Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Bersama Tuan Devon


__ADS_3

Yuki terus saja berusaha untuk melarikan diri dari tuan Devon, bahkan dia berlari hingga ke tengah kebun teh tersebut, sedangkan tuan Devon sendiri mulai mengejarnya dan terus saja berteriak untuk menghentikan Yuki yang malah terus mengerjai dirinya.


"Hei Yuki kemari kau, bisa bisanya meledeki aku seperti itu, berhenti kau dasar kau ini aishh." Gerutu tuan Devon dipenuhi dengan emosi dalam dirinya dan terus saja berusaha menggapai tangan gadis itu untuk menghentikannya.


Tapi ayang sekali Yuki berlari sangat kencang membuat tuan Devon kesulitan untuk mengejarnya dan yang ada malah tuan Devon sendiri yang sudah merasa kecapekan lebih dulu, dia juga sampai terjatuh di tanah dan berteriak sangat kencang. "Aarrkkk." Teriak tuan Devon yang tersandung tumbuhan teh kecil dan badannya sudah tidak terlihat lagi.


Yuki berbalik dan mencari sumber suara itu sembari berteriak memanggil nama tuan Devon karena sangat mencemaskan pria tersebut.


"Tuan? Tuan Devon kamu ada dimana? Tuan kemarilah, tuan Devon!" Teriak Yuki terus saja berlari ke belakang dan mencari keberadaan tuan Devon saat itu, dia benar-benar merasa takut dan cemas, karena terakhir kali mendengar teriakkan tuan Devon dengan rasa sakit yang membuat dia kaget mendengarnya, itu sangat membuat Yuki tidak tenang, dia tidak bisa diam saja sehingga terus berlari kesana kemari menerjang tumbuhan teh yang tingginya mencapai pinggang dan hampir ke dadanya karena Yuki memang pendek, semakin lama tidak menemukan tuan Devon itu semakin membuat Yuki panik dibuatnya, dia sangat cemas dan matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Tuan Devon ayolah kau hanya bercanda bukan, jangan seperti ini aku mulai takut sekarang." Teriak Yuki lagi saat itu.


Dia terus mencoba mencari keberadaan tuan Devon kesana kemari, dan mencoba untuk mencarinya ke segala arah tapi tetap saja tidak berhasil menemukannya, hingga tiba-tiba saja disaat dia terus berjalan mundur sembari menatap ke kiri dan kanannya, dari belakang munculah tuan Devon yang mengagetkan dia secara tiba-tiba, bahkan dengan memegangi kedua pundak Yuki sangat kuat kala itu.


"HA!" Teriak tuan Devon mengagetkannya, Yuki langsung terperangah dan diam mematung untuk beberapa detik, hingga akhirnya dia mulai merasa angkat kesal dan langsung menepuk tubuh tuan Devon sembarangan dengan sekuat tenaganya karena dia sudah dibuat sangat kesal oleh kelakuan tuan Devon yang kekanak-kanakan tersebut.


"Eugh...tuan kau ini benar-benar ya? Kenapa kau malah menepuk pundakku secara tiba-tiba seperti itu, aku hampir mati karena kaget!" Bentak Yuki sambil terus menimpuki tuan Devon sepuasnya, meskipun saat itu tuan Devon tertawa puas dan terus meminta maaf atas kesalahannya, tapi Yuki sama sekali tidak perduli dengan hal itu, dia tetap saja marah dan kesal.


"Ahaha...sudah maaf maaf aku kan hanya bercanda lagi pula kau berlari terlalu kencang hingga meninggalkan aku kesulitan sendiri sampai tersandung, aduhh sudah maafkan aku ya, lihat nih aku tidak bohong aku sungguh tersandung." Ujar tuan Devon terus meminta maaf sekaligus menunjukkan kakinya yang tersandung akar pohon teh dan membuat pergelangan kakinya nampak lebam.

