
Elio melangkah menyusuri lorong kampus yang mulai dipenuhi dengan mahasiswa dan mahasiswi yang menemui dosen pembimbing mereka. Wajahnya tampak datar ketika melewati mahasiswi yang sudah menyapanya ramah. Matanya masih lurus, menatap jalanan dan mencoba mencari sosok yang begitu diharapkannya hadir. Jujur saja, pikirannya masih berkecambuk membayangkan wajah Eiren yang terlihat dingin dan juga datar.
“Apa dia jadi salah paham lagi? Padahal aku lama gak bareng sama Gladis. Lagian tadi juga gak mau nerima ajakan gila Gladis,” gerutu Elio dengan mata yang melirik ke sana sini.
Elio kembali melangkah dan berniat keluar kampus, tetapi Jessica tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Jujur, perasaannya benar-benar dongkol melihat mahasiswi di kampusnya selalu mengganggu.
“Ada apa, Jess?” tanya Elio dengan nada dingin.
Jessica yang melihat langsung tersenyum menatap ke arah Elio. “Bapak mau ke mana?”
“Mau ke mana saya itu bukan urusan kamu,” desis Elio tidak suka.
“Maaf, Pak. Tetapi....”
“Cepat katakan apa tujuanmu karena aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni basa-basi tidak pentingmu,” potong Elio dengan pandangan serius.
Jessica yang mendengar langsung meneguk salivanya susah payah. Dia bahkan baru pertama kali mendapat teguran yang tidak berperasaan. Rasanya dia ingin sekali memaki pria di hadapannya.
“Maaf, Pak. Saya hanya mau memberikan surat pemberitahuan pembimbing,” ucap Jessi dengan wajah tertunduk. Dia merasa tidak sanggup menerima tatapan tajam dari seseorang. Biasanya mereka manatap dengan pandangan memuja.
“Letakan di meja kerja saya,” perintah Elio dan segera melangkah menjauh.
Jessi yang melihat langsung menghela napas kasar. Matanya menatap pria yang sudah berjalan menjauh darinya. “Menarik,” ucapnya dengan senyum sinis dan segera melangkah ke ruang kerja Elio.
Elio memutuskan untuk kembali ke rumah karena memang jadwal mengajarnya sudah habis. Baru saja Elio memasuki mobilnya, suara ponsel membuatnya mendesah dengan sangat kasar. Dengan malas dia menatap layar ponsel yang mulai berkedip. Papa. Untuk apalagi papa menelfon?
Elio menggeser tombol hijau di layar ponsel dan mulai mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Pa,” sapa Elio dengan wajah datar.
“Elio, segera ke kantor. Papa ingin membicarkan hal penting denganmu,” ucap papanya dari seberang panggilan.
“Baik,” jawab Elio dengan wajah datar dan pandangan dingin. Matanya menatap taksi yang suda terparkir tidak jauh dari mobilnya.
Setelah mematikan panggilan, matanya masih menatap lurus ke depan. Wanita yang dicari baru saja masuk ke dalam taksi. “Kamu mau mencoba pergi dariku, Eiren? Menyebalkan,” gerutu Elio karena pada akhirnya dia tetap merasa ditinggalkan.
Elio mengabaikan Eiren yang sudah berlalu. Dia memilih untuk menjalankan mobilnya dan segera menuju ke kantor papanya. Dia penasaran, apa yang membuat papanya berbicara datar dan menyuruh datang ke kantor.
__ADS_1
_____
Eiren merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah dan menenangkan diri. Rasanya jika dia kembali ke kosan, Feli akan menanyakan mengenai siapa pembimbingnya dan akan memuji keberuntungan yang hanya menurutnya, tetapi berbeda dengan Eiren yang merasa itu adalah kesialan. Elio adalah kesalahan yang pernah ditemuinya.
Eiren menutup mata perlahan, menikmati waktu sendiri yang jarang didapatkan sejak bersama Alex. Sejak bersama dengan pria tersebut, Eiren merasa enggan menjalani hari sepi seperti sebelumnya.
Alex. Bahkan sudah beberapa hari ini dia sedikit melupakan mengenai kabar kekasihnya.
“Apa dia baik-baik saja?” tanya Eiren sembari menatap foto Alex yang dijadian sebagai wallpaper ponselnya.
Eiren tersenyum sendiri melihat gambar aneh di ponselnya. “Apa kamu benar akan kembali?” ucapnya dengan mata menatap lekat ke arah ponsel yang sudah digenggamnya.
Eiren menghela napas kasar. Apa bedanya kembali atau tidak? Lagi pula tidak ada yang aneh dengan hidup sendiri, batin Eiren mencoba tenang. Masih asyik dengan pikirannya, ponsel Eiren berdering, mengganti foto Alex menjadi foto Feli.
Eiren berdecak kesal melihat kenyataan bahwa Feli menghubunginya. Sepertinya dia tahu apa yang ingin ditanyakan sahabatnya.
