
Sampai pada akhirnya ketika tuan Devon mengantarkannya ke rumah, Yuki terus saja berterimakasih kepada tuan Devon sambil tersenyum senang, dia juga tidak terus pergi ke rumahnya dan malah meminta tuan Devon agar menghentikan mobilnya di belokan depan tempat dimana gudang pembuangan sampah dimana Yuki masih bekerja disana sebagai pemungut sampah setiap kali dia pulang bekerja hingga tengah malam.
"Tuan bisa berhentinya di depan saja tidak?" Ucap Yuki kepadanya saat itu.
Tuan Devon terus saja mulai mengerutkan kedua dahinya dengan wajah yang kebingungan tidak menentu, dia terus merasa heran kenapa Yuki malah meminta dia agar menghentikan mobilnya di jalanan depan padahal rumahnya di depan sini.
"Hei, rumahmu kan yang itu kenapa malah minta berhenti di belokan depan, apa kau gila ya?" Balas tuan Devon dengan nada bicara yang terdengar kesal saat itu.
"Eheh..aku memang tidak mau pulang ke rumah tuan, masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." Balas gadis muda itu mengatakannya dengan jujur.
Tanpa banyak bicara lagi tuan Devon menuruti kemauan dari Yuki dan dia benar-benar menghentikan mobilnya di tempat yang sudah Yuki tunjukkan, namun saat dia menatap ke samping dan memperhatikan sekeliling, dia mulai merasa heran karena malah berhenti di depan gudang barang bekas dengan banyak gerobak sampah yang terparkir di depannya, ada beberapa orang juga yang masuk dan keluar mengumpulkan sampah di sekitar sana, sehingga saat Yuki hendak turun dan berpamitan dengannya, tuan Devon dengan cepat menarik tangan Yuki lagi dan menahannya.
"Ya sudah terimakasih banyak ya tuan, kau sudah mau mengantarkan ku, aku pergi dulu." Ucapnya sambil hendak turun dengan segera.
"Eeh..ehh..ehh, tunggu! Mau kemana kau?" Tanya tuan Devon lagi secara refleks saat itu.
__ADS_1
"Ya tentu saja aku mau masuk ke dalam, memangnya mau kemana lagi." Balas Yuki dengan wajah kebingungan sambil menatap tangan tuan Devon yang malah memeganginya dengan sekuat itu.
Sampai membuat tuan Devon segera melepaskan pegangannya itu dan mulai bicara lagi dengan nada tinggi kepada Yuki untuk menghilangkan kepenasaranan dalam dirinya sedari tadi. "Kau mau masuk ke dalam sana, memunguti sampah lagi seperti sebelumnya?" Tanya tuan Devon dengan matanya yang sudah terbuka sangat lebar.
Yuki pun mengangguk membalasnya membuat tuan Devon berdecak kesal dan mengusap rambutnya dengan kasar sambil terus saja mulai membentak Yuki lagi.
"CK.... benar-benar kau ini, apa gaji dari bekerja sebagai asistenku masih kurang untukmu? Bisa-bisanya kau masih ingin bekerja disaat mulutmu bengkak seperti disengat lebah seperti itu, apa kau tidak punya malu?" Bentak tuan Devon dengan ekspresi wajahnya yang terlihat begitu gemas dalam menghadapi Yuki saat itu.
Yuki sendiri hanya bisa menahan emosi dalam dirinya saat melihat wajah tuan Devon dan mendengar ucapan darinya yang sangat terdengar sinis juga begitu kencang kepadanya.
"Tuan, kau ini kenapa sih, lagi pula kan yang mau bekerja aku, kenapa kau yang sewot, terserah aku saja mau kerja dimanapun kapanpun atau sedang apapun, lagi pula itu kan tidak menyulitkan dirimu, aku juga sudah terbebas dari jam kerja denganmu, jadi apa masalahnya?" Balas Yuki kepadanya dengan penuh keberanian.
"Tidak bisa, aku tidak mengijinkan kau untuk bekerja disana lagi, pokoknya mulai sekarang kau harus berhenti bekerja di tempat kotor seperti itu, aishh bisa-bisanya asisten pribadi seorang pemilik perusahaan besar sepetiku adalah seorang tukang pemungut sampah, bisa hancur nama baikku nantinya." Ujar tuan Devon sibuk marah sendiri, dan Yuki tentu saja tidak terima dengan keputusan yang dilakukan oleh tuan Devon secara sepihak seperti itu.
