Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 42_Perpisahan Terbaik


__ADS_3

Alex mendesah sembari menatap pintu yang tidak juga menampilkan Eiren. Sudah hampir satu jam dia menunggu dan gadis tersebut tidak juga datang untuk menemuinya. Beberapa kali matanya menatap ke arah jalanan yang tampak ramai dan beharap seseorang yang dinantinya segera datang.


“Bukannya dia mau bertemu denganku? Aku tidak salah baca, kan?” batin Alex dengan tangan yang kembali membuka ponselnya. Memastikan bahwa apa yang dikirim Eiren menang benar.


“Kenapa lama banget,” gerutu Alex merasa tidak sabar untuk menyelesaikan semua kesalahpahaman yang terjadi antara mereka berdua. Dia juga teramat merindukan Eiren. Setidaknya hari ini adalah terakhir dia bisa bersama dan berbincang dengan Eiren. Setelah itu dia tidak yakin akan bisa menyapa Eiren.


Alex menatap jam tangan yang terus berputar dan kembali mendongak ketika telinganya mendengar suara lonceng dari arah pintu, menandakan ada yang baru saja masuk. Senyumnya membuncah ketika melihat Eiren sudah masuk dan mencarinya.


“Eiren,” panggil Alex dengan senyum menawan. Tangannya melambai, memberikan tanda posisi dirinya saat ini.


Eiren yang melihat hanya menatap dengan pandangan datar. Bukan karena benci, tetapi karena dia terlalu lelah untuk merasakan kebencian dengan seseorang. Eiren duduk yang ada di depan Alex hanaya diam dengan mata menajam.


Alex yang terlalu bahagia melihat Eiren langsung melebarkan tangan dan hendak memeluk Eiren. Namun, dengan sigap Eiren mundurak dan mencegah Alex, membuat pria tersebut diam seketika.


“Kamu tidak mau memelukku? Aku merindukanmu,” ucap Alex dengan wajah sendu.


“Aku datang karena kamu bilang ingin menyelesaikan semua masalah kita yang belum selesai. Itu sebabnya aku datang menemuimu, Alex,” ujar Eiren enggan merasakan jatuh hati kembali pada pria di hadapannya.


Alex yang mendengar tersenyum kecut dan kembali duduk, diikuti dengan Eiren yang ikut duduk di kursi berseberangan dengannya. Eiren menatap makanan dan minuman yang sudah terhidang di hadapannya.


Jadi sudah dipesan?, batin Eiren kembali menatap Alex.


“Itu masih makanan kesukaan kamu, kan? Nasi bakar dengan ayam suwir di dalamnya,” jelas Alex dengan senyum tipis dan mata yang masih menatap Eiren lekat.


Eiren hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Alex. Dia bahkan tidak berminat sama sekali untuk menyentuh makananya. Matanya hanya menatap Alex dengan tatapan lekat, berharap agar pria di hadapannya kembali membuka percakapan.

__ADS_1


Alex yang melihat respon Eiren kembali meringis menahan sakit. Rasanya dia hancur ketika Eiren tidak menatapnya seperti dulu lagi. Rasa cinta yang ada terasa menghilang begitu saja dari mata gadis di hadapannya.


Alex menghela napas perlahan dan memulai percakapannya. “Apa kabar, Eiren?” tanya Alex mulai berbasa-basi.


“Seperti yang kamu lihat, Alex. Aku baik-baik saja,” jawab Eiren singkat.


“Aku senang ternyata kamu bai-baik saja. Aku mengajakmu bertemu hanya ingin mengatakan maaf untuk selama ini. Aku terlalu tidak peka dengan perasaanmu. Aku tidak tahu selama ini kamu merasa bimbang dengan keputusanku. Aku kira kita satu pemikiran selama ini,” ucap Alex dengan jemari tangan yang memainkan sedotan jus jeruk di hadapannya.


“Aku tidak menyalahkanmu untuk itu, Eiren. Aku tahu kamu juga mencoba mengertiku, tetapi aku juga memang tidak bisa menolak kemauan orang tuaku,” imbuh Alex dengan mata menatap Eiren tajam.


“Pada akhirnya kamu menerima Dora sebagai istrimu,” celetuk Eiren menekan rasa yang masih tersimpan.


Alex yang mendengar menghela napas keras dan mengangguk. “Maaf, Eiren. Aku harus menikahinya. Aku sudah merebut harta paling berharganya dan selain itu, orang tua ku juga memiliki hutang yang banyak dengan keluarga Dora. Aku tidak bisa mengorbankan keluargaku hanya untuk menebus segala egoku,” jelas Alex dengan air mata menggenang di pelupuk mata.


