
Tatapan tajam dari tuan Devon terlihat semakin membuat Yuki merinding dan segera saja dia diam mematung, tidak berani untuk menggerutu lagi sekalipun itu di dalam hatinya, dia seperti mendapatkan ancaman yang sangat kejam dari tuan Devon, padahal itu hanya tatapan matanya saja, tetapi sudah menusuk seperti itu.
Sampai ketika mereka sudah tiba di ruangan kantor tuan Devon, dan sekretaris Geri juga sudah kembali ke ruangannya, barulah tuan Devon mulai bertanya mengenai keadaan bibir Yuki yang terkena air susu pedas itu.
"Hei, bagaimana dengan bibirmu itu, apa sudah membaik?" Tanya tuan Devon kepadanya.
"Kau lihat saja sendiri, sekarang bibirku sudah tidak bengkak lagi, padahal aku sama sekali tidak mengompresnya dengan air hangat, mungkin ini berkat obat dari dokter itu, terimakasih ya kau sudah mau membawaku ke rumah sakit dan membayarkan obatnya." Balas gadis tersebut mengucapkan terimakasih kepada tuan Devon lagi.
"Ya sudah karena kau sudah baik cepat bereskan tempat ini, aku tidak ingin ada debu sedikit pun saat nanti aku kembali, apa kau mengerti?" Ucap tuan Devon sambil bangkit berdiri dan hendak pergi entah kemana saat itu.
Yuki hanya bisa kembali menggerutu sendiri sebab dia melihat ruangan kantor tersebut sudah bersih, tidak ada lagi yang perlu dia bereskan, tetapi Dimata tuan Devon masih saja semuanya itu kotor dan berdebu, sehingga menyulitkan Yuki yang harus tetap membersihkan seluruh bagian di dalam ruangan tersebut.
"Aishh..dasar manusia aneh, apa dia buta atau sengaja mengerjai aku sih, ruangan sebersih ini apalagi yang perlu aku bersihkan, dasar konyol aishh." Gerutu Yuki dengan kesal dan segera membersihkannya meski dia tahu semuanya begitu bersih dan terawat.
__ADS_1
Yuki membersihkan ruangan tersebut dimulai dari menyedot debu dan mengepel lantainya sekaligus, sebab memag tidak ada yang perlu disapu lagi, selain itu dia juga mengelap semua rak berkas termasuk meja milik tuan Devon, hingga tidak sengaja tiba-tiba saja Yuki melihat kecoak yang berukuran cukup besar dibawah meja kerja tuan Devon, karena Yuki sangat benci dengan serangga menjijikan seperti itu, tanpa pikir panjang dia langsung mengambil sebuah buku dari atas meja kerja tuan Devon tersebut, lalu menggunakannya untuk menumpuk kecoak itu hingga dia berhasil menangkapnya dan mematikan serangga menjijikan tersebut.
"Wahh...yes..kena juga, aish bagaimana bisa ada serangga menjijikan seperti ini di sebuah ruangan mewah milik tuan Devon, apa dia masih kurang menjaga kebersihan meja kerjanya sendiri, benar-benar aneh." Gerutu Yuki sambil terus saja mengambil kecoa itu hanya dengan tangan kosong, lalu membuangnya ke dalam tong sampah yang ada disana, dia menepuk kedua tangannya dan tersenyum lebar karena merasa pekerjaannya telah selesai.
"Aahh akhirnya selesai juga, sekarang aku bisa mengerjakan pekerjaan yang lain tanpa terganggu." Ucapnya terus saja merasa bangga kepada dirinya karena dia berhasil membuang serangga menjijikan tersebut.
Tanpa dia sadar ternyata sudah ada sekretaris Geri dan tuan Devon yang berdiri di depan pintu ruangan kerja tersebut sambil menatap dengan kedua mata yang terbuka sangat lebar saat itu. Yuki ikut merasa kaget saat melihat mereka ada disana karena sebelumnya mereka pergi keluar dan ini terlalu cepat untuk mereka kembali lagi ke kantor. "Ehhh..tuan kenapa kau sudah kembali, apa ada yang terlupa?" Tanya Yuki kepadanya dengan kedua alis yang dia naikkan dengan tinggi.
