Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Diobati


__ADS_3

Tuan Devon juga tidak perduli dengan apa yang Yuki katakan saat itu, dia malah terus saja menyuruh Yuki untuk segera mulai bekerja karena jam masuk sudah tiba.


"Hei, sudah jangan membahas hal yang tidak penting lagi, cepat kembali ke pekerjaan kalian masing-masing. Jangan memakan gaji buta kalian!" Ucap tuan Devon yang langsung membuat Geri pergi ke luar dan aku juga segera mendapatkan tugas lagi dari tuan Devon untuk membantunya menyalin beberapa berkas lagi dan membuat folder dari pekerjaan tuan Devon sebelumnya.


Walau dari tadi Yuki merasa sangat lelah dan kakinya begitu ngilu karena dia sudah bekerja sangat keras dan mengeluarkan banyak energi dalam dirinya untuk berlari tentu saja hal tersebut membuat dia merasa sangat lelah, terus saja dia menyalin berkas-berkas itu sambil berdiri sangat lama hingga tiba-tiba saja kakinya mulai terasa sangat keram dan tidak dapat dia rasakan kakinya.


Sampai tidak lama dia langsung jatuh ambruk ke lantai dan terus saja memegangi kakinya yang kesakitan, tuan Devon yang melihat hal tersebut, dia langsung saja bangkit berdiri dan membantu Yuki dengan cepat. "Hei apa kamu baik-baik saja?" Tanya tuan Devon sambil terus menatapnya dengan lekat dan terus saja menatap dengan penuh ke khawatiran saat itu.


Yuki hanya bisa meringis kesakitan terus menerus tanpa bisa mengatakan apapun dengannya dan dia hanya bisa memegangi kakinya dengan sangat kuat untuk menahan rasa sakit di kakinya saat itu. "Aahhh sakit sekali, aku baik-baik saja tuan, ini hanya..aahh keram sedikit saja." Balas Yuki bicara kepadanya.


Dia hanya tidak mau dianggap terlalu lemah atau sebagainya karena dia seorang wanita dan memang kebanyakan orang selalu bicara seakan seorang wanita adalah makhluk yang sangat lemah dan selalu mudah merasakan sakit, sehingga dia pun menahan rasa sakit di kakinya tersebut seorang diri. "Aishh..kau ini sudah jelas sakit seperti ini masih saja bicara kalau kau baik-baik saja, lihat kakimu merah dan lebam seperti itu, aishh sudah ayo cepat aku bawa kau ke sofa saja." Ucapnya sambil terus saja menggendong Yuki begitu cepat, tanpa banyak bicara lagi dengan Yuki saat itu.


Yuki sendiri terus saja merasa sangat kaget dan dia hanya bisa membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan terlihat begitu kaget saat merasakan tubuhnya melayang diangkat oleh tuan Devon hingga di dudukkan ya pada sofa ruangan tersebut.


"Hei..tuan lepaskan aku tuan kenapa kau malah mengangkat aku begini, tuan turunkan aku!" Teriak Yuki sangat kencang dan berusaha untuk berontak saat itu.


Tapi sayangnya tuan Devon sama sekali tidak mendengarkan ucapannya tersebut, hingga Yuki terus saja merasa sangat kaget dan terus saja merasa sangat panik, hingga dia sangat kaget ketika melihat tuan Devon justru malah mengobati kakinya dan terus saja mengurut kakinya tersebut dengan pelan.


"Ehh..ehh..ehh..tuan untuk apa kau memegangi kakiku? Tuan jangan begitu, tuan tolong jangan merendahkan dirimu di hadapanku, tuan?" Ucap Yuki terus saja merasa sangat kebingungan sendiri dan terus saja merasa sangat heran dibuatnya.


"Sudah diam kau, aku hanya akan mengobati kakimu yang keram, bisa bahaya jika terus di biarkan saja, nanti peredaran darah pada kakimu akan terhambat, jadi sebaiknya kau diam saja dan biarkan aku mengobati kakimu!" Ucapnya sangat tajam dengan sorot mata yang begitu lekat saat itu.


Membuat Yuki terus terdiam dan menatap dengan wajah mematung dibuatnya, rasanya Yuki benar-benar sangat gugup sekali, baginya situasi seperti ini benar-benar membuat dia merasa sangat resah dan tidak menentu, pasalnya apa yang dilakukan oleh tuan Devon ini benar-benar sangat aneh dan membuat dia tidak bisa tenang, tuan Devon yang sangat kejam dan begitu keras sebelumnya, justru malah terus saja membantu dia dengan begitu tulus seperti ini, mengobati dan mengurusi kaki Yuki dengan lembut dan perlahan, bahkan dia berulang kali menanyakan keadaan Yuki saat itu.


