupi mulut Yuki, tapi sialnya Yuki justru tidak menepati apa yang dia katakan kepada tuan Devon saat dia tengah di bekap sebelumnya.


Baru saja tuan Devon menghembuskan nafas yang begitu lesu, gadis itu malah langsung kembali berteriak lebih kencang dibandingkan sebelumnya, dia langsung berlari menjauh dari tuan Devon karena takut di bekap lagi olehnya.


"Aaarrkkkk..tuan Devon sialan, aku sama sekali tidak perduli denganmu!" Teriak Yuki sangat kencang merutuki tuan Devon.


"Aishh beraninya kau bicara seperti itu denganku, tunggu kemari kau Yuki! Jangan lari!" Teriak tuan Devon lagi yang sangat terpancing emosi dan langsung saja mengejar Yuki di kebun teh tersebut.

__ADS_1


Mereka kejar-kejaran sembari tertawa riang gembira bak anak kecil yang tengah bermain bersama.


__ADS_2