Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Kesulitan Yuki


__ADS_3

Meski sangat berat untuk menerima kenyataan pahit ini, tetapi tidak ada pilihan lain lagi yang bisa dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki harta ataupun kekuasaan seperti Yuki di dunia ini, bagi orang-orang seperti dia, semuanya terasa begitu sulit dan pahit, dunia seakan berkata tidak, tentang semua hal yang dia lewati, semuanya akan terasa sulit untuk di gapai, sebab dia merasa dirinya tidak cantik dan juga tidak kaya, hanya hidup sebatang kara dan tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah, semuanya dia lewati sendiri, dan saat terpuruk seperti ini, Yuki hanya bisa memilih untuk tidur, berharap bisa bermimpi untuk bertemu dengan almarhum kedua orangtuanya.


Setidaknya hanya itu yang bisa membuat dirinya sedikit tenang dan bisa terhibur, walaupun itu hanya dalam mimpi semata, hingga bunyi alarm di ponselnya terdengar begitu nyaring memekikkan telinga kecil yang dia miliki.


Tangannya berusaha untuk menggapai ponsel yang terus bergetar dengan mengeluarkan bunyi sangat kencang, dia mematikan ponselnya itu sambil segera bangkit terduduk dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya pagi itu.


Tepat jam lima pagi, dia bangun dan segera saja membersihkan dirinya dengan muka bantal yang bengkak dan mata yang terlihat masih merah karena masih merasa mengantuk, juga kantung mata yang menghitam sebab dalam lima hari ini dia hanya tidur sekitar dua sampai tiga jam setiap malam, karena dia harus bekerja banting tulang setiap waktu untuk mengumpulkan uang agar bisa melunasi hutangnya yang sangat besar itu kepada tuan Devon.


"Hoaamm...aahh, aku sudah mandi dan mencuci rambutku, tetap saja masih mengantuk, tapi aku masih harus pergi ke perusahaan manusia tanpa ekspresi itu, jika tidak, mungkin dia yang akan memenjarakan aku, aduhh..kenapa aku sial sekali sih." Gerutu gadis yang malang itu mulai mengeluh dengan keadaan yang dia lewati saat ini.


Tapi meski mulutnya itu terus mengeluh sampai dia berbusa tetap saja kakinya berjalan ke depan dan pergi mengambil tas selempang berwarna coklat yang terlihat cukup usang juga jelek sekali, karena terlalu sering dia gunakan untuk membawa banyak barang selama dia bekerja di beberapa tempat.

__ADS_1


Dia pergi lebih awal karena tahu bahwa jarak dari rumahnya ke kantor tempat tuan Devon cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar 30 menitan di perjalanan jika menggunakan bus hingga dia bisa sampai disana, jadi dia lebih baik pergi lebih awal daripada nantinya terlambat untuk datang ke sana dan bisa menjadi permasalahan yang lebih serius lagi.


Duduk menunggu bus pertama yang lewat menuju pusat kota dan terus saja menggunakan waktu selama dia di bus untuk tidur mengistirahatkan tubuhnya tersebut.


Hanya itu cara yang bisa dia lakukan agar dia tidak terus mengantuk seperti yang dia rasakan saat ini, meski beberapa penumpang lainnya menatap ke arah dia dengan sinis, tetapi dia sama sekali tidak merasa malu ataupun terganggu, tetap saja tidur hingga beberapa saat kemudian sang supir bus harus menekan klakson bus nya agar bisa membangunkan Yuki yang masih saja tertidur lelap dengan mulut setengah terbuka dan kepalanya yang mengenai jendela bus, padahal saat itu bus sudah sampai di tempat tujuannya.


"Tot...tot...tot!" Suara klakson bus yang sangat kencang.


Sampai tidak lama akhirnya Yuki terbangun dan dia langsung saja meminta maaf dengan wajah yang sedikit malu karena menatap ke sekeliling rupanya semua penumpang di dalam bus yang sebelumnya cukup padat sudah tidak ada satu orangpun di dalam bus itu.


