
Elio menghela napas perlahan ketika dirasa napasnya sudah terlalu sesak. Matanya menatap ke hamparan kolam renang yang tersaji di depannya. Sejak kepergian Eiren, Elio tidak kembali ke apartemen sama sekali. Dia memilih pulang ke rumahnya dan sesekali kembali ke rumah orang tuanya. Rasanya terlalu sakit ketika menyadari begitu banyak kenangan di apartemen tersebut.
“Eiren, mau sampai kapan kamu sembunyi dariku? Aku yakin kamu masih hidup,” gumam Elio sembari meletakan kepalanya di punggung kursi. Hatinya mengatakan hal demikian, meski pada nyatanya Roby tidak juga mendapatkan kabar mengenai Eiren.
Elio hendak turun dari sofa ketika sebuah suara ketukan terdengar. Dia menghentikan gerakannya dan menatap ke arah pintu, menunggu siapa yang akan masuk nantinya. Namun, helaan napas lelah terdengar ketika matanya menatap Rega yang masuk ke dalam kamarnya.
“Ada apa, Rega?” tanya Elio dengan wajah datar. Dia juga sudah lama tidak menemui Rega dan memilih menghindar.
“Aku ingin berbicara denganmu, Elio,” jawab Rega dengan wajah serius.
Elio menghela napas dan bangkit. Dia mulai melangkah mendekati Rega yang sudah masuk ke dalam ruangannya dan menatap tajam.
“Katakan,” sahut Elio dengan nada dingin dan tangan yang dimasikan ke dalam saku celana.
“Ini mengenai Firda. Apa kamu benar sudah tidak mencintainya?” tanya Rega dengan wajah yang tidak kalah serius.
“Apa selama ini aku kurang menegaskan kepadamu mengenai perasaanku, Rega? Aku benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apa pun dengannya,” jelas Elio merasa kesal. Setiap berbicara dengan wanita di hadapannya, selalu saja mengenai masalah Firda.
“Kenapa?” Rega meyipitkan mata dan menaap Elio dengan penuh tanya. Dia juga penasaran dengan alasan Elio tidak mencintai Firda.
“Karena aku memang sudah tidak memiliki perasaan sejak dia bersama dengan pria lain. Dia menyembunyikan semua hal dariku.”
“Dia mencoba melindungi hubunganmu dengan papa kamu, Elio,” tegas Rega dengan mata menajam.
“Apa pun itu aku tidak mau tahu. Sekarang, semua sudah berubah dan aku benar-benar tidak bisa mencintai Firda kembali. Aku harap kamu mengerti dengan itu, Rega. Aku tidak mau membahas mengenai Firda kembali,” ucap Elio dengan penuh kelelahan.
Rega menghela napas perlahan. “Baiklah. Aku rasa memang kamu sudah terbutakan dengan Eiren, bahkan sampai dia sudah tidak ada di sini lagi. Aku harap kamu tidak akan menyesal telah meninggalkan Firda untuk seorang yang tidak tahu ada di mana.”
Elio yang mendengar hanya diam dengan wajah yang masih datar. Dia tidak mempedulikan sama sekali ucapan saudaranya. Pikirannya masih penuh mengenai keberadaan Eiren dan tidak mau menambah masalah lagi.
Rega menepuk pelan pundak Elio, membuat perhatian pria tersebut beralih. “Aku harap kamu menemukan bahagiamu, Elio. Kalau kamu memang mencintainya, cari dia. Jika hatimu memang yakin dia masih hidup, hatimu akan menuntunmu untuk menemukannya,” ujar Rega yang sudah pasrah.
Elio hanya mengangguk ringan dan menatap ke arah Rega. Saudaranya sudah keluar dari kamar dan menutup pintu rapat. “Ke mana lagi aku harus mencarimu, Eiren,” gumam Elio sembari memijat pelipisnya pelan. Dia merasa sudah ingin pasrah dalam mencari Eiren. Namun, sekali lagi hatinya seakan mendorong untuknya mencari sosok gadis tersebut.
_____
__ADS_1
Anita melangkah meninggalkan rumah bersama denga Rifa. Kakinya mulai melangkah menyusuri jalanan setapak dan menuju ke arah kota kecil di daerah tersebut. Bahkan, ini juga pertama kalinya bagi Anita hidup di kota kecil yang jarang sekali penghuninya. Tidak ada keramaian dan dia bersyukur dengan itu.
“Ini toko ku,” ucap Rifa dengan wajah ceria.
Anita menatap toko kecil yang menjadi tempatnya bekerja saat ini. Setelah pintu masuk terbuka, Anita segera melangkah masuk dan mulai membantu Rifa membuka toko. Dimulai dari dia yang membawa bunga keluar dan sampai membereskan bagian dalam yang berantakan. Keringatnya mengucur begitu deras. Namun, semua tidak terasa karena dia yang begitu menikmati waktunya. Anita merasa bahagia.
“Kamu suka?” tanyabRifa ketika melihat wajah Anita yang dihiasi dengan senyum.
Anita menatap ke arah Rifa dan menghela napas perlahan. “Ini pertama kalinya aku bekerja, Rifa. Aku suka. Di sini aku merasa jauh lebih bebas,” jawab Anita dengan penuh semangat.
“Syukurlah, aku kira kamu akan sulit menyesuaikan diri di tokoku karena tempatnya yang minim. Tetapi, aku suka karena kamu tidak merasa risih sama sekali,” kata Rifa yang kembali sibuk meletakan bunga dan memotong bagian yang sudah layu, menyemprotnya dengan sedikit air agar kembali segar.
Anita mengangguk dan menarik salah satu kursi yang memang sengaja diletakan di depan toko dengan gazebo kecil sebagai tempat berteduh. “Kamu menanam sendiri bunga ini, Rifa?” tanya Anita dengan mata yang menatap lekat.
