Wedding With My Lecturer

Wedding With My Lecturer
Bagian 26_Perjanjian Konyol


__ADS_3

Elio mengacak rambutnya acak. Rasanya kali ini dia benar-benar merasa buntu. Papanya memiliki orang untuk memata-matainya. Belum lagi, kali ini dia melibatkan seseorang yang jelas belum lama dikenalnya. Eiren. Dia bahkan tidak menyangka sama sekali bahwa gadis tersebut akan ikut terlibat masalahnya.


“Sial. Sejak kapan Papa memata-mataiku,” geram Elio sembari memukul setirnya kuat.


Elio menatap jalanan di hadapannya dengan mata menatap nyalang. Satu-satunya yang dapat dilakukan agar Eiren tidak tampak buruk di mata papany adalah dengan menjadikannya kekasih. Namun, mengingat perlakuan Eiren setelah malam salah yang dilalui bersama, Elio sudah bisa memastikan bahwa gadis tersebut sudah sangat membencinya. Dapat dilihat dari wajah Eiren yang tampak datar ketika melihatnya.


Elio menghela napas keras. “Aku tetap harus mencarinya. Setelah aku memberikan pengertian, aku harap dia akan mau mengerti,” ucap Elio yang langsung menjalankan mobilnya


Elio segera melaju ke kosan Eiren. Mobilnya melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menembus jalanan yang begitu ramai. Hanya butuh lima belas menit untuknya sampai. Elio baru akan membunyikan bel yang sudah ada di gerbang ketika wajah yang menurutnya asing menurutnya. Namun, hal berbeda terjadi dengan gadis tersebut.


“Mr. Adelio. Anda di sini?” tanya Feli yang sudah tersenyum melihat kedatangan Elio.


“Bisa saya bertemu dengan Eiren? Saya ada keperluan penting dengannya,” ucap Elio tanpa menanyakan lebih lanjut mengenai siapa gadis di hadapannya.


“Maaf, Mr. Eiren sedang tidak ada di kosan. Dia bilang mau di rumah karena ada urusan,” jelas Feli dengan mata yang masih mengamati dosen di hadapannya.


“Baiklah, terima kasih,” ujar Elio langsung meninggalkan kosan Eiren.


Elio memutar mobilnya ke arah rumah Eiren. Pikirannya masih tidak tenang sebelum mengatakan semuanya kepada Eiren. Dia hanya merasa bertanggung jawab untuk kehidupan Eiren dan masa depannya. Bagaimana pun dia adalah satu-satunya orang yang salah ketika Eiren tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.


Butuh waktu sepuluh menit dengan kecepatan di atas rata-rata hingga akhirnya Elio sampai di rumah Eiren. Matanya menatap dua mobil yang sudah terparkir di sana. Orang tua Eiren ada di rumah rupanya, pikir Elio yang segera melangkah.


Elio baru akan mengetuk pintu ketika suara ribut terdengar dari dalam rumah. Tangannya yang sudah terangkat melayang di udara.


“Gara-gara kamu, Eiren pergi. Kamu sadar gak jadi seorang Mama yang gak baik untuknya."


“Jangan cuma nyalahin orang aja dong. Kamu juga salah. Cuma asyik kerja sama datangin selingkuhan. Sampai lupa kalau kamu punya keluarga yang butuh perhatian.”


Elio yang mendengar mendesah pelan. Dia memilih pergi menjauh dari pada mendengarkan pertengkaran keluarga yang bukan menjadi urusannya. Dia juga tidak berusaha mencari Eiren karena dia tahu jawabannya. Eiren tidak di rumah.


Elio segera melajukan mobilnya kembali. Tidak tahu di mana dia akan melangkah. “Ke mana kamu, Eiren?” ujar Elio dengan anda frustasi.

__ADS_1


Elio merasa pertunya seperti berontak karena sejakkeluar dari kantor papanya, dia belum mengisi perut sama sekali. Cacing di dalam perutnya tengah menagadakan konser besar-besaran. Terpaksa, Elio membelokan mobilnya dan masuk ke dalam restoran yang tidak begitu besar. Hanya restoran kecil dan jarang disingahinya.


Elio segera mematikan mesin mobil dan segera melangkah masuk. Baru membuka pintu, matanya disajikan dengan papan menu. Ketika dia mulai mencari tempat, matanya menatap seseorang yang sejak tadi berada di pikirannya. Tanpa membuang waktu, Elio langsung melangkah cepat mendatangi gadis tersebut.


“Eiren,” panggil Elio dengan mata mengamati gadis di hadapannya.


_____


“Eiren.”


Eiren yang merasa namanya terpanggil langsung mendongak dan menatap pria tingi di hadapannya. Awalnya dia datang untuk menenangkan pikirannya. Namun, setelah pria di hadapannya datang, perasaan tenang yang sempat dirasakan mulai menghilang. Eiren menghela napas panjang dan segera bangkit. Dia malas berurusan dengan Elio kembali.


