
Tuan Devon sendiri sampai kaget dibuatnya, karena ini pertama kalinya dia melihat seseorang yang patah hati sekaligus begitu kacau hanya karena melihat kekasihnya bersama wanita lain sebelumnya.
"Eh, kau sangat lebay sekali sih, begitu saja sudah membuat kau lemah dan menjadi kacau begini, memangnya pria seperti dia tidak ada lagi di dunia ini, lagi pula untuk apa menangisi pria semacam dia yang tidak bertanggung dan sangat jelek itu." Balas tuan Devon menyepelekan apa yang dirasakan oleh Yuki sebab dia sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya berada di posisi Yuki.
Tatapan mata Yuki langsung beralih ke arahnya dengan begitu sinis dan tajam, gadis itu benar-benar sangat tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh tuannya itu, Yuki merasa tuan Devon benar-benar sudah meremehkan dirinya termasuk perasaan cinta yang dia miliki untuk Jonas selama ini.
Karena mendapatkan ucapan begitu dari tuan Devon hal itu membuat Yuki marah dan sangat kesal hingga tanpa sadar dia berani membentak tuan Devon sembari menceritakan semua alasan mengapa dia menangis karena pria tersebut.
"CK, kau mudah sekali bicara begitu, kau mana tahu jadi aku, aku dan dia sudah menjalin hubungan lima tahun lamanya, dan dia selalu saja bersikap baik dan romantis kepadaku sebelumnya, meski dia sering meminta uang padaku, dan aku harus bekerja keras untuk membantu dia, tapi aku sangat mencintainya aku tidak perduli bagaimana pun dia, tapi dia adalah orang yang sangat baik denganku dan selalu membantu aku saat kami di sekolah beberapa tahun yang lalu. Kau mana tahu seberapa sulitnya hidup aku dulu." Balas Yuki menjelaskan semuanya dan terus saja memotong ucapan tuan Devon tiap kali pria itu hendak membalas ucapan darinya, bahkan disaat tuan Devon sudah membuka mulutnya Yuki terus saja menyambar tuan Devon dengan semua unek-unek yang dia tahan dan kekecewaan yang terbendung dalam dadanya.
"Kau juga tidak tahu kan kalau saat aku kesulitan hanya kepada Jonas saja aku dapat meminta tolong, hanya dia yang mau membantuku tanpa bayaran apapun, hanya dia yang menghiburku saat sedih, tapi sekarang dia malah sudah mendapatkan wanita lain, posisiku sudah tergantikan oleh orang lain, huaaa..aku benar-benar merasa tertekan secara batin dan pikiran, pria bodoh mana lagi yang mau menerima wanita miskin tanpa asal usul jelas sepertiku, selain Jonas, hiks..hiks..aku sangat menyedihkan. Aku hanya kasihan dengan diriku sendiri sekarang, makanya aku menangis terisak begini." Tambah Yuki lagi sambil memeluk dirinya sendiri dengan sangat erat, dan terus mengelusnya untuk memberikan ketenangan kepada dirinya sendiri.
Setelah mendengarkan semua curhatan Yuki yang begitu lama dan sangat membutuhkan tuan Devon kaget, dia pun baru bisa memahami apa yang tengah Yuki rasakan saat itu dan dengan cepat dia pun meminta maaf kepada Yuki sembari berusaha untuk membujuknya lagi.
"Yang sabar ya, aku pikir kau tidak sesulit itu, karena kau terlihat ceria dan selalu gembira setiap waktu, tapi tenang saja meski sekarang kau tidak bisa bersama dengan pria itu, kan masih ada aku dan sekretaris Geri, kita bisa menjadi teman yang baik bukan?" Balas tua Devon yang semakin membuat Yuki kaget tidak karuan.
Matanya terbelalak sangat lebar dan dia langsung saja tertawa setelahnya, dia pikir itu hanya candaan saja yang dilakukan oleh tuan Devon untuk membuat dia tidak sedih terus menerus dan mengganggu konsentrasi dirinya dalam menyetir mobil.
