Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Tuan Devon Setuju


__ADS_3

Tuan Devon sama sekali tidak perduli dengan persyaratan apapun yang di minta oleh Yuki dia langsung saja mengambil kertas itu dan menandatanganinya sekaligus.


"Ehh..tuan kau yakin tidak mau membacanya dahulu, atau perlu aku yang bacakan?" Ucap Yuki dengan wajahnya yang terperangah kaget saat itu.


"Tidak usah aku sudah tahu kau hanya minta bayaran dengan uang, kalau bukan itu pasti kau meminta kebebasan waktu atau kau tidak ingin aku menyentuhmu iya kan?" Ucap tuan Devon yang sudah bisa menebak semuanya dengan sangat benar, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Yuki dan sama persis dengan persyaratan yang dia tulis di kertas tersebut, wajahnya langsung tersenyum lebar dan dia merasa senang karena tuan Devon sudah bisa memahami apa yang menjadi keinginannya tersebut.


"Ahaha... bagus-bagus, itu akhirnya kau bisa memahami ku juga kalau begitu bisakah hari ini menjadi hari terakhir aku bekerja sebagai asisten pribadimu?" Tanya Yuki lagi untuk memastikannya lebih cepat dan agar dia bisa mencari pekerjaan di tempat lain.


Namun sebelum itu tuan Devon juga mau memberikan persyaratan khusus kepada Yuki yang belum sempat dia katakan sebelumnya.


"Heh kau boleh saja bekerja di sini sampai detik ini juga tapi diam disitu dan dengarkan dahulu persyaratan yang akan aku berikan dan harus kau tepati mulai detik ini juga, apa kau mengerti, hah?" Ucap tuan Devon terus saja menatap datar dengan sinis kepada Yuki.


"Iya...iya ini aku dengarkan sedari tadi aku kan juga mendengarkanmu memangnya siapa lagi yang aku dengarkan selain kau, ayo katakan saja apa syaratmu itu, aku tidak takut dengan apapun." Balas Yuki dengan penuh keberanian dan sama sekali tidak merasa takut, atas syarat apapun yang akan dia dengar dari tuan Devon saat ini.


Sedangkan tuan Devon sendiri mulai merasa menang dengan senyum tipisnya dia segera mengeluarkan apa yang dia pendam selama ini kepada Yuki, dengan sangat jelas.


"Oke, kau akan menjadi pacar bohongan ku mulai besok, tapi syarat ini sudah berlaku dari sekarang sejak kau menandatangi kontrak kerjasama denganku, dan syarat yang aku berikan adalah, kau tidak boleh bekerja di tempat lain jika kau memilih mengundurkan diri dari perusahaanku, kau juga akan tetap mendapatkan uang setiap bulan dan selalu aku yang memenuhi kebutuhan dirimu selama kau menjadi kekasihku yang baik dan penurut, jadi kau sudah tidak perlu kerja lagi, bagaimana apa kau setuju?" Ucap tuan Devon menjelaskannya dengan begitu jelas dan detail.


Yuki yang mendengar itu tentu saja dia merasa tidak terima pasalnya saat itu baru saja dia mengatakan bahwa dia ingin mencari pekerjaan ke tempat lain ata kembali ke restoran lama yang dia pikir bisa menerima dia kembali bekerja disana karena sebelumnya dia juga keluar dari sana karena terpaksa dan dengan cara yang baik sekali jadi mungkin bosnya tidak akan menolak dia jika dia kembali bekerja kesana lagi.

__ADS_1


Tapi belum juga dia mencari pekerjaan baru tuan Devon sudah berani bicara melarangnya Beker di tempat lain seperti ini. "Tuan yang benar saja bukannya kau sudah setuju untuk membebaskan aku dan membiarkan aku untuk melakukan apapun yang aku inginkan, lalu kenapa kau malah melarang aku begini?" Balas Yuki merasa tidak terima dan dia tidak mau mengikuti apa yang dilarang oleh tuan Devon kepada dirinya.


"Tidak masalah jika kau tidak mau menuruti apa yang aku katakan tapi rasakan saja nanti akibatnya, kau tidak akan mendapatkan bayaran dariku atau hutangmu akan tetap harus kau bayar, bagaimana?" Balas tuan Devon memberikan pilihan yang sangat sulit bagi Yuki.


