
Tuan Devon tetap terlihat begitu santai dan nampak tidak perduli sedikit pun dengan apa yang dikatakan oleh Yuki sejak awal. Membuat gadis 20 tahun tersebut merasa emosi dan sudah tidak tahan lagi dalam menghadapinya.
"Lihat saja rekeningmu sekarang, gajinya sudah di transfer pada semua karyawan, kau mendapatkan gaji yang sama besarnya dengan sekretaris Geri, tidak mungkin kau tidak akan mampu untuk membelikan aku makanan yang sedikit itu." Balas tuan Devon pada Yuki yang membuat gadis itu segera memeriksanya dengan cepat.
Betapa kagetnya Yuki saat melihat jumlah angka nol yang cukup banyak di dalam tabungannya tersebut, bahkan saking kagetnya melihat nominal yang besar Yuki sampai menjatuhkan tas milik dia tanpa sadar. "Wahh...tuan apa kau tidak salah mengirim gaji, uang sebanyak ini bisa aku dapatkan kalau aku menabung satu tahun penuh tanpa mengambilnya sedikitpun, tapi kau memberkati aku gaji sebesar ini hanya dalam satu bulan saja? Tuan kau yakin tidak salah?" Tanya Yuki kepadanya dengan wajah yang masih tidak mempercayai semua itu.
"Kau tidak salah, jadi cepat pergi belikan aku makanan itu, dan setelahnya kita akan memotong gajimu atas beberapa kesalahan yang pernah kau perbuat padaku." Balas tuan Devon membuat Yuki seketika menjadi lemas kembali.
Dia menghembuskan nafas dengan lesu dan terus berjalan sambil menundukkan kepala, rasa senang dalam hatinya yang mendalam uang begitu banyak sekaligus bisa untuk menyenangkan dirinya, kini harapan itu seketika musnah, tuan Devon bak mengangkat dia setinggi langit lalu melemparkan seketika ke bumi dengan tenaga yang penuh, sehingga membuat Yuki terkapar lemas, tidak memiliki semangat dan begitu lesu.
Dia pergi membeli semua makanan yang di inginkan oleh tuan Devon dan masih harus membayar semua makanan itu dengan uangnya.
"Mbak silahkan ini totalnya." Ucap kasir disana memberikan bon yang harus dibayar oleh Yuki. Lagi dan lagi Yuki ingin pingsan melihat bon makanan saja bisa mencapai dua juta lebih yang harus dia bayar saa itu.
__ADS_1
Dimana uang sebanyak itu untuk Yuki bisa dia gunakan untuk bertahan hidup selama dua bulan penuh, dia benar-benar sangat pusing dengan memegangi dada dan kepalanya yang terasa pening dan sesak melihat semua tulisan itu.
"Aahh...du...du, dia juta? Aahhh aku mau pingsan saja mbak, ini tidak salah hitung kan, kenapa makanannya semahal ini mbak?" Tanya Yuki kepada kasih di restoran tersebut.
"Itu sudah benar mbak, karena makanan yang mbak pesan semuanya makanan luar negeri dan bahan bahannya pun disediakan dengan cara yang khusus dan dibuat oleh chef ternama, jadi tentu saja harganya di sesuaikan." Balas kasir tersebut menjelaskan.
Yuki benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi dia langsung mengeluarkan kartu ATM miliknya, dengan tangan gemetar dan berat hati terpaksa dia harus tetap memberikan kartu ATM nya kepada sang kasih untuk membayar semua pesanan yang sudah dia buat.
Bahkan saking beratnya hati Yuki, dia sempat tarik menarik dengan sang kasih karena begitu sulit untuk melepaskan kartu ATM di tangannya tersebut, yang pada akhirnya tetap saja uang dalam kartu itu yang baru masuk beberapa waktu yang lalu kini sudah terpangkas senilai dia juga rupiah, hitungan yang sangat banyak bagi Yuki dan membuat dia merasa begitu lemas, kembali ke perusahaan dengan wajah yang merasa menyesal serta terus menangis sepanjang jalan sebab telah kehilangan uang dengan sia-sia untuk makanan yang sama sekali tidak akan dia makan.