"Ah, apa kau bilang, memangnya apa hak mu melarangku dan memerintahkan aku untuk berhenti dengan pekerjaan yang sudah aku lakukan selama ini bahkan jauh sebelum bekerja denganmu aku memang seorang pemungut sampah dan tukang koran keliling, memangnya kenapa pula nama baikmu harus rusak hanya karena asistenmu seorang pemungut sampah seperti aku? Apa petugas kebersihan sepertiku begitu hina di matamu?" Balas Yuki dengan wajah yang kesal dan nafas yang menderu sangat kencang.
__ADS_1
Dia tidak bisa terima mendengar ucapan dari tuan Devon yang malah seenaknya mengatur tentang hidupnya dan pekerjaan yang dia lakukan, sedangkan gajinya sendiri saja selalu saja di potong tiap kali dia melakukan kesalahan sekalipun hanya kesalahan yang kecil atau pun sesuatu yang tidak sengaja dia lakukan, sehingga tentu saja Yuki tidak akan menurut dengannya, dia terus saja membentak dengan keras dan terus saja keluar dari sana segera. "Tuan aku tidak perduli denganmu, apapun yang kau katakan semua itu sama sekali tidak bisa menghentikan aku karena kau tidak membiayai atas hidupku sendiri. Brak!" Ucap Yuki dengan kencang menutup pintu mobil tuan Devon.
Dia kemudian keluar dengan cepat dan berlari masuk ke dalam gudang tempat sampah itu meninggalkan tuan Devon yang berteriak dan berusaha mengejarnya saat itu.
"Ehhh... Yuki, mau kemana kau? Yuki dasar kau manusia keras kepala, Yuki kembali kau!" Teriaknya dengan sangat kencang dan ikut keluar dari mobilnya.
Namun Yuki sudah terlanjur pergi dengan cepat sehingga membuat tuan Yuki menendang ban mobilnya cukup kencang untuk melampiaskan emosi dalam dirinya tersebut. "Duk! Dasar manusia sialan, awas saja kau aku tidak akan bersikap baik lagi dengan wanita keras kepala sepertimu, aishh." Gerutu tuan Devon setelah menendang ban mobilnya sendiri.
Dia bahkan sama sekali tidak langsung pergi dari sana, masih terus menunggu Yuki keluar dari tempat tersebut, meski dia merasa sudah tidak nyaman dan terus saja terasa bau sambil menyingkir setiap kali ada orang yang berjalan melewati dirinya dengan gerobak penuh sampah, terus saja tuan Devon menggerutu kesal sambil segera mengambil masker di mobilnya, dia juga terus marah tidak jelas, hingga tidak lama Yuki pun terlihat keluar dari gudang sampah tersebut dengan mengenakan seragam oranye termasuk mendorong gerobak sampahnya yang berukuran sangat besar.
Yuki sudah menduga bahwa tuan Devon pasti akan terus menahan dia, dan degan cepat Yuki terus saja mendorong gerobaknya dengan sekuat yang dia bisa agar tidak sampai melewati tuan Devon, namun sayangnya sekuat apapun dia mendorongnya tuan Devon masih saja bisa menarik tangan Yuki dan menahannya dengan kuat.
"Hei tunggu! Kau ini sengaja mau menghindari ku ya?" Bentak tuan Devon terus menahan tangan Yuki dengan kuat.
"Tuan aku sedang bekerja, sebaiknya kau pergi saja, lagi pula tidak akan ada orang yang mengenali aku sebagai asisten pribadimu, kau tidak perlu cemas dengan hal itu, aku kan memakai masker, sana pergi saja." Balas Yuki sambil menghempaskan tangan tuan Devon dan pergi mendorong gerobaknya lagi dengan kuat.
__ADS_1
Tuan Devon membelalakkan matanya dengan sangat lebar dengan gigi yang dia keratkan sangat kuat sambil mengepalkan kedua tangannya begitu kencang hingga nampak urat hijau di tangannya tersebut.
"Dasar manusia sialan, YUKI AWAS SAJA KAU!" Teriak tuan Devon kepada Yuki sambil terus saja mendengus kesal setelahnya.