
“Alex.”
Eiren yang melihat kekasihnya berdiri di depan gerbang kosan langsung melangkah mendekat ke arah Alex dan tersenyum. Dia bahkan melupakan dengan siapa dia pulang malam ini.
“Kamu di sini?” tanya Eiren merasa senang. Sudah lama Alex tidak datang ke kosannya untuk berkunjung. Biasanya dia datang hanya untuk mengantar Eiren pulang dan menjemput saat pagi. Setelah itu dia tidak pernah masuk ke dalam dan berbincang dengannya meski hanya sejenak. Eiren terkadang berpikir, apakah Alex benar menjadikannya prioritas dalam hidupnya?
Alex yang melihat Elio berdiri di belakang Eiren langsung menatap tajam. Meski pria di belakang Eiren adalah dosen di kampusnya menempuh study, dia masih akan melawan jika kepemilikannya diganggu oleh orang lain.
“Mr. Elio, kenapa anda bersama dengan kekasih saya?” tanya Alex dengan menekankan pada kalimat ‘kekasih saya’ dan menarik Eiren semakin dekat dengannya. Hatinya benar-benar tengah terbakar rasa cemburu yang terasa begitu buta.
“Aku hanya mengantar Eiren pulang karena dia baru saja mengumpul tugas yang saya berikan dan motornya rusak. Jadi, saya berbaik hati mengantar sampai ke kosannya,” jawab Elio santai dan menatap Eiren yang menatapnya lekat.
“Bukankah seharusnya Eiren mengumpulkan tugasnya pagi hari?” tanya Alex lagi dengan mata yang memandang lekat. Sebenarnya dari mana kedua orang yang sudah berdiri di hadapannya saat ini? Perasaannya mengatakan ada hal yang ditutupi Eiren kali ini.
“Eiren melakukan kecurangan dan aku menyuruhnya untuk menuliskan halaman yang sudah dia lewati,” jelas Elio jujur, meski ada hal yang harus ditutupi dari Alex. Dia enggan menjadi alasan seseorang bertengkar.
Alex yang merasa tidak yakin langsung menatap Eiren yang juga tengah menatapnya. “Benar apa yang dia katakan, Eiren?” tanyanya penasaran.
Eiren langsung mengangguk ragu dan tersenyum canggung. “Iya,” jawabnya singkat. Dia merasa cukup bersalah karena ada yang dia tutupi dari Alex kali ini. Selama lima tahun bersama dengan Alex, dia bahkan tidak pernah menyembunyikan apa pun kepada pria di hadapanya. Namun,sekarang dia merasa ada begitu banya hal yang disembunyikan demi hubungan yang harus tetap bertahan.
Alex menghela napas panjang dan menatap Eiren lekat. Tangannya menarik kepala Eiren dan meletakan di dada bidangnya. “Lain kali, kamu bisa hubungi aku kalau ada masalah. Jangan pulang dengan sembarang orang meski kamu mengenalnya,” ucap Alex sembari melirik ke arah Elio yang masih setia menjadi penonton di depannya.
Eiren mengangguk dan mengeratkan pelukannya. “Kamu ngapain ke sini? Tumben banget.”
“Aku tadi khawatir sama kamu karena tidak masuk mata kuliah Manajemen. Aku pikir kamu sakit,” ucap Alex dan langsung melepaskan pelukannya, “aku sudah membawakanmu martabak kesukaanmu. Aku menitipkanya kepada Feli.”
“Kamu gak mampir dulu?” tanya Eiren dengan pancaran penuh harap.
Alex menggeleng dan mengusap pelan pipi kekasihnya. “Maaf, Eiren. Aku ada urusan. Lain kali aku akan datang lagi.”
__ADS_1
Eiren yang mendengar hanya mengangguk. Dia masih tetap mengumbar seyum sampai pria tersebut masuk ke dalam mobil dan pergi dari kosannya. Rasanya dia tidak yakin jika masih ada harapan untuk hubungannya dan Alex. Ada begitu banyak pihak yang bahkan seperti tidak mendukung sama sekali.
Berhenti menjadikanku seakan aku adalah yang paling istimewa, Alex, batin Eiren dengan wajah datar.
“Dia kekasihmu?” tanya Elio yang masih setia di depan kosan Eiren.
Eiren yang mendengar menatap Elio kesal. “Bukan urusanmu,” celetuknya dengan nada sinis.
“Aku hanya bertanya, Eiren.”