Beberapa karyawan kantor yang melihat tingkah Yuki juga mulai memperhatikan dia dan tidak sedikit orang yang membicarakan dia dengan berbisik pelan saat Yuki melewati mereka, tetapi Yuki sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena baginya rasa sakit hati yang dia rasakan karena kehilangan uang sebesar itu sudah bisa membuat dia lebih galau dan menyesal di bandingkan apapun.
Saat masuk ke dalam ruangan tuan Devon, dia langsung menaruh semua makanan itu diatas meja sembari mengusap sisa air mata di sekitar pipinya. Tuan Devon sendiri yang melihat hal itu dia nampak mengerutkan kedua alisnya dengan sangat kuat merasa heran karena melihat Yuki menangis seperti itu, dia pikir ada sesuatu yang terjadi di perjalanan dengan gadis tersebut, sehingga tuan Devon mengesampingkan pekerjaannya dahulu dan mulai menghampiri Yuki sambil bertanya kepadanya.
__ADS_1
"Heh, kenapa kau menangis apa kau bertemu preman di jalan atau ada orang yang menghinamu?" Tanya tuan Devon kepada Yuki saat itu.
Kini malah balik Yuki yang menatap heran dengan menaikkan kedua alisnya kepada tuan Devon sebab dia merasa kebingungan saat melihat tuan Devon berjalan menghampirinya dengan wajah seperti itu, menatap dia dengan lekat dan semakin mendekat.
"Tidak apa-apa, tapi tuan kau kenapa harus mendekat kemari, ini aku sudah membelikan semua makanan yang kau mau, kau harus memakannya sampai habis, awas saja jika kau tidak menghabiskannya nanti, aku kehilangan dua juta pertamaku hanya untuk membeli makanan seperti ini, huaaa...kau benar-benar membuat aku jengkel dan darah tinggi." Balas Yuki sembari menata semua makanan tersebut diatas meja, sedangkan tuan Devon segera duduk di hadapan Yuki dan mulai mengambil satu porsi makanan yang ada disana, Yuki hanya berdiri di samping meja dan berniat untuk pergi dari sana tapi tuan Devon menghentikannya dan malah menyuruh Yuki untuk duduk di kursi tersebut.
"Tuan tugasku sudah selesai dan ini sudah jam istirahat, aku permisi dulu kalau begitu." Ucap Yuki berniat pergi, tuan Devon menarik tangannya dengan cepat.
"Duduk, aku kan sudah bilang masalah hutangmu akan kita bahas sekarang juga, ayo cepat duduk dan berhenti memandangku dengan wajah seperti itu." Balas tuan Devon kepada Yuki, sehingga Yuki pun menurut dan segera duduk disana.
Dia menghembuskan nafas dengan lesu dan wajah yang semakin ditekuk dan terlihat sangat jengkel dalam menghadapi tuan Devon yang malah asik menikmati makanannya sendiri di depan Yuki yang tidak tahan menahan rasa lapar dalam perutnya sendiri.
"Kreokk....kreokk..." Suara perut Yuki yang terdengar begitu kencang.
__ADS_1
Hingga suaranya itu sampai pada pendengaran tuan Devon dan membuat tuan Devon menatap ke arahnya dengan perlahan, Yuki terdiam dan memalingkan pandangannya ke arah lain dia menahan rasa malu dan tidak ingin tuan Devon tahu jika suara yang barusan terdengar berasal dari perutnya yang keroncongan saat itu.
Padahal saat itu tuan Devon sudah bisa menduganya dan dia tahu bahwa Yuki tengah gugup kelimpungan sendiri, dia senang melihat Yuki seperti itu dan dengan sengaja malah menggodanya. Menghentikan makannya terlebih dahulu dan dia menaruh piring makannya itu di meja dengan pelan, sembari berdehem untuk menghilangkan kegugupannya tersebut. "Ekhm...suara apa tadi, apa kau mendengar seperti ada suara aneh barusan?" Tanya tuan Devon kepada Yuki.