Wanita Perebut Kekasihku

Wanita Perebut Kekasihku
Mengantarkan Linda


__ADS_3

Walaupun dia merasa sangat mengantuk sekali dan matanya bahkan sudah sangat merah, akibat menahan rasa kantuk yang teramat sangat saat itu, namun demi mendengarkan temannya Linda, dia pun terpaksa harus tetap terbangun dan terpaksa kembali bangun lagi.


"Ahh.. iya iya... Ada apa sih kenapa kamu harus membangunkan aku, memangnya tidak bisa dibicarakan besok saja, aku sudah sangat mengantuk nih." Gerutu Yuki dengan wajah yang setengah sadar, matanya bahkan tertutup dan dia begitu lemas.


Tetapi karena Linda terus menarik tangannya dan memaksa dia untuk terus terbangun, sehingga gadis manis itu sama sekali tidak bisa berkutik, dia tetap saja harus menuruti keinginan temannya tersebut, meski saat itu dia sudah berkali-kali hendak menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, tapi terus di tahan dan ditarik dengan kuat oleh Linda.


"Ehhh.. ayolah Yuki, jangan tidur lagi, aku bahkan belum mengatakan apapun kepadamu!" Balas Linda dengan wajahnya yang mulai mengerut.


"Ya sudah iya iya. Aku akan mendengarkanmu, cepat bicara ada apa sebenarnya?" Tanya Yuki sambil menatap dengan lekat kepadanya.


"Ehehe... Begini, aku harus pergi ke luar negeri untuk proses operasi pengangkatan sel kanker untuk terakhir kalinya, dokter bilang jika aku melakukan operasi ini, maka aku akan sembuh total." Ujarnya dengan wajah yang begitu berbinar.


Mendengar hal itu, Yuki langsung saja mengerutkan kedua alisnya, ada rasa senang di dalam hati Yuki ketika mendengar kabar tersebut dari sahabatnya Linda, namun dia merasa pernyataan tersebut sedikit aneh untuk dia dengar, karena yang Yuki ketahui, sebelumnya Linda sudah melakukan operasi pengangkatan sel kanker beberapa tahun yang lalu, jadi dia pikir sekarang tidak mungkin harus melakukannya lagi.


"Yuki... Hei.. Yuki kenapa kamu melamun, kamu tidak senang mendengar kabar ini?" Ucap Linda menyadarkannya.


"Ahh.. tidak aku justru sangat senang jika kamu bisa sembuh total, tapi Linda bukankah sebelumnya kamu sudah melakukan operasi besar dalam pengangkatan kankermu itu? Kenapa sekarang harus melakukannya lagi?" Tanya Yuki mengutarakan kebingungannya.

__ADS_1


"Iya memang sudah diangkat, tapi saat terakhir kali aku melakukan pengecekan, rupanya tumbuh sel kanker baru yang tengah menyebar, jadi aku terus harus melakukan kemoterapi dan sebagainya, aku tidak mau terus menghabiskan uangmu Yuki, jadi aku pikir dengan operasi ini, maka aku akan sembuh sepenuhnya, aku bisa bekerja untuk membantumu dan bisa menghasilkan uang untuk diriku sendiri." Balas Linda menatap dengan penuh keyakinan saat itu.


Mendengar hal itu, hati Yuki mulai tergerak dia merasa terharu dengan ucapan yang dilontarkan oleh sahabatnya tersebut, padahal selama ini dia tidak pernah meminta Linda untuk membantunya dan dia tidak pernah merasa terbebani sedikit pun dengan adanya Linda di rumah ini, ataupun dalam kehidupannya selama ini.


"Linda jika memang operasi itu benar, dan dokter bertanggung jawab penuh atas semuanya aku pasti setuju, aku akan selalu mendukung dirimu, apapun yang terbaik untukmu." Ucap Yuki sambil memegangi kedua lengan Linda dengan lembut.


Linda merasa sangat senang, dia berhasil untuk memanipulasi sahabatnya sendiri, dia memeluk Yuki dengan penuh haru dan terus saja kedua sahabat itu saling berpelukan satu sama lain.


Hingga ke esokan paginya saat Linda tengah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara, Yuki sendiri yang mengemasi barang-barang dan perlengkapan lainnya untuk Linda disana, dia memberikan bekal yang sangat banyak untuk Linda, bahkan terpaksa Yuki harus membobol tabungan satu-satunya yang dia miliki untuk biaya kuliah dia sebelumnya, meski tadinya dia berniat memakai uang itu untuk biaya kuliahnya, tetapi demi sahabat tercinta, Yuki rela menahan niat untuk kuliahnya lagi hanya demi membiayai keberangkatan Linda ke luar negeri, termasuk membantunya dalam biaya operasi saat itu.


