Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 13_Tunggu Aku


__ADS_3

Aku tidak tahu apa maksudmu, tetapi jika dia meninggalkanmu, masih ada aku yang akan mendengarkan ceritamu.


“Bodohnya aku. Kenapa juga harus bilang gitu. Nanti kalau pas ketemu aku harus gimana?” runtuk Elio ketika menyadari ucapannya semalam.


Dia menatap wajahnya di cermin kamar dan mengacak rambut hingga berantakan. Sudah sejak satu jam yang lalu dia selesai mandi, tetapi sayang, pakaiannya masih belum tersentuh sama sekali. Elio masih begitu ragu akan melangkah ke kampus. Apa yang akan dipikirkan Eiren nanti?


“Bagaimana kalau dia menertawakan sikapku yang sok pahlawan semalam?” keluh Elio dengan wajah lemah, “kenapa juga aku harus bilang gitu? Bodoh, bodoh, bodoh.”


“Hmm. Kamu memang bodoh,” celetuk Rega yang sudah ada di belakangnya dengan tubuh disandarkan di kusen pintu dan tangan disedekapkan di dada.


Elio yang mendengar langsung berbalik dan menatap Rega dengan pandangan kesal. Kenapa kakak sepupunya harus datang disaat yang tidak tepat? Elio langsung membalik badan dan merapikan rambutnya yang sudah acak.


“Apa kamu memiliki kebiasaan baru sekarang, Elio?” tanya Rega dengan mata yang masih mengamati.


“Tidak. Kenapa?” Elio masih sibuk dengan tatanan rambutnya.


“Aku kira kamu memiliki kebiasaan baru karena ini pertama kalinya kamu tidak segera mengenakan pakaian setelah mandi,” jelas Rega yang tahu dengan kebiasaan adiknya, “tetapi, apa pun itu, aku tidak peduli sama sekali.”


“Jika tidak peduli kenapa juga tanya?” ucap Elio kesal.


“Aku hanya memastikan. Jika kamu butuh bantuanku untuk memberi saran.”


“Tidak perlu,” dengus Elio dan langsung menatap Rega dengan pandangan tajam, “keluarlah. Aku akan berganti pakaian.”


Rega yang mendnegar hanya mengangguk dan menuruti kemauan Elio. Dia segera keluar dan menutup pintu. Sedangan Elio, dia hanya mendengus kesal dan segera berganti pakaian.


_____


Eiren menghela napas ketika dia menatap meja makan yang kosong. Hanya ada sedikit makanan dan beberapa piring kosong. Matanya menatap sekeliling dan mencari keberadaan orang tuanya. Namun, tetap tidak terlihat.

__ADS_1


“Non Eiren nyariin Nyonya dan Tuan, ya?” sapa Imas-asisten rumah tangga, “mereka sudah pergi sejak tadi pagi. Tuan ada bisnis ke Eropa, sedangkan Nyonya katanya sih mau ke Perancis untuk beberapa hari,” jelas Imas dan melanjutkan pekerjaannya.


Eiren yang mendengar hanya menghela napas keras dan melangkah ke meja makan. Dia mengabaikan kesendiriannya di meja makan dan mulai mengambil sarapan.


Tidak masalah, Eiren. Lagi pula ini bukan sekali atau dua kali terjadi. Bahkan hampir setiap hari, batin Eiren menguatkan.


Eiren segera menyelesaikan sarapan dan meninggalkan rumah. Dia harus segera berangkat ke kampus. Helaan napas keras terdengar ketika akhirnya, netranya tidak menatap mobil Alex ada di depan rumahnya. Biasanya, pemuda tersebut selalu menunggu di depan gerbang dan melambaikan tangan dengan senyum termanis.


“Eiren, please deh jangan mulai sikap lembeknya. Mulai sekarang, kamu harus melupakan dia,” ucap Eiren kepada diri sendiri.


Eiren memilih melangkah menuju mobilnya dan segera membawa pergi. Rasanya sudah lama dia tidak membawa sendiri mobil kesayangannya. Sudah lama juga aku bergantung padamu ya, Alex. Setelah ini aku tahu, semua pasti akan terasa sulit, ucapnya dalam hati.


_____


Elio menghela napas keras dan melirik jam yang sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Padahal kelas seharusnya dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Langkahnya semakin cepat bersamaan dengan hati yang masih menggerutu merutuki kesalahannya. Semua karena dia yang terlalu memikirkan kejadian selama.


