
Geri bahkan hampir tertawa mendengar ucapan dari tuan Devon yang bisa-bisanya mengira bahwa Yuki adalah seorang brandal dengan penampilannya yang sangat tidak mendukung tersebut.
Ya wajar saja jika tuan Devon mengira Yuki seperti seorang brandal, karena pakaiannya yang basah karena keringat, ujung lengan baju yang di lipat terlihat seperti anak nakal, juga topi hitam yang dia pakai terbalik bak seperti preman pasar, apalagi celananya dan cara dia melepaskan koran sangatlah mirip dengan seorang pria nakal yang sering di sebut brandal.
Tapi untunglah Geri masih mau memberi tahu tuan Devon bahwa Yuki bukanlah brandal sungguh seperti yang di pikirkan oleh tuan Devon sendiri saat itu.
"Tuan dia sepertinya menjadi pengantar koran, lihat saja di depan dan belakang sepedanya, itu adalah box yang sering dibawa para pengantar koran dan mereka memang meleparkan koran ke rumah-rumah warga ataupun membagikannya pada orang-orang untuk menyebarkan berita di dalam koran tersebut." Balas Geri menjelaskannya.
Tuan Devon semakin saja mengerutkan kedua alisnya, dia masih tidak cukup mengerti dengan apa yang sudah dikatakan oleh Geri kepadanya.
"Bukankah pengantar koran biasanya seorang pria?" Tanya tuan Devon mengutarakan keheranannya sedari tadi.
"Entahlah tuan, tetapi saya rasa nona Yuki ini lebih mirip seorang pria karena dia begitu kuat membawa banyak koran dan bisa melajukan sepedanya sambil melepaskan koran ke samping seperti itu." Balas Geri membuat tuan Devon merasa sedikit kesal.
Dia pun langsung saja kembali menaikkan kaca mobilnya dan menyuruh Geri untuk mempercepat laju mobilnya lagi seperti sebelumnya. Tuan Devon merasa apa yang dikatakan oleh asisten pribadinya tersebut memang benar, bahwa gadis yang tengah dia tatap saat itu memang terlihat cukup tangguh dan berpenampilan lebih mirip seorang pria, bahkan saat itu tuan Devon juga melihat Yuki yang bisa menghentikan sepeda hanya menggunakan kakinya sendiri yang dia silangkan diatas ban depan sepedanya tersebut.
"Dia memang seorang pria." Batin tuan Devon sambil kembali membenarkan kepalanya dan tidak mau lagi melihat kelakuan dari Yuki yang hanya bisa mengingatkan dia dengan momen paling menyebalkan ketika dia di tahan saat hendak mengganti pakaian dan ketika Yuki yang merusak mobilnya dengan tertawa begitu puas.
__ADS_1
Sedangkan Yuki sendiri terus saja mengerjakan pekerjaannya dan sama sekali tidak tahu jika sebelumnya dia bersepeda tepat di samping mobil tuan Devon.
Hingga dia kembali pada bos dan mulai mendapatkan gaji harian, di hari pertamanya bekerja disana dia sudah mendapatkan uang seratus ribu rupiah, karena dalam satu keranjang besar pada sepeda itu sudah diberikan nilai lima puluh ribu rupiah, sedangkan Yuki dapat menghabiskan dua wadah besar sehingga dia mendapat uang seratus ribu.
"Wah..wah... Kamu memang tidak pernah berubah, masih saja sama semangatnya seperti dulu, bahkan di hari pertama kerjamu kamu sudah memiliki gaji sama dengan para karyawan tetap ku, kau hebat Yuki." Ucap bosnya itu sambil memberikan uang gaji itu kepadanya. "Ehehe..bos ini bisa saja, tapi terimakasih banyak ya bos, sudah memberikan aku pekerjaan yang menyenangkan seperti ini." Balas Yuki kepadanya hingga sang bos menganggukkan kepala sebagai balasan kepadanya.
Setelah mendapatkan uang dari sana Yuki melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan puk*l 12 siang, perutnya juga sudah mulai keroncongan dan menimbulkan suara yang cukup nyaring saat itu.