"Ahh..iya pak, maaf-maaf saya ketiduran, kalau begitu terimakasih banyak sudah membangunkan saya." Ucap Yuki sambil segera turun dari bus tersebut dengan segera.

__ADS_1


Dia akhirnya tiba juga di pusat kota, langsung menghirup udara segar disana yang terasa cukup berbeda bagi dirinya, dia juga segera berjalan menuju gedung yang terlihat menjulang tinggi tidak jauh dari tempatnya berdiri saat itu.


Ada banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang di jalanan, sekalipun ini masih cukup pagi, dan banyak juga para karyawan yang berjalan terburu-buru, ada juga yang santai masuk ke dalam gedung-gedung tinggi tempat mereka bekerja di sekitar sana, Yuki menatap ke sekeliling wilayah disana yang terlihat begitu sibuk dan dipenuhi dengan orang-orang yang membawa tas kerja persegi juga memakai jas rapih atau kemeja yang memiliki warna selaras, para wanita dengan dandanan cantik, juga wangi parfum mereka yang menyegarkan. "Wahh... ternyata begini ya kesibukan para karyawan kantor di pagi hari, seandainya aku kuliah, mungkin aku akan jadi salah satu diantara mereka." Gerutu Yuki mulai mengingat nasibnya yang tidak bisa seberuntung orang lain.


Dijaman sekarang yang semuanya mengandalkan gelar juga ijazah yang tinggi, lulusan SMA seperti dia, hampiri tidak dihargai sama sekali untuk sekelas perusahaan besar seperti yang ada di pusat kota, palingan lulusan SMA sepertinya hanya bisa menjadi karyawan bawah ataupun tukang kebersihan di sana, semuanya memang memiliki setidaknya gelas S1, sedangkan dia sampai sekarang pun masih saja belum bisa kuliah, sudah dua tahun terlewatkan sejak dia lulus di SMA, bukan karena dia tidak pintar, tetapi nasib yang begitu kejam dengan dirinya, selain ketinggalan pendaftaran, uang juga menjadi kendala yang paling menyulitkan Yuki dan satu-satunya alasan kuat dirinya tidak bisa kuliah sejak awal.


Hingga harus tertahan selama dua tahun lamanya, setiap kali gadis 20 tahun itu melihat orang-orang seangkatan dirinya saat reunian teman sekelas, dia selalu saja tidak pernah datang, bukan karena dia tidak rindu dengan teman-temannya ataupun karena dia sombong dan jutek, tetapi semua itu karena dia merasa minder dan tidak percaya diri dengan pekerjaan yang dia lakukan saat ini, berbeda jauh dengan semua teman-teman sekelasnya dahulu, yang saat ini ada yang mengejar gelar dokter, arsitek, management dan berbagai bidang lainnya, semua teman di kelasnya kuliah, hanya dia sendiri yang tidak dapat melanjutkannya.


Sehingga tiap kali berkumpul dengan mereka, dia selalu merasa diasingkan sebeb pembicaraan teman-temannya tersebut semuanya tentang suasana di perkuliahan, yang sama sekali tidak dia ketahui sedikit pun sebab dia belum bisa merasakannya.


Jadi bagi seorang Yuki daripada dia merasa minder dan sakit hati, lebih baik dia bersikap seakan dirinya sibuk, setiap kali teman-temannya mengajak bertemu, dia selalu menyibukkan dirinya sendiri dan mencari alasan yang paling masuk akal, agar dia dapat menolaknya dengan baik, tanpa menyinggung perasaan teman-temannya tersebut.

__ADS_1


Dia menarik nafas dengan dalam dan membuangnya perlahan, menguatkan dirinya sendiri dan kembali melangkahkan kaki dengan penuh kepercayaan diri untuk pergi ke perusahaan tuan Devon dan menghadap CEO paling kejam di negeri ini.


__ADS_2