Alex segera masuk ke kelas yang sama dengan Eiren. Tanpa basa-basi, dia langsung menjelaskan mata kuliahnya. Sesekali, melirik Eiren yang sudah duduk di bangku paling depan dengan tatapan datar, seakan tidak memperhatikan penjelasan sama sekali. Jika saja itu terjadi ketika dia mengetahui kejadian semalam, dapat dipastikan Eiren akan menjadi sasaran empuk. Namun, saat ini dia tidak mau melakukan hal tersebut karena dia merasa, Eiren membutuhkan waktunya.


Elio menghela napas keras dan mengikuti Eiren yang sudah melangkah jauh darinya. “Eiren,” panggilya dengan keras.


Eiren yang dipanggil langsung membalikan tubuh da menatap Elio yang mendekatinya. “Ada apa ya, Pak? Bukannya tugas saya sudah selesai?”


Elio diam sejenak dan mengangguk. “Iya. Saya hanya mau bertanya, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan wajah khawatir.


Eiren yang mendengar awalnya bingung dan berpikir, mimpi apa dosen di hadapannya menjadi begiu perhatian? Namun, ketika ingatannya kembali, Eiren paham dengan arah permbicaraan Elio dan langsung mengangguk. “Saya baik-baik saja.”


“Semalam....” Elio menggantungkan ucapannya dan menatap Eiren lekat. Dia merasa ada tatapan tidak suka dari arah gadis tersebut, itu sebabnya dia memlih diam dan tidak melanjutkannya.


Eiren menghela naps keras dan menatap Elio dengan tatapan datar. “Untuk kejadian semalam, tolong Bapak lupakan saja. Saya minta maaf karena sudah merepotkan Bapak waktu itu. Selanjutnya, saya tidak akan pernah melakukannya lagi.”

__ADS_1


Elio yang mendengar masih membuka mulut, tetapi dihentikan oleh suara lain yang berada diantara mereka. Alex. Pria tersebut melangkah dengan cepat dan mendekati Eiren yang hanya diam dengan pandangan yang sama. Datar.


“Eiren, aku butuh bicara denganmu,” ucap Alex dengan wajah serius.


Eiren yang diajak berbicara hanya diam dan enggan mengeluarkan suara. Sejak pagi dia hanya diam, bahkan sapaan Jessica juga diabaikan. Dia seakan enggan menjalani hari dan hanya ingin tidur di ranjang empuknya.


Eiren menghela napas dan menatap Alex tegas. “Baik.” Dia harus mulai meluruskan masalahnya karena dia enggan terlalu larut dalam masalah.


_____


“Apa yang ingin kamu katakan, Alex?” tanya Eiren ketika baru saja sampai di atap kampus. Pandangannya menatap jalanan yang masih tampak ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang.


Alex yang berada di belakang menghela napas keras dan melangkah mendekati Eiren. “Kamu marah sama aku?” Alex malah balik bertanya. Matanya menatap lekat mata bening Eiren dan mencoba mencari tahu apa isi hati gadis di hadapannya.


Eiren tersenyum tipis dan menatap Alex lembut. “Aku tidak ada hak untuk marah denganmu. Aku bukan siapa-siapamu, Alex.”


“Kamu kekasihku,” sahut Alex dengan nada tegas.


Eiren tertawa kecil. “Iya dan sebentar lagi akan menjadi mantan.”


Alex menggeleng dan menatap Eiren dengan pandangan serius. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memutuskanmu,” tegasnya dengan pandangan yang tidak main-main.


Eiren menghela napas pelan dan menatap Alex memohon pengertian. “Alex, kamu sudah memiliki tunangan.”


“Tetapi aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai kamu. Perjodohan ini hanya keputusan orang tuaku. Jadi, aku mohon tunggu aku sampai semua urusan ini selesai. Percaya padaku. Aku akan segera kembali,” jawab Alex dan memeluk Eiren erat.


Eiren yang berada dalam pelukan Alex hanya diam dan tidak berniat membalas pelukan tersebut. Dia hanya ingin meresapi setiap kebersamaan dengan orang yang dicintainya.


Kamu menyuruhku menunggu, Alex? Apa aku bisa percaya jika suatu saat nanti kamu kembali lagi padaku?, batinnya dengan perasaan perih yang mengiringi.

__ADS_1


_____


__ADS_2