
“Berhentilah menggerutu, Alex. Aku bosan mendengarnya,” celetuk Dora yang sudah duduk di dalam mobil Alex.
Alex menggeram kesal jika mengingat ucapan mamanya yang berniat menjodohkannya dengan Dora. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah mau. Dia hanya mencintai Eiren dan itu akan terjadi selamanya. Apa yang sebenarnya mamanya pikirkan dengan menjodohkan dirinya dengan Dora?
“Berhentilah berpikir hal yang tidak perlu, Alex,” tegur Dora yang menatap Alex dengan wajah tenang yang bengitu dibenci pria tersebut.
Alex yang mendengar melirik ke arah Dora dengan mata menajam. Bahkan, bibir tebalnya sudah terkunci rapat dan tidak membuka sama sekali sejak dirinya dan juga Dora masuk ke dalam mobil.
Dora yang merasa tidak mendapat tanggapan apa pun langsung membenarkan duduknya menjadi miring ke arah Alex dan memperhatikan lekat. Rasanya dia begitu bahagia dengan apa yang sudah ditetapkan nenek dan kakeknya.
“Behentilah memandangku, Dora,” tegur Alex yang merasa risih dengan tatapan tanpa berkedip Dora.
“Kenapa?” tanay Dora dengan wajah yang sudah dibuat seimut mungkin. Dia berharap kelak Alex akan mencintainya.
“Karena aku tidak suka.”
“Tetapi aku suka.”
“Kalau kamu suka, cari saja pria yang mau kamu pandang seperti itu dan jangan ganggu aku lagi. Aku tidak mau nantinya kamu hanya akan mengganggu hubunganku dengan Eiren,” jelas Alex dengan mata yang masih menatap jalanan dengan lekat.
“Aku cuma mau kamu dan lagi pula sebentar lagi kita akan bertunangan. Jadi, untuk apa aku mencari pria lain untuk aku tatap jika pangeran yang ku cintai bisa selalu tatap sampai kapan pun,” ucap Dora tanpa rasa bersalah.
Alex langsung menghentikan mobilnya, lalu menatap ke arah Dora dengan mata yang memancarkan kekesalan. “Kamu harus ingat, Dora. Sampai kapan pun aku tidak akan mau denganmu.”
Dora yang mendengar semakin memiringkan badannya dan menatap Alex dengan senyum yang semakin lebar. “Kenapa kamu begitu yakin bahkan sebelum kamu menjalaninya, Alex? Aku takut jika nantinya kamu malah mengejarku setelah aku tidak berminat denganmu."
“Hanya dalam mimpimu, Dora,” desis Alex.
Dora yang mendengar menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia memandang Alex dengan tatapan merendahkan dan menatap ke depan. Dia merapikan tas yang sejak tadi diletakan di depannya. Matanya melempar pandangan yang sulit diartikan oleh Alex sendiri.
“Meski dalam mimpi sekali pun, aku akan mewujudkannya,” jawab Dora dengan wajah yang terkesan begitu ramah karena senyumnya tidak juga luntur, “baiklah. Aku akan kembali ke rumah sendiri. Aku akan membiarkan calon tunanganku untuk bersama dengan selingkuhannya. Aku akan diam dan tidak mengatakan apa pun tentang hubungan kalian.”
__ADS_1
“Kam....”
“Tenanglah, Alex. Dari pada kamu marah-marah tidak jelas, akan lebih baik jika kamu menghabiskan waktu bersama dengan Eiren. Karena setelah kamu resmi menjadi tunanganku, aku tidak akan membiarkan dia untuk mendekatimu,” ancam Dora dengan mata menajam dan wajah yang berubah serius, “meski dia mendekat satu centi, dia akan langsung menyesali semua perbuatannya,” tambah Dora dan langsung keluar.
Alex hanya diam melihat gadis tesebut keluar dan menaiki mobil lain yang ternyata sudah mengikuti sejak tadi. Matanya menatap ke depan dengan wajah yang sudah menunjukan semua emosi.
“Sial!” teriak Alex sembari memukul setir mobilnya keras.
_____
Adelio melangkan memasuki rumahnya dan mendapatkan hormat dari beberapa bodyguard yang sudah ditugaskan untuk menjaga rumahn selama dia pergi. Dia memang tinggal terpisah dengan orang tuanya dan memilih untuk hidup di rumah atau apartemen keluarga.
Alex menaiki tangga sepiral menuju kamarnya dengan pandangan yang masih menatap lurus dengan wajah tegas yang ditampilkan. Tangannya bar menyentuh gagang pintu, sebuah teriakan dari kamar sebelah membuatnya mengurungkan niat.
