Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagaian 10_Merasa Tersakiti.


__ADS_3

“Halo, Pak. Saya Cuma mau mengumpulkan tugas.”


Eiren yang baru saja datang melihat wajah lesu Elio di hadapannya. Tangannya langsung mengecek suhu Elio yang terasa normal. Dia menatap Elio dengan pandangan meneliti dan benar-benar mengamati dengan cermat, membuat Elio merasa tidak nyaman.


“Kamu ngapain ke sini?” tanya Elio dengan tatapan malas.


“Bapak beneran sakit?” Eiren malah bertanya hal lain.


Elio berdecih kesal dan menatap tidak suka ke arah mahasiswinya tersebut. “Aku gak sakit, cuma kurang istirahat aja. Lagian ngapain kamu ke sini?”


“Aku ke sini mau ngumpul tugas. Aku gak mau kalau nanti kena hukum lagi,” jawab Eiren santai.


Elio mendengus kesal dan masuk ke dalam apartemen. Eiren yang melihat langsung ikut masuk dan menutup pintu. Langkahnya mengikuti Elio yang membawanya ke meja ruang tamu.


“Seharusnya kamu ngumpul besok saja. Aku benar-benar tidak mau diganggu hari ini,” celetuk Elio yang langsung berbaring di sofa.


“Aku, kan, takut hukumannya ditambah. Lagian kamu gak bilang kok,” jawab Eiren yang suda duduk di seberang Elio.


“Kenapa kamu gak telfon aja?” Elio memejamkan mata rapat.


“Aku gak punya nomormu.”


Elio yang mendengar langsung berdecih kesal dan membuka mata. Apa gadis di hadapannya ini tidak tahu seberapa terkenalnya Elio? Matanya terbuka dan memandang Eiren lekat.


“Mana ponselmu?” tanya Elio dengan tangan yang sudah disodorkan.


Eiren langsung mengambil ponselnya dan memberikan kepada Elio yang masih tetap menunggu. Meski bingung, dia tetap memberikan. Matanya menatap Elio yang mulai membuka ponselnya dan mengetikan sesuatu.

__ADS_1


Elio berdecih heran. Bahkan ponselnya tidak memakai pengaman? Ceroboh, pikir Elio merasa aneh. Setelah selesai, dia memberikan kembali kepada pemiliknya dan menatap Eiren yang hanya diam tanpa suara. “Itu ada nomor ponselku. Kamu bisa menghubungiku jika memerlukan bantuan.”


Eiren hanya mengangguk mengangguk patuh. Dia membuka ponselnya dan masih berada di rincian data Elio. Matanya membelalak menatap nama yang tertera di layar. Dosen ganteng. Bibirnya langsung terangkat sebelah dan menatap Elio yang menahan tawa dengan mata terpejam.


“Dasar dosen gila,” gumam Eiren dan langsung mengganti nama Elio menjadi ‘Orang Gila’. Setelahnya dia menatap Elio dengan kening berkerut. Elio tengah tertidur dengan begitu nyaman dan wajah yang terlihat damai.


Eiren menghembuskan napas keras. “Lalu tugasku gimana?” tanyanya dengan wajah bodoh yang sudah tampak begitu kesal.


_____


Alex mendengus kesal melihat Dora yang masih asyik dengan deretan perhiasan di depannya. Bahkan, sudah lebih dari sepuluh kali dia memprotes kebiasan belanja yang menghabiskan waktu beberapa jam hanya untuk sebuah barang tersebut, tetapi tidak dihiraukan sama sekali oleh Dora. Dia masih asyik memandang dan memilih tanpa henti. Padahal Alex tahu, pasti petugas tokonya sudah menyumpahi wanita tersebut dalam hati.


“Dora, masih lama?” tanya Alex dengan nada sinis. Dia bahkan tidak pernah berharap akan berada di satu tempat dengan wanita yang sudah dibencinya sejak duduk di bangku SMA. Namun, mamanya serasa buta tuli dan selalu memaksanya bersama dengan Dora. Apa mamanya tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukan?


Dora tersenyum manis dan menatap Alex santai. “Sebentar lagi ya, sayang,” jawabnya lembut.


Sayang? Alex langsung bergidik ngeri dan segera menjauh. Dia enggan berurusan dengan siluman ular seperti Dora. Bahkan, membayangkan saja dia enggan. Alex memilih untuk tetap duduk di kursi tunggu dan menatap sekitar, mungkin saja ada yang memikat hatinya untuk diberikan kepada Eiren nantinya.