“Halo, Feli,” sapa Eiren ketika sudah mengangkat panggilan tersebut. Meski sejujurnya dia memang benar-benar malas.
“Eiren, kamu di mana?” tanya Feli dengan suara melengking.
Eiren yang mendengar menjauhkan ponsel dari telinga dan mengelus pinggiran telinganya pelan. Suara Feli terlalu melengking, membuat telinganya terasa ingin jebol seketika. Setelah dirasa aman, Eiren kembali mendekatkan ponsel ke telinga.
“Oh, begitu. Aku cuma mau tanya siapa dosen pembimbingmu?” tanya Feli dengan suara terkesan menyelidik.
Eiren menghembuskan napas pelan. “Adelio Cetta,” jawabnya tidak bersemangat.
“Apa?!” teriak Feli dan itu membuat Eiren mendengus kesal. “Pembimbing kamu dosen seksi? Beruntungnya.”
Beruntung? Apa Feli tidak tahu apa definisi dari kata beruntung? Eiren menghela napas kesal dan mengabaikan ucapan memuja seorang Feli yang sudah menjadi fans berat dari Adelio.
“Kamu cuma mau tanya itu saja?” tanya Eiren dengan nada ketus.
Feli berguman singkat. “Aku penasaran karena tadi aku juga lihat Jessi menemui Pak Adelio. Sepertinya kalian mendapatkan pembimbing yang sama.”
Eiren yang mendengar hanya diam. Sejak selesai pesta dia tidak pernah bertemu lagi dengan Jessi. Bahkan di kelas, temannya itu juga tidak kelihatan sama sekali. Padahal Eiren ingin mencoba bertanya kepada Jessi mengenai minuman yang diberikan sewaktu di pesta. Eiren yakin obat yang diminumnya tercampur dengan minuman yang diberikan Jessi waktu itu karena selama dia makan tidak ada reaksi berlebihan pada tubuhnya.
__ADS_1
“Eiren,” panggil Feli ketika dirasa tidak mendapatkan jawaban.
“Iya. Aku matikan dulu. Ada tamu,” ucap Eiren yang sebenarnya malas membahas mengenai Elio hari ini.
Eiren mematikan panggilan tersebut dan kembali menatap langit-langit rumah yang terlihat sepi. Rasanya sejak kecil dia memang tidak pernah ditakdirkan untuk memiliki seseorang. “Apa aku saja yang meninggalkan Alex, ya?” ucap Eiren bermonolog.
“Hooo..baru pulang ke rumah rupanya,” ucap seseorang membuat Eiren menatap pintu dengan raut wajah yang semakin kusam.
_____
Elio memasuki lorong menuju ruangan papanya. Matanya menatap wanita yang sudah berdiri dan menunduk ketika menatapnya. Ini yang dibenci ketika dia datang ke kantor. Dia merasa semua terlalu berlebihan, berbeda dengan ketika dia di kampus.
“Papa ada?” tanya Elio ketika sampai di depan wanita tersebut.
“Ada, Tuan Muda. Anda sudah ditunggu,” jawab wanita tersebut segera melangkah dan membukakan pintu.
Elio yang diperlakukan demikian hanya diam dan menurut. Langkahnya membawa masuk ke dalam ruangan yang terasa begitu kelam. Matanya menatap pria yang juga menatap dengan pandangan serius.
“Apa yang mau Papa bicarakan?” tanya Elio ketika sampai di depan papanya.
Abian mengambil beberapa kertas kecil yang kemudian dibanting ke meja kerjanya. Matanya menatap tajam ke arah Adelio yang sudah duduk dan mengerutkan kening bingung.
“Jelaskan apa yang ada di gambar itu, Elio. Jelaskan semua kepada papa apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Abian dengan rahang mengeras.
Elio yang mulai penasaran segera mengambil kertas foto tersebut dan menatapnya. Matanya membelalak melihat apa yang ada di dalam. Dia tengah bercumbu dengan Eiren ketika sampai di rumah.
Elio menatap papanya yang masih memandang dengan tatapan tajam. Dia masih berusaha tenang meski sekarang pikirannya berkecambuk memikirkan apa yang akan terjadi dengan Eiren selanjutnya.
“Kamu mulai menyewa wanita malam dan membawa ke rumah, Elio? Menjijikan,” desis Abian dengan pandangan jijik.
“Papa salah. Dia adalah wanita baik-baik,” ujar Elio dengan pandangan sinis. Dia merasa tidak rela mendengar papanya menjelekan Eiren.
“Kalau begitu kenapa dia bertingkah seperti seorang yang haus akan belaian?” tanya Abian dengan pandangan tidak suka.
“Terserah.” Adelio menatap papanya dengan pandangan kesal bercampur emosi. Dengan segera dia bangkit dan membawa serta foto yang sudah diberikan papanya. Dia tidak berniat menjelaskan apa pun karena itu memang percuma. Abian tidak akan mendengarkan meski dia yang meminta penjelasan.
__ADS_1
“Sialan,” gumam Elio dengan tangan meremas foto-fotonya dengan Eiren.
_____