
“Elio, coba cek proposal skripsi yang aku buat,” ujar Eiren sembari mengacungkan puluhan kertas yang baru saja di print-nya.
Eiren menatap Elio yang masih asyik dengan laptopnya. Setelah pertemuan dengan kedua orang tua Elio, Eiren jauh lebih memilih untuk menerima nasibnya. Setidaknya sampai dia lulus kuliah dan bisa menjadi gadis mandiri. Dengan begitu dia tiak akan kesusahan jika pergi dari Elio dan juga kedua orang tuanya. Dia bertekad akan melepaskan diri tanpa sepengetahuan Elio. Sejenak dia melupakan mengenai Alex yang sudah benar-benar seperti hilang ditelan bumi.
Elio yang tengah sibuk terpaksa menutup laptopnya dan mengambil kertas yang baru saja diberikan Eiren. Matanya mengamati satu per satu kalimat yang sudah dirangkai. Jemari yang sejak tadi memegang pulpen kini asyik memberikan coretan yang membuat Eiren melongo.
“Kenapa dicoret semua?” tanya Eiren dengan mulut menganga. Matanya menatap lekat Elio yang sudah menutup mapnya dan memberikan kembali kepada Eiren.
“Revisi sesuai catatan yang aku buat. Masih banyak bab yang terlalu melenceng dari pembahasan dan juga kesalahan dalam pengetikan. Kamu harus bisa memilih masalah yang akan kamu angkat dalam judul tersebut. Jangan main ketik aja apa yang ada di otak,” sindir Elio membuat Eiren merasa tertohok.
Eiren memang membuat asal jadi dan menyuruh Elio untuk mengoreksi. Eiren membuka map dan menemukan banyak sekali catatan di kertas bimbingannya. Dengan segera dia menutup dan menatap Elio dengan wajah kesal.
“Memangnya proposalku sejelek itu sampai kamu memberikan banyak sekali coretan?” gerutu Eiren dengan wajah bersungut.
Elio menatap Eiren sekilas dan kembali lagi pada layar laptop. “Coba saja kamu baca sendiri. Jika menurutmu bagus, kamu bisa bandingkan dengan skripsi yang dibuat para alumni kampusmu. Sepertinya aku memiliki satu di kamar. Jadi, kamu bisa membandingkannya,” jelas Elio dengan jemari yang masih sibuk dengan tombol keyboard di depannya.
Eiren hanya merasa kesal dan mendengus kasar. Dia baru akan membenahi proposal ketika suara ponsel membuyarkan pikirannya. Dengan malas Eiren melirik layar yang mulai menyala dan menatap nama yang ada di layar. Alex. Melihat itu Eiren hanya diam dan tidak berniat menjawab sama sekali.
“Kenapa gak diangkat?” tanya Elio merasa penasaran.
“Males,” ucap Eiren dengan wajah ketus.
Elio yang melihat hanya diam. Dia tidak akan memaksa Eiren untuk mengangkatnya karena dia tahu siapa yang menelfon. Alex. Dia bisa melihat nama tersebut dari kaca yang terpasang di belakang Eiren, menunjukan apa yang tengah dilakukan gadis tersebut.
“Kenapa Alex mulai menghubunginya lagi?” gumam Elio mula tidak fokus.
__ADS_1
_____
Alex menatap layar ponselnya dengan pandangan nanar. Eiren tidak mau mengangkat telfonnya sama sekali. Helaan napas keras membuat Feli, gadis yang sejak tadi ada di depan Alex mendongak dan menatapnya dengan wajah santai.
“Kenapa?” tanya Feli dengan mulut yang masih sibuk menyedot es.
“Gak diangkat,” ucap Alex yang kembali meletakan ponsel di meja. Matanya menatap Feli yang masih menatapnya dengan kepala mengangguk. “Apa dia marah denganku? Seharunya aku yang marah denganya,” gerutu Alex merasa frustasi.
Feli yang menengar berdecih kecil dan menggeleng heran. “Apa pun yang kamu katakan, harusnya Eiren yang jauh lebih berhak untuk marah,” celetuk Feli membuat Alex mengerutkan kening heran.
“Kamu mau tahu kenapa?” tanya Feli dengan senyum tipis, “karena dia memiliki kekasih yang tidak tegas sama sekali,” imbuh Feli dengan kalimat yang cukup membuat Alex diam.
Alex hanya diam mendengar ucapan Feli. Apa benar selama ini dia kurang tegas dalam bertindak? Padahal dia melakukan semua itu demi mempertahankan Eiren. Dia pikir selama ini Eiren percaya dengan kata-katanya. Namun, ternyata tidak sama sekali.
“Aku sudah melakukan semuanya untuk dia. Aku pikir dia akan mengerti dengan posisiku,” ucap Alex dengan wajah lesu.
“Aku tengah berusaha mengumpulkan uang dan akan membawa Eiren kabur nantinya. Aku tengah merencanakan hal tersebut,” tegas Alex dengan wajah menunjukan emosi.