Alex yang mendengar langsung menatap ke arah Dora dengan wajah yang sudah menunjukan ketidak sukaannya. “Udah?” tanyanya sinis.


Dora mengangguk. “Ayo kita ke bioskop. Aku ingin lihat film,” ucapnya dengan penuh semangat.


“Gak mau,” jawab Alex dengan mata yang sudah menatap kesal. Sudah hampir satu hari dia menemani Dora berbelanja dan sudah benar-benar lelah. Dia hanya ingin kembali ke rumah dan segera beristirahat di kamar.


“Aku tidak meminta persetujuan, sayang,” ujar Dora denga suara tegas dansenyum yang dibuat seolah begitu manis, “apa aku butuh menyeretmu?” tambahnya masih dengan sikap manis.


Alex menghela napas keras dan melangkah malas. Dia akhirnya menuruti apa yang dimau oleh Dora dan menemani untuk menton film yang diinginkan wanita tersebut. Dia enggan membuat masalah dengan Dora untuk saat ini. Sementara dia akan menuruti kemauan Dora dan menyembunyikan keberadaan Eiren darinya.

__ADS_1


Aku merindukanmu, Eiren, batinnya tersiksa karena sudah dua minggu dia tidak bertemu dengan Eiren. Bahkan hanya untuk sekedar chat. Dia menguurngkannya karena takut Dora akan tahu dan malah menjauhkannya dengan Eiren.


_____


Elio membuka mata dan pandangan pertama yang dilihat adalah Eiren yang tengah asih memakan pop corn dengan televisi menyala. Dia mulai mendengar kegaduhan yang berasal dari televisi. Matanya menatap film yang sama dengan yang dilihat Eiren beberapa waktu lalu. Seorang kucing yang tidak ada habisnya mengejar tikus kecil. Benar-benar membosankan karena selalu melakukan hal yang sama tanpa ide yang matang.


“Masih film yang sama? Apa kamu tidak merasa bosan melihat mereka selalu bertengkar tiada henti?” celetuk Elio yang sudah bangun dan segera duduk.


Eiren langsung berbalik dan menatap Elio dengan senyum polos. “Aku mengambil pop corn dari kulkasmu,” ucapnya sembari mengacungkan mangkuk berisi pop corn.


Elio mengangguk dan menghela napas keras. “Kenapa kamu masih ada di sini?”


“Aku takutnya nanti tugasku tidak dinilai. Menulis segitu banyak dalam waktu dua minggu bukanlah hal yang gampang. Itu sebabnya aku menunggu keputusanmu untuk tugas akhir ini,” jawab Eiren masih dengan pandangan menatap ke arah televisi.


Elio menghela naps keras dan menatap Eiren. “Oke, tugas kamu selesai, hukuman kamu juga selesai.”


Eiren yang masih memasukan pop corn langsung menatap dengan mata berbinar. Senyumnya mengembang begitu saja dan terdengar helaan lega. “Baiklah, terima kasih. Kalau begitu sekarang aku akan pulang,” ucap Eiren yang langsung bangkit dari duduk.


Elio yang melihat berdecak kesal. “Aku akan mengantarmu pulang. Sekalian aku mau mampir ke mall untuk membeli beberapa perlengkapan,” ujar Elio langsung bangkit.


Eiren yang mendengar semakin berbinar. Dalam hati dia benar-benar mengucapkan terima kasih kepada Elio. Setelah pria itu keluar dari kamar dengan pakaian santai, Eiren segera mengikuti.


Elio hanya cuek melihat gadis di hadapannya tengah tersenyum dengan begitu riang. Apa sebegitu tersiksanya dia mendapatkan hukuman?, pikirnya masih tetap melanjutkan langkah.


Baru beberapa langkah mereka menuju ke arah lift, sebuah pemandangan menyakitkan langsung datang di depannya. Eiren yang melihat hanya diam dengan mata membelalak. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dilihat.


“Alex,” gumam Eiren membuat Elio juga ikut berhenti. Matanya melihat Alex tengah bergandengan tangan dengan wanita yang tidak dikenalnya sama sekali. Hatinya terasa sakit ketika melihat kekasihnya masuk ke dalam apartemen wanita yang sejak tadi bergelanyut manja.

__ADS_1


Jadi ini yang membuatmu selama ini menjadi jauh dariku?, batin Eiren mencoba menenangkan perasaannya.


_____


__ADS_2