"Kreok...kreok...." Suara perut Yuki yang cukup kencang dan dia pegang dengan pelan.
"Aahh... Perut ini sudah membutuhkan asupan makan, memalukan saja, kenapa harus bersuara sekeras itu sih, untung saja tidak ada orang disini." Gerutu Yuki sambil menatap ke segala arah untuk memeriksa sekelilingnya.
Dia datang ke dalam mini market tersebut dan kebetulan sekali orang yang menjadi kasir adalah teman dekatnya sendiri yang tidak lain adalah Jery.
"CK ..... Kenapa kau baru muncul lagi dihadapanku, apa kau sudah bisa kembali bekerja disini lagi?" Tanya Jery menanyakan kabarnya.
"Huuhh...kalau aku sudah bisa bekerja lagi aku pasti sudah memakai seragam itu, bukan pakaian seperti ini, sudah aku mau beli mie ini dengan kupon, aku habiskan semua kupon belanjaku sekarang." Ucap Yuki sambil menyerahkan kupon terakhirnya tersebut, hingga dia mendapatkan dua mangkuk pop mie dan satu cemilan lainnya.
__ADS_1
Mendapatkan itu saja sudah bisa membuat Yuki merasa senang, dia menyeduhnya di sana dan pergi ke meja yang ada di pinggiran ruangan mini market tersebut, tempat untuk orang-orang bisa duduk dan beristirahat sambil menikmati makanan disana.
Sambil menunggu mie nya matang, Yuki terus saja diajak mengobrol oleh Jery yang nampak begitu penasaran dengan Yuki.
"Hei... Apa kau tidak mau bercerita denganku, apa yang kau dapatkan setelah menemui manager gemuk itu?" Tanya Jery sambil duduk di hadapan Yuki dengan wajahnya yang sangat penasaran.
Yuki hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu karena sebenarnya dia sangat malas untuk membahas kenangan buruk yang pernah dia lewati akibat mendengar ide dan masukan dari manager gemuk tersebut yang membuat dirinya mempermalukan diri sendiri dan harus berpenampilan lebih jelek daripada badut jalanan.
"Hei.. ayo bicara, kenapa kau malah menghembuskan nafas seperti itu? Ayo cepat jawab aku, jangan membuat aku mati penasaran karenamu." Ucap Jery yang terus saja mendesaknya, sehingga Yuki mulai bercerita kepadanya.
Yuki menjelaskan semua yang dia lakukan mulai dari menemukan manager Yopi hingga harus bertemu langsung dengan tuan Devon, termasuk semua yang dia lakukan untuk bisa membayar hutangnya yang sangat besar tersebut.
Tetapi bukannya ikut merasa iba atau kasihan dengan nasib Yuki, Jery justru malah tertawa dengan sangat lebar sambil memegangi perutnya tersebut tanpa henti, karena dia merasa lucu dengan semua cerita dimana Yuki harus berdandan seperti wanita peminim dan terpaksa membeli sebuah high heels dengan harga yang sangat mahal bagi orang kalangan bawah seperti mereka berdua itu.
"Ahahaha...apa kau sungguh mengenakan high heels itu? Apa sekarang masih ada di rumahmu, aku sangat penasaran sekali bagaimana penampilanmu saat itu, sampai tuan besar saja bisa takut ketika melihat wajahmu, bahkan manager gendut bisa sampai menghinamu seperti itu, ahahaha kau pasti sangat lucu saat itu, sayang sekali tidak ada aku disana." Ucap Jery yang terus saja malah mengolok-olok Yuki dengan puas.
Yuki hanya bisa menatap tajam kepada sahabatnya yang sangat tidak tahu diri itu, dan dia pun langsung saja menjewer telinga Jery dengan kuat untuk menghentikan tawanya yang begitu puas atas nasib buruk yang menimpa dirinya.
__ADS_1
"Kau...bagus sekali ya, tertawa dengan begitu puasnya padaku, ayo tertawa, tertawa lagi dengan keras hah?" Bentak Yuki sambil terus menjewer telinganya sangat kencang hingga Jery terus saja meringis kesakitan dan meminta ampun kepadanya berkali-kali.