Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Amarah Tuan Devon


__ADS_3

Mendengar Yuki yang bicara seakan menganggap remeh permasalahan yang sudah dia buat, justru malah membuat tuan Devon semakin kesal dan emosi kepadanya, sehingga tuan Devon mulai mengepalkan tangannya yang memegangi buku tersebut hingga membuat buku itu semakin kusut, lalu dia langsung saja menaruh buku itu di meja kerjanya, tepat di samping Yuki dengan sangat kencang.


"Prak!" Suara tuan Devon yang menaruh buku itu di meja sangat kencang.


Membuat gadis 20 tahun tersebut terperanjat kaget sambil mengedipkan matanya sekaligus, dia benar-benar semakin gugup dan takut, merasakan jantungnya yang berdebar sangat kencang serta sulit untuk dia kendalikan kala itu.


"Tu..tu..tuan, ada apa denganmu, apa ada yang salah dengan ucapanku, aku kan hanya memberikan solusi dan pendapat saja padamu, kalau kau...kau tidak..." Ucap Yuki belum selesai sudah langsung di potong oleh tuan Devon.


"Cukup! Kau ini benar-benar sangat menjengkelkan, apa kau pikir buku ini bisa dibeli dengan begitu mudahnya hah? Lihat ini baik-baik, buku ini bukan buku sembarang, ini buku Mandarin yang hanya tinggal beberapa saja di dunia, bahkan tidak semua orang dapat membaca tulisan di dalamnya, aku sedang mempelajari hal penting di dalam buku ini tentang konsep bisnis, tapi kau sudah merusak dan menggagalkan semuanya, sekalipun kau bisa mendapatkan buku yang baru apa aku akan tahu di lembaran mana dan halaman ke berapa terakhir kali aku membacanya, ayo jawab kenapa kau diam saja?" Bentak tuan Devon mengatakan semuanya yang membuat Yuki terdiam dengan mata terbuka sangat lebar.


Dia tidak menduga jika ternyata buku itu adalah buku yang sudah langka dan tidak di jual dengan bebas lagi di jaman sekarang, dia juga tidak tahu jika itu adalah buku yang begitu penting dan tengah dipelajari dengan sangat serius oleh tuan Devon, rasa bersalah di dalam hatinya menjadi semakin besar karena Yuki sadar bahwa semua ini memang real karena kecerobohan yang dia lakukan dalam bekerja.


"Maafkan aku tuan, aku sungguh minta maaf denganmu, pasalnya aku sungguh tidak tahu jika ternyata buku itu sangat berarti dan begitu mengagumkan." Balas Yuki sambil menunduk dan berharap ada keajaiban kepada dirinya agar tuan Devon bisa memaafkan kesalahan yang sudah dia perbuat barusan.


Tuan Devon sama sekali tidak mau bicara lagi dengannya, dia langsung duduk di kursi kebesarannya, lalu mengusir Yuki dari ruangannya tersebut begitu saja.

__ADS_1


"Pergi kau dari ruanganku, mulai besok kau tidak perlu bekerja di ruanganku lagi dan kau sudah bukan asisten pribadiku, kau bekerja dengan sekretaris Geri untuk menjadi asistennya, dan jangan menampakkan wajahmu di depanku sebelum aku yang memintanya." Ucap tuan Devon mengusir Yuki dengan nada yang datar namun terdengar lebih menakutkan dibandingkan dengan nada membentak yang biasa dia lakukan sebelumnya, itu lebih baik dibandingkan harus melihat wajah kecewa dari tuan Devon terhadap dirinya.


"Tapi tuan aku..." Ucap Yuki lagi berusaha untuk meminta maaf dan mencoba membujuknya, sekaligus menjelaskan apa yang ingin dia katakan saat itu.


Tapi sayangnya tuan Devon sudah tidak mau mendengarkan ucapan darinya lagi, dia terus memegangi keningnya sambil tertunduk dan mengibaskan tangannya memberikan isyarat agar Yuki segera pergi dari ruangannya tersebut, hingga sekretaris Geri mulai menyuruh Yuki untuk pergi dan menuruti perintah dari tuan Devon.


"Yuki sebaiknya kamu pergi dulu saja, tuan Devon tidak mau diganggu, biarkan dia menenangkan dirinya dahulu, ayo pergilah ke ruanganku nanti aku akan memberikan pekerjaan kepadamu." Ujar sekretaris Geri sambil terus mendorong pelan tubuh Yuki agar bisa segera pergi dari sana.


Walau sebenarnya sekretaris Geri juga tidak tega untuk melakukan hal itu kepada Yuki, tetapi disini dia jauh lebih memahami bagaimana karakter dari tuan Devon, dia selalu tidak mau dibantah dan tidak ingin di ganggu ketika hatinya sudah benar-benar kecewa seperti ini, apalagi yang dirusak oleh Yuki kali ini adalah buku kesayangan yang belum sempat dia baca hingga selesai, dimana tuan Devon lebih senang membaca dan selalu penasaran dengan bacaan yang belum bisa dia selesaikan.


