Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 78_Kenyataan


__ADS_3

“Dan aku sangat mencintamu, Feli. Sangat.”


Feli yang mendengar hal tersebut hanya diam dan terkekeh kecil. Matanya berkaca, bukan karena dia yang merasa bahagia, tetapi hatinya malah semakin sakit mendengar hal itu kembali terucap oleh pria di sebelahnya.


“Aku seirus, Feli,” tegas Saka dengan rahang tatapan lekat.


Feli menahan tawanya dan menatap tidak kalah serius pria di hadapannya. “Aku rasa sekarang kamu harus mencari cara lain, Saka. Kamu pikir aku akan percaya denganmu menggnakan cara yang sama?” ucap Feli dengan tatapan penuh kebencian.


“Sampai aku mati pun, aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan, Saka. Tidak akan,” lanjut Feli dengan mata melebar dan rahang mengeras.


Feli langsung membuka pintu mobil Saka dan melangkah keluar secepat kilat. Dia enggan mendengar apa yang akan Saka ucapkan selanjutnya. Hatinya sudah tidak tahan mendengar ucapan pria tersebut.


“Aku tidak mau mendengar apa pun dari mulutmu, Saka. Aku tidak akan mau mendengarnya lagi,” ucap Feli dengan air mata berlinang.


Saka hanya mampu menghela napas perlahan dan menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi. Matanya menatap Feli yang saat ini ada di hadapannya. Dia memang sengaja untuk tidak mengejar gadis tersebut karena dia sadar bahwa semua adalah kesalahannya.


“Apa aku melukaimu terlalu dalam, Feli?” gumam Saka dengan pandangan yang mulai mengabur karena air mata yang hendak mengalir.


“Andai kamu tahu, perasaanku masih saja sama seperti dulu, Feli. Aku tetap mencintaimu,” ujar Saka yang sudah menunduk pedih.


Saka masih ingat bagaimana air mata Feli mengalir untuk pertama kalinya. Dia masih begitu ingat dengan teriakan penuh kebencian yang keluar dari mulut indah Feli. Ya, dia masih begitu ingat dengan kejadian yang hampir dua tahun terjadi. Hari di mana dia menjadi kehilangan cinta dan juga hidupnya. Dia kehilangan Feli hingga saat ini.


Saka, jangan berikan aku padanya. Aku tidak mau.


Kurang ajar kamu Saka. Kamu pikir aku barang yang bisa kamu pindah tangankan?


Selamanya aku akan mengingat sakit ini. aku membencimu dan aku tidak mau melihatmu lagi.


Aku membencimu, Saka. Sangat.


“Sebesar apa pun kamu membenciku, nyatanya aku tidak bisa melupakanmu, Feli. Aku tetap mencintaimu dan sangat,” oceh Saka seorang diri.


Saka menarik napas perlahan dan mengembuskannya pelan. Dia mulai melajukan mobilnya, meningalkan jalanan. Dia hanya melewati Feli yang tengah berjalan pelan di trotoar. Saka melihat gadis tersebut dari spion dan membuang tatapan lelah.


“Aku rasa aku memang sudah terlalu melukaimu, Feli. Mungkin sepantasnya aku membiarkanmu hidup seperti keinginannmu.”


_____


Feli menyusuri jalanan dengan langkah pelan ketika mobil Saka melintas di sebelahnya. Matanya mengamati mobil yang bahkan tidak berhenti dan menyapanya.


Apa yang kamu harapkan sebenarnya, Feli. Dia tidak akan pernah mengurusimu, batin Feli dengan air mata mengalir seketika.


Perlahan, dia mulai menyentuh dadanya yang terasa sakit. Matanya masih menatap mobil Saka yang sudah berlalu semakin jauh hingga tidak terlihat. Feli menarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. Berulang kali hingga hatinya mulai membaik.

__ADS_1


“Kamu harus tegar, Feli. Dia tidak pernah mencintaimu. Dia tidak pernah tulus dengan perasaannya. Jadi, jangan pikirkan dia,” ucap Feli memberi sugesti.


Feli baru akan melangkah ketika mobil lain berhenti tepat di depannya. Matanya mengamati pemilik mobil yang teras asing baginya. Sampai pintu tersebut terbuka, menampilkan sosok yang sangat dikenalnya.