Untuk memastikan, kepada Yuki saat dia mengurusi kakinya tersebut.


"Bagaimana, apa begini sakit?" Tanya tuan Devon menengadahkan kepalanya kepada Yuki, membuat jantung gadis itu langsung berdetak sangat kencang dan dia terus saja menjadi gugup sambil segera memalingkan pandangannya ke arah lain.


"AA..aahh..tidak kok, itu sama sekali tidak sakit." Balas Yuki berbohong kepada tuan Devon, sebab dia sangat tidak fokus kala itu.


Tapi disaat tuan Devon menekan sedikit saja kakinyanyang terlihat lebam dan ada bekas lecet di kakinya langsung Yuki menjerit sangat kencang dibuatnya.


"Aaarrkkkk....tuan apa kau gila ya, kenapa malah menekannya sekuat itu?" Bentak Yuki sangat keras dan terus saja terdengar begitu kencang dengan matanya yang terbuka sangat lebar, membuat tuan Kaiden menahan tawa dibuatnya.

__ADS_1


"Fffttt... Konyol sekali, tadi bukannya kau bilang tidak sakit ya, kenapa sekarang kau malah menjerit seperti itu?" Balasnya dengan wajah yang terus menahan tawa saat itu.


Yuki terus saja merasa sangat kesal dan dibuat emosi dengan kelakuan tuan Devon pada dirinya yang malah tertawa dengan selepas itu kepada dirinya, seakan terlihat begitu bahagia ketika dirinya menderita, dan menahan sakit yang terasa sangat nyata.


"CK...dasar manusia sangat menjengkelkan, beraninya dia malah menertawakan aku." Gerutu Yuki sangat pelan dengan mulutnya yang sedikit terbuka.


Tuan Devon juga masih bisa mendengarnya, karena dia ada di hadapannya saat itu.


"Heh, apa yang kau katakan barusan, beraninya kau menggerutu di hadapan aku secara langsung, apa kau pikir aku ini tuli?" Bentak dia kepada Yuki sangat menakutkan.


Yuki pun sampai harus menelan salivanya dengan susah payah kalan itu dan segera saja dia meminta maaf kepada tuan Devon, tuan Devon sendiri juga segera bangkit berdiri dan memberikan obat oleh yang hangat untuk kaki Yuki agar bisa dia oleskan sendiri.


"Aish... Dasar kau tidak tahu terimakasih, ini kau oleskan sendiri obatnya." Ucap tuan Devon sambil memberikan obat itu ke depan wajah Yuki yang membuat Yuki langsung mengambilnya dengan tangan gemetar saat itu.


Dia pun mengoleskannya sendiri tidak lagi dibantu oleh tuan Devon, karena tuan Devon sendiri sudah kembali ke meja kerjanya dan dia terlihat kembali melanjutkan tugasnya dengan sangat serius.


Hingga beberapa saat kemudian, hingga Yuki sudah merasa lebih baik dan dia berniat untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang di tugaskan oleh tuan Devon kepadanya, justru dengan cepat tuan Devon langsung saja menahannya dan malah menyuruh Yuki untuk beristirahat saja, karena melihat kondisi kakinya yang terlihat masih sangat lebam juga merah memar, sehingga dia juga mungkin merasa cemas dengan kondisi Yuki jika terus di paksakan bekerja dalam kondisi seperti itu.


"Mau kemana kau?" Tanya tuan Devon terlebih dahulu saat itu.


"Sudah diam, kau ini sudah sakit seperti itu saja masih saja mau bergerak, diam dan istirahat tubuhmu, kau akan tetap digaji selama kau tidak pulang, diam disana dan berhenti pura-pura kuat seperti itu." Ucapnya terus saja menyuruh Yuki agar diam.


"Tapi tuan aku kan..." Ucapnya lagi berusaha untuk membantah tuan Devon.


Namun belum sempat Yuki menyelesaikan ucapannya dia sudah mendapatkan tatapan sinis yang sangat tajam dan begitu menusuk dari tuan Devon sehingga membuat Yuki langsung saja terdiam dengan cepat, hanya mendapatkan tatapan setajam itu saja sudah bisa membuat seorang Yuki mengerti bahwa, apa yang dimaksud oleh tuan Devon kepada dirinya sudah tidak dapat dia bantah lagi dan dia pun kembali duduk dengan menghembuskan nafas lesu dan hanya diam tanpa melakukan apapun selama beberapa jam hingga jam istrinya tiba, barulah saat itu dia bisa pergi keluar untuk mencari makanan.


