
"Sayang sekali jika kau berhenti. Tapi kenapa kau tiba-tiba berhenti seperti ini, sulit untukku mencari pengganti yang sangat baik sepertimu. Apa gajinya kurang? Atau ada seseorang yang mengancammu?" Tanya sang manager masih bertanya lebih dalam lagi.
"Tidak manager sama sekali tidak ada hal-hal seperti itu, gaji yang kau berikan kepadaku juga sangat cukup untukku dan sesuai dengan pekerjaan yang aku lakukan, kau juga sangat baik padaku begitu juga dengan teman-teman yang lain, tapi sayangnya aku memang sudah tidak bisa bekerja lagi, ada beberapa masalah akhir-akhir ini yang tidak bisa aku ceritakan." Balas Yuki mengatakan alasannya.
Sang manager pun memahami keputusan yang sudah dibuat oleh Yuki, dia memberikan gaji terakhir termasuk pesangon untuk Yuki yang sudah bekerja dua tahun lamanya di tempat tersebut dan menjadi karyawan teladan yang sangat baik baginya.
"Ya sudah Yuki, apapun alasannya aku hanya bisa mendoakan semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan bisa lebih betah dengan pekerjaan yang baru, ini gaji untukmu dan aku sudah menambahkan dengan pesangonnya sekaligus, kau benar-benar karyawan yang sangat baik bagiku, jika suatu saat nanti kau mau kembali aku bisa menerima kau lagi Yuki." Ucap sang manager sambil memberikan sebuah amplop putih kepada Yuki.
Dia kemudian pergi menuju tempat pengumpulan koran dan melakukan hal yang sama, meminta izin secara baik-baik untuk keluar dari pekerjaannya tersebut kepada bos disana, dan sama seperti yang sebelumnya, karena Yuki memang selalu mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik dan menggunakan hatinya, sehingga semua bos dia selalu menyayangi dia dan memperlakukan dia dengan baik, sehingga mereka menerima keputusan yang dibuat oleh Yuki, meski pun mereka merasa kehilangan atas keputusan yang sudah Yuki buat tersebut.
Tidak hanya itu, setelah Yuki sudah kembali dari tempat pekerjaannya yang terakhir dan dia sudah mendapatkan tiga gaji terakhir, dia pun memutuskan untuk pergi ke minimarket tempat dia bekerja dahulu, untuk menemui temannya Jery, hanya Jery tempat dia berkeluh kesah selama ini dan hanya Jery tempat dia pulang disaat gadis muda itu merasa lelah dan penuh tekanan dalam hidupnya.
Saat sampai di minimarket Yuki langsung pergi mengambil minuman soda yang biasa dia minum dan pergi ke kasir bertemu dengan Jery.
"Hei, kau bayar minumanku ini, kau kan sahabatku oke, dan setelah membayarnya datang ke sana aku mau bicara denganmu." Ucap Yuki kepada Jery sambil segera pergi meninggalkan Jery di salah satu meja samping minimarket tersebut.
"Aishh..dasar brandal kecil ini, bagaimana bisa dia memalak aku secara terang-terangan seperti ini." Gerutu Jery sambil menggelengkan kepalanya pelan dan dia merasa tidak habis pikir dengan kelakuan satu temannya tersebut.
__ADS_1
Dia pun segera membereskan pekerjaannya itu termasuk membayar minuman yang sudah diambil oleh Yuki, barulah dia menghampiri Yuki dengan segera dan dia juga membawakan satu mie instan untuknya.
"Hei, ada apa denganmu, kau pasti akan mengeluh lagi, apa yang akan kau keluhkan kepadaku kali ini?" Tanya Jery langsung menatap tajam kepada Yuki.
Karena sebelum Yuki bicara pun Jary sudah tahu bahwa sahabatnya itu selalu datang kepada dia disaat memiliki masalah atau pun tidak memiliki solusi apapun tentang kesulitannya tersebut, sehingga dia sudah tidak merasa aneh lagi jika melihat Yuki datang ke minimarket dengan keadaan kacau dan wajah yang kusut seperti itu.
Hingga tiba-tiba saja Yuki langsung merengek sangat kencang dan menangis begitu saja dihadapan Jery. "Huaa...Jery aku keluar dari semua pekerjaanku, aku kehilangan sepuluh juta uangku, aku juga masih ada hutang empat puluh juta, aku harus bagaimana, apa sebaiknya aku mati saja?" Ucap Yuki mulai mengeluh dan terlihat putus asa.
Jery langsung menepuk kepala Yuki dengan kencang karena mendengar ucapan sahabatnya itu yang begitu diluar nalar.
"Peletak!" Satu tepukan kuat mengenai kepala Yuki yang membuat gadis itu langsung memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.
