Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 16_Memang Kenyataan


__ADS_3

Eiren memilih melupakan masalah semalam dan menikmati hari-harinya dengan sendiri. Semua yang dikatakan Dora hanya akan membuatnya diam dan tidak bersemangat dalam menjalani hari. Itu sebabnya, sebisa mungkin dia melupakan mengenai masalah hidupnya. Sejenak, dia ingin merasakan kehidupan yang tenang dan tanpa masalah.


Feli yang ada di dekatnya menatap dengan kedua alis menyatuh. Eiren yang tanpa sadar membuka tangannya lebar, seakan menikmati semilir angin pantai dan langsung mendapatkan pukulan kecil dari Feli yang membuatnya tersadar dari lamunan. Eiren hanya tersenyum sembari menunjukan deretan giginya


“Jangan mulai deh gilanya. Ini di kantin, bukan kapal titanic,” gerutu Feli dengan wajah kesal.


Eiren yang diprotes hanya tersenyum dan menggaruk tenguknya yang tidak gatal. “Maaf, Fel. Kelepasan,” jawabnya tanpa menunjukan penyesalan sama sekali.


“Halah sok minta maaf,” celetuknya membuat Eiren yang disindir hanya tertawa kecil.


Feli kembali menyeruput makananya dan diam. Eiren juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua hanya diam dan menikmati hidangan dengan khusyuk. Sampai ada bunyi pergesekan antara besi dan lantai, membuat keduanya mendongak, menatap siapa pelaku yang sudah mengganggu ketengan mejanya.


“Hai-hai. Apa kabar?” sapa Jessica dengan wajah penuh keceriaan.


Feli yang melihat Jessica langsung berdecih kesal. Sedangn Eiren, dia hanya menatap canggung ke arah temannya. Dia tahu, Feli tidak pernah menyukai sama sekali. Sesekali matanya melirik ke arah Feli yang manyun dan mata menandakan ketidaksukaannya.


“Kalian udah pada persiapan buat ke pesta? Kalau belum, kita bisa loh ke butik langgananku. Kita bisa milih pakaian sepuasanya. Di sana bagus-bagus,” ucapnya dengan wajah penuh antusias.


“Gak perlu,” tegas Feli yang sudah meletakan sendoknya dan menatap tidak suka, “pakaian kemarin masih bisa, kok.”


“Hah?” pandang Jessi dengan tatapan merendahkan dan menatap Eiren yang sejak tadi hanya diam. “Eiren, kamu datang sama siapa? Kan kali ini Alex bakal pergi sama tunangannya. Terus kamu?”


“Apa?” Eiren yang mendengar mengerutkan kening bingung. Alex menceritakan kepada Jessi? Rasanya dia mulai tidak bisa mempercayai kekasihnya. Dia pikir, hanya dia dan Alex yang tahu.


“Iya. Kemarin aku lihat mereka di kampus. Mesra banget tahu. Yang cewek juga cantik,” ujar Jessi membuat Eiren kesal. Matanya menyelidik dengan senyum manis yang masih melekat.


“Bukannya kemarin kamu bilang gak ada masalah ya, Ei? Kok dia berpaling ke lain hati, sih,” tambah Jessi yang masih tidak memiliki perasaan.


Feli yang melihat menggeram kesal dan menggebrak meja keras, membuat Eiren yang sejak tadi melamun langsung berjingkat kaget. “Kamu itu jadi orang kok urusan banget sih sama masalah orang lain. Memangnya kamu punya hak apa buat tahu semua masalah orang?” tanyanya dengan wajah memerah menahan kesal.

__ADS_1


“Loh, kok kamu marah. Lagian aku cuma tanya. Memangnya gak boleh?” sahut Jessica dengan wajah tanpa dosa.


“Kalau memang kamu temannya, seharusnya....”


“Udah, cukup,” potong Eiren dengan tatapan biasa. “Dari pada kalian berantem, mending lanjutin makan. Malu di lihat seisi kantin.”


Feli yang masih menahan emosi langsung diam. Berbeda dengan Jessi yang masih berkomat-kamit mengomentari perlakuan Feli yang menurutnya kasar.


“Lain kali tu kalau ngomong dijaga,” celetuk Feli yang masih menyimpan kesal.


Jessi menatap Feli dnegan pandangan tidak terima dan mendengus kesal. “Memangnya kenapa, hah? Yang ditanya aja biasa kok. Lagian aku penasaran aja, kenapa yang dibilang Eiren gak sesuai sama kenyataan yang diperlihatkan Alex. Sebagai teman aku cuma mau tahu dong masalah temannya,” jelas Jessi masih enggan disalahkan.


