Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Bangun Kesiangan


__ADS_3

Saat dia tengah memeriksa meteran listrik yang ada di samping pintu luar rumah kosannya tersebut, Yuki baru ingat jika dia belum sempat mengisi pulsa listrik rumahnya itu, jadi mati lampu sebelumnya bukan dikarenakan ada masalah ataupun korsleting pada listrik, melainkan karena tagihan listri yang sudah habis dan dia tidak sempat untuk mengisinya lagi. Gadis 20 tahun yang tinggal di rumah seorang diri pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu sambil terus saja menyerah pada kemiskinan yang dia derita ini. "Fyuhh....aku lupa kalau listriknya belum sempat aku isi lagi, aishh bagaimana aku akan membelinya di jam segini, semuanya pasti sudah tutup." Gerutu Yuki terus saja mengeluh pada dirinya sendiri.


Karena saat itu sudah hampir tengah malam, Yuki pun memutuskan untuk tidur di rumah dalam keadaan gelap seperti ini, karena memang tidak ada cara lain lagi untuk mendapatkan cahaya dan listrik di jam segini.


Dia kembali masuk ke dalam rumahnya dan mulai menyalakan sebuah lilin terapi yang ada di kamarnya, karena Yuki memang tidak memiliki lilin lain selain lilin terapi tersebut, dan sebuah senter dari ponselnya, kini baterai ponselnya pun sudah mulai habis dan dia masih harus mengirit baterai ponselnya tersebut agar bisa bertahan hingga besok, karena begitu Yuki mematikan daya ponselnya dan mulai tidur dengan perlahan, merilekskan tubuhnya dengan aroma lilin terapi yang sangat menenangkan dan membuat tidurnya semakin lelap.


Disisi lain tuan Devon menghampiri penjual nasi goreng tadi dan memberikan sejumlah uang yang cukup banyak kepadanya karena dia sudah mau di ajak untuk bekerjasama dengan dirinya, ya tanpa Yuki ketahui sebenarnya apa yang dilakukan oleh sang penjual nasi goreng di gerobak tersebut, bukan pyur karena kebaikannya, justru karena sebelumnya dia sudah diberikan perintah oleh tuan Devon bahwa pedagang itu harus memberikan nasi goreng dagangannya sebanyak apapun yang Yuki inginkan, hanya saja dengan syarat tidak boleh mengatakan bahwa semua itu berkat dirinya, oleh karena itu sang pedagang tersebut punya caranya sendiri untuk memberikan makanan geratis tersebut kepada Yuki sampai membuat gadis itu sama sekali tidak sadar bahwa dirinya sebenarnya tidak diberikan makanan geratis melainkan diberikan makanan oleh tuan Devon. "Kerjamu bagus juga, kau cocok jadi aktor, ini bayarannya dan ingat jangan beritahu siapapun, paham?" Ujar tuan Devon kepada pedagang tersebut.


Dengan cepat pedagang itu mengambil uang dari tangan tuan Devon dan terus saja mengangguk menjawabnya dengan tegas serta wajah yang begitu senang karena dia mendapatkan banyak sekali uang dari hasil sisa dagangannya tersebut.


"Ehehe.. terimakasih banyak tuan, kau tenang saja semua rahasia ini akan aman denganku. Hehe." Ujarnya sambil terus saja segera pergi dari sana secepatnya.


Setelah urusannya selesai dan dia merasa semua permasalahan Yuki sudah beres, barulah tuan Devon pergi dari sana, kembali ke rumahnya cukup malam karena dia pikir Yuki juga pasti akan kembali dan beristirahat di rumahnya dengan tenang. Dan dia tidak perlu mencemaskannya lagi.

__ADS_1


Hingga ke esokan paginya, Yuki yang tidur larut malam dia bangun kesiangan terlebih karena listrik di rumahnya mati dan alarm di kamarnya lupa untuk dia nyalakan, membuat dia bangun tepat jam setengah tujuh, hanya tersisa waktu setengah jam saja bagi dia untuk di perjalanan dan harus sudah ada di kantor tepat jam 7 pagi sebelum tuan Devon sampai di sana lebih dulu, dia berlari dengan sekuat tenaga bahkan sampai terjatuh dan tersandung dengan selimutnya sendiri saking terburu-burunya kala itu.


"Aarrkkk jam setengah tujuh, aishh bagaimana ini aku tidak akan sempat untuk mandi. Aahh brugh!" Suara Yuki yang jatuh tergeletak di depan pintu kamar mandi.


