Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 57_Aku Ingin Pergi


__ADS_3

Rumah sakit? Eiren mengerutkan kening heran ketika menyadari tempat yang didatangi Elio kali ini adalah rumah sakit. Matanya menatap pria tersebut sudah mulai keluar mobil dan melangkah tergesa. Hal yang sama dilakukan Eiren tanpa pikir panjang. Dia merasa, ada jawaban untuk semua pertanyaannya.


Siapa yang di rumah sakit?, batin Eiren dengan langkah cepat.


Eiren menghentikan langkah dan bersembunyi di balik tembok ketika melihat Elio menghentikan langkah. Dengan perlahan, dia mulai mengintip dan melihat Elio mulai membuka pintu.


“Siapa yang sakit,” ucap Eiren sembari keluar dari persembunyian dan segera melangkah mendekat. Jantungnya berdegup kencang ketika langkahnya sudah semakin dekat dengan ruangan tersebut.


Eiren berhenti tepat di depan pintu kayu dengan sedikit kaca di tengah. Pandangannya beralih menatap siapa yang ada di dalam sana karena Elio dan Rega tengah menutupinya. Tanpa sadar, tangannya menekan knop pintu hingga terbuka sedikit.


Eiren menghela napas perlahan ketika rasa penasarannya tidak juga terjawab. Dia akhirnya memilih menyerah dan akan melihatnya lagi nanti, ketika Elio dan Rega sudah pergi. Namun, baru saja kakinya hendak meninggalkan tempatnya, sebuah ungkapan membuatnya diam dan kembali menatap Elio dengan pandangan lekat.


“Kamu pernah mencaintai Firda, Elio. Aku rasa tidak akan sulit bagimu mencintainya kembali. Sedangkan dengan Eiren, kamu baru mengenalnya. Kamu bisa melupakan dia dan bersama dengan Firda kembali. Lagi pula kamu berniat menikahinya karena kalian sudah tertangkap tidur bersama oleh om Abian, kan? Kamu menikahinya hanya karena kamu tidak mau membuat keluarga malu dan dengan begitu, kamu akan tetap mendapat harta dari om Abian sepenuhnya.”


Eiren mengerutkan kaning bingung. Apa maksud ucapan Rega kali ini? Rasanya dia semakin penasaran dengan kenyataan lain yang mulai hinggap.


“Aku tahu itu karena tanpa sengaja mendengar ucapan kalian waktu itu. Aku tahu, kamu tidak pernah mencintainya, Elio. Jadi, kamu bisa lepaskan Eiren karena sekarang om Abian akan merestuimu dengan siapa pun nantinya. Dia akan tetap menyerahkan hartanya meski kamu tidak menikahi Eiren.”


Praangg...


Eiren mundur satu langkah dan tanpa sadar menabrak perawat yang tengah melintas di belakangnya, membuat nampan stainless yang dibawa terjatuh. Matanya menatap pria yang sudah menatapnya dengan pandangan kosong. Hatinya hancur. Matanya memanas, mengeluarkan cairan bening yang membuatnya merasa begitu terluka.


“Eiren,” panggil Elio pelan.


“Jadi selama ini aku hanya dijadikan alat untuk sebuah permainan?” ucap Eiren tidak kalah pelan. Eiren menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Matanya masih menatap Elio datar. “Selama ini aku pikir kamu memang berniat menikahiku, Elio. Aku awalnya kecewa dan berpikir semua karena malam itu, malam di mana kamu merebut kesucianku. Tetapi, aku semakin hancur ketika mengetahui alasanmu menikahiku hanya karena harta.”


“Eiren, aku bisa jel....” Elio menghentikan langkahnya yang hendak mendekat ke arah Eiren.


Eiren sudah memberikan peringatan agar Elio berhenti dan menatap dengan rahang mengeras. “Aku salah berpikir tentangmu, Elio. Sekarang aku merasa, kamu jauh lebih kurang ajar dari Alex. Aku benar-benar menyesal telah mengenalmu selama ini, Elio. Aku menyesal dan aku berharap tidak akan bertemu denganmu. SELAMANYA,” tegas Eiren dengan air mata berlinang.


“Eiren.” Elio segera melangkah cepat ketika matanya menangkap Eiren yang sudah berlari keluar rumah sakit.


Eiren mengabaikan tatapan dari para pengunjung rumah sakit dan keluar dengan keadaan kacau. Hatinya benar-benar hancur menyadari fakta bahwa dirinya memang tidak diharapkan. Dengan cepat dia segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikan dengan cepat.


“Kurang ajar kamu, Elio. Kurang ajar!” teriak Eiren dengan emosi menggebu. Dia bahkan mengabaikan jalanan ramai dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jemarinya meremas keras setir mobil.

__ADS_1


“Pergi darimu adalah pilihan terbaik, Elio. Akan aku tunjukan bagaimana kepergian yang sebenarnya,” gumam Eiren dan langsung meningkatkan kecepatannya.


_____


“Sial,” geram Elio ketika mengikuti Eiren dari belakang. Suasana ramai membuatnya cukup sulit mengikuti gadis tersebut. Ditambah dengan Eiren yang mulai ugal-ugalan. Bahkan, tidak jarang Eiren hampir menyerempet mobil lain.


“Aku tahu, dia pasti marah besar kali ini,” ucap Elio yang langsung mengambil ponselnya.


Elio menekan nomor Eiren dan segera menghubungi gadis tersebut. Namun, yang terdengar hanyalah suara operator. Eiren mematikan ponselnya dan tidak menanggapinya sama sekali. Hal yang membuat Elio menatap mobil yang sudah melaju dengan cepat di depannya.


