Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Belajar Memakai High Heels


__ADS_3

Meski begitu dia tetap tidak menyerah, setelah semua pengorbanan yang sudah dia lakukan, mana mungkin seorang Yuki akan menyerah dan terus terpuruk dalam kesedihan atas kehilangan uangnya tersebut, jadi dia terus saja kembali memupuk semangatnya lagi, terus mencoba berjalan di depan halte bus sambil menunggu bus jurusannya tiba, hingga akhirnya dia pun mulai sedikit lancar untuk berjalan menggunakan high heels berwarna hijau itu.


"Hore ...aahh aku senang sekali akhirnya aku bisa juga mengenal sepatu hak tinggi ini." Ucapnya sambil bersorak keras dengan penuh kegembiraan, sampai membuat beberapa orang yang ada di sekitar sana menatap dengan tatapan aneh terhadap dirinya saat itu.


Langsung saja Yuki tersentak dan meminta maaf kepada orang-orang yang ada disana, sambil segera saja dia masuk ke dalam bus yang baru saja tiba saat itu, hingga sesampainya di kantor dia mulai kembali mempersiapkan dirinya dengan penuh semangat masuk ke dalam perusahaan dan menggunakan kartu akses yang sudah diberikan oleh manager Yopi sebelumnya.


Saat pertama kali masuk ke dalam perusahaan dan bertemu dengan resepsionis disana Yuki terus saja merasa sedikit heran dengan tatapan beberapa orang kepada dirinya, namun dia tidak terlalu memperdulikan itu, baginya wajar saja orang akan memberikan tatapan aneh kepada dirinya, karena dia sendiri juga sadar bahwa dia memang tidak sepandai itu untuk mengenakan sepatu high heels ini.


Jadi mungkin cara berjalannya sedikit terlihat aneh bagi beberapa orang yang dia temui pagi itu, dia segera menunjukkan kartu akses yang sudah diberikan oleh manager Yopi pada salah satu resepsionis yang ada disana, hingga dia segera diarahkan untuk naik ke dalam lift dan dintara oleh salah satu wanita disana menuju ruangan tuan muda Devon.


Selama di dalam lift, Yuki terus saja merasa gugup dan mulai cemas dia berusaha untuk menenangkan dirinya berkali-kali dengan menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan sampai dia merasa detak jantungnya kembali normal dan dia bisa menguasai dirinya kembali.


"Mbak ini adalah kantor pribadinya CEO Devon, silahkan di ketuk." Ucap wanita itu kepada Yuki, sambil segera berpamitan pergi dari sana.


Namun sebelum wanita itu benar-benar pergi Yuki menghentikannya terlebih dahulu.


"Ehh...tunggu, apa penampilanku sudah rapih? Apa tidak ada yang aneh?" Tanya Yuki kepada wanita tersebut.

__ADS_1


"Aa..AA..ahh..ti..tidak mbak." Balas wanita tersebut terlihat gugup dan tidak pasti.


Tapi Yuki malah mempercayai ucapannya dan dia langsung saja mengetuk pintu ruang kantor pribadinya tuan muda Devon, hingga suara berat yang menggelegar dari dalam terdengar mempersilahkan dirinya untuk masuk.


"Masuk." Teriak tuan Devon saat itu.


Yuki langsung menarik nafasnya panjang untuk mempersiapkan diri dan dia segera saja mendorong pintu itu dengan perlahan sambil terus berjalan menunduk dengan begitu pelan sambil terus memperhatikan langkah kakinya sebab dia masih sangat kesulitan untuk berjalan dengan menggunakan sepatu hak tinggi seperti itu.


Sampai ketika tuan Devon memanggil dirinya barulah dia mengangkatkan kepala tepat ketika sudah berada di depan meja tuan Devon.


"Siapa kau?" Tanya Devon yang menatap aneh dengan begitu lekat juga kedua alis yang dia tekuk sangat kuat, menatap penampilan Yuki dari atas hingga ujung kakinya yang terlihat begitu aneh sekali bagi dirinya.


"Aarrkkkkk...siapa kau? Tolong penjaga ada orang gila disini! Penjaga dimana kalian semua, usir orang gila ini!" Teriak tuan Devon yang tiba-tiba saja terlihat begitu ketakutan sambil berteriak mengira Yuki sebagai orang gila.


