Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 95_EXTRA PART 1


__ADS_3

Tujuh tahun kemudian


“El, bangun,” teriak Eiren yang tengah berada di ruang makan dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Sudah sejak satu jam dia memangil putra semata wayangnya, tetapi tetap tidak mendapat jawaban apa pun. Bahkan, setiap pagi dia harus berteriak memanggil putranya turun.


“El,” teriak Eiren untuk kesekian kalinya. Tangannya masih sibuk memberikan selai dan juga menuangkan susu untuk anak dan suaminya.


“Kenapa teriak, sayang?” tanya Elio yang baru saja datang dan memeluk istrinya erat. Memberikan kecupan pagi di pipi sang istri. Seperti kebiasaannya selama ini.


“Pagi, Mas,” sapa Eiren dan menatap Elio lekat. Memberikan kecupan ringan yan membuat Elio tersenyum tipis.


“El belum bangun?” tanya Elio dengan suara tepat di telinga istrinya.


Eiren yang mendegar berdecak kesal dan menatap suaminya pasrah. “Aku pasrah, Mas kalau harus membangunkannya setiap pagi. Dia terlalu sulit dikasih tahu, sama seperti kamu,” jawab Eiren sembari mencubit pelan hidung lancip suaminya.


Elio yang mendengar hanya terkekeh kecil. Tangannya mulai melepaskan pelukannya dan menghela napas kasar. “Biar aku yang membangunkanya,” ujar Elio penuh percaya diri.


“Tidak perlu, Pa. El sudah datang.”


Elio yang mendengar langsung menatap ke arah anaknya yang sudah melangkah menuruni tangga. Matanya menatap ke arah Elard, putra semata wayangnya lekat. Sampai wajah mungil anaknya mulai menatapnya dengan seyum tipis.


“Pagi, boy,” sapa Elio sembari mendudukan diri, menyamakan dengan tubuh anaknya yang benar-benar terlihat seperti pahatannya. “Jadi, apa yang membuat anak papa ini selalu sulit untuk bangun pagi?” tanya Elio dengan pandangan lekat.


“Pa, El sudah bangun sejak pukul enam. El harus bersiap untuk berangkat ke sekolah dengan penampilan rapi. Kalau tidak, anak di sekolah akan menjauh dari El,” jelas bocah kecil di depannya.


“He, siapa yang berani menjauh dari anak mama?” sahut Eiren dengan mata menatap lekat.


“Ada deh,” jawab El santai dan mengulas senyum tipis. Mengabaikan tatapan bingung dari kedua orang tuanya. Perlahan, dia memilih naik ke salah satu kursi berseberangan dengan kedua orang tuanya dan mengunyah sarapannya santai.


“El, bagaimana dengan sekolahmu? Ada masalah?” tanya Eiren dengan tatapan mengamati.


“Semyuanya baik, Ma. El tetap jadi juara kelas dan tidak ada yang berani dengan El,” jawab bocah berusia tujuh tahun tersebut santai. “Dan jangan lupa, mama dan papa harus datang ke pesta sekolah dan menyaksikan El menari. El sudah memberikan undangannya sejak satu mingu yang lalu.”


Elio yang mendengar menepuk keningnya pelan. Dia melupakan hari penting untuk anaknya.

__ADS_1


“Papa lupa?” tanya El seakan mengerti ekspresi papanya.


Elio menatap Eiren yang hanya mengangkat bahu ringan dan beralih menatap sang anak. “Tidak, sayang. Papa ingat.”


“Bagus. Jadi, semuanya harus datang sore ini,” tegas El dengan senyum sumringah.


“Tentu, sayang. Kamu akan datang,” ujar Eiren sembari menatap Elio lekat. Dia tahu, suaminya pasti memiliki jadwal lain.


Suasaa di ruang makan kembali hening. Sampai semuanya selesai sarapan dan mulai menghantar El sampai di gerbang rumahnya. Membiarkan putranya berangkat dengan sopir yang memang khusus untuknya.


“Aku rasa aku harus mengatur ulang jadwalku, sayang,” kata Elio dengan tatapan kesal.


“Sabar, sayang,” jawab Eiren sembari mengulas senyum tipis. Tangannya mengelus lengan Elio yang sudah mendekapnya erat.


______


Suara tepuk tangan meriah membuat gerakan seorang bocah kecil di panggung berhenti. Elard Cetta, putra pertama Adelio Cetta tengah menundukan tubuh dan mengulas senyum menawan, membuat beberapa teman satu sekolahnya menatap dengan terpana.


