
Yuki juga dengan segera membantunya ketika tuan Devon sudah membentak dia seperti tadi, dia mengangkat bagian gerobak di ujung yang sama dengan tuan Devon secara bersamaan, hingga akhirnya gerobak sampah yang besar itu bisa mereka angkat secara perlahan namun pasti, Yuki juga memungut sampah besar yang berserakan di jalanan secepatnya, hingga lalu lintas bisa kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Tuan Devon juga terus saja melepaskan sarung tangan di tangannya dan dia segera kembali pergi ke mobilnya saat itu, tapi sebelum itu Yuki dengan cepat berlari mengejarnya, karena dia belum sempat mengucapkan terimakasih kepada tuan Devon, atas bantuan yang sudah dia berikan kepadanya.
"Ehh...dimana tuan Devon? Aahhh itu dia, aku harus mengejarnya sebelum dia benar-benar pergi." Ucap Yuki sambil segera saja berlari mengejarnya.
Saat tuan Devon baru saja mau menutup pintu mobilnya, dengan cepat Yuki menahan pintu mobil tersebut dengan sekuat tenaga dan dia berhasil mengagetkan tuan Devon dengan tingkahnya tersebut.
"Tuan tunggu! Hah...hah..hah.." ucap Yuki dengan nafasnya yang menderu begitu keras.
"Astaga...lepaskan tangan kotor mu itu dari mobilku! Hei.... Ayo lepaskan, beraninya kau menahanku!" Bentak tuan Devon sekali lagi membelalakkan matanya dan menatap dengan begitu tajam kepada Yuki.
"Tuan jangan marah dulu, aku minta maaf karena mengotori mobilmu, tapi sebelum kau pergi aku mau berterimakasih padamu, dan itu, bisakah kita bicara sekarang, aku rasa kau terlihat senggang saat ini." Ucap Yuki memberanikan diri untuk meminta waktu luang kepada tuan Devon saat itu.
Dia pikir ini adalah waktu yang tepat untuk dia bicara mengenai hutangnya terhadap tuan Devon, karena jika besok mungkin tuan Devon akan sangat sibuk dan sulit untuk dia temui, terlebih lagi untuk bisa mendapatkan akses ke dalam perusahaannya sangatlah sulit, jadi dia memberanikan diri untuk bicara dengan tuan Devon saat itu saja.
__ADS_1
Tuan Devon terus saja mengerutkan kedua alisnya dan dia sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Yuki saat itu, sehingga dia terus saja mengerutkan kedua alisnya dengan kuat dan terus saja kembali menarik pintu mobilnya tersebut untuk menghindari Yuki, tetapi sayangnya Yuki bukanlah orang bodoh yang bisa dia kelabui dengan cara seperti itu, karena sejak awal Yuki sudah menahan pintu mobil tuan Devon dengan kakinya dan juga tangannya yang siap sedia untuk menahannya jika tiba-tiba saja tuan Devon menutup pintunya seperti ini.
"Aishh....sialan, beraninya kau menahan mobilku, aaahh... oke-oke minggir kau aku akan keluar." Ucap tuan Devon yang terus mendengus kesal dibuatnya.
Sedangkan Yuki sendiri hanya bisa tersenyum kecil karena dia merasa semua rencananya sudah berhasil dia lakukan, dia pun segera saja menyingkir dan tuan Devon kembali keluar dari mobilnya lalu Yuki segera mempersilahkan tuan Devon untuk ikut duduk dengannya di bangku taman yang ada di pinggiran jalan saat itu.
"Silahkan duduk tuan, saya sudah membersihkannya." Ujar Yuki setelah dia mengusap kursi untuk duduk tuan Devon dengan tangannya sendiri.
Tuan Devon hanya terus menatap sinis dan dia pun duduk di kursi itu dengan segera.
"Kartu apa ini, untuk apa kau memberikannya padaku?" Tanya tuan Devon terlihat kebingungan saat itu.