“Frengky,” gumam Feli dengan mata membelalak.


Frengky yang baru saja keluar menatap Feli dengan senyum ramah. Dengan cepat menutup pintu dan melangkah mendekati Feli yang masih terpaku di depannya.


“Apa kabar, Feli? Sudah lama aku tidak bertemu denganmu,” kata Frengky dengan wajah ramah.


Feli tersenyum, menutupi rasa terluka yang sempat menghampirinya. “Baik. Bagaimana denganmu?”


“Aku baik.”


Hening. Tidak ada yang memulai percakapan diantara keduanya. Feli hanya sibuk dengan pikirannya yang entah melayang ke mana. Dia masih bingung dengan kehadiran pria yang saat ini bediri di depannya. Padahal, sudah sangat lama dia tidak melihat sahabat Saka yang satu ini.


Frengky berdehem sejenak dan menatap Feli dengan pandangan lekat. “Bagaimana hubunganmu dengan Saka? Apa sudah membaik?” tanya Frengky dengan mata menatap Feli lekat. Pasalnya, dia melihat setitik air mata yang masih tersisa di sudut mata Feli.


“Apa air mata itu juga karena ulah Saka?” lanjut Frengky menebak.


Feli yang mendengar langsung mengusap sudut matanya dan tersenyum tipis. “Aku rasa itu adalah urusanku dengannya, Frengky. Jadi, aku harap jangan menanyakan hal yang bersifat pribadi.”


Frengky yang mendengar tertawa kecil dan menatap Feli lembut. “Maaf jika aku terlalu ikut campur dengan urusan kalian. Aku hanya merasa dia terlalu mencintaimu. Jadi, aku pikir kalian akan segera menikah, tetapi sampai saat ini kalian masih saja tidak memberiku undangan,” jelas Frengky dengan tawa kecil.


“Apa maksudmu?” tanya Feli dengan kening berkerut heran. Dia tidak mengerti maksud ucapan Frengky.


“Saka mencintaiku? Jangan konyol Frengky. Dia tidak mencintaiku sama sekali dan asal kamu ingat, aku masih tetap membencinya sejak dia menjadikanku bahan taruhan,” tegas Feli dengan mata menatap tajam. Dia segera melangkah meninggalkan Frengky yang masih terdiam, sampai sahutan pria tersebut menghentikan langkah Feli.


“Apa pengorbanan Saka merebutmu dariku tidak juga membuatmu melupakan masalah itu, Feli?” celetuk Frengky sembari berbalik dan menatap Feli lekat.


“Apa maksudmu?”


“Ya, bukan aku yang melepaskanmu, tetapi Saka yang berusaha keras menyuruhku melepaskanmu. Aku tidak sebaik itu jika saja Saka tidak berlutut dengan air mata berlinang hanya untukmu,” jelas Frengky membuat Feli membelalak kaget. Matanya menatap pria yang ada di hadapannya dengan wajah tidak percaya.


_____


“Sayang, mau sampai kapan kamu duduk dan tidak tidur? Sekarang sudah pukul sebelas malam dan kamu harus tidur,” ucap Elio sembari menatap Eiren yang masih duduk di ranjang dengan wajah berpikir.


Eiren menatap ke arah Elio dengan tatapan kesal. Sejak tadi suaminya terus saja mengomel dan menyuruhnya untuk tidur. Padahal, dia sendiri merasa belum mengantuk. Pikirannya masih melayang entah ke mana.


“Sayang,” panggil Elio yang pada akhirnya ikut duduk di dekat Eiren. “Apa yang mengganggu pikiranmu sekarang? Bahkan sampai membuatmu tidak tidur malam ini.”


Eiren menghela napas perlahan dan menatap suaminya dengan pandangan kesal. “Mas, bisakah kamu diam sebentar? Aku tengah berpikir sejenak,” ujar Eiren dengan decihan kesal.

__ADS_1


“He? Kamu tidak suka aku perhatikan?” jelas Elio dengan tatapan tersinggung.


Eiren menarik napas dan mengembuskannya lelah. Matanya menatap ke arah Elio yang sudah memandang lekat. Perlahan, jemarinya mulai mengelus pelan rahang keras suaminya dan tersenyum perlahan.


