
“Sebenarnya, apa maumu, Eiren?”
“Pergi bersama dengan pria lain sampai malam, diantar pulang dan tampak begitu dekat. Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan?”
Elio menatap Eiren dengan pandangan tajam. Dia masih mencoba menatap wajah cuek Eiren yang jarang ditunjukan kepadanya. Ada perasaan berbeda yang mulai terasa nyata ketika dia menatap mata gadis tersebut. Tidak ada kelembutan sama sekali di dalamnya.
Eiren menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan. Dia menatap Elio dengan pandangan tajam. “Tidak ada rencana apa pun, Elio. Aku hanya pulang dengan Venda dan itu tidak ada yang salah sama sekali. Aku hanya pulang dan aku rasa itu bukan masalah untukmu, Elio,” jawab Eiren dengan wajah santai.
Elio menggeram kesal mendengar jawaban dari Eiren dan menatap tajam. “Jangan lupa, Eiren, sekarang kamu adalah calon istriku,” tegas Elio dengan pandangan menusuk.
Eiren masih saja santai dan berdecak kesal ke arah Elio. “Kita hanya calon dan jangan lupa, kita bisa berpisah kapan saja, Elio,” ucap Eiren segera melangkah meninggalkan Elio yang sudah menahan amarah.
“Eiren!” bentak Elio masih membelakangi Eiren.
Eiren menghentikan langkahnya. “Jangan berteriak, Elio, suaramu benar-benar merusak pendengaran.”
Elio menggeram kesal dan langsung berbalik ke arah Eiren. Dia hanya menatap tajam ketika wanita tersebut sudah berbelok menuju apartemennya. “Ada apa dengannya?” gumam Elio dengan rahang yang masih mengeras.
_____
Eiren menghela napas perlahan ketika sudah memasuki apartemen Elio. Jika dia berpikir seperti semestinya, dia akan pergi dan menjauh dari Elio. Namun, dia masih waras dengan apa yang menjadi posisi dan tujuannya.
“Jika aku pergi darimu sekarang, aku yakin semua akan berantakan, Elio. Uangku belum cukup dan lagi, aku masih harus mengurus skripsi sampai lulus,” gumam Eiren sembari menghela napas perlahan.
Eiren kembali melangkah menuju ke kamar dan mengabaikan suara pintu masuk yang jelas siapa pelakunya. Eiren mengabaikan Elio yang masih berdiri dengan emosi menggebu.
“Eiren, kita harus bicara,” ucap Elio dengan mata menatap tajam.
“Nanti saja, Elio. Aku masih lelah dan mau mandi. Kita akan bicara setelahnya.” Eiren memilih masuk ke dalam kamar.
Elio yang mendengar semakin kesal. Dengan langkah lebar, dia segera mengikuti Eiren dan masuk ke dalam kamar. Matanya dengan cepat mengukuti arah Eiren yang hendak masuk kamar. Dengan gerakan kilat, Elio menarik lengan Eiren dan menghentikan langkah wanitanya.
__ADS_1
“Aku sedang bicara dan kamu dilarang menolak, Eiren,” desis Elio dengan menujukan kekesalannya.
“Apalagi yang mau kamu bicarakan, Elio? Aku rasa tidak memiliki masalah dengamu. Jadi, bisa izinkan aku untuk istirahat sejenak? Aku benar-benar lelah,” ucap Eiren dengan wajah yang tidak lagi takut dengan Elio.
Elio yang mendengar suara Eiren seakan memohon merasa kasihan. Dia segera melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Eiren melangkah ke kamar mandi.
“Setelah ini aku minta kita bicara, Eiren. Ada hal yang harus aku bahas denganmu,” ucap Elio pelan.
Eiren yang hendak menutup pintu kamar mandi hanya mengangguk dan mengabaikan ucapan Elio. Dia memilih untuk tidak menghiraukan sama sekali ucapan Elio.
_____
Venda memasuki rumah sederhana yang tampak begitu sepi. Tangannya menyentuh saklar dan menghidupkan lampu rumah. Dengan pelan dia memasuki rumah tersebut dan duduk di kursi ruang tamu sembari membuka nasi yang sudah dibelinya.
“Sekarang aku harus bekerja keras hanya untuk sesuap nasi,” ucap Venda dengan tawa kecil. Namun, setelahnya dia menghela napas dan kembali menyuap nasi. Dia berusaha menerima dengan lapang semua nasib yang tidak lagi sama seperti dahulu.
Masih asyik menyuap makanan, Venda dikagetkan dengan ketukan keras di pintu. Membuatnya melirik ke sumber suara dan menatap dengan malas. “Ada apa, Jessi?” tanya Venda dengan nada malas.