Bahkan tuan Devon memang lebih menyukai buku-buku koleksinya dibandingkan dengan mobil kesayangan dia yang sebelumnya pernah di rusak juga oleh orang yang sama yang tidak lain adalah Yuki sendiri, jadi saat itu sekretaris Geri hanya takut emosi tuan Devon akan meledak di hadapan Yuki, dan jika itu terjadi dia tidak yakin apa dia mampu untuk menahannya atau tidak, sehingga sekretaris Geri lebih memilih untuk menyuruh Yuki segera pergi dari pandangan tuan Devo, karena hal itu lebih baik dibandingkan apapun.


Rasanya sangat berat dan dia tidak bisa melakukan apapun, bahkan saat baru saja dia keluar dari ruangan kantor tersebut, langsung saja terdengar suara teriakkan dari tuan Devon yang begitu menggelegar dan membuat buku kuduknya merinding parah.


"Aarrkkk...aishh!" Teriakkannya sangat kencang dan begitu menakutkan.

__ADS_1


"Hmmm... Dia pasti sangat kecewa dan marah besar denganku." Ucap Yuki semakin merasa lesu saat itu.


Dia melangkahkan kakinya dengan lesu, tidak ada energi lagi dalam dirinya, sampai Yuki tidak bisa fokus dalam berjalan dan dia malah menabrak seorang karyawan perempuan yang tengah membawa kopi panas di tangannya, mereka bertabrakan dan kopi panas itu menyiram pakaian Yuki hingga jatuh hampir saja mengenai kaki Yuki, namun untungnya saat itu Yuki masih sempat untuk menghindar, meskipun dia harus jatuh tersungkur cukup keras. "Aahhh brukk...." Suara Yuki yang jatuh ke lantai dan dia terus saja mengusap pakainya yang basah dan terasa begitu panas sebab tersirat kopi tadi.


Perempuan yang menabraknya juga segera membantu Yuki dan meminta maaf dengannya karena dia merasa cemas dengan kondisi Yuki saat itu, tetapi dengan cepat Yuki mengatakan bahwa dia tidak masalah dan baik-baik saja, sebab dia sadar bahwa semua itu juga atas kesalahan dirinya juga, dia yang telah ceroboh berjalan tanpa melihat ke depan sampai tidak sadar hingga menabrak orang lain seperti itu.


"Ya ampun maafkan aku, tolong maafkan saya ya, apa kamu baik-baik saja?" Ucap wanita tersebut dengan wajah yang panik dan dia ikut membantu Yuki membersihkan kemeja putihnya yang habis terkena noda kopi di bagian dada dan perutnya tersebut.


"Aahh..tidak papa, aku baik-baik saja kok, ini hanya panas sedikit tidak masalah, harusnya aku juga yang minta maaf karena aku kopimu jadi jatuh, maafkan aku juga ya." Balas Yuki yang ikut balik meminta maaf kepada wanita tersebut.


"Ya sudah ayo aku bantu kamu berdiri." Ucap wanita tersebut.


Namun disaat Yuki hendak bangkit berdiri ada seseorang yang memanggil wanita itu sehingga dia tidak bisa membantu Yuki lagi dan harus segera pergi melanjutkan pekerjaannya yang sempat dia tinggalkan, Yuki juga tidak mempermasalahkan hal itu lagi, sebab dia paham apa yang terjadi barusan hanyalah sebuah kecelakaan saja.


"Aahh..iya aku akan kembali sebenarnya lagi, maaf ya aku sudah harus pergi kamu bisa pergi mengobatinya sendiri kan?" Ucap wanita itu yang langsung di balas dengan anggukan oleh Yuki.

__ADS_1


Dia masih duduk bersimpuh di lantai dengan pakaian yang berantakan dan kaki yang lecet juga terluka, namun lukanya itu bukan karena terkena gelas yang baru saja jatuh, melainkan karena dia tersandung di rumahnya saat terburu-buru untuk pergi ke kantor, sekarang kakinya itu baru bisa terasa sakit, karena sebelumnya dia tidak pernah memperhatikan lukanya tersebut, saking tergesa-gesanya untuk pergi ke kantor, saat Yuki meringis kesakitan dan kesulitan saat hendak bangkit berdiri, tiba-tiba saja sebuah tangan terulur di hadapannya.


"Ayo bangun." Ucap tuan Devon yang sudah berada di hadapannya dengan mengulurkan tangan ke arah Yuki, dan tatapan matanya yang menatap lurus ke depan sedangkan tangannya sendiri menjulur ke arah Yuki menyuruh Yuki untuk bangkit berdiri saat itu juga.


__ADS_2