“Bukan begitu, Mas. Aku sangat suka kamu memperhatikanku. Apalagi kamu sangat sayang denganku. Tetapi, sekarang aku masih banyak pikiran. Aku memikirkan mengenai Saka dan juga Feli. Apa mereka baik-baik saja?” jelas Eiren tidak mau membuat Elio salah paham.


Elio mengerti apa yang dipikrikan istrinya. Dengan perlahan, dia menarik Eiren ke dalam pelukannya dan mengelus pelan puncak kepala istrinya. “Sayang, jangan terlalu memikikan apa yang sedang mereka jalani. Biarkan saja mereka mennetukan apa yang akan dilakukan nanti. Lagi pula dari pada kamu pusing memikikan mereka, akan jauh lebih baik kamu memikirkanku. Setidaknya kamu tidak akan pusing dan membuang waktu percuma,,” ucap Elio sembari mengulum senyum.


Eiren yang mendengar menepuk pelan dada suaminya dan menatap dengan senyum tipis. “Jangan bercanda, Mas. Aku benar-benar serius.”


“Aku jugavsangat serius, sayang. Aku bahkan selalu memikirkanmu,” jawab Elio sembari mencubit pelan hidung mancung Eiren.


Eiren mendongak dan menatap suaminya dengan senyum bahagia. “Jangan gombalin orang hamil, Mas. Nanti anaknya nurun kayak kamu loh jadinya.”


Elio yang mendengar mendekap Eiren erat dan tersenyum bahagia. “Tidak masalah, aku akan membuat Elio junior yang banyak supaya kamu selalu teringat denganku.”


Eiren yang mendengar seketika tertawa. Dia mulai menikmati kehidupan barunya bersama dengan Elio. Ya, kehidupan yang terasa begitu sempurna. Sampai akhirnya, dia menatap kembali suaminya dan tersenyum.


“Mas, bagaimana dengan kuliahku?” tanya Eiren teringat dengan study yang sudah ditinggalkannya.


“Hancur,” jawab Elio santai.


Eiren berdecak kesal dan menatap suaminya yang sudah tertawa kecil. Elio yang melihat istrinya sudah merajuk tersenyum dan mengecup pelan bibir merah yang sudah dimanyunkan.


“Kamu maunya gimana, sayang? Kamu mau melanjutkannya? Kalau memang iya, besok kita bisa ke kampus dan kamu melanjutkan kembali kuliahmu.”


“Tetapi aku sudah lama tidak berangkat, Mas,” ucap Eiren dengan mata menyelidik.


“Teanng saja, sayang. Aku sudah membuatkan surat cuti untukmu ketika kamu meninggalkan kami semua. Aku percaya kamu masih hidup dan akan kembali lagi kepadaku.”


Eiren yang mendengar seketika berkaca. Tangannya melepaskan elukan Elio dan menatap suaminya lekat. Dengan cepat, Eiren berhambur dan memeluk Elio erat.


“Terima kash karena percaya aku masih ada. Terima kasih karena sudah menungguku dan terima kasih untuk setiap warna yang kamu berikan. Aku mencintaimu,” ucap Eiren dengan air mata bahagia yang langsung mengalir.


Elio yang mendengar hanya diam dan mengeratkan pelukannya. Dia senang jika pada akhirnya Eiren sudah mau menerima sepenuhnya.


“Sayang, nanti kalau kamu di kampus jangan deket sama cowok ya,” bisik Elio dengan mata memejam.


“Kenapa?” tanya Eiren dengan mata melirik Elio.


Elio melepaskan pelukan istrinya dan menatap dengan wajah kesal. “Kamu masih bertanya kenapa, sayang? Apa kamu lupa kalau kamu sudah memiliki suami dan aku tidak suka jika kamu dekat pria lain? Kalau sampai ada pria yang berani mendekatimu, aku pastikan besok dia akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan melihat dunia."


Eiren yang mendengar terkikik kecil dan memeluk suaminya kembali. “Iya, Mas. Aku tahu. Aku juga tidak berniat dekat dengan pria lain selain kamu,” jawab Eiren dengan senyum sumringah.

__ADS_1


Dasar Mas Elio, batin Eiren tidak percaya dengan sikap Elio yang masih masih saja menyebalkan.


_____


__ADS_2