
Yuki kembali melaksanakan kegiatan dia seperti biasanya dan kebetulan sekali hari ini adalah hari gajian dia, yang sudah di tunggu-tunggu dari sekian lama oleh Yuki, dia juga mendadak menjadi begitu semangat sekali dalam menggosok semua barang yang kotor, bahkan meski sudah tidak ada sang manager di restoran tersebut, dia masih saja begitu giat untuk membersihkan semua alat masak yang ada disana, terus saja membersihkan semuanya sambil terus bersenandung riang begitu bersemangat.
"Wah..wah...wahh... Yuki kau sangat keren sekali hari ini, apa kau meminum sebuah suplemen, sampai terus saja begitu bersemangat seperti ini." Ucap sang manager yang memeriksa semua pekerjaan karyawan yang ada di bagian dapur.
"Ahaha... Tidak pak, bapak ini bisa saja, ini kan hari gajian, mana mungkin aku setidak tahu diri itu, akan mendapatkan uang darimu tapi tidak bekerja dengan baik, aku akan terus bersemangat untuk terus bekerja disini, sampai aku kaya hehe." Balas Yuki sambil tersenyum lebar menatap ke arah sang manager di sampingnya saat itu.
Manager itu pun ikut tertawa riang mendengar celetukan dari Yuki yang memang selalu senang bercanda, setelah mengobrol sejenak dengan Yuki, dia pun langsung memberikan sebuah amplop coklat kepada Yuki, dimana amplop itu adalah uang gaji milik Yuki bulan ini, langsung saja Yuki merasa semakin senang, matanya seketika terbelalak sangat lebar menatap ke arah amplop tersebut.
"Sudah ini terlalu malam, ambil gajimu dan jangan terlalu banyak bercanda, selamat beristirahat." Ucap sang manager kepadanya.
"Wah... Ini gajiku, kenapa sepertinya lebih tebal dibanding biasanya?" Tanya Yuki kepada sang manager sambil segera mengelap tangannya dan memeriksa isi dalam amplop coklat tersebut.
"Iya aku sengaja memberikan sedikit bonus untuk karyawan yang giat dalam bekerja dan memiliki semangat tinggi sepertimu, bagaimana apa kau senang?" Balas sang manager lagi.
__ADS_1
Langsung saja Yuki memasang wajah yang sangat senang dan begitu terharu atas kebaikan sang manager yang bisa dia andalkan, karena saat ini dia sungguh tengah membutuhkan uang untuk membayar uang sewa apartemen kecil miliknya tersebut, yang sudah harus dia bayar malam ini juga.
"Hua... Manager terimakasih banyak, kau adalah orang terbaik yang pernah aku kenal, aaahh aku sangat terharu sekali dengan kebaikanmu ini, kau adalah malaikat dalam hidupku manager." Ucap dia terus saja memegangi tangan sang manager sambil terus berjingkrak dan berterimakasih kepadanya tanpa henti.
Sang manager juga terus tersenyum, dia ikut merasa senang ketika bisa membantu karyawannya, sampai akhirnya dia pun berpamitan pergi dari sana lebih dulu karena memang sebentar lagi restoran akan tutup.
Tepat jam delapan malam pada akhirnya Yuki segera pulang ke apartemen sewaan miliknya, saat dia sampai di depan pintu dia sudah di hadapankan dengan sang pemilik apartemen yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya, menghadap ke arah dia sambil memberikan tatapan tajam yang begitu menusuk.
"Astaga.. kenapa dia sudah ada disini?" Gerutu Yuki merasa kaget saat melihatnya.
"Ehh.. halo Tante selamat malam, kenapa Tante diluar, ayo masuk ke dalam biar aku sajikan minuman untukmu." Ucap Yuki menyambutnya dengan begitu ramah.
Sayangnya sang pemilik apartemen itu tidak bisa ramah pada semua orang yang selalu membayar uang sewa di akhir bulan, ataupun yang selalu membayar uang sewa dua bulan sekali bahkan sering meminta tambahan waktu seperti Yuki ini.
