Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 73_Eiren Sensitif


__ADS_3

“Mas, kamu gak mau beli oleh-oleh buat mama dan papa?” tanya Eiren sembari melirik ke arah Elio yang ada di belakangnya.


Elio yang masih sibuk menyisir rambut menghentikan gerakan tangannya dan menatap ke arah Eiren berada. Di sana istrinya tengah sibuk memasukan pakaian ke dalam koper. Ya, masa honeymoon keduanya memang sudah berakhir dan hari ini adalah jadwal penerbangan ke kota asal.


Eiren masih sibuk memasukan pakaian ketika dengan perlahan Elio mulai mendekatinya. Elio menatap Eiren dengan senyum tipis dan langsung mendekap istrinya erat, memberikan kecupan rinagn yang membuat Eiren tersentak kaget.


"Mas,” protes Eiren sembari menepuk lengan Elio kecil.


Bukannya melepaskan pelukannya, Elio malah semakin mengeratkan genggaman angannya di pinggang sang istri. Matanya menatap ke arah Eiren yang hanya diam dan sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Sampai wajah wanita menatap ke arahnya. Tepat di manik mata teduh milik Elio.


“Aku beruntung mendapatkanmu,” ucap Elio membuat Eiren langsung merona malu. Bibirnya mengulum senyum menatap suaminya yang masih saja memperhatikannya dari samping.


“Yakin beruntung? Bukannya dulu belain Firda dari pada aku,” sindir Eiren dengan senyum tipis, berusaha menggoda suaminya.


Elio yang mendengra seketika diam. Wajahnya berubah menjadi datar dan melepaskan pelukannya. Dia mulai membalikan badan dan menjauh. Eiren merasa heran dengan sikap suaminya segera meraih tangan Elio, membuat suaminya kembali menatap lekat ke arahnya.


“Mas, aku cuma bercanda,” ujar Eiren tahu bahwa suaminya tengah marah.


Elio menghela napas kasar dan menatap Eiren kesal. “Aku tidak mau kamu membahas mengenainya, sayang. Aku benar-benar sudah tidak mau ada nama Firda dalam hubungan kita,” tegas Eiren dengan mata berlikat penuh amarah.


Eiren menghela napas perlahan dan menatap Elio cemas. Dia memang berniat untuk bercanda saja, tetapi Elio menangkap hal lain dari ucapannya. Eiren meraih jemari Elio dan menggengganya erat. “Maaf, aku cuma bercanda, Mas,” cicit Eiren dengan wajah tertunduk.


Lagi pula memangnya kenapa jika mengenai Firda, batin Eiren mulai bertanya.


Elio yang melihat menghela napas kasar dan segera mendekap istrinya. Matanya masih menatap lurus dengan jemari yang menahan kepala Eiren untuk tetap berada di dadanya. Matanya terpejam, menikmati kebersamaan yang terasa begitu menenangkan untuknya.


Eiren membalas pelukan suaminya dengan rasa penuh penyesalan. “Maaf, Mas,” ucap Eiren karena tidak mendapat jawaban apa pun.


“Jangan sebut nama Firda lagi dalam hubungan kita, sayang,” jawab Elio dengan suara datar.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Eiren mulai penasaran. Bukankah hanya nama dan dia sendiri yang menyebutkannya. Jadi, tidak akan ada pertengkaran lagi dalam rumah tangganya.


Elio mengembuskan napas kasar dan melepaskan pelukannya. Matanya menatap Eiren dengan begitu lekat. “Karena aku tidak mau mengingat sakit setelah ditinggalkanmu. Aku hanya ingin bahagia bersamamu. Saat ini dan seterusnya,” jelas Elio dengan pandangan yang begitu menenangkan, membuat Eiren seketika menitikan air mata.


Eiren langsung berhambur memeluk Elio dan tersenyum bahagia. “Terima kasih untuk semuanya, Mas. Aku begitu mencintaimu dan maaf karena pernah pergi drimu,” ucap Eiren dengan suara tangis sesenggukan.


Elio hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Tuhan, sempurnakanlah keluarga kami dengan suara bayi mungil dari rahim istirku, batin Elio penuh permohonan.


_____


“Saka, Elio benar datang sekarang?” tanya Dinda dengan pandangan penuh antusias.


Saka yang melihat tingkah sahabatnya hanya mampu menghela napas kasar ketika melihat wajah Dinda jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Dia hanya menghela napas perlahan ketika mengingat Dinda yang ngotot ingin ikut dengannya menjemput Elio di bandara. Bahkan, larangan Saka juga tidak diperhatikan sama sekali.


