Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 9_Terasa Jauh


__ADS_3

Eiren menyusuri lorong kampus dengan langkah tergesa. Ini bukan karena dia takut belum mengumpulan tugas kepada dosennya. Dia masih cukup pagi berangkat hari ini. Dia begitu bahagia karena ini adalah hari terakhir masa hukumannya. Jemari lentik yang tidak pernah digunakan untuk menulis, akhirnya harus terus menulis hingga dua minggu lamanya. Dia benar-benar ingin menyumpahi Elio yang membuatnya semakin susah.


Eiren mengetuk pintu ruangan Elio pelan. Tidak ada jawaban. Tangannya masih mencoba mengetuk dan tetap tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya, dia mencoba membuka, tetapi masih dikunci.


Eiren mendesah kesal. “Tumben banget ini orang belum berangkat. Apa sengaja biar aku dihukum lagi ya?” ucapnya dengan pikiran yang mulai berkecambuk.


Eiren mendengus kesal dan bertekad akan menemukan Elio di mana pun pria itu berada. Dia langsung duduk di depan ruangan Elio dengan mata mengamati sekitar. Karena lama dia menuggu, bahkan sampai jam sudah menunjukan pukul delapan lewat, Elio masih tetap tidak datang.


“Lama banget sih,” gerutunya yang sudah benar-benar sebal. Dia sudah menuliskan tugas tersebut hingga pukul dua pagi dan datang dengan cepat agar tidak terlambat. Namun, sudah hampir satu jam dia menunggu, dosen tersebut masih belum datang juga dan itu membuatnya semakin frutasi.


“Eiren.”


Mendengar namanya di panggil membuat Eiren menolehkan kepala dan menatap ke sumber suara. Senyumnya langsung mengembang dan bangkit dari duduk. “Jessi,” ucap Eiren dengan bibir yang sudah tersenyum.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Jessica yang memang ada jam kuliah.


“Aku nungguin Mr. Elio. Dari pagi dan dia belum juga datang. Padahal ini adalah hari terakhir aku mengumpulkan tugas,” keluh Eiren dengan wajah kesal.


Jessica yang mendengar langsung tertawa kecil dan menatap Eiren. “Apa kamu tidak tahu bahwa hari ini Mr. Elio tidak masuk kampus? Dia sedang sakit dan tidak mengajar. Dia bahkan menitipkan tugas kelas kepadaku,” jelas Jessica yang sudah mengacungkan beberapa makalah.


“Apa?” sahut Eiren dengan mulut menganga, “kenapa aku gak tahu?”


Jessica hanya mengangkat bahu ringan dan menurunkannya. “Mana aku tahu. Kamu tidak konfirmasi?”


Eiren menggeleng. Dia pikir Elio memang selalu ada dan tidak pernah libur sama sekali. Lagi pula apa yang baru saja dia dengar? Sakit? Mana ada penyakti yang berani datang menghanpiri pria menyebalkan seperti dia.


Jessica menatap Eiren yang hanya diam. Dia berdecih kesal dan memutar bola mata jengah. “Lalu, kamu mau terus di sini apa gimana? Mr. Elio sampai kapan pun tidak akan datang. Kamu bisa menitipkannya sama aku atau kamu kumpul besok pagi aja. Mungkin sudah sembuh.”


Awalnya Eiren akan menerima taawaran dari sahabatnya. Namun, ingatannya kembali ke saat di mana dia mendapatkan hukuman tambahan tempo hari. Eiren kembali menarik tangannya dan mengambil kertasnya kembali, membuat Jessi mengerutkan kening heran.

__ADS_1


“Kenapa? Kamu tidak percaya padaku?” tanya Jessi dengan wajah sedih dan perasaan terluka.


Eiren yang mendengar hanya menggeleng pelan dan tersenyum. “Aku akan mengumpulkannya besok pagi,” jawab Eiren. Atau ke apartemenya saja, batinnya dengan wajah berusaha setenang mungkin.


Jessi hanya mengangguk dan kembali menatap Eiren. “Alex di mana? Kalian tidak pernah bersama lagi.”


Eiren yang ditanya hanya diam. Sesudah pertemuannya dengan Alex di kosan, pria tersebut bahkan sudah tidak pernah datang lagi. Intensitas kedekatan mereka juga berkurang. Setiap hari hanya satu atau dua chat yang dikirimkan oleh Alex. Padahal biasanya Alex selalu mengiriminya pesan meski hanya sekedar untuk menggoda. Rasanya dia merindukan sosok Alex yang dulu.


