
"Ekm.... bagaimana apa kau sanggup membayarnya? Aku akan memberikan kau waktu satu Minggu sampai kau melunasinya." Balas tuan Devon yang semakin membuat Yuki ingin menjadi abu saat itu juga.
"Hah? Satu Minggu? Tuan yang benar saja, kau kan tahu sendiri aku ini miskin, aku tidak punya rumah, tidak ada uang dan tidak ada pekerjaan, lalu darimana aku bisa membayar semua uang ganti rugi itu dalam waktu satu Minggu? Kau pikir uang lima puluh juta sedikit?" Ucap Yuki perotes kepadanya.
Tuan Devon terus saja menatap sinis kepada Yuki yang terus perotes tanpa henti dan mengatakan semua kesulitan yang tengah dia hadapi saat itu sampai membuat tuan Devon sangat pusing dengan perkataannya yang tiada henti, langsung saja tuan Devon membekap mulut Yuki untuk membuatnya diam.
"Jika kau tidak diam aku aka terus menyumpal mulutmu dengan batu!" Ancam tuan Devon dengan membelalakkan matanya lebar kepada Yuki.
Yuki pun mengangguk pelan dan tuan Devon langsung melepaskan bekapan tangannya dari mulut Yuki, dia pun mulai menjelaskan kepada Yuki bahwa dirinya memiliki satu pekerjaan yang cocok untuk Yuki agar bisa melunasi hutang itu kepada dirinya.
"Ekm... karena aku baik hati dan tidak sombong, aku memiliki satu pilihan lain untukmu, kau bisa bekerja denganku untuk membantu membereskan rumah serta melakukan apapun yang aku perintahkan padamu dan harus muncul disaat aku membutuhkanmu, dengan begitu aku akan memotong gajimu sebagai cicilan dari biaya ganti rugi untuk mobilku, tapi pilihan lainnya ya kau harus membayar hutangmu itu dalam satu Minggu." Ucap tuan Devon menjelaskan dua pilihan yang sangat menyulitkan untuk Yuki.
"Hah, pilihan macam apa itu? Dua duanya sangat menguntungkan mu dan mencekik ku, aku tidak setuju!" Balas Yuki yang langsung saja menolaknya dengan cepat.
__ADS_1
Hingga tuan Devon langsung memutuskan sendiri bahwa Yuki harus membayar hutangnya dalam waktu satu Minggu, sesuai dengan kesepakatan dia sebelumnya.
"Baik, itu artinya kau sanggup membayar hutang lima puluh juta kepadaku dalam waktu satu Minggu, aku tunggu kedatanganmu untuk mengembalikan uang itu, jika tidak aku akan mencarimu bahkan sampai ke lubang tikus sekalipun, lalu aku akan menjebloskanmu ke penjara paling buruk, paling menyeramkan dan paling menderita di dunia ini!" Ucap tuan Devon terus saja sambil mendekatkan wajahnya dan bicara sangat gemas kepada Yuki.
Hingga membuat Yuki benar-benar di buat merinding dan takut ketika mendengarnya, dia bahkan kesulitan untuk menelan salivanya sendiri saat itu, sedangkan tuan Kaiden langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya itu dengan cepat.
"Astaga... Apa dia harus semenyeramkan itu saat mengatakannya padaku? Apa benar-benar ada penjara seperti itu di dunia ini? Kenapa aku harus begitu sial sih, huaaa....." Gerutu Yuki yang langsung mengeluh tepat ketika tuan Devon meninggal tempat tersebut.
Gadis dua puluh tahun itu mengobrak-abrik rumah sewaannya sendiri dan memecahkan tiga celengan babinya termasuk dengan dua celengan ayam yang selama ini selalu dia jaga dan dia rawat dengan baik di bawah kolong tempat tidurnya, namun karena hal mendesak dan sangat menyeramkan seperti ini, dia terpaksa harus memecahkannya juga, dengan hati yang sangat sakit dan tangan bergetar penuh dengan ketidak berdayaan Yuki mulai mengangkat palu kecil di tangannya dan menepuk celengan babi itu satu persatu hingga terlihatlah uang yang berhamburan disana.
Mulai dari pecahan dua puluh ribuan hingga uang receh pun terlihat berserakan di lantai, dia memungutinya dan merapihkan semua uang itu sambil terus menghitungnya dengan seksama, tidak lupa dia juga kembali memecahkan satu, dua hingga semua celengan yang dia miliki untuk kemudian dia kumpulkan semua uang miliknya tersebut.
Uang receh itu sudah terkumpul dengan rapih dan dia jejerkan di lantai dengan begitu hati-hati, setelah menghitung semuanya Yuki pun akhirnya mendapatkan uang sejumlah lima juta rupiah dari celengan keramatnya tersebut, yang tidak pernah dia buka dan selalu dia sembunyikan selama bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
Uang hasil dia berjualan koran di lampu merah termasuk uang dari hasil jualan di sekolah saat SMA kini sudah ada di tangannya dan harus dia serahkan kepada orang yang sangat dan bahkan jauh lebih kaya dibandingkan dirinya.
"Huaa... Kenapa aku harus menyerahkan uang sebanyak ini kepada orang asing sepertinya, aaahhh aku mau mati saja." Teriak Yuki sambil mulai menangisi uangnya tersebut dan terus memeluk uang recehan itu dengan deraian air mata yang begitu banyak membasahi pipinya tiada henti.
Dia sama sekali tidak bisa tidur malam itu, terus saja memasukkan uang lima juta itu ke dalam tas miliknya dan dia menyimpannya di tempat yang paling aman, lalu pergi ke luar untuk mencari pekerjaan malam, padahal saat itu sudah jam sepuluh malam, dimana kebanyakan orang sudah selesai dengan pekerjaannya masing-masing, sementara gadis dua puluh tahun itu justru sebaliknya, dia pergi ke luar untuk mencari pekerjaan, dia pergi ke rumah-rumah tetangga untuk menawarkan jasa agar dia bisa membuang kan sampah mereka dan membantu mereka untuk urusan apapun dan dengan bayaran berapapun, asalkan dia dapat menghasilkan uang sepanjang waktu.
Mulai dari mengumpulkan sampah dan membantu orang lain mencucikan piring kotor, membantu mencuci pakaian mereka hingga menidurkan seorang bayi yang rewel, tapi hebatnya dia bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan orang-orang di sekitar sana, hingga selesai dengan lancar dan mendapatkan sejumlah uang yang cukup lumayan.
Setidaknya itu bisa untuk menutupi kebutuhan hidupnya dalam sehari-hari.
Setelah berjam-jam melakukan berbagai macam pekerjaan, mulai dari yang ringan hingga yang kasar, dia pun mulai merasa lelah, duduk di teras rumahnya dan mulai menyeka keringat di dahinya yang penuh keluh, menghitung uang hasil bekerjanya malam ini.
"Satu...dua...tiga..empat...wahh...ini lumayan juga dapat seratus empat puluh ribu, bisa untuk aku makan dan ongkos bus besok, haha ternyata banyak juga ya kalau kita mau berusaha, aku akan lebih semangat lagi untuk besok, ya walaupun mendapatkan lima puluh juta dalam seminggu itu sangat mustahil, tapi semoga saja ada orang baik yang mau membantuku dan semoga ada keajaiban." Ucapnya sambil segera memasukkan uangnya itu ke dalam saku celana, lalu bangkit berdiri dan masuk ke dalam rumahnya dengan cepat.
__ADS_1