__ADS_1


Yuki yang melihat hal itu dia langsung terperangah dan merasa tidak tega sekaligus merasa bersalah kepada tuan Devon, dia langsung berjongkok memeriksa kaki tuan Devon dengan cepat. "Astaga.. aahh tuan maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kamu sampai seperti ini, tapi.... Tapi ini kamu sakit atau tidak?" Tanya Yuki sembari meminta maaf dengan wajahnya yang nampak sangat panik sekali.


Tuan Devon terus saja berusaha menahan tawa ketika melihat ekspresi Yuki yang sangat menggemaskan ketika mencemaskan dirinya, dia benar-benar merasa sangat tidak tega dengan wajah Yuki dalam kondisi seperti itu, tetapi disisi lain tuan Devon berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk dirinya agar dapat mengambil kesempatan kepada Yuki.


"Ah.. sudahlah ini hanya lebam sedikit nanti juga akan hilang sendiri, ayo kita pulang saja ini sudah hampir larut, bisa kemalaman dijalan kalau tidak pulang dari sekarang, kau juga tidak sedih lagi kan?" Balas tuan Devon yang malah balik menanyakan keadaan Yuki saat itu, Yuki mengangguk menyetujui ucapannya dan segera saja dia membantu tuan Devon untuk berjalan dengan memapahnya.


"Aku baik-baik saja, ayo aku bantu kamu berjalan, hati-hati tuan, kakimu pasti sakit kan, maafkan aku ya, tadi aku sudah membentak mu, aku pikir kamu baik-baik saja." Ujar Yuki kembali meminta maaf karena dia masih merasa tidak enak hati dan sedikit penuh rasa bersalah kepada tuan Devon.


"Berhenti terus meminta maaf begitu, aku baik-baik saja, sudah kau tidak perlu membantuku juga aku masih sangat sanggup berjalan sendiri." Balas tuan Devon kepada Yuki, membuat Yuki semakin tidak enak hati kepada-nya.


Saat itu Yuki juga sudah mencoba menawarkan dirinya untuk mengemudikan mobil, karena dia merasa cemas dengan kondisi kaki tuan Devon yang terlihat kesakitan setiap kali dia melangkahkan kakinya. Tapi tuan Devon terus menolak bantuan dari Yuki sebab dia merasa dirinya masih sangat mampu untuk mengemudi sedangkan jika Yuki yang mengemudikannya dia sama sekali tidak percaya kepada gadis tersebut, sebab belum pernah melihat Yuki mengemudikan mobil sebelumnya, tuan Devon takut mobilnya akan rusak lagi atau bahkan terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan nantinya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang." Gerutu Yuki pelan dengan hembusan nafas yang berat dan tidak sengaja di dengar oleh tuan Devon saat itu.


"Heh, sudah kau ini aku kan sudah membawamu bermain di kebun teh, kenapa kau malah murung lagi seperti itu, aishh wajahmu sangat jelek sekali saat cemberut begitu." Balas tuan Devon dengan wajah yang terlihat kesal.


Yuki pun terus tertawa dibuatnya dan dia malah langsung memalingkan pandangan ke luar jendela dengan menutupi mulutnya agar tidak tertawa terlalu keras saat itu.


"Tuan kau memangnya sebenci itu ya denganku?" Ucap Yuki sembari sedikit bercanda dengannya karena wajah dia nampak terlihat sedikit tertawa saat itu.

__ADS_1


"Heh, kau kan sudah tahu aku tidak menyukaimu kenapa pula kau masih bertanya begitu, apa kurang jelas ya sikapku kepadamu selama ini, atau kau mau aku berikan pelajaran lain dan hukuman yang lebih berat lagi?" Balas tuan Devon dengan suara yang semakin meninggi dan terus saja berpikir keras saat itu.


"Eehh..haha kau biasa saja kali, aku kan hanya bertanya saja, tapi kalau kau memang tidak senang denganku, kenapa kau malah membantu aku dan mengajakku pergi ke tempat tadi, kau mau menghibur aku kan, kenapa juga kau memberitahuku tentang tunanganku yang tidak baik itu?" Tanya Yuki bertubi-tubi membuat tuan Devon semakin gugup dibuatnya, dan dia nampak kebingungan dengan apa yang harus dia jawab dengan Yuki saat itu. Wajah tuan Devon benar-benar terlihat sangat gugup ditambah Yuki yang terus saja menatapnya dengan sangat serius tanpa berkedip sedikitpun.