Langsung saja gadis 20 tahun itu merasa emosi dan kesal dengannya, dia tidak bisa menerima ini semua karena memang Yuki pikir dia bisa benar-benar bebas dan menguasai tuan Devon namun nyatanya malah jadi seperti ini dan ujungnya tetap dia juga yang merasa diperbudak dan harus tetap menuruti semua yang diputuskan oleytuan Devon, itu sangat menyebalkan sekali baginya. "Aishh iya iya terserah kau saja aku tidak akan bekerja aku mau pergi bermain, jalan-jalan dan menghabiskan uangmu!" Bentak Yuki sangat kencang dengan wajahnya yang sudah nampak emosi saat itu.


"Yah, itu bagus memang itu yang seharusnya seorang pacar tuan Devon lakukan, bukan malah mau bekerja di restoran kecil atau memunguti sampah, nanti kalau klien atau orang-orang ku yang lain melihatmu begitu, bisa hancur harga diriku sebagai CEO muda yang berjaya dan kaya raya, mereka akan mengira aku tidak mampu membiayai hidup pacarku sendiri padahal kau yang keras kepala sebetulnya." Balas tuan Devon menjelaskannya lagi, membuat Yuki menghembuskan nafas dengan kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai sangat kuat.


Dia segera saja berbalik dan pergi dari ruangan tuan Devon, saat itu juga Yuki benar-benar pergi dengan membawa tas selempang kucel kesayangannya yang hanya dia miliki satu pasang saja, membuat tuan Devon selalu jijik dan tidak senang ketika melihat Yuki harus membawa tas bukit tersebut ke manapun dia pergi, sehingga saat tuan Devon melihat Yuki hendak pergi dengan membawa tas itu lagi dia pun menahannya sebentar.


"Ehh..eh..tunggu kemari dulu kau." Ucap tuan Devon sambil melambaikan tangan ke arah Yuki saat itu, sehingga membuat Yuki terpaksa harus berbalik badan lagi dan bertanya kepadanya.


Tuan Devon segera menyuruh Yuki untuk berjalan mendekati lagi dan lagi karena sejak pertama kali gadis itu bekerja di perusahaannya tuan Devon sudah merasa sangat kesal dan tidak senang setiap kali melihat Yuki mengenakan tas selempang yang sudah usang tersebut, dia benci sampai ada rasa besar dalam dirinya untuk membuat tas jelek tersebut.


"Kemari kau, ini untuk apa kau masih mengenakan tas sejelek ini, sekarang kau sudah menjadi pacarku, pokonya mulai sekarang aku tidak mau lagi melihat kau membawa tas selempang jelek seperti ini, kemarikan tasnya, ayo cepat kemarikan!" Tegas tuan Devon terus saja berusaha merampas tas selempang itu dengan paksa dari tangan Yuki saat itu, sedangkan Yuki sendiri terus saja merasa tidak terima dan dia begitu enggan untuk memberikan tas selempang tersebut kepada tuan Devon karena dia pikir tas itu memiliki kenangan yang sangat luar biasa dan hanya tas selempang itu yang selama ini menemani dia juga hari hatinya yang begitu sulit dan sunyi, jadi bagi Yuki tas selempang itu sudah seperti harta berharga dengan ribuan kenangan yang menyertainya.


"Tidak mau, ini kan tasku kenapa kau mau mengambilnya, mau ini jelek dimatamu atau apapun itu, memang apa urusannya denganmu aku yang memakai tas ini bukan kau jadi kenapa kau yang harus ribet mempermasalahkan sekedar tas saja?" Bentak Yuki sangat kencang dan terus memeluk tas selempang itu dengan erat sebab tidak mau jika sampai tuan Devon mengambil alih dari dirinya.


Tuan Devon sudah benar-benar naik pitam saat itu dan dia pun segera saja menghentikan Olivia sambil terus memberikan ancaman kepadanya agar Olivia tidak mengenakan tas tersebut lagi jika tengah pergi dengannya atau saat bertemu dengan dia, atau dia sendiri yang akan memusnahkan tas tersebut sekaligus.

__ADS_1


"Heh, aku peringatkan kepadamu ya jika kau mau tetap menyimpannya aku akan memberikanmu izin tapi satu yang aku minta darimu, jangan berani-beraninya kau membawa tas jelek itu saat bertemu denganku apalagi saat hendak pergi jalan bersama aku juga rekan bisnisku yang lain, apa kau mengerti, hah?" Bentak tuan Devon lagi mempertegas nya dan terus memperingati Yuki lagi dengan sangat sinis.