Feli yang mendengar menghela napas perlahan dan menatap Alex dengan pandangan kesal. “Kamu mau membawa Eiren kabur dan menikah tanpa restu orang tua? Sinting. Kamu bahkan membuat nama Eiren semakin tercoreng di keluargamu. Apa pun yang kamu lakukan, bukan kamu yang akan dipersalahkan, tetapi Eiren. Kamu mengerti, Alex?”
Alex yang mendengar hanya diam dengan mata menatap Feli tajam. Keningnya berkerut heran menyadari ucapan Feli yang membuatnya seperti terhantam oleh kenyataan pahit.
Feli menghela napas pelan dan menatap Alex dengan wajah datar. “Mungkin begitu cara takdir memisahkan kalian. Jadi, akan jauh lebih baik kalian menjalani hari kalian masing-masing. Aku rasa sudah cukup kamu membuat Eiren merasa terluka. Tetapi, aku harap kalian tetap menyelesaikannya secara baik-baik. Kamu harus menemui Eiren dan mengatakan semuanya, Alex,” ucap Feli sembari mengulas senyum perlahan.
Alex yang mendengar mengangguk pasrah. Lalu, bagaimana dia akan menemui Eiren jika alamat gadis tersebut saja dia tidak tahu sama sekali?
__ADS_1
“Aku akan mencari tahu alamatnya. Aku akan mengabarimu jika nanti mendapatkan kabar tentang Eiren. Sekarang aku harus pergi karena ada kelas sebentar lagi,” kata Feli seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Alex.
Alex yang mendengar mengangguk dan tersenyum. “Baiklah. Terima kasih,” ucap Alex sembari menatap Feli yang sudah melangkah menjauh darinya. Rasanya dia lumayan terbantu dengan adanya Feli.
_____
“Aku melihat kamu merasa kesal. Kenapa, Gladis?” tanya Jessi yang sudah duduk dan menatap gadis cantik yang saat ini tengah memberengut kesal.
Gladis yang melihat kehadiran Jessi berdecak kesal dan membuang wajah. Dia enggan menatap manusia ular seperti Jessi.
“Bukan urusanmu,” desis Gladis dengan suara ketus.
Jessi yang mendengar tertawa kecil dan masih menatap Gladis dengan tatapan ramah. “Jangan begitu. Bagaimana pun kita pernah bersahabat dulu. Jadi aku hanya menyapa sahabat lamaku.”
“Dan aku tidak mau disapa oleh manusia ular sepertimu,” celetuk Gladis dengan wajah memanas.
“Ular?” ulang Jessi dengan tatapan datar, “aku merasa sekarang kamu terlau frontal, Gladis. Bagaimana pun aku adalah teman lamamu dan kalau kamu bericara seperti tiu dengan sembarang orang, aku takut ada yang sakit hati,” ujar Jessi dengan wajah menunjukan rasa kecewa. Namun, setelahnya dia tersenyum kecil ke arah Gladis.
Gladis yang muak dengan tingkah Jessi menghela napas perlahan dan bangkit. Dia langsung berbalik dan melangkah meninggalkan Jessi. Namun, baru beberapa langkah, ucapan Jessi kembali menghentikannya.
“Aku tahu kamu tengah berpikir mengenai masalahmu dengan Elio. Kamu gagal membujuk dia untuk meluluskanmu dalam mata kuliahnya, kan? Aku bisa membantu untuk itu, Gladis. Aku tahu siapa yang seharusnya kamu singkirkan untuk mendaptakan Elio kembali,” kata Jessi dengan pandangan menatap punggung Gladis lekat, “Eiren.”
Gladis yang mendengar menghela napas perlahan dan berbalik menatap Jessi dengan senyum manis. “Kamu tahu, Jessi. Kamu benar-benar terlihat seperti malaikat. Kamu datang dan menawarkan bantuan. Tetapi, aku tidak tertarik sama sekali,” desis Gladis dengan pandangan tajam. “Aku tidak tertarik menerima bantuan dari seorang iblis yang menjelma menjadi malaikat. Lebih baik simpan pemikiran bodohmu itu karena aku tidak akan membutuhkannya,” tegas Gladis dan langsung berbalik, melangkah meninggalkan Jessi.
Jessi yang mendengar hanya mengulas senyum dengan tangan mengepal. “Kurang ajar,” desisnya dengan wajah mengeras dan mata menggelap. Rencananya untuk menyingkirkan Eiren gagal karena Gladis yang tidak berniat sama sekali dengan masalah ini.
__ADS_1
Aku harus menyingkirkan Eiren. Dia tidak berhak bahagia, batin Jessi begitu membenci Eiren. Baginya Eiren adalah sumber masalah. Semua yang diinginkannya selalu saja jatuh di tangan gadis tersebut. Termasuk Alex, pria yang sempat dicintainya dulu.
_____