"Tuan kenapa kau diam saja dan kenapa wajahmu menjadi tegang seperti itu?" Tanya Yuki kepada tuan Devon dengan wajah penasarannya dan terus saja menatap lekat.


"A...AA..aku, aku hanya sedang fokus menyetir kau jangan banyak bertanya aku tidak bisa fokus nih." Balas tuan Devon yang sudah kehabisan alasan dalam otaknya itu.


Dia memang pandai dan jenius dalam berbisnis tapi sangat konyol untuk berbohong dan mencari alasan, dia benar-benar payah sekali dalam hal seperti itu.


Sehingga tuan Devon malah membuat alasan yang konyol dan sulit untuk masuk dalam logikanya Yuki saat itu, gadis 20 tahun tersebut hanya bisa diam saja sembari menaikkan kedua alisnya sebab dia tidak mengerti bisa-bisanya tuan Devon malah menjawab pertanyaan dia seperti itu. "Tuan kau kan mendengar hanya dengan kuping, kenapa harus membuatmu jadi tidak fokus? Memangnya kau mendengar dengan tangan atau kakimu?" Balas Yuki yang sangat menohok dan membuat tuan Devon merasa terdesak saat itu.


"Aishh kau ini cerewet sekali sih, sudah kau diam saja aku kan sudah bilang aku tidak bisa banyak mengobrol saat menyetir, apalagi kau malah bertanya hal-hal tidak penting seperti itu, sudahlah kau simpan saja dulu pertanyaan mu itu untuk nanti, aku sedang malas membahasnya sekarang." Balas tuan Devon dengan sangat santai gugup dan suaranya yang semakin meninggi karena takut diketahui oleh Yuki bahwa dirinya benar-benar sangat gugup tidak karuan kala itu.


Yuki sendiri juga tidak mau banyak bicara apalagi bertanya tentang hal lain lagi dengan tuan Devon sehingga dia lebih senang untuk diam dengan memasang wajah cemberut yang dipenuhi kekesalan dalam dirinya, dia tidak mau mengobrol lagi dengan tuan Devon yang selalu meninggikan suaranya saat di depan dia, jadi dia langsung memalingkan pandangan ke arah lain dan lebih senang menikmati pemandangan kota dalam waktu senja, melihat lampu-lampu jalanan yang mulai menyala karena hari sudah hampir berganti menjadi malam, dan kini Yuki mulai merasa bosan, sudah beberapa menit berlalu dan dia hanya diam saja, membuat matanya mulai mengantuk karena dia tidak bicara sedikitpun sedari tadi, beberapa kali Yuki hampir terhantuk samping kaca mobil tapi untungnya tuan Devon menyadari hal itu dan masih sempat untuk menyadarkan Yuki sebelum kepala gadis itu benar-benar mengenai kaca mobil dengan keras nantinya.


"Hei, bangun, dasar kau ini pemalas, jangan tidur saat di perjalanan, enak-enakan saja kau ini, memangnya kau pikir aku supir pribadimu apa?" Bentak tuan Devon yang melarang Yuki untuk tidur, membuat Yuki sangat kesal sebab saat itu dia benar-benar sangat mengantuk sekali dan butuh istirahat yang cukup setelah.


"Tuan tapi aku sangat mengantuk sekali, aku sangat lelah dan mataku lihat mataku baik-baik tidak ada mata kehidupan sekarang ini, kalau aku terus diam dan memandangi pemandangan di perjalanan, itu hanya akan membuat aku kembali teringat dengan Jonas sialan itu, dan wanita seksi tadi, aarrkk...aku ingin menjambak rambutnya dan menendang b*kong wanita ganjen dan perebut tunangan orang itu!" Teriak Yuki sangat kencang dan melampiaskan semua emosi yang dia tahan sejak lama.

__ADS_1


__ADS_2