“Dan aku malas menjawab, Elio,” tegas Eiren dengan wajah yang sudah menunjukan taringnya, “kamu lebih baik pulang aja deh. Ngapain juga masih di sini.”
“Kamu mengusirku?” tanya Elio memastikan.
“Tidak, aku hanya mengatakan akan lebih baik jika kamu pulang saja. Kosanku tidak menerima tamu pria dan tidak menyediakan penginaapan,” jawab Eiren yang langsung masuk dan mengunci gerbang.
“Ya, ya, terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucap Eiren yang langsung masuk ke dalam dan segera menutup gerbang ke dua.
Elio yang mendengar hanya tertawa kecil dan menggeleng pelan. Gadis tersebut terasa berbeda. Bahkan, awalnya dia membenci Eiren karena sering sekali membolos mata kuliahnya dan membuat onar dengan beberapa dosen lain.
Bar-bar. Itulah kata yang muncul di otaknya ketika pertama kali melihat Eiren di hari pertama bekerja. Kemeja kotak-kotak dengan celana jeans yang selalu menjadi perpaduan membuat seorang Elio langsung menyimpulkan apa yang dipandangnya kali ini. Namun, setelah mengenal dalam satu hari ini, dia merasa salah dengan pikirannya.
“Dia ternyata asyik orangnya,” aku Elio dengan senyum mengembang. Dia akhirnya masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan kosan Eiren. Dia harus segera pulang ke rumah dan beristirahat.
_____
Alex segera turun dari mobil dan mencari mamanya di sebuah cafe di mall yang sudah disebutkan. Langkahnya semakin cepat karena dia merasa mamanya sudah terlalu lama menunggu. Dia takut, nanti mamanya bosan dan pulang lebih dulu lalu marah kepadanya. Alex benat-benar malas jika mamanya sudah marah karena dia akan didiamkan dalam waktu yang cukup lama dan tidak mendapatkan jatah makan di rumah. Membayangkan saja dia sudah enggan.
“Alex,” panggil mamanya yang sudah melambaikan tangan dengan wajah riang.
__ADS_1
Alex hanya menghela napas kesal dan melangkah ke asal suara. Matanya menatap gadis yang tidak asing untuknya tengah duduk dan menyeruput minuman dengan mamanya. Sejak kapan mereka sedekat itu?, tanyanya dalam hati.
“Mama ngapain sih di sini?” tanya Alex dengan suara kesal karena gara-gara mamanya, dia bahkan tidak bisa bersama dengan Eiren meski hanya sebentar.
“Mama belanja dong. Emang kamu besok gak mau makan?” celetuk Chyntia-mama Alex.
“Maksud Alex, ngapain juga Mama sama dia?” tanya Alex memperjelas dan menatap gadis dengan mata biru yang tengah menatapnya santai. Dia terasa tidak mempedulikan ucapan Alex sama sekali.
“Memangnya aku kenapa, Alex?” tanya gadis tersebut dengan senyum manis yang sejak tadi tidak pernah luntur. Bahkan dia sudah menampilkan senyum lain dengan wajah yang tetap terasa tenang.
“Karena aku tidak pernah menyukaimu, Dora,” desis Alex dengan mata menajam.
Dora yang mendengar hanya tersenyum kecil dan menatap dengan wajah yang tetep tidak berubah. Alex memandang Dora dengan tatapan penuh kebencian dan merasa kesal karena semua yang dikatakannya tetap tidak merubah perbuatan Dora kepadanya. Gadis tersebut tetap saja mendekati dengan wajah yang begitu tenang dan menyebalkan.
“Tetapi aku menyukaimu, Alex,” jawab Dora dengan wajah santainya.
“Dan aku akan....”
“Sudah-sudah,” potong Chyntia dengan wajah kesal karena ucapan anaknya, “lebih baik kamu antar Dora pulang karena dia tidak membawa mobil ke sininya. Mama yang ajak dia,” perintahnya dengan suara tegas yang tidak mungkin dilawan.
“Apa? Alex gak mau.”
“Mama tidak memberikanmu pilihan, Alex. Kamu harus mengantar Dora kembali ke rumah dengan selamat. Bagaimana pun sekarang kamu harus mulai dekat dengannya karena sebentar lagi kalian akan bertunangan.”
“Apa?” teriak Alex shock. Dia langsung menatap Dora yang tersenyum penuh misteri ke arahnya. Rasanya dia ingin menghajar wajah santai dan tenang Dora saat ini.
“Iya. Aku akan menjadi tunanganmu,” tegas Dora yang langsung bangkit dan siap keluar dari mall.
_____
__ADS_1