Eiren menatap ke arah bocah di dekatnya dengan kening berkerut. Rasanya benar-benar berbeda dengannya dulu. Bahkan, di jamannya tidak ada anak wanita yang secentil di dekatnya. Namun, Eiren mengabaikannya dan menatap ke arah panggung, di mana El sudah mulai melangkah menjauh.


“Putra kita luar bisakan, sayang?” bisik Elio sembari mengecup pelan pipi istirnya.


“Sangat, Mas,” jawab Eiren sembari menidurkan kepalanya di pundak Elio. “Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku, Mas. Terima kasih karena sudah sabar menungguku dan bahkan terima kasih karena kamu tetap memiliki keyakinan disaat aku pergi. Terima kasih untuk semuanya. Bahkan jika harus membayar, aku rasa aku tidak akan bisa membayarnya”


Elio yang mendengar mengulas senyum tipis dan mengelus pelan wajah istrinya. “Kamu hanya perlu tetap di sisiku sayang. Itu sudah cukup sebagai bayaran atas semua perjuanganku,” jawab Elio dengan tawa kecil.


Eiren yang mendengar mendongak dan menatap suaminya lekat. “Aku bahkan sudah tidak berpikir akan meninggalkanmu, Mas.”


“Bagus,” sahut Elio cepat. Matanya menatap Eiren yang masih tersenyum kecil. “Mau masuk dan mengucapkan selamat untuk putra kita?”


Eiren yang mendengar langsung mengangguk dan mengikuti langkah Elio yang mulai bangkit dan menuntunnya keluar dari bangku pengunjung. Hanya berbicara denga salah satu guru yang sudah mengenal mereka dan akan dengan mudah masuk menemui anaknya.


Eiren mengucapkan terima kasih ketika sudah sampai di belakang panggung. Tugasnya hanya satu, mencari ke mana Elard berada. Namun, baru saja dia hendak melangkah, matanya menatap sosok yang tidak asing untuknya tengah menerima banyak sekali bunga dari teman satu sekolanya.

__ADS_1


“Bukanka itu anak kita, Mas?" tanya Eiren dengan tatapan tidak percaya.


Elio yang mendengar mengangguk dan mendekap istrinya. “Bukankah dia sama sepertiku dulu? Banyak sekali penggemarnya,” celetuk Elio membuat Eiren kesal.


Eiren baru akan mendekat ke arah anaknya ketika seorang gadis kecil berhenti tepat di depannya dan mengulum senyum manis. “Queen,” panggil Eiren dengan senyum ramah.


“Apa kabar, Tante, Om?” tanya Queen dengan wajah ramah.


“Baik, Nak. Di mana papa Saka dan Mama Feli?” tanya Eiren tidak menemukan sahabatnya di tempat tersebut.


“Mereka ada di bangku penonton, Tante. Mama dan papa akan menjamput Queen setelah acara selesai,” jawab gadis tersebut dengan senyum senang.


“Ma, Pa.Kalian di sini?”


Eiren yang mendengar menatap ke asal suara dan melihat El yang tengah berjalan ke arahnya dengan banyak sekali bunga di tangan. Senyumnya masih saja terukir bahkan saat langkahnya terhenti tepat di depan orang tuanya.


“Kamu mendapatkan bunga lagi dari mereka?” tanya Queen membuat Eiren menatap ke arah anaknya lekat.


El yang baru sadar dengan kehadiran gadis di dekatnya hanya menatap dengan pandangan datar. “Tentu. Mereka itu fansku.”


“Bukan fans, El. Mereka itu hanya gadis bodoh yang selalu termakan dengan rayuanmu. Dasar playboy,” celetuk Queen dengan tatapan kesal.


“Lalu, apa masalahmu, Queen. Kamu cemburu dengan itu?”


Eiren yang mendengar pertengkaran keduanya hanya mampu menepuk kening pelan, membuat Elio yang menyaksikan tersenyum tipis.


“Sabar, sayang. Mereka anak kecil,” ucap Elio pelan.


“Mas, kenapa dia bisa mirip denganmu? Tidak mau mengalah dan suka sekali membuat orang lain kesal,” ujar Eiren terasa lelah.


Elio yang mendengar hanya menaikan kedua bahu ringan dan tertawa, membuat Eiren semakin kesal.


_____

__ADS_1


__ADS_2