"Aishh.... Sudah bagus aku tidak menendangmu dari sini, ataupun tidak mencubit perutmu itu, kau ini memang sudah tidak punya akal ya? Bagaimana bisa kau berpikir untuk mati saja disaat keadaan buruk begini, aku kan sudah bilang padamu kau boleh mengeluh tapi jangan putus asa seperti orang gila begini." Ucap Jery membentak Yuki dan bicara dengan sangat serius kepadanya.
"Jery kau tahu kan aku tidak punya siapapun di dunia ini, bahkan beberapa Minggu yang lalu tunanganku pergi ke luar negeri, sahabatku juga ikut pergi, uangku aku berikan semuanya kepada Linda untuk biaya operasinya, tapi sekarang mereka berdua tidak ada kabar sama sekali padaku, setelah itu aku bertemu manusia menyebalkan dan mendapatkan banyak sekali kesialan dalam hidup, sampai mengharuskan aku mengganti uang sebanyak lima puluh juta, dan aku masih harus kehilangan semua pekerjaanku juga harus bekerja kepada manusia kejam itu, sekarang bagaimana aku bisa mengganti semua itu, ayo katakan padaku, apa yang harus aku lakukan?" Balas Yuki mengutarakan semua beban yang dia rasakan selama ini dan dia mengatakan semua itu sambil menatap dengan mata merah yang berkaca-kaca kepada Jery.
Jery juga memahami apa yang dirasakan oleh sahabatnya tersebut, sehingga dia berhenti untuk bicara dan memarahi Yuki, dia langsung memeluk Yuki dan mengelus punggungnya dengan lembut beberapa kali untuk memberikan ketenangan sekaligus kekuatan kepada Yuki, agar setidaknya dia tidak putus asa apalagi yang memilih untuk mengakhiri hidupnya seperti yang dia katakan sebelumnya.
__ADS_1
"Sudah..sudah, aku mengerti keadaanmu, aku tahu semua ini sangat berat, tetapi mengakhiri hidupmu bukanlah hal yang tepat, itu bukan solusi sama sekali, kau juga belum tentu akan mati dengan keadaan tenang jika meninggalkan hutang sebanyak itu." Ucap Jery menenangkannya dan Yuki malah menangis semakin kencang.
"Hua....hiks..hiks..hiks...kenapa sih, kenapa aku sial sekali." Teriak Yuki sangat kencang.
Jery melepaskan pelukan pada Yuki dan dia memegangi kedua pundak Yuki dengan kuat dia memberikan tatapan lekat kepada sahabatnya itu dan menyuruh Yuki untuk segera mengangkat wajahnya kembali dengan tegak.
"Hei hei, berhenti mengeluh dan menangis seperti ini, ayo angkat kepalamu, kau pasti bisa melunasi semuanya, disini kan masih ada aku yang selalu mendengarkan keluhanmu dan memberikan semangat untukmu, sudah jangan seperti ini kau makan mie nya saja oke, ini aku yang bayar." Ucap Jery berusaha untuk menghentikan Yuki yang terus menangis sangat kencang di minimarket saat itu.
"Kau mau sekalian membantuku membayar hutangnya?" Tanya Yuki pada Jery yang langsung saja membuat Jery melepaskan tangannya dari Yuki.
"Ahaha... tidak-tidak, kau ini bagaimana sih, mana mungkin aku sanggup membayarnya, cicilan rumahku belum lunas apalagi kau kan tahu ibuku sakit aku harus membiayai dia setiap bulannya." Balas Jery yang juga memiliki tanggungan sendiri.
Yuki pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu sedangkan Jery kembali berusaha untuk memberikan dukungan pada Yuki.
"Tapi kau tenang saja, aku akan terus menjadi orang pertama yang mendukungmu dalam keadaan apapun, kau tenang saja jika aku ada uang aku pasti memberikannya padamu, sekarang kau duduk saja dan makan dulu mienya sembari tenangkan dirimu juga." ucap Jery kepadanya.
Yuki pun mengangguk dan menuruti ucapan dari Jery dia segera duduk kembali lalu mulai menikmati mie instan yang sudah di seduhkan oleh Jery untuk dia sebelumnya, sedangkan Jery pergi dahulu untuk melayani kasir karena saat itu ada beberapa orang yang masuk ke dalam minimarket tersebut.
__ADS_1
Yuki terus saja menangis terisak sendiri sambil menikmati mie instan yang ada di hadapannya, bahkan rasa mie yang pedas sama sekali tidak bisa membakar lidahnya lagi, karena keadaan dia yang sangat buruk setelah menghadapi kesulitan dalam hidupnya selama ini, dan dia masih saja memikul beban besar di pundaknya setiap kali mengingat uang empat puluh juta rupiah yang harus dia lunasi kepada tuan Devon secepatnya.