"Ahahah.. tuan apa kau bilang barusan? Ada kau dan sekretaris Geri, hahah yang benar saja bukan mempermudah hidupku kau hanya mempersulit aku selama ini dan satu lagi meski sekretaris Geri selalu membantuku, dia mana mau jadi pacarku dan selalu ada untukku, tidak ada yang bisa aku harapkan dari dua orang seperti kalian ini." Balas Yuki setelah tawanya yang menggelegar di hadapan tuan Devon secara langsung.
Tangan tuan Devon semakin erat memegangi kemudi dan kakinya menekan gas lebih dalam lagi, membuat laju mobil semakin kencang dan Yuki sampai harus berpegangan dibuatnya karena dia mulai merasa takut dengan cara menyetir tuan Devon saat itu.
__ADS_1
"Ee..ehhh tuan ada apa dengan mobilnya, kenapa kau tiba-tiba melajukan mobilnya dengan sangat kencang? Apa kau sudah gila ya? Tuan hentikan mobilnya aishhh tuan turunkan kecepatannya, ku sudah bosan hidup ya?" Bentak Yuki sangat kencang sembari menatap panik ke arah tuan Devon yang sama sekali tidak melirik atau membalas ucapan darinya sedikit pun sejak tadi.
Tuan Devon juga tetap tidak mendengarkan Yuki meski gadis tersebut sudah berteriak berkali-kali dan meminta tua Devon untuk menurunkan kecepatan kendaraannya itu, hingga Yuki benar-benar sangat takut dan dia tidak memiliki cara lain selain dari membuat tuan Devon sadar atau mengejutkannya.
"Aduh.. maafkan aku tuan Devon tapi semua ini aku lakukan demi keselamatan kita berdua." Gerutu Yuki mulai meyakinkan dirinya sendiri untuk menjalankan sebuah ide cemerlang yang ada di kepalanya saat itu.
Yuki pun langsung memeluk tuan Devon dengan erat dan memohon kepadanya agar tuan Devon menurunkan laju mobilnya tersebut sembari terus menenangkan dia.
"Tuan aku mohon, aku benar-benar sangat takut, aku belum siap untuk mati karena uangku belum banyak, karirku tidak cemerlang da aku belum menikah, amalku juga tidak banyak, jadi tolong pelan kan mobilnya aku tidak ingin mati konyol seperti ini, apapun yang terjadi denganmu aku akan terus memelukmu begini sampai kau menurunkan laju mobilnya!" Tegas Yuki kepadanya dan terus saja memejamkan mata sembari memeluk tuan Devon dari samping dengan sangat erat.
Tuan Devon sendiri mulai merasa gugup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dan dia mulai merasa takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Yuki kepada dirinya, sesekali tuan Devon melirik ke arah Yuki dan terus berusaha mendorong gadis itu untuk melepaskan pelukan pada tubuhnya.
Tapi sayangnya Yuki sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh tuan Devon dia terus saja memeluk tuan Devon lebih erat lagi kepada dia sebelumnya, bahkan disaat tuan Devon hampir berhasil melepaskan pelukannya, Yuki malah kembali memeluk tuan Devon lebih erat lagi sembari meminta tuan Devon memelankan kendaraannya itu.
"Aishh kau ini kucing atau anjing sih, kenapa memeluk aku seerat itu, hei Yuki sialan kau aku bisa sesak nafas karena ulahmu, ayo cepat lepaskan!" Bentak tuan Devon semakin keras dan cukup kasar, dia hanya tidak mau Yuki mengetahui atau mendengar suara detak jantungnya yang sulit untuk dia kendalikan saat itu.
Tapi sayangnya Yuki benar-benar tidak dapat diajak bekerja sama dan dia sama sekali tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh tuan Devon baginya saat ini keselamatan untuk mereka berdua adalah prioritas utama, dan dia sudah memberikan janji sendiri pada dirinya untuk tidak pernah melepaskan tuan Devon apapun yang terjadi.
"Tidak mau, aku tegaskan padamu sekali lagi, aku tidak akan melepaskan kau sampai kau mau menurunkan kecepatan mobilmu!" Teriak Yuki dengan suara yang tegas.
Akhirnya tidak ada pilihan lain lagi bagi seorang tuan Devon dan dia memilih untuk mengalah saja dengan gadis tersebut, daripada dia harus terus menjalankan mobil dengan kencang sementara tubuhnya malah terus dipeluk oleh Yuki, yang ada dia malah gugup karena pelukan itu bukannya takut akan kecelakaan lalu lintas.