Tapi sayangnya karena Yuki sudah tidak punya uang lagi dia memiliki untuk tidak pergi makan di kantin seperti yang lainnya, karena untuk makan di cafe atau di kantin itu harus dia bayar, sedangkan dirinya tidak punya uang, Yuki hanya bisa mengambil air dan mie instan yang geratis di dapur, bahkan untuk menikmatinya saja Yuki harus bersembunyi sendirian di dapur, karena dia merasa malu jika harus makan mie di luar dan di lihat oleh karyawan yang lain.


Tapi sialnya disaat dia tengah menikmati mie nya yang baru saja matang dan baru selesai dia tiupi, justru dia malah terpergok oleh sekretaris Geri yang datang ke dapur secara tiba-tiba untuk menyeduh kopi saat itu.


"Astaga... Yuki kenapa kamu duduk di lantai dan haya makan mie, kau tidak ke kantin?" Ucap sekretaris Geri terus mendekat pada Yuki.


Yuki yang kaget mendengar suara sekretaris Geri, dia segera saja bangkit berdiri dan menaruh mie instan di mangkuk tersebut ke meja terlebih dahulu. Sambil terus menatap dengan wajah yang kebingungan dan terus saja merasa gugup dibuatnya untuk menjawab pertanyaan dari tuan Geri saat itu.

__ADS_1


Dia pun terus saja merasa bingung apa yang harus dia katakan kepada sekretaris Geri, hingga belum juga dia sempat untuk menjawab ucapan dari sekretaris Geri, malah muncul kembali tuan Devon yang datang menyusul sekretaris Geri sambil terus saja berteriak sangat kencang memanggil sekretaris Geri saat itu.


"Ger...Ger...Geriii dimana kau?" Teriaknya sangat kencang sambil berkacak pinggang dan terus saja masuk ke dapur dengan menatap ke arahku juga sekretaris Geri yang berdiri sangat dekat, bersampingan saat itu.


Suasana menjadi semakin tegang dan dia terus saja semakin gugup, kakinya sudah bergetar dan Yuki memikirkan alasan apa yang harus dia katakan saat ini jika tuan Devon akan kembali bertanya dengannya lagi.


Baru saja dia mengatakan hal itu, tapi dia malah terus saja mendahului perasaan dan dugaan dari Yuki saat itu. "Sedang apa kalian berdua ada disini, dan kenapa kalian berdiri begitu dekat, apa kalian?" Ucap tuan Devon sambil terus saja menatap dengan wajah yang sangat tajam sambil terus menekuk kedua alisnya sangat kuat.


Sekretaris Geri ikut gugup dan dia terus menjauh dari Yuki dengan cepat sambil segera menggoyangkan kedua tangannya dengan cepat dan terus saja berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka saat itu.


"Ehh tidak tuan, jangan salah paham dahulu, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, aku kemari untuk menyedihkan kopi untukmu tapi tadi malah melihat Yuki yang duduk di lantai sambil meniupi mie instan, makanya aku mendekat ke arahnya dan segera saja bertanya tapi dia belum sempat menjawabnya, kau sudah lebih dulu tiba." Jelas sekretaris Geri kepada tuan Devon saat itu.


Tapi sayangnya walaupun sekretaris Geri sudah menjelaskan semua kebenarannya kepada tuan Devon dan dihadapan Yuki yang terus mengangguk untuk menambahkan kesan bagi tuan Devon supaya dia bisa percaya dengan apa yang sudah dijelaskan oleh sekretaris Geri saat itu, bagi Yuki saat ini lebih baik dia bicara jujur saja dibandingkan harus di curigai olehnya dan itu akan membuat dia menjadi semakin sesat dibuatnya, tapi mau bagaimana lagi tuan Devon tetaplah seorang tuan Devon mau bagaimana pun sekretaris Geri dan Yuki sudah menjelaskan tetapi dia masih saja malah mengira Yuki dan sekretaris Geri adalah pasangan di belakang dirinya.


"CK...katakan saja jika kalian memang memiliki hubungan spesial di belakangku, aku juga sama sekali tidak akan keberatan dengan hal itu." Balas tua Devon membuat Yuki harus turun tangan secara langsung, karena jelas sekali bahwa dia tidak terima dengan apa yang di sangka kan oleh tuan Devon kepada dirinya dengan sekretaris Geri yang sangat salah sekali.


