Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Nasi Goreng Geratis


__ADS_3

Setelah beberapa kali meminta maaf dan berjabat tangan sambil menyalimi tangan Yuki, kedua pemuda itu pun pergi dari sana secepatnya, karena mendapatkan kode dari tuan Devon yang sudah menyuruh mereka untuk pergi.


Sehingga saat itu Yuki sendiri tidak bisa menahan mereka untuk menanyakan secara jelas alasan kedua pemuda itu tiba-tiba kembali muncul dan meminta maaf seperti itu kepadanya, dia hanya bisa mengerutkan kedua alisnya dengan kuat dan wajahnya yang sangat kebingungan saat itu, menatap kedua pemuda itu yang berlenggang pergi dan terus saja kembali melanjutkan mendorong gerobak sampahnya lagi.


"Aish...dasar manusia aneh, ada-ada saja, aahhh mengganggu pekerjaan ku saja, aku kan jadi terlambat mengumpulkan sampah ini." Gerutu Yuki sambil terus kembali mendorong gerobak sampahnya lagi dengan sekuat tenaga menuju penampungan yang biasa.


Mengumpulkan seberapa banyak botol bekas dan sampah daur ulang yang dia dapatkan, lalu di kilo dan mulai mendapatkan uang dari sang pengepul, uang yang dia hasilkan sesuai dengan banyaknya barang bekas yang dia dapatkan, sedangkan uang tambahan adalah untuk gaji utamanya mengumpulkan semua jenis sampah yang dia buang maupun yang di kilo untuk di daur ulang.


Tapi kali ini karena dia terlambat datang ke kantor tempat penampungan sampah daur ulang, alhasil dia mendapatkan giliran paling belakang, dimana itu akan memakan waktu yang cukup lama, karena orang-orang yang bekerja di sana cukup banyak dan kebanyakan mereka adalah orang tua ataupun orang-orang yang sudah berkeluarga dan lanjut usia, sedangkan hanya Yuki sendiri yang menjadi paling muda, tempat bekerjanya kali ini berbeda dengan tempat dia bekerja sebelumnya.


Dimana dia dimasukkan lewat bantuan dari temannya Jery, tapi saat ini dia melamar sendiri dan bersedia mengikuti semua peraturan petugas kebersihan di tempat itu, sehingga mau tidak mau Yuki pun harus menuruti semua peraturan yang ada disana, walaupun dia sebenarnya adalah orang yang tidak sabaran dan hanya memiliki kesabaran setipis tisyu yang dibelah tercabik-cabik, namun demi mempertahankan pekerjaannya itu dia harus tetap menahan diri dan tetap berada di barisan orang-orang yang mengantri untuk menimbang semua sampah daur ulangnya tersebut, seperti botol bekas, kaleng bekas hingga kardus dan buku-buku bekas, padahal saat itu kakinya sudah sangat lelah dan pegal, dia masih harus dibuat menunggu dengan sangat lama. "Haduhh...ini sudah jam sepuluh malam, berapa lama lagi aku harus menunggu, aahh kalau gini caranya aku bisa tidur kemalaman nih." Gerutu gadis tersebut mengeluh sendiri.


Saking lamanya dia menunggu antrian, Yuki bahkan sempat-sempatnya mengantuk hingga tertidur dengan posisi tubuhnya yang masih berdiri dan menumpukan tangannya pada gerobak miliknya hingga dapat menyanggah tubuhnya tersebut.


Sampai orang yang bertugas menimbang barang mulai berteriak memanggilnya karena sekarang sudah gilirannya menimbang barang. "Syut....Yuki hei...Yuki bangun sekarang sudah giliranmu." Ucap orang tersebut yang langsung menyadarkan Yuki dengan cepat.

__ADS_1


Dia langsung terperanjat dan segera mendorong gerobaknya lebih ke dalam, mulai menurunkan barang-barang bawaan di dalamnya dan menerima upah hasil dari timbangan sebelumnya, setidaknya semua lelah yang dia rasakan malam ini sudah terbayarkan dengan uang seratus ribu rupiah yang dia dapatkan dari hasil memungut sampah, uang itu dia ambil dan segera pulang masih dengan bibir yang bengkak dan sakit tapi dia sama sekali tidak manja dan tidak memikirkannya sama sekali.


Bahkan dengan percaya dirinya Yuki melepaskan saputangan yang dia gunakan untuk menutupi bibir jontornya tersebut.