Eiren yang mendengar langsung menghela napas dan menarik ujung bibirnya dengan senyum sumringah. Dia mencoba mengusir rasa kecewa yang sejak tadi mulai menggerogotinya.


Alex yang mendengar semakin deras menitikan air mata. Jemarinya menggenggam tangan Eiren erat, berusaha mencari ketenangan yang selama lima tahun di dapatkannya. “Aku mencintaimu, Eiren. Aku mencintaimu,” gumam Alex membuat Eiren menutup mata rapat, meresapi semua luka yang kembali terbuka.


“Mulai sekarang, cintailah Dora dan bukan aku, Alex. Aku adalah masa lalumu. Aku hanya seseorang yang sejenak singgah dan menikmati waktu bersama denganmu. Aku hanya sosok dari masa lalu yang harus kamu lupakan. Semoga ini adalah pertemuan terkahir kita dan ketika kita bertemu lagi, ada bahagia untuk kita masing-masing. Aku mencintaimu,” ucap Eiren sembari melepaskan genggaman tangan Alex.


Eiren bangkit dan mulai melangkah keluar. Seketika air matanya mengalir melewari pipi mulusnya. Aku tahu akhirnya memang akan seperti ini, Alex. Apa pun yang kita lakukan, akhirnya kamu akan bersamanya dan aku akan sendiri, batin Eiren merasa pedih.


_____


Elio menatap Eiren yang sudah masuk ke dalam cafe. Jemarinya menggenggam setir mobil dengan erat, merasa ada api panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Matanya menatap Eiren yang sudah duduk berhadapan dengan Alex, pria yang sangat dibencinya.

__ADS_1


“Ternyata ini yang dia maksud bertemu dengan temannya? Ini yang dimaksud ingin bersenang-senang,” gerutu Alex dengan rasa kesal dan berniat menarik Eiren untuk pulang. Namun, dia mengurungkan niat dan memilih untuk tetap menungu Eiren di mobil saja. Dia akan mengawasi dari kejauhan.


“Alex, kamu mencari masalah dengan calon istri orang,” gumam Elio dengan mata menatap tidak suka karena Alex yang menggenggam tangan Eiren.


Namun, baru saja dia menggerutu, netranya kembali dikagetkan dengan Eiren yang keluar. Dia bisa melihat ada air mata yang mengalir dari sudut mata gadis tersebut. Elio hanya menatap bingung dan kemblai menatap Alex yang juga tampak menitikan air mata.


“Eiren, apa yang terjadi?” batin Elio langsung melajukan mobilnya.


Elio mengikuti Eiren dari belakang dengan wajah yang mulai gusar. Dia ingin menarik wanita tersebut dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi Elio takut Eiren marah. Sampai pada akhirnya, Eiren mengentikan langkah dan hal yang sama dilakukan oleh Elio. Mobilnya berhenti tidak jauh dari tempat Eiren saat ini.


“Mau apa dia?” tanya Elio ketia melihat Eiren malah diam dan duduk di halte.


Lama Elio menunggu dan melihat Eiren yang hanya diam. Bahkan, ketika taksi dan bus yang melewatinya diabaikan begitu saja. Sampai tetesan air dari langit mulai turun dengan perlahan dan menjadi deras. Eiren masih tetap duduk dengan mata menatap jalanan sepi.


“Apa yang dia lakukan,” geram Elio dan langsung keluar dari mobil menggunakan payung.


Elio melangkah mendekati Eiren yang masih menyadarkan kpalanya di tiang halte tanpa melakukan apa pun.


“Eiren, apa yang kamu lak....” Elio menghentikan ucapannya ketika Eiren menatap dengan mata memerah dan air mata mengalir deras. Hatinya merasa sakit melihat gadis yang biasanya selalu ceria menjadi begitu lemah. Tanpa sadar Elio langsung mendekap Eiren dengan perasaan kacau.


Eiren yang diperlakukan demikian langsung mengeluarkan air matanya semakin deras. Dia mengabaikan siapa yang saat ini memeluknya. “Aku tahu, pada akhirnya akan seperti ini. Dia akan memlih Dora, tetapi rasanya masih tetap sakit. Aku akan sendiri, Elio, aku akan sendiri,” ucap Eiren dengan lemah.


Elio memejamkan mata mendengar ratapan pedih dari arah Eiren. Tangannya semakin mengeratkan pelukannya dan menghela napas pelan.


“Jangan takut, Eiren. Kamu tidak akan sendiri. Aku akan terus bersamamu, aku akan mendampingimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” ucap Elio dengan begitu tulus.

__ADS_1


_____


__ADS_2