Yuki pun terpaksa mengikuti apa yang dikatakan oleh tuan Devon karena memang tidak ada pilihan lain lagi yang bisa dia lakukan saat ini.


"Aishh...iya iya, aku tidak akan menggunakannya di depanmu atau saat bertemu dengan rekan bisnismu itu, ribet sekali sih hidupmu itu, ini kan cuman tas, kenapa pula harus dipermasalahkan sampai seperti ini, menyebalkan!" Gerutu Yuki sembari segera pergi dari sana dengan cepat dan terus saja melangkah dengan cepat untuk meninggalkan ruangan kerja tuan Devon tersebut.


Disisi lain tuan Devon nampak tersenyum kecil karena dia melihat Yuki yang begitu emosi dengannya apalagi wajah gadis tersebut yang terlihat menggemaskan dan lucu saat marah dan kesal kepada dirinya saat itu, tapi Yuki sendiri masih saja memendam kekesalan dalam dirinya dia benar-benar pulang saat itu juga dan tidak memperdulikan pekerjaan dia yang belum selesai semuanya, karena tuan Devon sudah menyuruhnya untuk pulang dan dia bisa bebas pergi untuk berjalan-jalan sembari meringankan beban dalam pundaknya sendiri, berusaha untuk menyenangkan diri sendiri dan membahagiakan dirinya dengan sepuasnya.


Gadis dua puluh tahun itu benar-benar bahagia dan dia langsung pergi ke tempat toko buku terdekat membeli beberapa komik yang selama ini sudah dia inginkan namun tidak pernah bisa dia beli sebab uangnya yang tidak pernah cukup itu.


Tapi kini dia bahkan bisa membeli lima buku komik sekaligus dan membacanya di tempat itu seharian, hingga dia tidak bisa mendengar jika ponselnya sudah berdering sangat lama sedari tadi, karena saking asiknya membaca komik yang lucu dan membuat dia tertawa tanpa henti, seketika beban yang sebelumnya dia tanggung sendiri di kepala hilang entah kemana bagaikan sihir dan terus saja membuat dia bisa melepaskan semuanya seketika.


"Huahaha..konyol komik ini yang paling mengocok perutku dari sekian banyaknya cerita komedi yang aku dengan ahaha." Ucap gadis tersebut terus saja tertawa cukup keras sampai membuat orang lain yang membaca buku disana menatap memperhatikan dia, mungkin saja mereka juga menganggap Yuki gila karena bisa tertawa selepas itu di tempat umum begini hanya karena sebuah cerita lucu dalam komik yang sudah lama tidak best seller lagi.


Tapi walau begitu gadis tersebut sama sekali tidak perduli sedikit pun dia bahkan tidak sadar jika orang-orang memperhatikan tingkah konyolnya, yang ada dia justru malah tertawa asik sendiri walau beberapa kali sudah mendapatkan teguran dari penjaga toko disana karena tawanya itu yang terlalu keras. Sampai akhirnya Yuki pun memilih untuk pergi dari sana sebab dia sudah selesai membaca salah satu komiknya dan membawa komik-komik kesukaannya itu pulang.


Sebelumnya itu dia pergi dulu ke minimarket tempat dimana Jery sang sahabat karib sejati bekerja karena seperti biasa Yuki harus bercerita terlebih dahulu kepada sang sahabatnya itu sekaligus meminta pendapat darinya yang sudah berpengalaman dalam urusan percintaan dan per duitan selama ini.


"Tumben kau kemari sore-sore begini, memangnya kau tidak bekerja lagi ya?" Tanya Jery saat pertama kali melihat Yuki mendorong pintu mini market tersebut dan masuk ke dalam dengan tersenyum kecil dan nampak terlihat jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

__ADS_1


"CK...mau apa lagi kau cengar cengir begitu? Pasti ada maunya nih, apa yang kau mau, hah?" Tambah Jery dan terus saja menebaknya sendiri padahal dia juga menebaknya dengan cara yang kasar layaknya seorang sahabat yang sudah leluasa untuk mengatasi apapun temannya tersebut karena sudah tahu tidak ada manusia baperan diantara mereka berdua, hampir sembilan puluh bersen adalah si pendengar atau pun orang yang sabar hanya akan diam dan yang brutal akan banyak sekali bicara dan terus saja akan meminta untuk sempurna.


__ADS_2