Kakinya terasa sakit dan berdarah di bagian kukunya yang sobek, tapi dia tidak bisa membuang waktu untuk hal itu, sehingga dia kembali berdiri dengan sekuat tenaga dan terus masuk ke dalam kamar mandi sambil segera menggosok giginya lalu mengambil pakaian baru dan dia hanya mengikat rambut sambil berlari keluar tanpa membawa ponselnya yang tergeletak di samping ranjang tempat tidur.


Saking terburu-burunya, Yuki bahkan sampai lupa tidak memakai sepatu dan hanya membawa tas selempang kusutnya itu.


Dia mengabaikan kakinya yang masih berdarah padahal orang lain menatap ke arahnya dan ada beberapa orang juga yang memberitahunya soal hal itu tetapi Yuki mengatakan bahwa dia baik-baik saja, karena tidak mendapatkan kursi untuk duduk terpaksa dia harus berhimpitan dengan ibu-ibu dan penumpang lainnya sambil berdiri di dalam bus selama perjalanan berlangsung.


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya Yuki bisa sampai juga di gedung perusahaan milik tuan Devon, dia berjalan dengan cepat masuk ke dalam kantor dan terus masuk ke dalam lift dengan kaki yang pincang, namun saat dia hendak menghentikan lift yang hampir tertutup, rupanya di dalam lift tersebut ada sekretaris Geri dan tuan Devon yang menatap ke arahnya dengan wajah datar tanpa ekspresi serta kedua alis mereka yang dikerutkan sedikit, membuat Yuki merasa gugup dan dengan cepat dia memilih untuk tidak jadi masuk ke dalam lift, namun tuan Devon malah menarik tangan Yuki dan membuat dia terbawa masuk ke dalam hingga pintu lift tertutup dengan cepat.


"Ahhh...tu tu tuan." Ucap Yuki dengan wajah yang kaget karena hampir saja tubuhnya akan terjepit pintu lift sebab tuan Devon yang menarik tubuhnya di detik-detik terakhir ketika pintu lift hendak tertutup saat itu.

__ADS_1


"Apa? Kaget ya? Siapa suruh kau hanya berdiri di depan pintu lift dengan tangan yang memegangi pintunya seperti itu? Jika aku tidak menarikmu kau juga akan terjepit di pintunya, dasar kau bodoh!" Ujar tuan Devon membuat Yuki kesal mendengarnya.


Karena sebelumnya tidak pernah ada orang yang berani mengatai dirinya bodoh seperti itu. "CK...dasar manusia sombong." Gerutu Yuki pelan untuk melampiaskan emosi dalam dirinya, sedangkan tuan Devon sama sekali tidak perduli.


Dia hanya memberikan tatapan tajam kepada Yuki yang membuat Yuki sulit menelan salivanya sendiri, tidak hanya itu Yuki juga langsung terdiam, dia sama sekali tidak berani menggerutu atau merutuki tuan Devon lagi, karena di dalam lift tersebut hanya ada mereka bertiga saja, tidak ada orang lain lagi disana sehingga dia juga merasa takut tuan Devon akan memberikan hukuman yang keras dan kejam padanya, untuk menghindari hal tersebut, Yuki memilih jalur aman dengan diam da berdiri menjauh dari tuan Devon.


Sedangkan tuan Devon sendiri mulai merasa tidak nyaman dan sangat kesal ketika melihat Yuki yang terus bergeser ke samping sedikit demi sedikit untuk menjauhi dirinya kala itu, dia segera saja membentak Yuki dan menyuruhnya untuk berhenti bertingkah konyol seperti itu dihadapannya.


"Heh, untuk apa kau terus menggeser dan menjauh dariku, apa kau pikir aku ini virus dan semacamnya harus kau jauhi seperti itu, kemari kau! Ayo cepat kemari berdiri di sampingku!" Bentak tuan Devon sambil menarik tangan Yuki dengan cepat.


Membuat gadis tersebut tidak bisa menghindar dan hanya bisa menurutinya meski di dalam lubuk hatinya dia sudah merutuki tuan Devon habis-habisan.


"Dasar kepala batu, manusia setengah iblis, bisa bisanya dia malah bicara seperti itu dan memaksaku, berdiri dimana saja kan hak masing-masing manusia, aishh menjengkelkan sekali harus bekerja dengan manusia kejam dan tidak punya otak ini." Batin Yuki yang melampiaskan emosinya sendiri kala itu.

__ADS_1


__ADS_2