
Sedangkan Yuki sendiri terus saja mengerutkan kedua alisnya dengan sangat kuat, dia mulai menunduk dan menatap dirinya sendiri dari atas hingga bawah, tapi walau sudah seperti itu, dia masih saja belum menyadari bahwa ada yang salah dalam penampilannya tersebut, dia merasa semuanya masih baik-baik saja karena dia sama sekali tidak tahu, penampilan seperti apa yang seharusnya dia lakukan untuk membuat tuan Devon merasa senang dan bisa bersikap baik dengannya.
Sedangkan yang dia dapatkan saat ini justru malah sebuah hinaan yang sangat menyebalkan dari tuan Devon secara langsung seperti itu.
"Tuan apa kau bilang barusan, gila? Siapa yang kau bilang seperti orang gila?" Tanya Yuki dengan wajahnya yang sangat polos dan mata yang terbuka sangat lebar.
"Tentu saja kau siapa lagi? Memangnya ada orang lain di ruangan ini selain kau dan aku, tidak mungkin aku mengatakan gila pada diriku sendiri bukan?" Balas dia dengan suara yang semakin meninggi.
Membuat Yuki langsung menelan salivanya susah payah, dia benar-benar merasa sangat kesal sekaligus takut dengan apa yang di perlihatkan oleh tuan Devon terhadap dirinya saat itu, padahal dia sudah sangat bersusah payah dalam mempersiapkan penampilannya tersebut, tetapi malah hal seperti ini yang dia dapatkan, namun dibandingkan mengeluh dan merasa kecewa atas penampilannya yang gagal menyenangkan tuan Devon dia lebih mementingkan untuk segera mengatakan tujuan utamanya datang kesana yang tidak lain untuk meminta tuan Devon tidak jadi memecat dirinya. Agar dia bisa kembali bekerja di minimarket yang ada dibawah naungan perusahaan miliknya tersebut.
"Sudah cepat katakan, siapa kau dan apa tujuanmu datang ke ruanganku seperti ini, waktuku tidak lama ya!" Ucapnya dengan begitu tegas.
"Begini tuan aku Yuki, aku salah satu karyawan kecil di minimarket yang ada di pinggir pusat kota, kita sebelumnya pernah bertemu dan saat itu aku tidak mengenalimu sehingga aku menahan dirimu untuk masuk ke ruang ganti karyawan di minimarket tersebut, tetapi aku sungguh benar-benar tidak sengaja, aku tidak bermaksud untuk mengusir dirimu ataupun bertindak kasar denganmu, aku mohon tolong maafkan aku dan jangan blacklist namaku dari pekerjaan yang kau miliki di kota ini, hampir semua toko swalayan dan pusat perbelanjaan yang ada di kota ini semuanya ada di bawah naungan dirimu, aku tidak mungkin bekerja di tempat lain karena gaji di tempatmu lebih menguntungkan dan memiliki jam kerja yang sehat," Ucap Yuki yang belum selesai namun sudah langsung saja dipotong oleh tuan Devon dengan cepat.
__ADS_1
"Jadi kau datang ke sini berharap aku akan memaafkan karyawan yang tidak teliti sepertimu, yang sama sekali tidak bisa mengenali bosnya sendiri dan tidak mempercayai ucapan bosnya? Iya." Ucap tuan Devon sekaligus memotong ucapannya.
Yuki langsung saja menunduk dengan lesu dan segera menganggukkan kepalanya dengan segera, dia benar-benar merasa sangat malu untuk mengakui semua itu, tetapi dia sungguh sangat membutuhkan pekerjaan tersebut, dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang besar seperti ini untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dan layak bagi dirinya, terlebih mencari pekerjaan di kota besar dan pusat kota seperti ini sangatlah sulit, apalagi ada banyak lulusan baru yang keluar tahun ini, membuat persaingan semakin ketak satu sama lain.
Jadi mau apapun yang harus dia lewati dan apapun yang harus dia lakukan, Yuki masih ingin mempertahankan pekerjaan ini, yang sudah jelas menguntungkan untuk hidupnya dan bisa menunjang biaya hidup dia selama ini, termasuk membiayai semua pengobatan sahabatnya tersebut dan untuk mengumpulkan kembali uang lebih, agar dia bisa mendaftar kuliah di tahun depan.
Tapi sayangnya tuan Devon tidak akan memaafkan seseorang yang telah melakukan kesalahan kepada dirinya dengan begitu mudah, terlebih lagi kesalahan yang sudah dibuat oleh Yuki bukanlah kesalahan yang ringan, melainkan termasuk ke dalam kesalahan yang begitu besar di mata tuan Devon kala itu.
Tuan Devon yang merasa ngeri dengan make up yang menutupi wajah Yuki dia refleks menjauh dari gadis itu dan mundur ke belakang beberapa langkah dengan kedua tangannya yang dia ke depankan meminta agar Yuki tetap menjaga jarak dengan dirinya.
"Ee...ee..ett..diam di situ, siapa yang menyuruhmu mendekat padaku, jaga jarak aman denganku dan tetap berdiri di posisimu, sekurang-kurangnya tetap jaga jarak satu meter dariku, apa kau paham? Hah!" Ucap tuan Devon kepada Yuki lagi dengan suara yang lebih kencang.
Yuki pun segera mengangguk patuh dengan ucapan dari tuan Devon dan dia seger melangkah mundur beberapa langkah untuk menjauh dari meja kerja tuan Devon saat itu, sedangkan tuan Devon sendiri baru saja dia bisa menghembuskan nafas dengan lega setelah dia bisa menjauh dari Yuki yang berpenampilan sangat aneh di matanya.
__ADS_1
"Nah begitu, bagus, tetaplah berada di posisimu dan jangan pernah melangkah maju ke depan sini, walau hanya sedikit pun!" Tambah tua Jenson sambil dia yang segera kembali duduk di depan meja kerjanya.
Lalu segera menyelesaikan tugas pekerjaan dia kembali seperti sebelumnya, sedangkan Yuki yang masih belum mendapatkan kejelasan atas masa depan pekerjaannya tersebut, dia tetap saja berdiri disana dan terus memohon kembali kepada tuan Devon untuk memastikan statusnya saat itu.
"Tuan jadi bagaimana, apa aku bisa kembali bekerja lagi?" Tanya Yuki penuh dengan harapan saat itu, tapi tuan Devon hanya memberikan tatapan tajam dan begitu lekat kepada Yuki dibandingkan sebelumnya.
Kini bahkan malah dia sendiri yang kembali beranjak dari kursinya hingga berjalan mendekati Yuki dan terus saja memeriksa wajahnya saat itu dengan seksama, lalu dia mulai merasa wajah Yuki begitu familiar di benaknya saat itu.
"Hemm...tunggu deh, kenapa aku merasa wajahmu ini terlihat tidak asing, apa kita pernah bertemu sebelumnya selain di kejadian minimarket itu?" Tanya tuan Devon kepada Yuki dengan mengerutkan kedua alisnya sangat kuat.
Yuki justru malah ikut bingung dan dia mencoba mengingat-ingat kembali apa yang dikatakan oleh tuan Devon, namun dia sudah sangat yakin sekali bahwa dia memang baru bertemu dua kali saja dengan tuan Devon sang pemilik perusahaan pusat tersebut.
"Aku rasa aku hanya bertemu denganmu saat di minimarket dan sekarang, jadi meski aku terus mencoba mengingatnya aku sangat yakin dengan ingatanku yang sebelumnya." Balas Yuki menjawab dengan jujur.
__ADS_1