Yuki sendiri langsung membuka matanya dengan sangat lebar, dia tida terima dengan apa yang dikatakan oleh tuan Devon tentang dirinya dan dengan cepat dalam keadaan panik seperti itu, Yuki langsung berjalan mendekati tuan Devon dan terus saja berusaha untuk menjelaskan kepadanya bahwa dia bukanlah orang aneh ataupun orang yang berniat jahat kepada dirinya apalagi orang gila.


"Aahh...tidak tidak, tuan ini saya, saya wanita yang menahan mu di minimarket beberapa hari yang lalu, saya bukan orang gila, tolong jangan berteriak seperti itu, saya sama sekali tidak melakukan apapun padamu." Ucap Yuki sambil terus saja berusaha menahan tuan Devon.

__ADS_1


Namun sayangnya tuan Devon tetap saja tidak menghiraukan ucapan darinya sehingga membuat Yuki mulai geram dan dia tidak bisa menahan diri lagi, terpaksa Yuki harus membekap mulut tuan Devon dengan tangannya agar dia tidak bisa berteriak lagi untuk memanggil penjaga agar mengusir dirinya dari sana.


"Aishh....maafkan aku tuan, tapi aku harus melakukan ini, karena kau tidak diam juga." Ucap Yuki langsung saja berjalan mendekatinya dan terus saja membekap mulut tuan Depon dengan sebelah tangannya dan sebalah lagi dia gunakan untuk menaha tangan tuan Devon.


"Eumm....eumm..." Suara tuan Devon yang terus berontak dan berusaha melepaskan diri dari Yuki.


"Tuan saya akan menjelaskan semuanya kepada anda, saya bukan orang jahat, saya kesini untuk menemui anda dan ada beberapa hal penting yang harus kita bicarakan, jadi tolong jangan berteriak untuk mengusir saya, saya sungguh tidak bermaksud untuk menyakiti anda dan seharusnya anda juga tidak perlu berteriak hingga ketakutan seperti itu, karena saya bukan setan ataupun orang gila, saya akan melepaskan bekapannya jika anda mau berjanji akan mendengar ucapan saya, apa kau setuju?" Ucap Yuki kepadanya.


Tuan Devon langsung mengangguk dan Yuki segera melepaskan bekapan tangan itu dari mulut tuan Devon sambil segera saja membungkuk dan meminta maaf berkali-kali kepadanya.


"Maafkan saya tuan, maafkan saya, saya sungguh tidak bermaksud membekap anda tetapi ini sungguh hanya satu-satunya kesempatan yang saya miliki untuk bertemu secara langsung dengan anda jadi saya pikir saya harus memanfaatkan kesempatan ini." Ucap Yuki terus membungkuk dan meminta maaf pada tuan Devon.


Sedangkan tuan Devon sendiri terus saja mengatur nafasnya sambil mengusap bibirnya dengan tisyu berkali-kali karena dia merasa sangat jijik sebab wanita aneh yang ada di hadapannya saat itu sudah memegangi bibirnya dengan sembarangan.


Wajah tuan Devon terus menatap siaga dan begitu tajam kepada Yuki, terlihat rasa benci dan kekesalan yang menggebu di dalam dirinya saat itu tetapi Yuki mulai meminta maaf lagi dan terus berusaha untuk mendapatkan ampunan darinya, hingga tuan Devon mulai memberikan dia kesempatan untuk mengatakan tujuannya datang menemui dirinya saat itu.


"Baiklah katakan cepat apa sebenarnya tujuan kau datang kemari, dan kenapa kau harus berpenampilan seperti orang gila seperti ini, apa kau benar-benar orang yang waras?" Ucap tuan Devon yang masih saja mengira Yuki sebagai orang gila.

__ADS_1


Karena saat itu Yuki memakai sebuah kemeja putih dengan lengan pendek serta celana berwarna biru dengan high heels hijau dan lipstik merah yang menyala di bibirnya, juga riasan tebal yang sangat aneh sekali di wajahnya. Rambut berantakan karena tersapu angin saat di perjalanan, serta keringat di tubuhnya yang begitu banyak, tentu itu membuat tuan Devon mengira bahwa Yuki adalah orang gila, sebab penampilannya tersebut lebih mirip seorang badut dibanding dengan wanita feminim yang coba digambarkan oleh Yuki sendiri sebelumnya.


__ADS_2