Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 17_Alone


__ADS_3

“Alex, bukannya di kampusmu ada pesta perayaan ulang tahun? Kapan kamu mau ajak aku cari gaun?” tanya Dora dengan wajah sumringah.


Alex hanya diam tidak menanggapi. Dia malah sibuk membolak-balik kertas tebal di hadapannya. Matanya menatap setiap goresan tinta yang ada di buku tersebut, merangkainya menjadi sebuah ilmu yang dibutuhkan. Pikirannya masih berkutat dengan tugas dan juga pekerjaan yang akan dijalani nanti.


“Alex,” panggil Dora dengan suara lembut.


Alex yang sejak tadi melamun langsung tersentak dan menatap Dora dengan pandangan bingung. Apa sejak tadi gadis di sebelahnya berceloteh tanpa henti? Alex menghela napas dan kembali memfokuskan pandangannya kepada buku tebal yang sudah tersaji di depan.


Dora yang kesal dengan tingkah Alex langsung bangkit dan menarik buku tersebut. Tangannya menutup buku dan menatap Alex yang sudah menatapnya dengan kebencian.


“Dora. Apa yang kamu lakukan? Aku sedang membaca,” protes Alex dengan pandangan kesal.


“Belajar kamu bilang? Aku rasa kamu bukannya belajar, tetapi sedang memikirkan Eiren,” tebak Dora dengan pandangan menyelidik.


Alex yang dituduh hanya berdecih kesal dan hendak berlalu. Dia bahkan tidak memikirkan Eiren sejak tadi pagi. Pikirannya masih berkutat dengan bagaimana caranya dia menaklukan ego Dora yang begitu besar. Rasanya dia benar-benar ingin mengalahkan Dora dan kembali berbahagia dengan Eiren.


“Kamu itu tetap gak dengerin peringatan aku ya, Lex. Aku bahkan sudah bilang jangan pernah dekat lagi dengan Eiren,” tegas Dora dengan wajah tegas.


Alex yang hendak pergi langsung menatap tidak suka ke arah Dora. “Aku bahkan belum memikirkannya, Dora. Lagi pula, kamu tidak memiliki hak apa pun untuk bisa melarangku mendekati kekasih sendiri.”


“Aku tunanganmu. Jangan lupa itu,” jelas Dora dengan wajah santai. Dia memang begitu mudah mengubah mood-nya sendiri.


“Masih calon dan aku tidak mencintaimu sama sekali. Jadi, berhenti membuatku ingin muntah setiap kali mengingat ucapanmu. Dengan begitu, kamu harus mulai sadar siapa yang berada di hatiku mulai sekarang. Eiren jauh lebih berarti darimu,” ucap Alex dengan wajah sinis, “dia kekasihku.”


Dora tertawa kecil dan menatap Alex dengan mengulum senyum. “Mungkin aku akan lebih memperjelas maksud ucapanmu,” sahut Dora dengan wajah ramah, “bukan kekasih, tetapi mantan kekasih,” lanjut Dora dengan suara tegas dan menekankan pada kalimat ‘mantan kekasih’.

__ADS_1


Alex yang mendengar langsung diam dengan mata membola. Tangannya mengepal menahan amarah yang menggebu. “Apa maksud ucapanmu, Dora?” desisnya dengan suara tajam.


“Aku hanya mengatakan apa yang harusnya kamu katakan kepadanya,” Jawab Dora dengan senyum manis, “aku memutuskan hubungan kalian.”


“Dora!” bentak Alex sudah diambang batas kesabaran.


“Tenanglah, Alex. Aku memang calon tunanganmu yang baik. Itu sebabnya aku menjalankan tugas yang sulit kamu lakukan,” ujar Dora tanpa merasa bersalah.


Alex yang mendengar menggeram kesal. Dia langsung menggebrak meja kerja yang sudah digunakan dalam seminggu terakhir. Matanya menggelap menatap Dora yang masih memandang dengan penuh keelembutan. Kelembutan? Bahkan dia tidak yakin jika itu adalah pandagan lembut yang sejujurnya.


Alex memilih meninggalkan Dora yang masih dengan wajah angkuh menatapnya. Dia menutup pintu dengan keras, membuat suara dentuman dan beberapa karyawan yang sedang lewat menatap dengan kening berkerut.


