
Eiren melangkah menjauhi kerumunan teman-temannya. Dia memilih untuk bersembunyi ke arah toilet. Tubuhnya sudah tidak dapat diajak untuk berkompromi karena panas yang menyerang. Rasanya seluruh bagian tubuh menjadi begitu sensitif meski hanya dengan gesekan yang dihasilkan oleh perbuatannya sendiri.
Eiren menahan mati-matian rasa yang mulai menjalar tiada henti. Namun, beberapa pria di belakangnya terus mengejar tiada henti. Sampai akhirnya, ketika Eiren sampai di pintu toilet dan hendak mengunci, kedua pria yang sejak tadi menguntit langsung mendobrak, membuat Eiren yang belum siap menjadi terdorong ke belakang.
Eiren menatap keduanya dengan mata membola. “Apah..apa yang mau kalian lakukan?” teriak Eiren dengan rasa takut yang menjalar. Pikirannya sudah berkecambuk tidak karuan.
“Kenapa, sayang? Kamu takut dengan kami? Padahal kamu sering menyapa jika bertemu,” ucap salah satu pemuda dengan badan tegap dan tubuh putih. Senyumnya merekah melihat Eiren yang sudah benar-benar tertangkap basah.
Eiren hanya diam dengan meremas tasnya erat. Perasaan yang semakin tidak karuan membuatnya benar-benar ingin melolong dengan sendirinya. Namun, sekuat mungkin dia akan tetap menahan. Dia enggan menunjukan hal seperti ini kepada siapa pun.
“Aku rasa kita akan bersenang-senang hari ini, sayang,” ucap pria lain yang memiliki tinggi jauh lebih rendah dari pria di dekatnya.
Eiren yang mendengar langsung membelalak. Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya. Kakinya melemas seketika dan sulit digerakan. Bahkan, ketika matanya menatap pria asing yang sudah melangkah mendekati. Rasanya dia ingin berteriak, tetapi suaranya begitu sulit dikeluarkan.
“Lebih baik kamu menurut, dari pada kamu nanti kena masalah,” ucap pria tinggi yang tidak juga menyebutkan namanya.
“Tolonghhh..jangan apa-apakan sayah,” ucap Eiren dengan suara mendesah yang ditahan.
Kedua pria yang melihatnya langsung tertawa keras dan menatap Eiren dengan penuh penghinaan, membuat Eiren yang sudah lemah hanya mampu menangis pasrah. Ini adalah perasaan menakutkan yang pertama kali dirasakan. Apa pun, tetapi jangan mengenai kehormatannya.
Tuhan, tolong aku, batin Eiren memberontak.
“Tolongmmmm...” suara Eiren hanya tertelan ketika seorang pria membekapnya dengan telapak tangan, membuat suara yang susah payah dikeluarkan menjadi tertelah.
“Jangan berisik, nanti seluruh kampus tahu,” bisik pria tinggi yang ada di depannya dengan seringai mesum.
Eiren hanya mampu menangis dan mulai memberontak, meski dengan gerakan ringan yang hanya sia-sia. Tenaganya hilang seketika saat pria tersebut sudah berjongkok di hadapannya dengan pandangan menjijikan.
Tuhan, tunjukan keadilanmu. Tunjukan jika memang kamu ada, batin Eiren mulai resah.
__ADS_1
Eiren hanya menutup mata dengan tetes air mata yang langsung mengalir deras ketika pria di hadapannya sudah berusaha mendekat. Namun, dia tidak merasakan apa pun. Telinganya seperti mendengar suara hantaman yang membuat matanya membuka.
“Menjijikan kalian semua,” desis pria yang ada di hadapan Eiren.
Eiren menghela napas lega meski badannya masih merasakan hal berbeda. Dia menatap pria dengan jas rapi yang tengah membelakanginya. Matanya menangkap siluet yang tidak asing untuknya.
“Tolongghhh,” desah Eiren sudah tidak tahan dengan rangsangan tidak langsung di tubuhnya.
_____
Elio melangkah menyusuri pesta dengan perasaan hampa. Malam ini, entah apa yang dirasakan, hatinya ingin sekali bertemu dengan Eiren. Namun, lama mencari tetap tidak menemukan. Elio menghela napas pasrah dan memilih untuk menghabiskan waktunya di taman kampus yang juga sudah dihias. Matanya menatap sekeliling dengan pandangan datar.
Elio meletakan minumannya dan melangkah ke toilet karena ingin memubuang air kecil. Tidak disangka, baru saja dia hendak masuk ke dalam toilet, sebuah suara wanita terdengar meski selanjutnya tidak terdengar lagi. Elio hanya mengabaikan dan terus masuk ek dalam. Setelah selesai dengan urusannya, dia kembali keluar. Namun, pendengarannya menangkap suara tawa beberapa orang pria.
