
Dengan wajah yang kebingungan dan terlihat heran sendiri Yuki segera mengikuti sekretaris Geri saat itu, hingga dia tiba di depan ruangan kantor pribadi tuan Devon dimana tiba-tiba saja tempat di samping pintu tersebut sekarang sudah berubah tertutupi oleh sebuah menyandan kursi yang sebelumnya di gunakan oleh Yuki di ruangan sekretaris Geri, dia mulai merasa tidak enak hati dan merasa aneh dengan perubahan tersebut, terus saja dia menanyakan hal itu kepada sekretaris Geri yang terlihat mulai sibuk memerintah beberapa pengawal disana untuk membantu dia merapihkan tempat tersebut.
"Eh... tunggu, sekretaris Geri untuk apa kau menyuruh mereka menaruh mejanya disini, bukankah ruangan tuan Devon di dalam, siapa yang akan menggunakan meja dan kursi di samping pintu ruangan tuan Devon begini?" Tanya gadis 20 tahun itu dengan wajahnya yang mulai ditekuk sangat kuat.
"Kau, ini semua untukmu, tuan Devon yang memintanya." Balas sekretaris Geri yang seketika membuat Yuki langsung terperangah kaget.
"APA? UNTUKKU? Ahah.. sekretaris Geri yang benar saja, kau pasti bercanda bukan? Mana mungkin aku akan tinggal dan bekerja di sini, bukannya aku sudah menjadi asisten pribadinya lagi? Otomatis aku akan tinggal di dalam kan, untuk apa aku disini, tidak ada ruangan dan hanya disekat dengan benda seperti ini saja?" Balas Yuki dengan semua perasaan campur aduk yang dia rasakan saat itu.
"Kau tanyakan saja kepada tuan Devon secara langsung jika tidak percaya, karena semua ini memang sungguh tuan Devon sendirilah yang menyuruhku." Balas sekretaris Geri.
Tidak mau menunggu waktu lama lagi, Yuki langsung berjalan cepat masuk ke dalam ruangan tuan Devon, dengan langkahnya yang lebar dan wajah yang penuh emosi dia segera masuk tanpa mengetuk pintu sama sekali, bahkan dengan beraninya bicara sangat lantang dan keras kepada tuan Devon saat itu.
"Tuan, aku mau perotes denganmu!" Bentak Yuki sangat kencang dan dia berkacak pinggang di depan meja tuan Devon saat itu.
__ADS_1
Sementara tuan Devon sendiri hanya menatap sekilas dengan ujung matanya saja, kemudian dia kembali fokus lagi ke depan komputer milikinya, dan mengabaikan Yuki begitu saja, padahal saat itu Yuki sudah sangat menggebu sekali, emosi dalam dirinya sudah sampai di ubun-ubun.
"Tuan apa kau mendengarkan aku, kenapa kau malah memindahkan meja kerjaku di luar ruanganmu, apa kau mengerjai aku atau bagaimana, hah? Tuan ayo cepat jawab kenapa kau tidak menjawabku?" Ucap Yuki lagi dan menaikkan nada suaranya lebih tinggi lagi.
Tapi sayangnya tuan Devon masih saja terlihat begitu santai dan tidak memperdulikannya, dia malah nampak santai saja dan malah menyuruh Yuki untuk diam dengan isyarat jari telunjuknya yang dia hadapkan ke arah wajah Yuki, membuat gadis itu semakin mengerutkan kedua alisnya sangat kuat dan begitu emosi kepadanya, mengeratkan giginya dengan kuat dan terus saja menepis tangan tuan Devon dengan kencang sembari bicara sangat serius lagi dengan tuan Devon, meminta agar tuan Devon memberikan dia penjelasan yang lebih banyak lagi.
"Sttt ..." Ucap tuan Devon mengisyaratkan saat itu.