"Wah..wahh..tuan kau ini benar-benar sudah salah sangka, aku dan sekretaris Geri tidak ada hubungan apapun, lagi pula mana mau dia denganku dan aku pun tidak mungkin begitu lancang berhubungan dengan sekretarismu sendiri, ini lihat saja mie instan milikku bahkan belum sempat aku sentuh karena kalian lebih dulu datang membuat aku tidak bisa memakannya, sekarang justru malah menjadi bengkak seperti kakiku dan kuahnya sudah menghilang karena kau malah ikut datang dan membuka kekacauan ini, aahhh mie instan ku, sudahlah aku mau makan saja sana kalian pergi jangan mengganggu aku lagi." Ucap Yuki dengan wajah yang terlihat sangat kesal karena melihat mie yang sudah dia sedih dan tengah dia makan justru malah menjadi tidak bisa seenak sebelumnya untuk dia makan sekarang, tetapi walau begitu, dia tetap saja memakannya dan terus duduk di meja dapur tanpa memperdulikan dua pria yang menatapnya saat itu.


Tuan Devon yang melihat Yuki tengah memakan mie instan di sana langsung saja menarik tangan Yuki dan membuat Yuki terpaksa harus menghentikan makanannya, padahal mie nya saat itu belum sempat dia makan seluruhnya.


"Eehh..eehh..tuan lepaskan kepada kau malah menarik tanganku seperti ini, tuan ada apa denganmu, tuan lepaskan aku!" Bentak Yuki saat itu.


"Sudah ikut denganku, kenapa kau malah memakan mie yang sudah tidak layak dimakan lagi seperti itu? Apa kau tidak tahu bahwa mie seperti itu sangat bahaya untuk kesehatan dan untuk apa juga kau malah makan di dapur seorang diri, makan disini, aku sudah menyediakan tempat makan yang luas bagi semua karyawanku, kau malah memilih makan di dapur, membuat namaku kotor saja." Ucap tuan Devon sambil mendudukkan Yuki dengan paksa di kantin yang cukup luas tersebut.


Tuan Devon juga terus saja mengangkat tangannya dan memanggil pelayan disana untuk menghampiri dia dan terus memesankan beberapa makanan untuk Yuki, meski saat itu Yuki terus saja berusaha keras untuk menahannya tetapi dia malah terus saja memesankan, hingga pelayan tadi sudah pergi kembali untuk menyiapkan makanannya barulah Yuki tertunduk dengan lesu dan dia malah menjadi sangat tidak bersemangat.


"Tuan kenapa kau malah memesankan banyak sekali makanan untukku, huaa..aku tidak ada uang untuk membayarnya, itulah kenapa aku memilih makan di dapur seorang diri dan memilih untuk makan mie saja dibandingkan pergi ke kantin, sekarang aku harus membayarnya dengan apa?" Balasnya saat itu dengan wajah yang sangat menyedihkan dan terus saja menaruh kepalanya ke atas meja sambil terus mendengus kesal sendiri.


Tuan Devon yang akhirnya mengetahui alasan dari Yuki makan di dapur dia pun mengerti sekarang sehingga dia pun langsung aja mengatakan bahwa dia yang akan membayar semuanya. "Oh jadi begitu, kau tenang saja aku yang akan membayarnya, lagi pula yang segitu juga tidak akan seberapa kok, kau ini benar-benar miskin dan sangat perhitungan sekali sih." Balas tuan Devon sambil terus menyepelekan uang yang akan dia berikan untuk membayar makanan Yuki saat ini.


Sedangkan Yuki sendiri yang mendengar hal itu, langsung saja bangkit berdiri dengan wajahnya yang terlihat berseri-seri dan sangat gembira mendengar bahwa tuan Devon yang akan membayar makanan itu untuknya.


"Ya ampun tuan, apa kau benar? Kau sungguh mau membayarnya untukku? Ahhh aku sangat senang sekali terimakasih banyak tuan, kau memang orang yang sangat dermawan dan sangat baik, aku benar-benar senang dan merasa bersyukur karena memiliki orang sepertimu, terimakasih banyak tuan ehehe." Balasnya sambil terus saja memberikan senyuman sangat lebar kepada tuan Devon saat itu.

__ADS_1


"Ahah...tentu saja, aku kan dari dulu memang sudah dermawan dan tidak sombong, kau nya saja yang sangat keterlaluan selalu menentang aku lebih dulu, dasar kau ini, menyebalkan sekali." Balas tuan Devon yang malah semakin senang karena mendapatkan pujian dari Yuki kala itu.


Hingga semua makanan yang sudah dipesan oleh tuan Devon tiba, langsung saja Yuki menyantap semua makanan itu dengan lahap, ditemani dengan tuan Devon yang duduk di hadapannya dengan kedua tangan yang dia lipatkan di depan dada dengan wajah tanpa ekspresi, terus melihat Yuki yang maka begitu cepat dan sangat lahap, pipinya yang besar dan mengembang bak seperti seekor ikan kembung membuat dia merasa sangat ingin tertawa melihatnya kala itu.


__ADS_2