“Hey, malah bengong,” tegur Jessi yang merasa tidak mendapat tanggapan.


Eiren tersadar dari lamunannya dan menatap Jessi. “Ada apa?” tanyanya bingung.


Jessi berdecak kesal menyadari sikap menyebalkan Eiren hari ini. “Aku tanya, kenapa kamu gak sama Alex? Biasanya gak pernah ketinggalan. Ke mana-mana udah kayak perangko aja.”


Eiren yang mendengar langsung tertawa kecil. “Dia sibuk,” putus Eiren enggan memberitahukan hubungannya yang semakin terasa menjauh.


Jessi yang mendengar mengagguk paham. “Lalu mengenai pesta ulang tahun kampus. Kamu akan datang?”


“Aku usahakan datang,” ujar Eiren tidak bisa menjanjikan.


“Oke. Kalau begitu aku pergi dulu. Masih ada jam kuliah.”


Eiren hanya mengangguk dan menatap Jessica yang sudah menghilang. Otaknya masih berpikir, bagaimana dia akan mengumpulkan tugasnya? Apa tidak masalah jika dia pergi ke apartemen dosennya? Setelah memikirkan banyak hal, Eiren akhirnya bangkit dan keluar dari kampus.


Aku tidak mau mendapatkan hukuman tambahan dari Mr. Elio, batinya dan segera keluar dari kampus.


_____


Elio masih merebahkan tubuhnya di apartemen. Dia memilih tempat satu itu karena dia ingin mencari ketenangan. Karena dia yang nekad mengadakan rapat sampai malam, alhasil dia merasa kurang tidur saat pagi. Dia sampai menyuruh mahasiswinya untuk menggantikannya mengumpulkan tugas dan tetap melaksanakan presentasi.

__ADS_1


“Hah, gila. Bisa sakit ini badan lama-lama,” gerutu Elio yang sudah memijit keningnya berulang kali, berharap rasa pusing karna kurang tidurnya akan berkurang.


Masih asyik dengan aktivitasnya, ponselnya menyala dan menandakan ada panggilan masuk. Awalnya dia mengabaikan, tetapi setelah dua kali panggilan masuk, Elio baru meraih ponselnya dan menatap siapa sang pelaku yang sudah mengganggu ketenangannya.


Elio menghela napas kasar ketika mendapati nama Rega terpampang di depan layar. Dengan rasa malas, dia langsung mengangkat telfon tersebut.


“Halo, Elio,” sapa Rega tanpa ada kelembutan.


“Apa?” celetuk Elio kesal karena Rga tidak pernah berbuat manis kepadanya.


“Kamu di mana?” tanya Rega dengan suara yang mulai melembut, “orang tuamu bilang kamu sakit. Kok gak pulang.”


Elio berdecih kesal melihat kelakuan orang tuanya yang begitu khawatir. Padahal dia hanya merasa kurang tidur, itu sebabnya dia tidak masuk. Namu, ternyata semua malah diartikan lain.


“Aku diapartemen. Tenang saja, aku hanya butuh tiduran. Setelahnya kau akan segera sembuh lagi,” jawab Elio dengan rasa malas.


“Kamu yakin?”


“Hm.”


“Baiklah. Kalau ada apa-apa katakan saja padaku. Aku akan mengobatimu. Jangan lupa makan dan setelahnya minum obat yang ada di kotak obat,” sahut Rega dengan ocehan beruntun.


“Iya, iya. Berisik amat. Aku bukan anak kecil lagi. Jadi, bisakan kalian berhenti memperlakukanku seperti anak kecil? Bahkan semua rekan kerjaku tunduk patuh dan tidak menganggapku seperti anak kecil,” jawab Elio kesal.


“Baiklah. Sudah istirahat. Bye,” kata Rega yang langsung menutup telfon.


Elio baru akan memejamkan mata ketika suara bel apartemennya berbunyi. Dia mendesah kesal karena bunyi nyaring tersebut tidak juga berhenti. Akhirnya, Elio memutuskan untuk turun dari sofa dan membuka pintu. Matanya menatap gadis yang ada di hadapannya dengan kening berkerut.


“Halo, Pak. Saya cuma mau mengumpulkan tugas,” ucap Eiren yang sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Elio mendesah keras. Dia lupa jika ada mahluk lain yang seharusnya dihubungi.


_____


__ADS_2