"Aishh tuan sudah cukup, emosiku sudah sangat meluap, jangan kau pikir hanya karena kau adalah bosku lalu aku akan berdiam diri padamu, ataupun aku tidak akan berani untuk bicara denganmu, ini masalah keadilan, kau seharusnya menjelaskan dengan benar apa alasanmu memindahkan meja kerjaku begitu saja, tidak mungkin aku bekerja sebagai asisten pribadimu sedangkan meja kerjaku begitu jauh dari tempatku bekerja, bagaimana aku bisa bekerja dengan benar jika kau saja membiarkan aku bekerja di luar ruanganmu seperti itu." Ujar Yuki sangat kencang dan terus saja semakin serius.
"Sudah diam kau, ayo silahkan duduk dan tenangkan dirimu sendiri, kontrol emosimu itu, karena kau tidak akan bisa merubah keputusan apapun yang sudah aku buat, jadi sebaiknya kau duduk dan biarkan aku memberitahumu jika kau ingin tahu alasannya." Balas tuan Devon yang pada akhirnya di turuti juga oleh Yuki, sebab dia juga tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa saat itu.
Rasanya hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa mendengar penjelasan dari tuan Devon secara langsung, setidaknya jika dia sudah bisa mendengar penjelasannya, mungkin Yuki tidak akan terlalu kesal lagi dengan semua ini.
__ADS_1
Sampai tuan Devon pun mulai memberikan penjelasan kepada gadis tersebut dengan sangat tegas, dan wajahnya yang nampak serius sekali kala itu.
"Begini, kau dengar baik-baik karena aku tidak akan menjelaskan semuanya dua kali, kau adalah asisten pribadiku lagi mulai saat ini, dan mulai detik ini juga ruanganmu tidak akan berada di dalam ruanganku, karena kau sangat menggangu sekali, tetapi aku masih membutuhkan bantuan darimu, jadi lebih baik jika kau menjaga jarak dengan diam dan tinggal di luar saja, setidaknya itu tidak akan membuat aku emosi dan kau tidak akan membuat kekacauan lainnya di dalam ruanganku seperti yang terjadi sebelumnya, apa kau mengerti sekarang, hah?" Balas tuan Devon menjelaskan semuanya dengan begitu jelas, membuat Yuki begitu emosi dibuatnya.
Gadis 20 tahun itu bahkan sudah mengeluarkan nafas yang menderu dan dia terlihat begitu naik darah kala itu, dia juga nampak begitu kesal dan terus saja bangkit dengan cepat sembari menatap tajam kepada tuan Devon.
"Oke, kalau memang begitu aku akan pergi, tinggal di luar sesuai dengan apa yang kau inginkan, tapi lihat saja nanti jangan harap aku akan menuruti semua perintah darimu lagi seperti sebelumnya, dan oleh karena itu mulai saat ini kau juga tidak bisa memberikan perintah selain dari tugasku menjadi asisten pribadimu, bagaimana apa kau sepakat?" Balas Yuki tidak mau kalah dan malah sengaja membuat kesepakatan terhadap tuan Devon kala itu.
Tuan Devon pun mengangguk dan segera menyalami tangan Yuki yang di julurkan ke arahnya kala itu.
"Baik aku sepakat dengan ucapanmu." Balasnya terlihat begitu santai.
Tanpa tuan Devon sadari bahwa orang yang dia hadapi saat ini bukanlah wanita biasa, Yuki begitu senang saat mendapatkan kesepakatan dengan tuan Devon saat itu dan dia merasa ini kesempatan besar bagi dirinya agar tidak terus diam disaat tuan Devon terus mendesak dia dan mencoba untuk membuatnya kesal seperti ini.
__ADS_1
"Oke baiklah, aku pegang kesepakatan ini, dan kau harus mengingatnya dengan baik tuan Devon, permisi." Balas Yuki dengan sorot matanya yang tajam.
Dia segera berbalik dan pergi dari sana dengan cepat, sambil terus menahan emosi dalam dirinya dan kedua tangan yang masih saja mengepalkan sangat kuat sejak pertama kali dia masuk hingga sekarang setelah keluar dari ruangan kantor pribadinya tuan Devon.