Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Menjual Sofa


__ADS_3

Bagi Yuki setidaknya saat ini dia sudah bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membiayai dirinya juga menyisihkan untuk tabungan dan membayar hutang pada tuan Devon, walaupun semua ini masih sangat terlampau jauh tetapi dia tidak akan pernah berputus asa sama sekali.


Hari demi harus terus dilewati oleh seorang Yuki yang penuh dengan keringat dan kerja keras, gadis itu harus bekerja jauh lebih banyak dan mengeluarkan banyak keringat dibandingkan biasanya, dia harus bekerja dari pagi hingga malam dan tidak ada waktu bersantai baginya, hingga lima hari sudah berlalu hanya tinggal dua hari lagi bagi seorang Yuki mengumpulkan uang sebanyak lima puluh juta untuk melunasi hutangnya kepada tuan Devon.


Sedangkan uang yang dia pegang saat ini hanya terkumpul enam juta rupiah, itupun dia dapatkan dari kerja keras dia selama ini dan hasil penjualan beberapa barang yang dia miliki, sudah ada banyak sekali pakaian dan sepatu yang dia jual untuk mendapatkan uang tambahan senilai satu juta dalam lima hari ini.


Kini Yuki bahkan hanya tinggal memiliki satu sepatu yang jelek dan usang, satu buah tas dan juga satu tempat tidur di rumahnya, dia juga berniat untuk menjual sofa yang selama ini menemani dia untuk duduk di ruang tengah, termasuk dengan tv juga beberapa barang lainnya yang dia miliki. Duduk di depan balkon kamarnya sambil memegangi ponsel android miliknya yang tidak seberapa bagus itu.


"Aku harus menjual semua ini untuk meringankan beban hutang dan biayaku ke depannya, semoga saja tuan Devon bisa memberikan aku tambahan waktu ke depannya sehingga aku tidak perlu bekerja sebagai pelayannya, aaahh aku yakin jika aku bekerja sebagai pelayannya, dia pasti akan mempermalukan aku dan terus menyuruh-nyuruh aku seenaknya, aaahh itu tidak boleh terjadi! Dunia sudah merdeka tidak mungkin aku mau dijajah." Gerutu Yuki terus saja membayangkannya.


Gadis 20 tahun itu pun langsung saja meng-klik foto sofa dan tv miliknya untuk dia unggah di market place di ponselnya, sambil terus berharap akan ada orang yang menawar barangnya tersebut dalam waktu yang cepat.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga saja ada yang mau membeli dalam waktu cepat." Ucapnya langsung memposting foto barang yang ingin dia jual.


Sampai ke esokan paginya, apa yang dia harapkan benar-benar terkabul juga, Sofanya benar-benar tejual dan ada orang yang mau membeli sofanya dengan harga yang cukup tinggi sampai membuat Yuki terperangah merasa sangat senang, dia terus saja berjingkrak bersama dengan Jery di minimarket saat itu, karena dia tengah beristirahat disana setelah membagikan koran siang ini.

__ADS_1


"Huaa...horee.. akhirnya sofaku bisa terjual juga haha...aku beruntung sekali." Ucapnya sambil terus berjingkrak kegirangan dan memeluk Jery dengan sangat erat sampai membuat sahabatnya itu kesulitan mengambil nafas.


Jery hanya bisa menepuk punggung Yuki beberapa kali dan memintanya untuk melepaskan pelukan dari dia saat itu, karena dia hampir kehabisan nafas dibuatnya.


"Aduh...Yuki lepaskan aku, hei kau jangan terlalu bahagia aku bisa mati karena kau memelukku seperti ini, ohok ..ohok..." Ucap Jery terus saja merontak dan berusaha mendorong tubuh Yuki dengan sekuat tenaganya.


Yuki pun langsung melepaskan pelukan itu dengan cepat dan dia terus saja mencubit kedua pipi Jery dengan begitu gemasnya dan terus merasa sangat senang atas kabar gembira yang dia dapatkan, karena sudah bisa menjual sofanya tersebut.


"Ahaha...iya iya, aahh kau mendadak jadi sangat menggemaskan hari ini, kalau begitu aku harus pergi dulu ya, aku akan mempersiapkan sofa itu untuk pelanggan tercintaku. Bye...bye." Ucap Yuki terus saja segera pergi setelah dia mencubit gemas kedua pipi Jery hingga meninggalkan bekas merah pada kedua pipinya yang chubby tersebut.


Saking senangnya Yuki bahkan hampir saja tersandung di depan pintu keluar minimarket tersebut, tapi dia tetap tidak marah ataupun menggerutu seperti yang biasa dia lakukan, dia terus saja tersenyum dengan sangat ceria dan segera pergi ke rumahnya untuk mempersiapkan sofa miliknya tersebut, sebab pelanggan yang menawarnya menginginkan dia untuk melihat sofanya beberapa menit lagi.


Dia terus saja bersenandung dengan riang gembira sambil membersihkan sofa di rumahnya tersebut dan menepuk sofa itu dengan bilang kayu termasuk menyedot debu disana dengan begitu senang.


Sembari menunggu sang pembeli tiba di rumahnya, Yuki menyempatkan diri untuk memberikan pewangi agar bisa memikat pembeli untuk langsung membeli sofanya tersebut, hingga tidak lama bunyi bel dari luar terdengar dan rupanya itu adalah pembeli yang ingin melihat sofanya, yang membuat Yuki kaget saat dia membuka pintu rumahnya dan menyambut dengan begitu ramah ternyata orang yang hendak melihat sofanya tersebut adalah orang yang dia kenal yang tidak lain adalah manager Yopi, orang yang selama ini cukup dekat dengannya.

__ADS_1


"Selamat datang tu....eehh...manager Yopi, kenapa kau ada disini?" Tanya Yuki langsung tertahan dan menatap dengan penuh kebingungan saat itu.


"Ini aku pergi ke rumah seseorang yang mau menjual sofanya padaku, apa kau adalah orangnya?" Balas manager Yopi balik bertanya kepada Yuki saat itu.


Langsung saja Yuki terbelalak sangat lebar dan dia langsung tersenyum dengan lebar sambil segera mempersilahkan manager Yopi untuk masuk ke dalam rumahnya dengan segera. "Ohh..iya benar, itu aku, silahkan masuk manager Yopi, ahaha dunia begitu sempit yah, sampai kita malah bertemu dengan orang yang kita kenal lagi." Balas Yuki sambil mempersilahkan manager Yopi masuk saat itu.


"Wahh ... Yuki apa ini sofa yang mau kau jual padaku dengan harga 2,5 juta saja?" Tanya manager Yopi sekaligus.


Dia menatap takjub pada sofa berwarna coklat milik Yuki yang bisa langsung dilihat ketika siapapun masuk ke dalam rumahnya, karena ukuran rumahnya yang tidak besar itu.


"Iya betul, sofa ini aku beli dari pelelangan saat itu harganya 3 jutaan tapi karena aku sudah menggunakannya hampir enam bulan jadi aku menjualnya 2,5 juta saja untukmu." Balas Yuki menjelaskan dengan begitu baik.


Manager Yopi langsung meraba-raba sofanya dan segera mencoba untuk mendudukinya beberapa saat dan memeriksa sekeliling sofa itu, sampai Yuki mulai bertanya kepadanya.


"Bagaimana, sofanya masih sangat bagus bukan? Aku jarang sekali menggunakannya karena selalu sibuk bekerja seharian, apa kau tertarik dengan sofaku manager Yopi?" Tanya Yuki kepadanya dengan wajah yang begitu penasaran sekali.

__ADS_1


__ADS_2