Eiren baru akan meninggalkan tempat duduknya, tetapi Eio jauh lebih dahulu mencegah. Pria tersebut menggenggam, lengannya dengan erat.


“Lepas, Pak” desis Eiren dengan mata menatap tajam.


“Aku ingin berbicara denganmu,” ucap Elio dengna mata memohon, “sekali saja,” pintanya dengan pandangan lemah.


Sekesal dan semalas apa pun Eiren, dia tetapla Eiren yan tidak tega melihat seseorang memohon kepadanya. Eiren akhirnya memlih duduk kembali dan membuang wajahnya enggan menatap Elio.


“Apa yang mau Bapak katakan? Saya harus segera pergi,” ucap Eiren dengan suara dingin.


Elio yang mendengar menghela napas panjang dan menatap ke arah Eiren. “Bisa kamu panggil Elio saja? Aku merasa itu jauh lebih nyaman.


Eiren yang mendengar langsung menghembuskan napas panjang dan menatap Elio dengan perasaan malas. “Baiklah. Apa yang kamu ingin katakan?” tanya Eiren dengan wajah malas.


Elio langsung menempatkan diri di depan Eiren dan mengatur ekspresinya agar tampak lebih tenang. “Orang tuaku sudah tahu mengenai kita,” kata Elio memberi tahu.


Eiren mengerutkan kening dan menatap Elio bingung. “Kita? Aku dan kamu maksudnya? Memangnya apa yang terjadi dengan kita? Aku merasa tidak ada yang....” Eiren menghentikan ucapannya ketika Elio meletakan beberapa foto yang diambil dari kantong jasnya.


Eiren mengambil foto tersebut dan segera melihatnya. Wajah tenang yang sejak tadi ditunjukan langsung berubah seketika. Matanya membelalak dengan wajah berubah cemas. Matanya menatap Elio yang masih diam di depannya.

__ADS_1


“Apa-apaan ini, Elio? Kamu mencoba menjebakku?” ucap Eiren dengan suara ditekan dan menunjukan seluh emosinya.


“Tidak,” ujar Elio yang memang tidak tahu apa pun, “aku baru mendapatkannya hari ini. aku benar-benar tidak tahu mengenai foto itu. Bahkan kapan dan siapa yang mengambil pun aku tidak tahu.”


Eiren membanting foto di mana dirinya tengah menggoda Elio. Dia sendiri sudah susah payah mengilangkan kenangan malam itu. Namun, kini dia melihat secara langsung meski dalam sebuah foto.


“Ini alasan aku mencarimu. Papaku mengira kamu adalah wanita malam yang aku sewa untuk memuaskan hasratku,” ucap Elio lagi dengan wajah yang sudah menunjukan kecemasannya.


“Aku tidak peduli dengan pandangan papa kamu. Aku bahkan tidak mengenalnya,” desis Eiren dengan mata menajam. Dia memang tidak peduli dengan pandangan orang tua Elio karena dia sendiri merasa tidak peduli dengan kehidupannya. Namun, dia masih memiliki masa depan yang harus dicapai. Apa jadinya jika dia gagal dalam study-nya?


“Eiren, dengarkan aku. Aku akan bertanggung jawab dengan semuanya. Aku akan membersihkan nama baikmu di mata orang tuaku. Aku hanya perlu membawamu ke rumah orang tuaku dan mengenalkanmu sebagai kekasihku,” celetuk Elio dengan wajah serius.


Eiren yang mendengar langsung menatap Elio dengan pandangan tidak percaya. Pria di depannya menjadikan foto di hadapannya sebagai umpan agar dia mau menjadi kekasihnya? Eiren terkekeh kecil menyadari ucapan Elio yang terkesan melawak. Bagaimana dia bisa berpikir bahwa itu bukanlah kerjaan Elio?


“Aku tahu kamu memiliki kekasih. Tetapi, kita bsia melakukan hubungan ini perjanjian. Kita hanya berpacaran di bawah tanda tangan kontrak,” tegas Elio dengan mata menajam. Bagaimana pun, dia juga memiliki hal yang harus dipertahankan agar papanya tetap memandangnya baik.


_____


🌹🌹🌹🌹


Yuhu...jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote dan follow Kim.


Kim juga udah update cerita mengenai Bara, Dave, dan Alice loh. Judulnya "Relationship Goals". Kalau susah kalian bisa lihat di beranda Kim ya. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote ya.


Baca juga Wedding Drama. Jangan lupa tinggalkan like, comment, tambah ke favorit, vote. Karena Kim akan update beberapa part extra dan sedikit perbaikan.


Cus melaju deh sayang-sayang akuh. Selamat membaca dan jangan lupa kirimkan surat untuk Kim ya. Terserah deh di karya mana saja. Semua juga boleh hehehe


See you again sayang-sayangkuh. 😚😚😚


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2