__ADS_1
"Jangan banyak basa basi lagi, kau seharusnya sudah tahu bukan kenapa aku berdiri disini, aku sudah mengetuk pintu sebanyak dua puluh kali sampai tanganku lebam seperti ini, lihat!" Bentak sang pemilik sewa memperlihatkan tangannya yang masih terlihat lebam dan merah ke hadapan wajah Yuki saat itu.
Langsung saja Yuki tersentak ke belakang dengan kaget, sambil berjalan mundur beberapa langkah ke belakang saking kagetnya dan dia menahan tangan sang pemilik sewa tersebut dengan pelan.
"Ahahaha... Iya tanganmu terlihat begitu buruk, tapi Tante maafkan aku, soalnya temanku sedang tidak ada di rumah, kau kan tahu teman sekamarku itu sakit dia harus pergi ke luar negeri untuk mengobati penyakitnya dan aku sedang bekerja, ini aku baru pulang dari pekerjaanku, jadi tentu saja tidak akan ada orang yang membukakan pintu, sekalipun kau mendobrak pintunya hehe." Balas Yuki dengan wajahnya yang begitu polos dan tanpa rasa bersalah sama sekali.
"CK.... Kenapa pula kau masih menyimpan benalu itu di rumahmu, sudah tahu dia hanya beban untuk hidupmu, kenapa kau masih mau menampung dia tanpa memberikan sewa kepadamu, sementara kau bekerja keras untuk hidupmu dan membayar sewa rumah tanpa dia ketahui sama sekali, apa temanmu itu seseorang yang tidak tahu malu?" Ucap sang pemilik sewa sambil berkacak pinggang di depan Yuki.
"Tante bagaimana pun dia sahabat baikku, kasihan jika bukan aku yang menerima dia di rumah ini, lantas siapa lagi yang mau menerimanya, dia sudah tidak ada keluarga ataupun orangtua, makanya aku harus tetap menerima dia di rumah ini." Balas Yuki kepadanya.
"Tapi kau itu sangat bodoh dan terlalu mudah di manfaatkan, kau pasti membiayai semua pengobatan temanmu itu kan? Kau bisa memberikan semua uangmu untuk teman seperti dia tapi begitu pelit untuk membayar sewa denganku, aishhh aku benar-benar tidak habis pikir dengan otak kecilmu itu, kenapa begitu sempit sekali." Balas sang pemilik sewa kepadanya lagi.
Yuki hanya bisa menunduk mengakui semua yang dikatakan oleh sang pemilik sewa memang ada benarnya, selama ini Linda juga tidak pernah tahu jika sebenarnya rumah yang dia tempati bukanlah apartemen pribadi miliknya ataupun rumah milik dirinya, tetapi itu hanyalah tempat tinggal sewaan yang harus dia bayar sewanya sebulan sekali tanpa sepengetahuan Linda, karena Yuki takut Linda akan merasa semakin tidak berguna seandainya dia tahu jika rumah itu masih memerlukan biaya untuk dia tinggali dan dia tidak membantu apapun untuk membayarnya.
__ADS_1
Sang pemilik sewa selama ini juga hanya mengaku sebagai tetangga kepada Linda dan tidak pernah memberitahu Linda bahwa setiap kali dia datang mencari Yuki dalam setiap bulan sekali itu untuk menagih biaya sewa rumahnya.
"Maafkan aku Tante, tapi bagaimana pun aku berterima kasih banyak kepadamu, kau berperan besar dalam hidupku dan sudah mau menampung aku disini, ini uang sewanya, kali ini aku tidak telat dan aku berjanji untuk ke depannya aku tidak akan telat lagi dalam membayar sewa gedung, aku janji padamu!" Ucap Yuki sambil memberikan uang sewanya bulan ini dan terus saja mengucapkan janji sambil menatap dengan lekat pada sang pemilik sewa untuk memberikan keyakinan kepadanya.