__ADS_1
Sebab tuan Devon memang sangat handal dalam mengemudikan mobil dan dia juga pernah bermain balap mobil saat masih di tempat sekolahnya dahulu, dia idaman para wanita karena menjadi siswa paling kaya dan sudah sukses di usia muda dengan bisnisnya sendiri termasuk hobinya sebagai pembalap mobil yang sangat keren bagi sebagian wanita lainnya.
Saat tuan Devon mulai menurunkan laju kendaraannya, barulah Yuki merasa senang dan sebuah senyum tipis nampak tergambar jelas di wajahnya yang sudah kembali ceria lagi seperti sebelumnya, tapi dia lupa kalau dia masih memeluk tubuh tuan Devon bak seperti seseorang yang sudah begitu nyaman melakukannya.
"Hei, kenapa kau terus menatapku sambil tersenyum begitu, apa kau pikir aku tidak akan tahu?" Ucap tuan Devon dengan matanya yang masih menatap ke jalanan di depan tapi dia masih bisa tahu bahwa Yuki memang menatap dia sambil tersenyum-senyum sendiri dan masih memeluknya saat itu, hanya saja kini pelukannya sudah tidak seerat sebelumnya.
"Kau sudah menurunkan lajunya, terimakasih tuan." Balas Yuki kepadanya.
"Iya aku sudah menurunkan lajunya menjadi normal, terus kenapa kau masih memeluk tubuhku seperti ini, apa kau sudah begitu nyaman dengan dada bidang ku?" Balas tuan Devon sengaja menggoda Yuki karena ada kesempatan bagus.
Yuki baru menyadari hal itu dan dengan cepat dia segera bangkit melepaskan pelukannya, duduk dengan tegak di samping tuan Devon sembari menatap ke depan dengan wajah yang mulai merah padam karena menahan malu yang sangat besar dan rasa gugup yang berusaha untuk dia kendalikan saat itu.
*Astaga, kenapa aku tidak menyadari hal itu, aaahh Yuki kau bodoh sekali, bagaimana aku menghadapinya sekarang?* Batin Yuki yang merasa resah dan kebingungan sendiri dibuatnya, berbeda dengan tuan Devon yang tersenyum kecil dan merasa cukup senang karena dia mendapatkan keuntungan yang cukup besar sebab mendapatkan pelukan dari Yuki tanpa dia harus memintanya sama sekali.
Tapi walau begitu tuan Devon juga tetap berusaha menahan diri dan menjaga harga dirinya sendiri, dengan berpura-pura tetap terlihat santai dan datar, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun dan itu sangat bertolak belakang dengan apa yang ada dalam hatinya sendiri.
*Tidak-tidak aku tidak boleh begitu mudah jatuh dalam rayuan gadis ini, dia kan mata duitan, dia pasti sengaja melakukan itu agar menjadi semakin dekat dan mengambil keuntungan denganku, aku tidak boleh sampai lengah apalagi menjadi begitu lemah hanya karena seorang wanita seperti dia, iya aku harus tetap terlihat cool dan terkontrol dengan baik.* Batin tuan Devon berusaha mempertahankan harga dirinya dan gengsi yang begitu tinggi saat itu.
Suasana menjadi sangat canggung diantara keduanya, mereka sama-sama diam dan tidak ada yang mau memulai pembicaraan lagi, tuan Devon fokus pada jalannya sedangkan Yuki juga entah fokus pada apa, dia hanya terus memainkan tangannya tidak jelas sembari memutar-mutar ponselnya sendiri sembarangan.
Tidak jelas apa yang sebenarnya tengah dia kerjakan saat itu, yang jelas Yuki hanya terlihat gugup dan kakinya terus saja nampak gemetaran, dia mungkin bingung apa yang harus dia katakan kepada tuan Devon agar tidak membuat suasana menjadi se canggung ini, tapi dia juga tidak tahu bagaimana cara memulainya, sebab dia sudah terlalu banyak menanggung malu karena kebodohan yang dia miliki sebelumnya.
__ADS_1