
Dia tidak perlu lagi mencemaskan tentang Linda karena sudah bisa mendapatkan bantuan dari sekretaris Geri, dan dia pun segera pergi untuk memberikan berkas yang baru saja dia salin kepada tuan Devon, sedangkan tuan Devon sendiri terus memberikan tatapan tajam dan sangat sinis dari mulai Yuki pertama kali masuk hingga saat dia menyerahkan berkas salinan tersebut ke hadapannya saat itu.
"Tuan ini berkas salinan yang anda minta, aku sudah menyalinnya sesuai dengan apa yang kau perintahkan." Ujarnya sambil menaruh tumpukan berkas itu di atas meja dan mulai menyerahkannya kepada tuan Devon.
Namun bukannya fokus dan menerima berkas tersebut, tuan Devon justru malah salah fokus dengan ekspresi wajah Yuki yang sangat berbeda dan berubah total dibandingkan dengan raut wajah dia sebelumnya, tapi Yuki memang tidak menyadari hal itu, bahwa sedari tadi sebenarnya tuan Devon sudah memperhatikan dia dengan begitu sinis dan lekat tanpa beralih sedikit pun dari pandangannya.
"Hei, kenapa kau sangat lama sekali dan kembali dengan wajah yang sangat berubah jauh dari sebelumnya, apa kau melakukan sesuatu di belakangku ya?" Tanya tuan Devon yang mulai menaruh kecurigaan kepada Yuki saat itu.
Membuat Yuki merasa sangat heran dan tidak terima dengan prasangka yang dikatakan oleh tuan Devon terhadap dirinya, tapi walau begitu dia juga tidak mau hal ini merusak mood dalam dirinya lagi, jadi Yuki menjawabnya dengan jujur dan mau menyelesaikan semuanya dengan cepat, agar tuan Devon tidak menyusahkan dirinya lagi.
__ADS_1
"Tidak ada tuan, aku mana berani melakukan hal macam-macam di belakangmu seperti yang kau pikirkan saat ini, aku itu hanya bertemu sekretaris Geri dan meminta bantuan darinya dan dia mau membantuku makanya, aku merasa sangat senang sekarang. Tidak mungkin kan aku tersenyum senang saja dilarang olehmu atau harus sesuai persetujuan darimu?" Balas Yuki menjawabnya dengan jujur, tapi tuan Devon seakan tidak bisa mempercayai jawaban dari Yuki, maka dari itu dia terus saja menyuruh Yuki untuk menjaga jarak darinya dan memperingati Yuki agar tidak berani macam-macam kepada dirinya disaat dia tidak ada di sekitar Yuki.
"CK....awas saja jika sampai kau berbohong, aku akan dua kali lipatkan hutangmu itu biar kau semakin kesulitan dan terus bekerja denganku seumur hidup, sampai aku puas dalam menyiksamu nantinya, kau dengar itu kan, aku memperingatkan kau Yuki!" Balas tuan Devon membuat Yuki langsung merinding dan merasa gugup mendengarnya, bukan tentang sebuah hukuman ataupun permasalahannya, tetapi ini tentang ancaman dari tuan Devon yang bisa-bisanya membuat dia mati berdiri menjadi patung, hutangnya yang empat puluh juta saja sudah membuat dia kesulitan sampai seperti ini, bahkan di hari pertama bekerja, apalagi jika hutangnya menjadi dua kali lipat, mungkin dia sudah dijadikan babu sungguhan oleh tuan Devon nantinya.
Bayangan dalam kepala Yuki sudah bisa tergambar dengan jelas, dimana dia menjadi pelayan tuan Devon seumur hidupnya hanya untuk melunasi hutang yang dia miliki dan sama sekali tidak pernah bisa dia nikmati uangnya tersebut, jatuh dalam sebuah penderitaan yang sangat dalam dan terus saja di tunjuk-tunjuk sangat kencang sambil terus mengerjakan banyak pekerjaan tanpa kenal waktu.
Menghancurkan harga dirinya juga membuat dia menderita seumur hidupnya, dia langsung berteriak sangat kencang di depan tuan Devon dan menggelengkan kepalanya cukup kuat untuk menghapus bayangan yang sangat buruk itu dari kepalanya tersebut.
"CK.... baiklah aku percaya denganmu sekarang, tapi awas saja jika sampai kau berani menjelekkan aku, atau bermain curang di belakangku, aku pastikan kau tidak akan bisa hidup dengan tenang lagi, camkan itu!" Balasnya membuat Yuki setidaknya bisa merasa lega walaupun hanya untuk saat ini saja.
__ADS_1
Dia segera mengelus dadanya pelan sambil menghembuskan nafas dengan begitu lega, setidaknya dia bisa lolos dari musibah yang akan sangat membuat dirinya menderita lebih awal. "Fyuhh... akhirnya kau mempercayai aku juga, aahh aku hampir saja mati mematung." Balas Yuki sambil terus mengatur deru nafasnya.
Hingga tuan Devon segera menyuruh Yuki untuk membantu dia dalam membereskan berkas yang bertumpuk di mejanya itu, agar bisa di susun lebih rapih ke dalam map yang sudah tersedia di dalam laci dan memang sengaja sudah dipersiapkan oleh tuan Devon sebelumnya, untuk memasukkan semua berkas dengan tersusun sesuai dengan tanggal yang tertera pada berkas itu yang harus sama dengan tanggal yang ada pada bagian luar map tersebut, Yuki juga tidak banyak tanya lagi, dia tidak mau membuat tuan Devon kembali marah dan akan menyulitkan dia lagi, sehingga dia pun bisa langsung menuruti perintah apapun yang tuan Devon berikan kepadanya dengan cepat.
"Ya sudah untuk apa sekarang kau masih berdiri di situ, sana masukkan semua berkas ini ke dalam map yang sesuai dengan tanggalnya, lalu susun mulai dari yang paling terbaru hingga sampai ke yang paling lama." Balas tuan Devon kembali memerintahkannya lagi.
"Siap tuan!" Balas Yuki sambil memberikan hormat dengan tangannya yang dia angkat dan dia tempelkan sejajar dengan keningnya saat itu.
Saking takutnya mendapatkan ancaman dari tuan Devon, bahkan Yuki yang keras kepala dan biasanya sangat sulit untuk di berikan perintah dan peringatan oleh orang lain, tetapi kali ini untuk pertama kalinya Yuki menjawab perintah dari tuan Devon dengan begitu sigap dan sangat penuh dengan niat dan tekad, membuat tuan Devon harus menahan tawanya saat melihat kelakuan Yuki yang bak seekor bunglun dimana dapat berubah dengan begitu cepatnya seperti yang dia lihat saat ini.
__ADS_1
"Fftt..dasar manusia konyol, dia baru menuruti ucapanku dengan cepat setelah aku menakut-nakutinya, sekarang aku tahu kelemahan dia, awas saja kau akan aku takuti jika sampai kembali keras kepala dan bersikap menyebalkan lagi denganmu." Batin tuan Devon yang merasa senang ketika melihat Yuki yang pada akhirnya bisa dia taklukkan juga, padahal Yuki melakukannya bukan karena takut dengan tuan Devon tetapi takut dengan hutang yang akan semakin mengembang saat ini.