“Apa yang kamu pikirkan, Eiren,” gumam Elio dengan wajah cemas. Jemarinya masih sibuk menekan layar dan menghubungi seseorang. Setelah tersambung, dia segera mendekatkan ponsel dengan fokus yang mulai terbagi.


“Halo, Bos,” sapa seseorang dri seberang.


“Halo, Roby. Hentikan mobil di depan. Itu adalah Eiren dan dia bisa celaka jika terus mengemudi seperti itu,”perintah Elio dengan tegas.


“Baik, Boss. Akan saya laksanakan.”


Elio mematikan panggilan dan meletakan ponselnya di kursi sebelahnya. Dia kembali fokus menatap ke depan, sampai sebuah kendaraan besar berada tidak jauh dari mobil Eiren. Dengan kecepatan di atas rata-rata, dia mencoba mengejar Eiren dan membunyikan klakson, tetapi mobil Eiren tidak juga melambat.


Elio baru akan menambah kecepatan ketika suara dentuman keras membuatnya menghentikan kendaraan. Matanya membelalak dan menatap dua mobil di depannya. Jantungnya terasa berhenti berdetak ketika salah satu diantara mobil tersebut berada di ujung jurang dengan kondisi mengenaskan.


“Eiren,” teriak Elio yang langsung keluar. Matanya sudah berkaca menatap mobil Eiren yang rusak parah.


Elio baru akan mendekat ketika sebuah kejadian lain datang tepat di depan matanya. Eiren seakan sengaja membuat mobilnya bergerak dan mulai hilang keseimbangan.


“Eiren.” Elio segera berlari dan berniat menyelamatkan Eiren. Tetapi, semua terlambat ketika mobil tersebut mulai terjun ke bawah, meninggalkan dataran dengan perasaan tenang.


“Eiren,” teriak Elio ketika mobil Eiren sudah tidak tampak sepenuhnya. Kakinya melemas, tetapi dengan susah payah dipaksakan untuk bergerak. Dia mendekat dan menatap ke arah mobil Eiren pilu.


“Eiren,” panggil Elio dengan seluruh tenaga yang dimilikinya.


Elio baru bersiap untuk turun ketika sebuah tangan menahannya, membuatnya menatap ke belakang dengan keadaan kacau.


“Bos, jangan turun. Di bawah berbahaya,” ucap Roby dengan wajah tegang.

__ADS_1


“Lepas, aku akan menyelamatkan Eiren,” tegas Elio dengan rahang mengeras.


"Eiren tidak mungkin selamat, Boss. Aku rasa sekarang dia sudah tidak mungkin bisa hidup,” ucap Roby tahu bahwa bossnya masih begitu kacau.


“Eiren tidak boleh meninggalkanku,” desis Elio dengan mata berkilat amarah.


Duuuaarrr...


Elio yang mendengar menegang seketika, dia segera berbalik dan menatap ke sumber suara. Tubuhnya langsung merosot melihat api yang sudah berkobar di bawah sana. Air matanya menetes dengan begitu saja.


“Eiren,” teriak Elio dengan nada pilu, membuat Roby yang ada di sana hanya bisa diam menunduk. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya kali ini.


_____


Farah menatap jalanan macet yang ada di hadapannya. Dengan tidak sabar dia langsung turun dari mobil suaminya dan segera melangkah mendekat. Setelah mendapat kabar duka dari Roby, dengan cepat dia datang dan ingin melihat anaknya.


Farah menyisir kerumunan dengan mata berbinar. Air mata yang sejak tadi menggenang semakin tidak tertahan ketika melihat anaknya terduduk di aspal dengan keadaan kacau. Dengan tergesa dia menghampiri Elio yang masih begitu shock dengan kejadian tersebut.


“Elio,” panggil Farah dengan nada lembut.


Elio yang masih merasa kacau menatap ke arah mamanya dan menghela napas pelan, hingga dekapan lembut menyapanya. Elio memejamkan mata, mengingat bahwa Eiren yang sudah tidak lagi ada.


“Sayang, kamu harus kuat,” ucap Farah sembari memeluk anaknya.


“Eiren tidak pergi, Ma. Eiren masih hidup. Aku yakin itu,” ucap Elio dengan harapan semua keyakinannya memang benar.


Farah menghela napas perlahan dan tersenyum pilu. “Sayang, relakan dia. Dia sudah tenang di atas sana. Kita harus menerima kenyataan bahwa dia sudah tidak ada lagi diantara kita,” nasihat Farah dengan nada pelan.


Elio melepaskan pelukannya dan menggeleng keras. “Tidak, Ma. Elio yakin Eiren masih hidup. Elio belum mengatakan bahwa Elio benar-benar mencintainya.”


Farah yang mendengar menghela napas dan menitikan air mata. Rasanya dia akan melihat kondisi Elio yang buruk seperti dahulu. Menyadari hal tersebut, hatinya sekaan tercubit sakit ketika mengingatnya.


Elio bangkit dan menatap mobil Eiren yang sudah tidak lagi sama. Jemarinya menghapus air matanya pelan, menghela napas untuk menenangkannya. “Aku yakin kamu masih hidup, Eiren. Aku bahkan tidak bisa membiarkanmu pergi. Aku belum memberimu izin untuk itu,” gumam Elio dengan penuh keyakikan.


_____

__ADS_1


Hai-hai sayangkuh. Kim mau tanya dungs, kalau Kim update Wedding Drama 2 kalian mau baca gak? Rencananya sih sudah lama cuma belun di upload aja karena ada masalah. 😂😂😂


__ADS_2