Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 14_Mencoba Percaya


__ADS_3

“Alex beneran di jodohkan, Fel,” ucap Eiren dengan mata yang menatap hamparan bunga yang terletak di belakang kosan.


Feli yang masih duduk tenang di sebelahnya melirik sekilas dan kembali menatap hamparan bunga di hadapannya. Matanya menatap indah mawar merah yang tampak begitu indah.


Eiren menghela napas panjang dan menatap ke arah kolam yang ada di dekat taman. Tangannya mulai melemparkan satu per satu kerikil yang dibawa, membuat ombak kecil karena beberapa ikan yang berkejaran.


“Dia menyuruhku menunggu dan aku bingung harus bagaimana. Kamu tahu, Fel? Aku mulai goyah dengan ucapan Alex. Aku mulai tidak bisa mempercayainya. Selama ini tidak pernah ada sebuah hal yang kami rahasiakan dan kemarin, Alex telah menyembunyikan hal sebesar ini,” ucapnya dengan wajah datar, “aku rasa, dia bahkan tidak ingin mengatakan semua kebenaran itu.”


Feli melirik ke arah Eiren dan tersenyum kecil. “Eiren, apa kamu akan tahu jika ada duri di mawar yang kita tatapan itu?” tanya Feli sembari menunjuk hamparan mawar yang begitu lebat. Eiren yang ditanya hanya menggeleng dan menatap Feli penuh tanya.


“Sama dengan janji Alex, Eiren. Dari jauh, semua terasa indah. Dia akan tetap bersamamu, dia akan tetap menjadi Alexmu dan dia akan kembali lagi padamu. Namun, jika kita lihat lebih dekat, ada duri yang akan menyakitimu,” jelas Feli dengan mata menatap ke arah Eiren.


“Maksudmu?” tanya Eiren dengan kening berkerut. Dia tidak mengerti dengan ucapan Feli yang masih menyunggingkan senyum.


“Simpelnya, semua janji Alex bahkan tidak bisa kamu percaya sepenuhnya, Eiren. Kamu harus mulai melepaskan karena apa pun yang dimulai dengan kebohongan akan berakhir dengan kebohongan. Kamu tahu, dia bahkan tidak berniat ingin meninggalkannya hanya demi kamu, kan?” ujar Feli merasa kesal dengan sikap Eiren yang terlalu percaya dengan janji Alex.


Eiren diam seketika. Haruskah dia meragukan perasaan Alex? Haruskah dia mulai meragukan perasaan kekasih yang begitu dicintainya? Feli yang melihat keraguan di mata Eiren menepuk pelan pundak sahabatnya dan tersenyum lembut.


“Eiren, aku hanya mengatakan apa pendapatku. Aku rasa, kamu bisa menilai dan mencari jalan keluar untuk masalahmu. Apa pun yang akhirnya kamu tentukan, aku harap semua adalah yang terbaik nantinya,” ujar Feli tahu perasaan Eiren yang semakin bimbang, “aku hanya berharap kamu tidak merasakan luka sama sekali nanti.”


Eiren yang mendengar langsung tersenyum. “Mungkin aku harus mencoba percaya dengannya. Bagaimana pun lima tahun bukan waktu yang singkat, Fel.”


“Jika memang itu pilihanmu, maka jalani. Tetapi, aku mohon jangan terlalu membawa hati. Jadi, ketika semua berbanding terbalik dengan kenyataan, kamu tidak perlu merasa hancur,” tegas Feli mengingatkan.

__ADS_1


Eiren mengangguk. Bagaimana bisa aku tidak menggunakan hati? Bahkan aku sudah menitipkan sebagian hatiku kepada Alex, batin Eiren sembari memejamkan mata, menguatkan hatinya sendiri bahwa apa yang dikatakan Alex adalah benar. Dia akan kembali bersamanya lagi.


_____


“Ih, dasar dosen kurang kerjaan. Udah suruh ngumpul ke lantaia atas, eh malah gak ada. Untung aja dia ganteng, kalau gak, ogah deh bantuin,” gerutu Jessica yang tengah melewati koridor.


Wajah ayunya memberengut kesal, membuat beberapa mahasiswa yang hendak menyapa langsung mengurungkan niat. Mereka enggan mendapatkan ucapan pedas dari Jessi ketika sedang marah.