“Baru pulang?” tanya seorang wanita yang sudah menyandarkan tubuhnya di kusen pintu kamar.
Adelio yang mendengar langsung menghela napas kasar dan menatap dengan tatapan sinis yang langsung dipatahkan oleh gadis di hadapannya. Rega-kakak sekaligus dokter pribadinya sudah melangkah dan mengacak wajahnya, membuat Elio kesal setengah mati.
“Apa?” tanya Rega dengan wajah yang menantang.
Elio akhirnya menghela napas dan berdecak kesal. Dia mengalah jika Rega sudah membuka mulut dengan nada suara yang sama dinginnya. Apalagi mata mata hazel yang sudah disipitkan membuat Elio memilih diam dari pada meladeni Rega yang akan berakhir dengan masalah.
“Aku mau masuk, aku lelah,” putus Elio, tetapi gagal karena Rega sudah lebih dahulu mehana lengannya.
“Enak aja. Dari mana saja kamu baru pulang?” tanya Rega dengan wajah menatap lekat dan mata mengamati dengan seksama.
Elio menghela napas dan menatap gadis tersebut dengan pandangan malas. Dia menundukan sedikit tubuhnya agar bisa sama dengan tubuh Rega dan menatapnya dalam. “Aku habis nyari anak orang buat dijadikan kakak iparku,” celetuk Elio dengan tawa yang langsung menggelegar.
“Elio!” bentak Rega yang langsung memukul keras lengan adiknya.
Elio hanya tertawa dan masuk ke dalam kamar. “Rega, kamu mau aku mencarikanmu seperti apa?” teriak Elio dengan tawa yang masih dirasakan.
__ADS_1
“Diam, Elio!” bantak Rega membuat kediaman Elio yang awalnya tenang menjadi begitu riuh karena ulah mereka berdua. Rega mendengus kesal menatap pintu kamar Elio yang sudah tertutup dan dikunci.
“Aku takut kamu jadi jomlo seumur hidup, Rega,” sahut Elio meledek.
“Bodo amat,” jawab Rega dengan wajah kesal dan langsung masuk ke dalam kamar. Dia enggan meladeni sifat Elio yang terkadang memang menyebalkan. Namun, Rega tahu, Elio akan menunjukan wajah lain dengan orang lain yang bahkan tidak dikenalnya. Jadi, sebaik apa pun dia di mata keluarga, akan berbeda dengan pandangan orang luar yang tidak mengal Elio secara dekat.
_____
“Kamu masih belum selesai?” tanya Feli yang baru masuk ke dalam kamar Eiren.
Eiren yang sibuk menyalin mendongak sebentar dan kembali menatap kertas di hadapannya. “Iya. Masih banyak,” keluhnya merasa lelah.
Feli langsung duduk dan meletakan piring berisi martabak di hadapan Eiren. “Ini dari Alex barusan.”
Eiren hanya bergumam dan tidak menanggapi. Malam ini dia enggan membahas tentang Alex, apa pun bentuk percakapannya. Dia ingin menyelesaikan tugas dengan benar dan tidak akan mendapat hukuman lagi. Tangannya bahkan hampir copot karena ulah tidak berprikemanusiaan seorang Elio.
“Eh, Eiren. Kamu tadi beneran pulang sama Mr. Elio?” tanya Feli dengan rasa penasaran yang sudah menggebu.
Lagi-lagi Eiren hanya bergumam dan tidak melihat Feli yang juga tidur di karpen berbulu di kamarnya. Dia tetap fokus dan enggan mengulangi kesalahan yang sama.
“Kok bisa?” selidik Feli dengan kening berkerut.
Eiren yang ditanya merasa lelah mendengar celotehan Feli yang membuat hilang konsentrasi. “Aku tadi disuruh menyalin ulang karena aku sudah berbuat curang. Jadi aku ke apartemennya dan diantara pulang deh jadinya.”
“Apa?” teriak Feli yang langsung bangkit dan menatap Eiren dengan mulut terbuka lebar. “Iri deh. Aku juga mau,” keluhnya dengan wajah berbinar.
Eiren yang mendengar langsung menepuk jidatnya pelan. “Dasar cewek gila,” ujarnya heran dengan tingkah Feli yang menjadi seperi ular hijau. Dia lupa jika Feli merupakan salah satu penggemar Elio yang sudah level akut. Bahkan, sudah ada grup chat yang hanya membahas mengenai Elio dan berbagi hal tentangnya.
Aku rasa mereka semua tidak tahu mengenai kegilaan Elio, pikirnya dengan kepala yang sudah menggeleng heran.
_____
__ADS_1