
Selama Geri tidak ada di ruangan tersebut, tuan Devon terus saja menatap dengan sangat tajam dan rahangnya yang mulai mengeras dan menatap sangat tajam kepada Yuki tanpa henti.
"Astaga.. kenapa aku mendadak jadi merinding begini ya, apa dia semarah itu hanya karena sebuah sofa saja?" Batin Yuki yang mulai merasa cemas saat itu.
"Hei, apa kau tidak tahu seberapa mahalnya sofa yang barusan kau injak itu?" Bentak tuan Devon secara tiba-tiba kepada Yuki sambil terus berkacak pinggang kepadanya dan memasang wajah yang sangat serius.
"Me..me..memangnya berapa harganya?" Tanya Yuki dengan kedua alis yang dia naikkan sedikit dan sudah mulai merasa takut.
Karena dia tahu sebelumnya saja untuk perbaikan mobil milik tuan Devon dia harus mengeluarkan ganti rugi 50 juta, sekarang harga sofanya itu sudah bisa dia perkirakan bahwa pasti akan sangat mahal.
"Harga pembersihannya saja bisa sampai lima juta? Apa kau pikir kau akan mampu untuk menggantinya, dan satu lagi harga sofa ini 51 juta lebih, jika sampai rusak apa kau mampu untuk menggantinya?" Balas tuan Devon mengatakan harga sofa itu yang sangat tinggi membuat Yuki hampir pingsan saat mendengarnya.
Gadis 20 tahun itu bukan lagi terbelalak kaget tapi dia langsung memegangi lututnya yang terasa sangat lemas tatkala mendengar harga dari sofa tersebut yang begitu mahal, bahkan lebih mahal dibandingkan rumah yang dia tempati atau bahkan dia tidak akan pernah bisa membeli sofa dengan harga selangit itu.
__ADS_1
"Aa..apa? Ya ampun tuan aku sungguh minta maaf sebelumnya aku hanya tidak sengaja saja, itupun terjadi karena aku kaget, kau menyiram wajahku dengan air dingin, aku sungguh tidak bermaksud untuk mengotori sofa mu apalagi merusaknya." Ucap Yuki sambil terus saja memohon maaf dengan sungguh-sungguh kepada tuan Devon.
Dia tidak mungkin bisa mengganti rugi sofa itu, karena untuk mengganti rugi biaya perbaikan mobil tuan Devon saja dia sudah sangat kesulitan sekali.
Apalagi jika harus ditambah dengan biaya sofa yang tak kalah mahal dengan ganti rugi biaya perbaikan mobilnya itu.
Sayangnya meski Yuki sudah memohon maaf tuan Devon tetap saja tidak mau mendengarnya, hingga Geri dan tukang pembersih sofa tiba dan segera saja beberapa orang yang datang ke sana segera mengangkut sofa untuk keluar dari ruangan sana untuk dibersihkan karena terdapat kotoran bekas injakan kaki Yuki sebelumnya.
Setelah mereka pergi tuan Devon terus saja marah besar dan dia mulai memberikan ancaman yang kuat kepada Yuki dan meminta gadis itu untuk segera memberikan uang ganti rugi atas mobilnya. "Sudahlah, sekarang kau harus membayar uang ganti rugi untuk perbaikan mobilku yang sudah kau rusak, mana uangnya?" Bentak tuan Devon secara langsung.
Tuan Devon memang sudah menduganya bahkan wanita seperti Yuki yang memiliki penampilan sangat jelek juga bekerja sebagai pemungut sampah tentu tidak akan bisa melunasi ganti rugi kepadanya, sehingga sesuai dengan kesepakatan awal yang sudah dia buat, bahwa kini Yuki harus bekerja sebagai asisten baginya yang akan membantu dia dalam melakukan banyak hal sehari-hari.
"CK, sudah aku duga, wanita seperti kau ini tidak akan mampu membayar semua itu, baiklah mulai sekarang kau akan bekerja menjadi asistenku, dan kau tidak boleh pulang sebelum aku selesai dengan semua pekerjaanku setiap hari, dan satu lagi kau tidak bisa bekerja di tempat lain, hanya boleh bekerja denganku, karena aku tidak suka jika karyawanku tidak fokus dengan pekerjaannya sebab dia melakukan pekerjaannya di beberapa tempat seperti yang kau lakukan sebelumnya." Ucap tuan Devon memerintahkan Yuki dan memberitahu semua peraturan yang sangat memberatkan bagi Yuki, gadis muda itu terus saja terbelalak sangat lebar dia membuka matanya kaget saat mendengar ucapan dari tuan Devon saat itu.
__ADS_1
"Astaga...tuan apa yang anda katakan barusan, aku tidak boleh bekerja di tempat lain, jadi maksudmu aku hanya akan bekerja denganmu saja?" Tanya Yuki terus memastikan.
"Yap, kau hanya bekerja denganku, dan kau cepatlah selesaikan urusanmu dengan tempat kerjamu yang sebelumnya, karena mulai hari ini kau harus bekerja denganku saja, apa kau mengerti, oh ya aku tidak menerima penolakkan ataupun alasan darimu! Kau juga harus mulai bekerja denganku besok jadi selesaikan urusanmu hari ini juga." Ucap tuan Devon yang membuat Yuki tidak dapat berkata apapun lagi, dia hanya bisa terperangah dengan mulut terbuka lebar dan tidak bisa perotes apapun karena tuan Devon sudah menentukan semuanya begitu saja.
Yuki pun segera saja keluar dari ruangan tersebut dengan tubuh yang lemas dan dia terus menunduk dengan lesu, hanya bisa menggerutu kesal dan terus merutuki tuan Devon setelah dia keluar dari ruangan tersebut.
"Aaarrkkkk dasar manusia kejam, selalu memutuskan semuanya sebelah pihak, bicara dan memerintah seenaknya, aku ingin menyumpal mulut sialannya itu, aish!" Gerutu Yuki terus saja menghentakkan kakinya dan meninju tangannya ke depan dengan kosong.
Emosi Yuki terus saja menggebu-gebu dan tidak bisa berhenti bahkan saat dia tidak sengaja berpapasan dengan Geri yang hendak masuk ke dalam ruangan tuan Devon, Yuki terus saja memberikan tatapan tajam kepadanya dan terus bicara ketus.
"Apa kau lihat-lihat, bosmu itu manusia gila! Huh." Ucap Yuki begitu saja melampiaskan emosi dalam dirinya kepada Geri.
Geri sendiri hanya bisa menaikkan kedua alisnya dengan wajah kebingungan dan terus saja menggelengkan kepala cukup kuat, dia segera melanjutkan kembali langkahnya ke depan dan segera masuk ke dalam ruangan tuan Devon lagi.
__ADS_1
Yuki terus pergi menuju restoran tempat dia bekerja untuk mengundurkan diri dan berkata secara baik-baik kepada bosnya tersebut, meskipun dia sangat berat sekali untuk mengatakan semua itu tetapi tidak ada pilihan lain lagi yang bisa dia lakukan, Yuki datang menghadap pada sang manager di restoran dan memberikan surat pengunduran dirinya dengan berat hati. Hingga sang manager sendiri mengerutkan kedua alisnya dengan heran. "Ehh...Yuki apa kau yakin mau berhenti bekerja disini?" Tanya sang manager yang sangat keheranan mendapatkan surat pengunduran diri dari Yuki secara tiba-tiba seperti ini. Yuki juga hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu di hadapan sang manager.
"Huuhh.. benar manager, aku mau berhenti saja." Balas Yuki kepadanya lagi.