“Aku sejak tadi menunggumu. Kenapa baru pulang?” tanya Jessi dengan wajah gembira karena dia melihat sahabatnya sudah berada di rumah. Dia melangkah masuk dan duduk di sofa seberang Venda duduk.
Jessi yang mendengar berdecak santai dan menatap Venda lekat. “Kamu mau menemaniku jalan-jalan? Aku bosan,” rajuk Jessi dengan pandangan memohon.
Venda yang mendengar menurunkan sendoknya dan menatap Jessi dengan pandangan lelah. “Jessi, apa kamu tidak mengerti bahwa aku lelah? Lebih baik kamu jalan dengan teman-temanmu yang lain. Aku ingin istrirahat,” tolak Venda lelah. Dia tahu bagaimana sifat sahabat sejak kecil.
Jessi yang mendengar menatap tajam ke arah Venda dan segera bangkit. “Kalau gak niat gak usah sok bilang capek, Venda. Kamu memang berubah,” ucap Jessi dengan nada kesal. Dengan kesal dia melangkah keluar rumah Venda.
Venda hanya menghela napas dan membiarkan Jessi pergi. Rasanya dia ingin berteriak kepada sahabatnya dan mengatakan bahwa dia benar-benar lelah menghadapi tingkah Jessi.
Venda memilih mengabaikan suara mobil yang sudah mulai menjauh dan mengambil ponselnya. Dia menekan aplikasi pesan dan mengirimkan pesan kepada seseorang dan tersenyum senang.
“Dia menyenangkan,” gumam Venda melupakan masalahnya sejenak.
__ADS_1
_____
Sudah makan?
Eiren tersenyum membaca pesan yang baru saja masuk. Dengan senyum menawan, dia membalas pesan yang dikirimkan Venda untuknya. Dia bahkan mengabaikan Elio yang ada di hadapannya dengan wajah garang. Eiren benar-benar bertingkah seenaknya dan tidak mempedulikan Elio sama sekali.
Elio berdehem pelan dan menatap Eiren yang masih mengabaikannya, asyik dengan ponsel.
“Eiren,” panggil Elio dengan suara tegas.
“Apa, Elio?” jawab Eiren dengan mata yang tetap tidak beralih.
“Bisa kamu letakan ponselmu? Kita harus bicara,” tegas Elio dengan pandangan tajam. Dia benar-benar sudah diambang batas dalam menghadapi Eiren hari ini. Sifat penurutnya benar-benar sudah tidak ada sama sekali.
Eiren menghela napas dan mendongak, menatap Elio dengan santai. “Cepat katakan apa yang kamu ingin bicarakan. Aku mau istirahat,” jawab Eiren dengan wajah ogah-ogahan.
Elio menghela napas dan meletakan map berisi skripsi Eiren di atas meja. “Itu milikmu.”
“Hanya ini?” tanya Eiren yang segera mengambil map tersebut dan bangkit, “kalau begitu aku ke kamar. Aku mau tidur dan mulai malam ini aku akan tidur di kamar sebelah.”
Eiren segera melangkah santai menuju ke kamarnya. Namun, baru saja dia menginjak satu anak tangga, suara Elio kembali membuatnya berhenti.
“Dia adalah mantan kekasihku yang sudah lama koma,” teriak Elio membuat Eiren berhenti. “Dia mengalami kecelakaan bersama dengan pria lain dan tengah mengandung. Janinnya tidak dapat diselamatkan. Selama ini aku merawatnya di rumah dan berharap dia sadar. Aku hanya butuh penjelasannya dan tidak ada hal lain, Eiren,” jelas Elio dengan mata menatap lekat ke arah punggung Eiren.
Eiren memejamkan mata sejenak dan membukanya perlahan. Dia membalik tubuh dan menatap Elio dengan pandangan dingin. “Dan kamu sudah memainkan dua hati. Sudahlah, Elio, aku tidak masalah dengan itu.”
“Aku tahu kamu memiliki masalah dengan itu. Kamu datang ke rumah dan melihatku tengah bersama denganya. Aku hanya mau kamu tahu, Eiren. Aku hanya membantunya sampai dia sehat,” jawab Elio pelan.
Eiren menghela napas perlahan dan berbalik. Dia mengabaikan Elio yang masih ada di bawah dan menunduk lemah. Hatinya sudah bebar-benar mati untuk merasakan empati terhadap Elio dan juga mantan kekasihnya.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa pun tingkahmu, Elio, tegas Eiren dalam hati. Dia segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Eiren tidak memikirkan apa pun dan memilih untuk segera tidur. Mengabaikan Elio yang sudah mulai masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu keras.
__ADS_1
_____
Halo sayang Kim, maaf ya jarang update. Soalnya lagi gak enak badan. Setelah baikan, Kim bakal update lebih banyak lagi. Selamat membaca dan terima kasih sayangkuh 😚😚