Rifa mengangguk pelan dan ikut duduk. “Aku memang menanamnya sendiri, Anita. Tetapi, aku merasa bungaku masih kalah jauh dari toko di seberang sana,” celetuk Rifa dengan wajah muram.
Anita yang mendengar menatap mengikuti arah pandang Rifa dan mengamati. Di sana juga ada tempat untuk berisitirahat. Banyak sekali bunga yang terlihat segar di toko tersebut. Namun, ketika matanya menatap ke arah toko Rifa, dia hanya melihat sebuah toko tua dengan bunga yang tidak semuanya segar.
“Aku rasa masalahmu bukan hanya ada di tokomu saja, Rifa, tetapi juga di bagian bungamu,” ujar Anita yang langsung bangkit dan menatap bagian depan toko Rifa.
“Aku rasa kamu harus memulai perbaikan tokomu. Setidaknya kamu berikan cat yang menarik pelanggan. Selain itu, lebih baik kamu menyusun bunga dengan warna mencolok di luar. Setidaknya itu akan membuat pelanggan menjadi tertarik,” jelas Anita yang masih mengamati toko Rifa.
“Apa jika itu dilakukan akan berhasil?” tanya Rifa merasa tidak yakin. Pasalnya, membeli cat dan memperbaiki toko memerlukan uang yang banyak. Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari saja dia sudah cukup bersyukur karena terpenuhi.
“Aku juga tidak tahu kalau tidak mencobanya, Rifa,” jawab Anita dengan santai.
Rifa yang ada di sebelahnya mengulum senyum dan mengangguk. “Baiklah. Kita akan coba memperbaikinya nanti malam. Setidaknya besok pagi aku masih tetap bisa membuka tokoku.”
Anita mengangguk setuju dan tersenyum. Matanya masih fokus menatap toko Rifa dan mulai berangan untuk memberikan sentuhan kecil di toko tersebut. Sampai akhirnya Rifa masuk untuk membereskan bagiam dalam toko.
“Maaf, saya mau mecari bunga lili. Apakah ada?” tanya seseorang yang ada di belakang Anita.
Anita yang mendengar menghela napas dan segera berbalik dengan wajah tersenyum. “Ada yang bisa saya ban....” Anita menghentikan ucapannya ketika dirasa matanya menatap pria yang dikenalnya.
Venda yang melihat Anita diam dengan kening berkerut heran. “Eiren,” panggil Venda dengan mata tidak percaya. Dia bahkan tidak berkedip sama sekali.
__ADS_1
“Anita, ada pelanggan,” celetuk Rifa ketika sudah bergabung dengan keduanya.
Anita yang sadar mulai menormalkan wajahnya dan menatap Venda santai. “Mari ikut dengan saya, Tuan. Akan saya tunjukan jenis bunga lili yang ada di toko kami,” ucap Anita sopan.
Anita? Venda mengerutkan kening heran dan memilih melangkah mengikuti gadis bernama Anita tersebut. Matanya masih mengamati Anita yang benar-benar mirip dengan Eiren, gadis yang sudah dua minggu menghilang dari kehidupannya dan seluruh keluarga.
_____
“Terima kasih dan selamat datang kembali,” ucap Anita sembari menyerahkan bunga yang dibeli Venda.
Venda menerimanya dengan mata menatap ke arah Anita lekat. Dia masih yakin jika gadis di hadapannya adalah Eiren. Namun, melihat wajah yang tampak ceria dan tanpa beban tersebut membuat Venda sedikit ragu.
“Tunggu sebentar,” cegah Venda ketikabAnita akan masuk ke dalam toko.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Anita dengan senyum yang masih mengembang. Dia mengabaikan tatapan meneliti Venda yang membuatnya risih.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Venda menatap ke arah Anita dengan pandangan tajam. Dia sering berada di daerah tersebut, tetapi tidak pernah melihat gadis di hadapannya.
“Aku rasa tidak. Dia baru di sini,” sahut Rifa yang sudah berpakaian rapi dengan tas kecil yang dibawa. Dia menatap ke arah Anita dengan senyum sumringah.
“Aku titip toko sebentar ya. Aku mau keluar. Ada urusan,” ucap Rifa dan langsung mendapat anggukan.
Anita menatap kepergian Rifa dan hendak kembali masuk. Namun, sebuah tangan menghentikan langkanya. Anita menatap ke arah Vneda dengan tatapan tajam.
“Lepas. Jangan kurang ajar, Tuan,” desis Anita dengan wajah tegas.
“Anita. Sejak kapan seorang Eiren berganti nama menjadi Anita?” tanya Venda dengan wajah datar.
Anita melepaskan genggaman tangan Venda. “Eiren, Eiren, Eiren. Aku bahkan tidak mengenalnya dan kamu selalu mengatakan hal itu. Sejak datang kamu selalu menyebutkan dengan nama Eiren dan aku merasa muak dengan itu.”
“Kamu tidak mengenalnya?” ulang Venda dengan nada mengejek. Dia segera menegakan badan dan menatap Anita dengan tatapan tajam. “Akan aku perkenalkan siapa Eiren. Eiren adalah gadis bodoh yang mencintai seseorang bernama Elio. Dia dengan otak dangkalnya memilih menghilang dengan cara mengakhiri hidup dari pada mendapatkan cintanya. Bahkan, dia dengan bodohnya....”
“Stop, Venda!” bentak Anita dengan mata menatap penuh marah. “Iya, aku Eiren. Dulu aku Eiren, tetapi sejak kecelakaan, Eiren sudah mati bersama dengan kenangannya,” tegasnya dengan mata menatap tajam.
_____
__ADS_1