Aku harap Eiren tidak akan salah paham, batin Saka dengan pandangan yang masih fokus menatap ke depan.


“Saka, jangan coba buat tipu aku, ya. Nanti aku adukan ke suamiku,” celetuk Dinda karena tidak mendapat sahutan dari pria tersebut.


“Apa? Kamu tega?” teriak Dinda membuat telinga Saka membengkak seketika.


Saka berdecak kesal menatap Dinda yang memandangnya dengan wajah dibuat terkejut. Namun, setelahnya Dinda tertawa keras dan memukul pelan legan Saka.


“Makanya kalau diajak bicara itu jangan diam saja. Aku kan cuma tanya apa benar Elio pulang hari ini?”


“Aku tidak akan mau menjemputnya kalau saja dia tidak menyuruhku, Dinda. Aku jauh lebih memilih mengerjakan tugasku di kantor,” jawab Saka dengan wajah bersungut kesal.


Dinda yang mendengar langsung mengangangguk dan menutup mulut rapat. Matanya sesekali menatap ke arah Saka yang masih begitu murung di sebelahnya. Rasanya dia menjadi penasaran dengan masalah pria tersebut. Namun, sekali lagi dia merasa enggan untuk mengetahui lebih lanjut.


Saka langsung membelokan mobil di bandara dan segera memarkirkannya. Dia tidak berniat untuk keluar dan hanya menunggu Elio dari dalam mobil. Tangannya sibuk mengetikan pesan yang memberitahukan keberadaannya.

__ADS_1


“Saka, kita gak turun?” tanya Dinda dengan wajah bingung.


Saka menatap Dinda dan mengangguk. “Tidak. Nanti juga Elio datang ke sini.”


Baru saja Saka menutup mulutnya, teriakan Dinda langsung membuatnya tersentak. Wanita tersebut sudah membuka pintu mobil dan keluar. Langkahnya semakin cepat menghampiri Elio dan Eiren yang masih melangkah dengan tangan saling menggenggam.


Dinda yang merasa begitu bahagia langusng berhambur memeluk Elio, menyalurkan rasa rindu yang terasa begitu menyesakan. Hanya rindu sebagai seorang sahabat dan tidak lebih.


“Elio, aku merindukanmu,” ucap Dinda sembari memeluk Elio erat, membuat genggaman tagan Elio terlepas.


Eiren menatap ke arah wanita tersebut dengan kening berkerut heran. Siapa wanita itu?


“Dinda,” ucap Elio dengan nada tidak percaya, “kamu di sini?” tanya Elio merasa terkejut.


Eiren yang mendengar membelalak. Bibirnya mulai tersenyum pedih melihat suaminya dalam dekapan wanita lain. Perlahan, dia mulai mendur, menjauhi Elio yang masih saja diam.


“Eiren,” teriak Saka yang baru saja keluar dari mobil dan menatap cemas.


Elio mulai tersadar dari alam bawah sadarnya dan menatap ke samping. Di sana sudah tidak ada Eiren lagi. Dinda juga menatap heran ke arah sebelah Elio. Terlebih wajah panik sahabatnya.


“Istrimu ke mana? Aku bahkan belum menyapanya,” ucap Dinda dengan wajah bingung.


Elio yang mendengar mendesah kesal dan mengetuk pelan puncak kepala Dinda. “Kamu tahu aku sudah menikah? Kenapa main peluk saja? Harusnya kamu tahu batasannya, Dinda,” gerutu Elio dengan wajah kesal.


“He? Memangnya salah aku memelukmu? Jadi maksudnya istrimu cemburu?” ujar Dinda dengan wajah terkejut. Sampai akhirnya dia berdecak kesal dan menatap Elio dengan pandangan mengejek. “Istrimu terlalu sensitif dengan banyak hal, Elio. Seperti orang hamil saja.”


Seperti orang hamil saja. Mendengar kalimat itu terlontar membuat Elio mengulum senyum bahagia. Memang akhir-akhir ini dia merasa Eiren terlalu sensitif tentangnya. Dengan cepat dia berbalik dan mengejar Eiren. Bibirnya tersenyum tipis menyadari fakta tersebut.


"Aku harap kamu benar hamil sayang,” ucap Elio sembari mengejar Eiren yang sudah keluar bandara lebih dulu.

__ADS_1


_____


__ADS_2