“Di toilet wanita ada suara pria?” tanya Elio penasaran dan langsung menuju ke toilet wanita yang saat itu bersebelahan dengan toilet pria.
“Sial” geramnya dengan tangan mengepal dan langsung masuk ke dalam, melayangkan tinju kepada pria yang ada di depan Eiren sampai tersungkur. Sedangkan pria yang berada di samping Eiren langsung membelalakan mata tidak percaya dengan apa yang dilihat.
Elio menatap dengan amarah menggebu dan pandangan mematikan. Membuat pria yang menggeggam Eiren langsung melepaskan genggamannya dan segera kabur. Elio masih berdiri mematung dengan mata yang kembali memandang pria di hadapannya.
“Tolongghhh.”
Sebuah suara yang disertai dengan desahan membuat Elio menatap ke belakang dan mendapati Eiren tengah menatap dengan mata berkabur. Hatinya terasa hancur melihat gadis cantik di hadapannya tampak begitu mengenaskan.
Elio berdecih kesal dan mengangkat tubuh Eiren, mengabaikan suara mendesah Eiren yang masih terus terdengar. Langkahnya semakin cepat menuju ke rumahnya. Dia harus meminta tolong kepada Rega untuk memberikan pengobatan. Beberapa kali matanya menatap Eiren yang tampak begitu tersiksa.
“Elio, tolong aku. Panas,” keluh Eiren yang terus-terusan berusaha melepaskan pakaiannya, tetapi dicegah oleh Elio.
“Please, Eiren. Jangan buat aku melakukan kesalahan untuk malam ini,” pinta Elio dengan wajah penuh permohonan, tetapi tidak dihiraukan sama sekali.
__ADS_1
_____
Eiren masih terus merasakan panas dalam tubuhnya ketika Elio membawanya masuk ke dalam rumah besar dan meletakannya di ranjang besar sebuah ruangan. Bahkan tanpa sadar dia sudah bergerak seperti cacing yang kehilangan cairan. Matanya berkabur dan mulai kehilangan kewarasan.
“Eiren, tunggu sebentar,” ucap Elio dengan wajah panik.
Elio keluar dari ruangan dan mencari Rega. Langkahnya mulai membawa ke sebuah ruangan di rumahnya, tempat di mana biasanya Rega mengabiskan waktu. Jemarinya mulai mengetuk sampai seorang dengan pakaian putih muncul dan menunduk hormat kepadanya.
“Rega ada?” tanya Elio cepat.
“Maaf, Tuan. Nona Rega sedang kembali ke rumahnya dan akan kembali ke sini lagi besok,” jelasnya dengan wajah patuh.
Elio yang mendengar menggeram kesal dan segera kembali ke kamarnya. Dia harus memastikan bahwa Eiren masih baik-baik saja. Namun, baru dia membuka pintu kamar, Eiren sudah memeluk dan menyerangnya. Bibir tipis gadis tersebut menempel di bibirnya dengan sempurna dan berusaha menyesap habis rasa yang dimiliki.
“Eiren, kamu harus sadar,” ucap Elio sembari mendorong tubuh Eiren menjauh darinya.
“Elio, sentuh aku,” bisik Eiren sembari menjilat telinga Elio.
“Eiren, kamu akan menyesalinya besok pagi,” geram Elio menahan hasrat yang sudah memuncak.
Eiren seakan mengabaikannya dan terus menggoda Elio dengan segala cara. Matanya menatap Elio yang menahan dengan sekuat tenanga. “Aku tidak akan pernah menyesal,” ucap Eiren semakin menggoda.
Elio sudah membuang akal sehatnya dan malah mendorong Eiren tidur terlentang di ranjang. Matanya mengamati gadis yang sudah tertidur di bawahnya dengan senyum menawan. Dia mulai melakukan aksinya dan mencumbu seluruh bagian tubuh Eiren, membuat gadis tersebut berulang kali mencapai puncaknya. Sampai ketika benda pamungkasnya keluar dari sarang dan diletakan di bibir bagian bawah milik Eiren.
“Aku harap kamu tidak akan menyesal besok pagi, Eiren,” ucapnya sembari mendorong masuk senjatanya dan membobol dinding penghalangnya, hingga membuat cairan merah keluar.
Elio tidak menghentikan ucapannya dan masih terus mendorong masuk. “Setelah ini, kamu hanya milikku, Eiren. Bahkan Alex tidak akan bisa menyentuhmu,” ucap Elio sembari memaju mundurkan senjatanya di dalam lubang kenikmati Eiren. Sampai keduanya mencapai puncak yang membuat mereka merasakan nikmat.
_____
__ADS_1