Dora hanya tersenyum dan bangkit. Dia keluar dari ruangan dan menatap karyawan yang masih melihat tingkah Alex dengan senyum sumringah. Matanya menatap pemuda yang akan sah menjadi tunangannya dengan mata mengerling licik. Bukankah akan jauh lebih baik jika kamu menurutiku, Alex? Setidaknya aku tidak akan membuatmu susah, pikirnya dengan senyum picik.


_____


“Kamu gak pulang ke rumah, Ei?” tanya Feli yang sudah berdiri di depan pintu kamar.


“Rumah? Bukannya ini rumahku?” Eiren malah balik bertanya meski dengan wajah yang super cuek.


Feli bedecih kesal dan melangkah masuk ke dalam kamar sahabatnya. “Kamu masih gak mau pulang? Nanti kalau kamu di sini terus, dikira kamu main-main di luar loh, Ei. Kamu, kan, gak bilang sama mereka.”


Eiren tersenyum kecil dan memejamkan mata. “Kalau mereka peduli, sudah sejak lama mereka mencariku, Fel. Jadi, tenang saja. Mereka tidak akan pernah mencariku. Aku jauh lebih suka di sini. Ramai. Kalau di rumah sepi.”


Feli yang mendengar menghela napas kasar dan ikut berbaring di karpet berbulu di kamar Eiren. “Kita kayak kebalik ya, Ei. Aku yang bahkan tidak pernah tahu bagaimana wajah orang tuaku. Sedangkan kamu, kamu malah seperti gak diurus gini,” ucapnya diiringi tawa kecil.

__ADS_1


Eiren yang mendengar tersenyum kecil dan melirik ke arah Feli. “Aku terbiasa sendiri, Fel. Tetapi, gara-gara aku mengenal Alex, dia membuatku merasa tidak sendiri. Sekarang aku harus belajar lagi untuk hidup seperti dulu.”


“Jangan bilang begitu, Ei. Aku adalah temanmu. Jadi, jangan pernah bilang kalau kamu sendiri,” sahut Feli dengan wajah yang kembali riang.


Eiren mengangguk dan tersenyum. Dia sampai melupakan kalau dia masih memiliki satu sahabat yang begitu baik. Baru saja memejamkan mata, sebuah teriakan membuat Eiren kembali membuka mata dan merutuki teman satu kosnya.


“Eiren, ada tamu tuh,” teriak teman satu kosnya dengan lantang.


Eiren yang merasa malas akhirnya memutuskan untuk tetap bangkit dan menemui tamunya. Dalam hati, dia memberikan sumpah serapah untuk siapa saja yang mengganggu waktu beristirahatnya.


Eiren keluar dan menatap mobil yang dikenalnya ada di sana. Matanya menatap Alex yang sudah menunggu di depan gerbang dengan senyum termanis. Senyum yang bahkan mampu membuat Eiren merasa luluh begitu saja.


“Hai, sayang,” sapa Alex yang melihat Eiren sudah melangkah ke arahnya.


“Alex. Ngapain kamu di sini?” tanya Eiren dengan wajah tidak percaya.


Alex tertawa kecil dan menatap kekasihnya dengan wajah jenaka. “Aku datang untuk melihat keadaan kekasihku. Apa dia sudah makan dengan benar atau tidak.”


Eiren yang mendengar hanya tertawa tipis dan menatap Alex dengan pandangan lekat. Kekasih? Lalu semalam siapa yang datang dan memaki? Eiren merasa dirinya memang benar seorang selingkuhan pemuda di hadapannya.


“Eiren, kamu sudah makan?” tanya Alex memperhatikan wajah Eiren lekat.


Eiren menggeleng. Dia memang belum makan. Beberapa hari pola makannya benar-benar tidak teratur sama sekali. Bahkan, tidak jarang dia tidak makan hanya karena rasa malas yang terus mengerogoti.


Alex menghela napas keras dan berdecih heran. “Kamu itu kebiasaan ya. Ayo kita makan bersama,” ajak Alex, “aku juga rindu denganmu.”

__ADS_1


Eiren yang diajak akhirnya pasrah dan menuruti apa kemauan kekasihnya. Mungkin dengan perlahan kamu bersikap manis seperti dulu, aku bisa kembali mempercayaimu, Alex, batinnya menguatkan.


_____


__ADS_2