Sampai tiba-tiba saja tuan Devon melayangkan tangannya dan membuat Yuki terus mengesampingkan wajahnya dengan menutup mata karena mengira bahwa tuan Devon akan menampar dia saat itu, padahal nyatanya tuan Devon hanya akan mengambil buku yang ada di belakang tubuh Yuki dengan mengangkat tangannya dan terus saja membentak Yuki karena sudah menggunakan buku kesayangannya itu untuk menepuk kecoak yang jorok dan menjijikan seperti yang sudah dia lihat sebelumnya.
"Hei, untuk apa kau menutup mata, lihat kesini dengan benar!" Bentak tuan Devon sangat kencang, membuat Yuki perlahan membuka kembali matanya dan menatap ke arah dia dengan wajah yang masih kebingungan tidak karuan.
"Tu..tua..seben.." ucap Yuki yang belum saja sempat menyelesaikan ucapannya tetapi sudah langsung dipotong oleh tuan Devon kala itu.
__ADS_1
"Ini, beraninya kau menggunakan buku kesayanganku yang belum sempat aku selesai bacaannya untuk menepuk serangga menjijikan seperti itu. Apa kau sudah bosan hidup ya?" Bentak tuan Devon yang langsung memotong ucapan Yuki dengan tangannya yang dia taruh di pinggang sedang yang satunya lagi memegangi buku kesayangan miliknya tersebut, dimana kembaran di dalamnya sudah terlihat kusut dan kotor sebab digunakan Yuki untuk menangkap serangga sebelumnya.
Yuki langsung mengubah postur tubuhnya lebih tegak lagi dan mulai meminta maaf kepada tuan Devon karena sebelumnya dia benar-benar tidak tahu jika itu adalah buku kesayangan yang belum sempat dibaca seluruhnya oleh tuan Devon.
"AA...ahhh, maafkan saya tuan, saya benar-benar tidak tahu jika anda belum sempat menyelesaikan bacaan di dalamnya, saya juga tidak sengaja menggunakan buku itu karena tadi benar-benar terburu-buru dan saya asal mengambilnya saja." Ujar Yuki terus meminta maaf dan merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan kali ini.
Tuan Devon bukannya bisa memaafkan kesalahan Yuki, yang ada dia malah semakin kesal dan gemas dengan tingkah Yuki tersebut.
"Eughh..dasar kau ini ya, kenapa juga kau harus membunuh serangga dengan menggunakan buku, kenapa tidak dengan tanganmu saja, aishh sekarang kalau sudah begini mau bagaimana, bukunya sudah rusak dan tidak mungkin aku akan membaca buku yang lecek dan kotor seperti ini!" Balas tuan Devon yang masih saja merasa tidak terima.
Yuki juga tidak tahu dia harus bersikap seperti apa, karena dia sendiri memang tidak sengaja melakukan hal itu, seandainya dia tahu bahwa itu buku kesayangan tuan Devon dia juga tidak mungkin melakukan hal tersebut. "Ayolah tuan saya kan bisa minta maaf, atau anda juga bisa membeli buku seperti itu yang baru, kau kan punya banyak uang dan begitu berkuasa, artinya tidak akan ada yang terlalu sulit untuk seseorang sepertimu bukan?" Tambah Yuki lagi yang berniat memberikan solusi kepada tuan Devon
Tapi sayangnya semua itu tidak dapat sampai dengan baik ke arah pendengaran tuan Devon dan dia memiliki sedikit beda pemikiran dengan apa yang Yuki katakan kepada dia saat itu, dia tidak bisa membeli buku baru karena tidak tahu di halaman mana sebelumnya dia berhenti membaca, dan mencari halaman terakhir bacaan yang hilang itu sangatlah sulit bagi tuan Jenson, sehingga pantas saja jika dia merasa sangat kesal dan begitu emosi dibuatnya.
__ADS_1