“Iya, tetapi kamu it....”


“Eiren,” potong Elio dengan wajah datar, membuat dua mahasiswi yang maish bertengkar langsung diam dan menatapnya dengan wajah bersemu. “Kamu ada kelas setelah ini?” tanyanya dengan wajah menatap lurus ke arah Eiren.


“Kalau tidak ada, bantu saya di ruangan,” ucapnya dan segera berbalik.


Jessi yang melihat langsung bangkit dan menyunggingkan senyum. “Pak, saya juga gak ada kelas,” katanya tanpa ditanya. “Saya juga bisa bantu.”


Elio yang hendak berbalik melirik ke arah Jessi. “Saya hanya membutuhkan satu orang. Cepat Eiren.”


Eiren yang mendengar mendesah kesal dan melangkah mengikuti Elio. Jesscica yang melihat mengepalkan jemari erat. Rasanya dia semakin membenci Eiren.


Anak itu lagi. Apa gak bosen sih ambil punya orang lain, batinnya dan langsung mengambil tas lalu pergi. Sedangkan Feli, dia hnaya tertawa kecil melihat kekesalan gadis tersebut.


“Mampus,” ucap Feli menatap Jessi yang masih terlihat kesal.


_____

__ADS_1


Elio masih melangkah hendak ke perpustakaan, tetapi telinganya mendengar pembahasan yang tidak asing unutknya. Matanya menatap tiga orang gadis yang tengah berbincang, meski satu diantara mereka hanya diam dan tidak banyak menanggapi


“Iya. Kemarin aku lihat mereka di kampus. Mesra banget tahu. Yang cewek juga cantik,” ucap gadis di seberang.


Elio awalnya berniat mengabaikan percakapan tersebut dan kembali berlalu. Namun, pendengarannya kembali menangkap pertengkaran singkat. Tanpa sadar, langkahnya malah berbalik dan mendatangi tempat duduk gadis tersebut. Otaknya tidak pernah digunakan untuk berpikir kali ini dan langsung menyuruh salah satu diantaranya untuk membantu.


Elio melangkah dan mulai menyusuri lorong kampus dengan hati yang masih merutuki kebodohannya. Padahal, ruangannya tidak ada yang kotor atau pun berantakan.


Bodoh, ngapain ikut campur segala, sih? Sekarang dia suruh ngapain coba? Ruangan juga udah bersih, batinnya bingung untuk memisahkan diri dari Eiren.


“Pak, terima kasih,” ucap Eiren yang membuat Elio menghentikan langkah.


“Buat apa?” tanyanya bingung. Elio menatap Eiren yang menyunggingkan senyum termanis, membuatnya merasakan rasa yang terlalu asing dalam hati. Hangat.


Eiren menghela napas kasar dan menatap ke arah Elio yang masih menatap dengan wajah bingung. Senyumnya kembali terukir meski ada sedikit perasaan terluka yang dirasakan ketika mengingat ucapan Jessica.


“Aku tahu, kamu cuma mau jauhin aku dari Jessi, kan? Kamu dengar semua yang dikatakan dia?” tebak Eiren membuat Elio menelan salivanya kasar. Dia menatap Elio dan tersenyum manis. “Lain kali, kamu gak usah lakuin seperti itu. Aku bisa sendiri.”


Elio yang mendengar menghela napas pelan dan menatap Eiren santai. “Ternyata ketahuan, ya?” ujarnya dengan tawa kecil, “aku hanya merasa, jika kamu terus di sana semuanya akan jadi runyam. Harusnya kamu tegur dia.”


Eiren hanya tersenyum tipis. “Biarkan saja. Lagi pula itu memang kenyataanya,” jawab Eiren dengan wajah lesu.


“Eiren,” panggil Elio pelan dan hendak maju, tetapi Eiren mundur dan menatap dengan mata memperingatkan.


“Maaf, aku hanya terbawa suasana,” sahutnya dengan wajah yang sudah kembali dingin, “aku akan pergi. Lain kali, kamu tidak usah membantu. Kita tidak sedekat itu untuk saling membantu.”


Elio yang mendengar hanya diam dan menatap kepergian Eiren yang sudah melangkah menjauh. Dasar keras kepala, gumamnya tidak jelas.


_____

__ADS_1


__ADS_2