"Ini kartu ATM tempat aku menabung selama ini, disini sudah ada uang 10 juta, yang sudah aku kumpulkan untuk membayar ganti rugi atas mobilmu sebelumnya, dan aku mohon tuan, bisakah aku menyicil sisanya denganmu, aku sungguh tidak mampu untuk menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu satu Minggu, tapi jika kau mengijinkan aku untuk mencicilnya aku yakin aku pasti bisa melunasinya secepat yang aku bisa." Ucap Yuki mulai memohon dan terus saja dia menunduk di hadapan tuan Devon saat itu.
Tapi sayangnya tuan Devon sama sekali tidak bisa menerima uang itu dan dia tetap tidak bisa menerima permohonan dari Yuki, karena baginya janji yang sudah dia ucapkan sama sekali tidak bisa dia tarik kembali.
__ADS_1
"Tidak bisa, kau harus tetap melunasinya sesuai dengan kesepakatan yang sudah aku ucapkan lima hari yang lalu, dan batas waktumu adalah besok, jika kau tidak bisa melunasi hasilnya, maka kau harus bekerja denganku, menjadi asisten pribadiku, apa kau mengerti?" Ucap tuan Devon sambil menarik kartu ATM yang ada di tangan Yuki dengan kasar, sambil segera bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Yuki begitu saja.
Yuki benar-benar tidak bisa melakukan apapun lagi, dia hanya bisa terduduk dengan lesu di lantai dengan kepalanya yang terus saja menunduk ke bahwa tidak memiliki semangat sama sekali, dengan pakaiannya yang kotor dan terlihat kusut juga keringat yang bercucuran di dahinya.
"Ya tuhan aku harus bagaimana lagi sekarang, Hua...aku ingin menangis hiks..hiks.. tapi aku tidak bisa." Teriak Yuki sambil menengadahkan kepalanya ke atas langit hingga di waktu yang bersamaan tiba-tiba saja terdengar gelegar petir yang cukup kuat, dan hujan pun mulai mengguyur kota tersebut dengan sekaligus, butiran air hujan seketika membasahi tubuh Yuki dan seakan turut merasakan kesedihan yang Yuki alami saat ini.
Terus saja Yuki benar-benar menangis lebih kencang saat itu, karena baginya dalam situasi hujan yang deras seperti ini, adalah kesempatan yang sangat bagus untuk dia menangis tanpa di ketahui orang lain dan dia tidak perlu malu untuk menangis sekeras-kerasnya, mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya.
Sebab suara rintikan hujan yang keras bisa menyamarkan suaranya dan menutupi derai air matanya dengan air hujan yang jatuh Seara langsung ke pipinya saat itu.
"Hua....Tuhan kenapa kau sangat baik padaku, sampai aku menangis pun kau datangkan hujan yang membantuku menutupi kesedihan ini, hiks..hiks...aaaahh...aku harus bagaimana." Teriak Yuki benar-benar merasa sangat putus asa kala itu.
Tetapi putus asa dan terus mengeluh seperti itu sama sekali tidak akan menghasilkan apapun baginya, sehingga dia hanya bisa menangis terisak seorang diri untuk beberapa saat dan masih harus melanjutkan pekerjaannya, pergi menyetorkan sampah hasil bawaannya dan segera kembali pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup, dia terlihat bak seekor kucing yang terkena air cukup lama.
Rambut yang lepek dengan wajah sedikit pucat, dia segera mandi air hangat untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk kepada tubuhnya, lalu segera beristirahat meski saat itu sudah larut malam sekali, tapi lebih baik tidur beberapa jam daripada tidak sama sekali, setidaknya dengan tidur dia bisa melupakan semua kesulitan dan beban hidup yang harus dia tanggung sendiri, serta Kenya pahit yang selalu saja bertolak belakang dengan semua yang dia rencanakan selama ini.
__ADS_1
Pergi masuk ke kamarnya dan memakai pakai hangat hingga menarik selimut tebalnya itu hingga menutupi dadanya sampai ke leher, dia terus mengatur alarm di pagi hari, karena tentu dia harus mulai bekerja dengan tuan Devon mulai besok, tidak ada pilihan lain lagi, dia sudah kehilangan uang 10 juta miliknya dan masih harus menjadi babunya tuan Devon untuk melunasi sisanya yang 40 juta lagi.