"Linda ini untukmu, aku tahu kamu tidak punya uang, dan untuk biaya operasinya aku sudah transfer ke rekeningmu, sesuai dengan yang kamu sebutkan semalam, maaf ya aku tidak bisa menemani kamu, karena mungkin uangnya tidak akan cukup jika aku turut ikut denganmu kesana, tiket pesawatnya kan sangat mahal." Ucap Yuki sambil memegangi tangan Linda dengan wajah yang terlihat sedih.


Dia senang karena sudah mendapatkan banyak uang dari Yuki tanpa perlu bersusah payah sama sekali untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang sebesar itu.


Selama ini Linda hanya makan, tinggal dan berobat dengan gratis, dia hanya beban untuk Yuki, tetapi karena kebaikan gadis itu, Yuki sama sekali tidak pernah menganggap sahabatnya tersebut sebagai beban bagi dirinya, dia justru merasa senang ketika bisa membantu sahabatnya karena dia tidak memiliki keluarga sama sekali di dunia ini, jadi dia pikir, memiliki Linda di sampingnya dan bisa dianggap seperti keluarganya sendiri itu sudah lebih dari cukup untuknya.


Mereka berpelukan dengan erat, dan Yuki terlihat cukup sedih karena dia tidak bisa pergi dengan Linda, tangannya terus melambai ke arah Linda yang berjalan semakin jauh meninggalkan dirinya, hingga ketika Linda benar-benar sudah tidak terlihat di pandang mata, Yuki mendapatkan panggilan telepon dari rekan kerja sekaligus temannya di mini market, yang tidak lain adalah Jery.

__ADS_1


"Halo ada apa Jer?" Tanya Yuki mengangkat panggilan telepon itu sambil berjalan hendak keluar dari gedung bandara yang menjulang tinggi tersebut.


"Hei.. ada apa, ada apa! Kau lupa bukannya pagi ini harus pergi ke kantor pusat? Kenapa kau tidak kesana, bos marah besar dan pergi mencarimu ke minimarket, kau benar-benar cari mati ya?" Bentak Jery membentak dengan sangat kencang.


Bahkan saking kencangnya suara Jery, Yuki sampai refleks menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya, dia benar-benar telah melupakan semua hal yang sudah dia rencanakan sendiri sebelumnya.


"Aaaduduhh, maafkan aku Jery aku sungguh lupa, tapi sebelumnya aku sudah mempersiapkan diri, hanya saja tadi pagi aku harus...." Ucap Yuki yang tidak sampai selesai dan dia langsung mendapatkan bentakkan dari sang bos manager minimarketnya di balik telepon tersebut.


"Kemarikan teleponnya, biar saya yang bicara langsung dengan anak ini." Terdengar suara sang manager dari ponsel tersebut.


Yuki sudah membelalak matanya sang panik, dengan tangan gemetar memegangi ponselnya, karena dia merasa sangat takut sekali dengan suara managernya tersebut.


"Yuki, benar-benar kau ini ya, setelah apa yang telah kamu lakukan pada tuan besar, sekarang kau bahkan tidak datang pada undangan darinya, mulai sekarang kamu saya pecat! Jangan pernah datang lagi ke minimarket, dan satu lagi, kamu tidak akan mendapatkan uang pesangon apapun!" Bentak sang manager begitu kencang dan panggilan pun langsung terputus begitu saja.


"Ehh... Pak.. tunggu, pak saya mohon berikan saya kesempatan sekali lagi, pak..halo..pak..aishh.... Bagaimana ini?" Gerutu Yuki penuh dengan kebingungan.


Dia benar-benar merasa sangat menyesal karena sudah melakukan hal seperti itu sebelumnya, tapi dia melakukan itu karena dia tidak tahu jika pria yang dia hadang itu ternyata adalah seorang yang berpengaruh di tempat kerjanya, bahkan sangat berpengaruh pada seluruh minimarket yang ada di negara ini.

__ADS_1


Terlebih dia yang dengan bodohnya melupakan janjinya sendiri untuk datang ke perusahaan pusat, sekarang Yuki hanya bisa menggerutu kesal dan terus menyalahkan dirinya sendiri atas semua kejadian yang sudah terlanjur menimpa pada dirinya.


__ADS_2