Pergi ke warung makan yang hampir tutup karena sekarang sudah jam setengah sebelas malam, dan hanya ada nasi goreng saja yang tersisa di warung tersebut, itupun Yuki masih di minta untuk memasaknya sendiri karena sang pemilik warung sudah terlanjur membereskan tempat dagang dia.


"Ehh...mas saya mau beli nasi gorengnya dong, gak papa meski gak ada lauk apapun nasih gorengnya aja, saya laper banget mas, ayolah jangan tutup dulu." Ujar Yuki mulai memohon kepada mas mas penjual nasi goreng di pinggir jalan dengan gerobak saat itu.


Meski awalnya penjual nasi goreng gerobak itu menolak untuk memberikan dagangannya kepada Yuki, tetapi setelah melihat Yuki yang memohon kepadanya seperti itu dengan pakaian yang sedikit kotor dan kusut parah, akhirnya penjual itu pun merasa iba dan dia menyuruh Yuki untuk memasak sendiri nasi gorengnya karena dia tengah membereskan kursi yang ada di pinggiran jalan, bekas para pembeli sebelumnya.


"Apa? Geratis? Kau tidak bohong kan?" Ucap Yuki dengan kedua bola matanya yang terbuka sangat lebar, saking senangnya mendengar hal tersebut.


"Iya, cepat sana memasak sebelum aku berubah pikiran." Ujar penjual itu lagi.


Yuki langsung mengangguk dan pergi memasak dengan cepat, dia menghabiskan semua bahan-bahan yang tersisa milik penjual tersebut karena dia pikir kapan lagi dia akan mendapatkan makanan geratis larut malam seperti ini, jadi ini adalah kesempatan emas yang bisa dia lakukan, sehingga dia melakukan hal terbaik yang bisa dia berikan untuk nasi goreng yang dia masak sendiri saat ini.

__ADS_1


"Ahaha...aku akan habiskan nasinya ya mas, gakpapa kan?" Ujarnya bertanya kepada sang penjual tersebut.


"Aishh..dasar kau tidak tahu diri, ya sudah habiskan saja semuanya, sudah tidak akan di gunakan lagi kok." Balas penjual tersebut yang sangat baik dengan Yuki.


Yuki pun terus saja merasa semakin senang dan terlihat makin bersemangat untuk memasak nasi goreng yang ada disana, memasukkan semua sisa nasi dari jualannya dan ada satu telur yang tersisa sehingga dia dapat menambahkannya juga, telur mata sapi setengah matang yang sangat dia sukai itu.


Yuki membungkus semua makanannya itu dalam satu bungkus sekaligus yang terlihat cukup besar, dan dia segera pergi sambil berterima kasih kepada sang penjual nasi goreng tersebut, karena sudah memberikan dia makanan geratis dengan jumlah yang banyak dan membuat dia bebas untuk memilih makanan yang ada disana, meskipun hanya sisa dari jualan saja.


"Aku sudah beres mas, terimakasih banyak sudah mau memberikan makanan geratis ya, semoga dagangan mas bisa makin laku ya kedepannya hehe." Ujar Yuki sambil tersenyum lebar dan membawa makanan banyak di dalam kantung keresek yang dia bawa saat itu.


"Iya..iya sana pergi, aahh kau ini membuat aku pulang malam saja, sana pergi anak perempuan masih berkeliaran selarut ini." Ujar penjual tersebut dan segera saja Yuki mengangguk pergi dari sana dengan cepat.


Yuki pulang dengan hati senang, rasa kesalnya setelah di buat menunggu dan mengantri sangat lama di tempat penampungan, kini sudah hilang dan tergantikan dengan rasa bahagia karena mendapatkan makanan geratis yang banyak juga uang yang masih utuh, selain itu dia juga bisa memanjakan perutnya setelah seharian bekerja keras seorang diri, dia menikmati makanannya dengan lahap sambil menonton televisi di malam hari seorang diri, di ruang tengah rumahnya tersebut.


Hingga tiba-tiba saja di saat dia tengah makan dan tertawa menonton serial komedi di televisi, lampu rumahnya tersebut padam secara cepat dan serentak, semuanya mati dan menjadi gelap. Hingga membuat dia kebingungan dibuatnya.

__ADS_1


"Ehhh..kenapa lampunya mati? Apa ada kosleting listrik ya? Ahh aku harus memeriksanya sebelum ibu kos marah nanti." Ujarnya sambil segera saja pergi ke tempat meteran listrik ya untuk memastikan dan mencari tahu sumber masalahnya tersebut.


__ADS_2