Jessica menghela napas keras dan tanpa sengaja menubruk seseorang yang tengah berjalan di depannya. Emosi yang sudah di tahan terasa ingin meluap seketika. “Kamu itu kalau jalan pakai mat....” Jessi menghentikan ucapannya dan menatap dengan kening berkerut. “Alex,” panggilnya dengan wajah yang tidak percaya.


“Kamu tidak kenapa-kenapa, Jess?” tanya Alex mengabaikan tatapan bingung Jessica karena sejak tadi Dora sudah menempel kepadanya.


Jessi mengangguk dengan wajah yang masih bingung. “Iya, aku gak apa-apa. Tetapi dia siapa? Adikmu?” tanyanya sembari menunjuk Dora.


“Perkenalkan, aku Dora. Calon istrinya Alex,” ucap Dora dengan menekankan statusnya.


“Hah? Apa?” Jessi menatap dengan tampang bodoh dan menatap Alex yang hanya diam. “Dia calon istrimu? Lalu Eiren?”


“Dia sudah menjadi mantan,” sela Dora dengan wajah santai.


Alex enggan menanggapi ucapan Dora dan berdecih kesal. Tanpa mengatakan apa pun, dia menarik Dora yang masih hendak berbincang dengan Jessi. Membiarkan Dora berkuliah di kampus yang sama dengannya terasa seperti musibah dalam hidup. Bahkan, dalam mimpi saja dia enggan memikirkan hal semacam ini.


“Kamu ngapain sih tarik-tarik aku?” celetuk Dora merasa tidak suka dengan genggaman tangan Alex yang terasa begitu menyakitkan.

__ADS_1


Alex menghentikan langkah dan melepas kasar genggaman tangannya. “Aku minta jangan bilang hal yang omong kosong semacam tadi. Aku muak,” desis Alex kesal.


“Aku cuma bilang apa yang terjadi. Jadi, di mana letak omong kosongnya?” tanya Dora dengan wajah tak bersalah.


“Kamu dengar, Dora,” kata Alex sembari mendekatkan tubuhnya, “aku akan katakan satu kenyataan untukmu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memutuskan Eiren,” tegas Alex dan langsung menjauhkan tubuhnya. Dia menatap Dora dengan pandangan tajam.


Dora tertawa kecil dan menatap Alex santai. “Kamu tahu, kan, Alex. Aku tidak suka berbagi.”


“Terserah,” sahut Alex dengan senyum sinis, “kalau kamu tidak mau berbagi, jangan memaksa orang yang tidak mencintaimu untuk menjadi cinta.”


Dora yang melihat mulai kehilangan ketenangan. Matanya menatap Alex yang masih menyunggingkan senyum tanpa rasa bersalah sama sekali. Helaan napas terdengar beberapa kali dan Dora kembali menunjukan ketenangannya.


“Alex, aku adalah orang yang selalu memegang kata-kataku. Aku pernah mengatakan bahwa jika apa yang aku inginkan dan tidak tercapai, maka siapa pun tidak boleh memilikinya. Kamu tahu, jika kamu bermain denganku, akan ada banyak pionmu yang rusak. Orang tuamu dan juga Eiren. Mereka adalah orang terkasihmu. Jadi, untuk terakhir kali aku katakan, menurutlah dan semua akan terasa mudah,” jelas Dora dengan pandangan tajam.


“Jangan mencoba bermain api, Alex. Kamu tidak akan pernah menang melawanku. Kamu memiliki kelemahan yang sudah jelas aku ketahui. Sedangkan aku, kamu tidak pernah tahu apa yang menjadi kelemahanku,” tambah Dora sembari menatap ke arah Alex dengan wajah penuh kemenangan. “Jadi, aku minta putuskan semua hubunganmu dengan Eiren sekarang juga.”


Alex menghela napas keras dan menatap Dora dengan pandangan menajam. “Apa pun yang kamu katakan, aku tidak akan pernah memutuskan Eiren. Dia adalah kekasihku dan akan selamanya begitu. Jangan terlalu bermimpi untuk menjauhkanku darinya.”


Alex yang kesal langsung meninggalkan Dora yang masih diam di tempat dan menyunggingkan senyum manisnya. Netranya menatap santai pria yang begitu dicintai.


“Jika kamu tidak mau melakukannya, aku yang akan melakukannya, Alex. Apa yang sudah menjadi milik seorang Dora, dia tidak akan dimiliki oleh siapa pun,” desis Dora dengan wajah manis dan senyum menggoda.


_____

__ADS_1


__ADS_2