
Jery hanya bisa menemani Yuki dan tidak bisa membantunya dalam melunasi semua hutang itu, bukan karena tidak mau tetapi Jery juga tidak memiliki uang yang banyak saat ini, di dompetnya saja hanya tersisa uang beberapa ratus ribu saja, yang hanya dia gunakan untuk bekal makannya dalam satu bulan, sehingga dia tidak dapat membantu Yuki dalam masalah keuangan seperti saat ini.
Hingga tidak lama disaat Jery menepuk pundak Yuki beberapa kali untuk memberikan semangat dan sedikit ketabahan kepadanya, ponsel Yuki tiba-tiba saja berdering, dan saat dia memeriksanya itu adalah nomor ponsel baru yang tidak dia kenal.
"Siapa?" Tanya Jery penasaran.
"Tidak tahu, ini nomor baru." Balas Yuki sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Jery saat itu, Jery pun menyuruhnya untuk mengangkat panggilan tersebut karena dia pikir siapa tahu itu nomor dari orang penting.
Yuki mengangguk dan segera mengangkatnya hingga dia baru saja menempelkan ponselnya ke telinga, tapi langsung saja bentakkan keras dari tuan Devon terdengar begitu nyaring, jangankan Yuki, Jery saja yang duduk di hadapannya terperanjat kaget saat mendengar teriakkan yang cukup kencang di balik ponsel tersebut, bagaimana dengan Yuki yang menaruh ponsel itu tepat di samping telinganya.
"Heh, kenapa kau lama sekali mengangkat panggilan dariku!" Bentak tuan Devon saat itu.
"Astaga..kenapa suaranya nyaring sekali sih, aahh telingaku sampai kebas begini, sial." Gerutu Yuki sangat kesal sambil terus saja menggosok telinganya pelan, Jery justru malah menertawakan Yuki dan segera pergi menjauh darinya karena dia tidak mau mendapatkan bentakkan ataupun tatapan tajam dari Yuki lagi.
__ADS_1
"Kau bicara saja dengan bos barumu itu, dia terdengar cukup menyeramkan aku pergi dulu, bye." Ujar Jeru menghindar darinya.
"Aishh..dasar teman laknat, dia malah pergi begitu saja." Gerutu Yuki sangat kesal dan perkataan kasarnya barusan terdengar oleh tuan Devon dimana dia mengira bahwa ucapan barusan di lontarkan kepadanya.
"Hei, apa kau bilang barusan, siapa yang kau bilang laknat?" Bentak tuan Devon lagi lebih menyeramkan dibandingkan sebelumnya.
Langsung saja Yuki memperbaiki ucapannya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada tuan Devon dan dia berharap tuan Devon dapat mempercayai ucapannya, hingga akhirnya tuan Devon pun percaya dan dia berhenti untuk mempermasalahkan hal itu lagi, hingga Yuki mulai menanyakan apa yang tuan Devon inginkan dengan menghubungi dirinya secara tiba-tiba seperti ini. "Aahh tuan ada apa anda menghubungi saya secara mendadak seperti ini?" Tanya Yuki langsung bertanya kepadanya.
"Datang ke rumahku besok, jam enam pagi kau sudah harus disana, ada tugas yang aku mau berikan di hari pertama kau bekerja, dan ingat aku tidak suka seseorang yang lelet, jangan sampai kau terlambat, aku sudah mengirimkan alamatnya." Ucap tuan Devon begitu saja lalu panggilan pun langsung terputus.
Karena dia sudah terlanjur sangat kesal, gadis 20 tahun itu pun langsung pulang ke rumahnya dan dia pergi dengan menutup pintu minimarket sangat kencang membuat Jery merasa heran dengan sikap tempramen sahabatnya tersebut.
"Ya ampun, bagaimana bisa aku memilih sahabat yang emosian sepertinya, pantas saja tidak ada yang mau berteman dengannya." Gerutu Jery sambil menatap punggung Yuki yang semakin menjauh dan tidak terpandang oleh matanya lagi.
__ADS_1
Ke esokan paginya Yuki benar-benar pergi ke alamat yang sudah di berikan oleh tuan Devon, sesampainya disana dia langsung di hadapkan dengan dua orang penjaga pria yang berpakaian rapih dan memiliki postur tubuh tegak berisi, dia langsung di periksa menggunakan sebuah alat pipih pada tubuhnya di bagian depan dan belakang, lalu setelah itu barulah dia diijinkan untuk masuk ke dalam rumah tuan Devon, hingga dia diminta untuk berdiri di samping pintu menunggu hingga tuan Devon turun dari kamarnya di lantai atas, Yuki benar-benar merasa sangat kesal, dia harus datang sangat pagi sekali untuk sampai di tempat itu, sementara tuan Devon sendiri yang menyuruhnya justru masih tertidur, padahal saat itu sudah jam enam lebih, bahkan Yuki harus berdiri disana sekitar tiga puluh menit lamanya, membuat kakinya terasa sangat pegal, terlebih dia juga harus berjalan cukup jauh dari halte bus terakhir yang dia tumpangi untuk sampai ke rumah tuan Devon ini.
"Astaga... Kenapa dia belum muncul juga, apa dia sengaja mengerjai aku untuk datang sangat pagi hanya demi menunggunya bangun?" Gerutu Yuki terus saja merasa semakin kesal sekali, dia sudah mendengus berkali-kali dan wajahnya sudah sangat cemberut.
Sampai lima menit kemudian, akhirnya tuan Devon muncul, dia berjalan santai menuruni tangga sambil memegangi jas di tangannya dan dia langsung memanggil Yuki dengan cepat untuk menghampiri dirinya. "Hei kemari kau." Panggil tuan Devon kepada Yuki.
Gadis itu berjalan menghampirinya dan tuan Devon langsung memberikan dasi miliknya begitu saja kepada Yuki begitu juga dengan jas yang sebelumnya dia tenteng di tangannya. Yuki terus saja menaikkan kedua alisnya sangat tinggi dan dia terus merasa kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh tuan Devon tersebut dengan memberikan dia jas dan dasi di tangannya. "Tuan kau mau memberikan aku jas dan dasi milikmu ya?" Ucap Yuki bertanya dengan pertanyaan yang membuat tuan Devon kesal.
"Hei, apa kau tidak punya otak, bagaimana mungkin aku memberikan barang semahal ini untuk orang yang sudah merusak mobilku dan memiliki banyak hutang padaku, aku memberikan kau jas dan dasi ini untuk kau kenakan padaku, bukankah kau sekarang asisten pribadiku? Ayo cepat bantu aku mengenakannya." Ucap tuan Devon langsung memerintah dengan tegas dan dia terus saja asik memainkan ponsel di tangannya.
Yuki menarik nafas cukup dalam dan membuangnya dengan kesal, sambil segera saja dia mengibaskan jas berwarna biru tua itu di samping tuan Devon sangat kencang hingga anginnya mengenai wajah tuan Devon dan membuat matanya sedikit perih saat itu.
"Aishh...YUKI! Kau benar-benar tidak berguna, gajimu aku potong!" Teriak tuan Devon sangat kencang memarahi Yuki untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Yuki langsung kaget mendengarnya dan dia terus saja perotes dengan tuan Devon karena dia merasa dirinya sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun pagi ini.
"Hah? Tuan bagaimana bisa kau memotong gajiku, aku tidak melakukan kesalahan apapun." Ucap Yuki tidak terima.