
“Masih sibuk?” tanya Eiren ketika melihat Elio tengah membuka banyak berkas di hadapannya. Sudah sejak satu jam yang lalu dia berada di ruang kerja suaminya yang hanya diam dan membiarkannya membaca majalah serta buku mengenai kehamilan.
Elio yang mendengar ucapan Eiren segera mendongak dan menatap ke arah istrinya. “Sebentar lagi ya, sayang. Kamu mau ke mana setelah ini?” ucap Elio sembari menatap Eiren lekat.
Eiren diam sejenak dan tampak berpikir. Namun, setelahnya dia menatap Elio dengan wajah sumringah dan penuh antusias. “Aku mau ke cafe di mana ada pancake dan juga jus durian,” kata Eiren dengan penuh semangat.
Elio yang mendengar menghela napas perlahan dan mulai bangkit. Sejenak, dia mulai melangkah ke arah istrinya yang tampak bahagia. Sampai akhirnya, dia duduk di dekat Eiren.
“Sayang, kamu masih hamil. Jangan makan durian dulu, ya,” kata Elio takut ada masalah dengan kandungan istrinya.
Eiren yang awalnya bersemangat mulai terlihat lesu dan memberengut kesal. Entah kenapa dia jadi ingin makan durian. Padahal biasanya dia tidak akan pernah memakan durian karena menurutnya tidak enak sama sekali. Baunya terlalu menyengat dan juga membuatnya mual. Namun, saat ini dia sangat ingin memakannya.
Elio mengelus pelan puncak kepala istrinya dan tersenyum kecil. “Jangan cemberut, baby. Setelah melahirkan, aku janji akan belikan yang banyak,” kata Elio menenangkan.
Eiren berdecih kesal dan menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Matanya menatap ke arah lain dengan bibir yang sudah dimanyunkan. “Aku maunya sekarang, Mas.”
Elio menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Jemarinya mulai meraih tangan Eiren dan menggenggamnya erat, membuat Eiren yang tengah merajuk menatap ke arah Elio lekat.
“Sekali saja aku mohon. Jangan meminta hal yang tidak baik untuk kandunganmu, sayang,” kata Elio dengan nada suara pelan.
Eiren menatap Elio lekat dan terpaksa mengangguk. Matanya menatap Elio yang sudah tersenyum dan langsung memeluknya. Eiren merasa kesal, tetapi sebisa mungkin ditekan olehnya. Dia tidak mau membuat Elio menjadi banyak pikiran.
Elio masih asyik memeluk istrinya ketika dering ponsel mulai mengganggunya. Dengan perlahan, Elio menyambar ponsel di meja dan menatap nama yang tertera. Rega. Matanya menatap ke arah Eiren yang masih memandang dengan rasa penasaran.
“Kok malah dimatiin, Mas,” tanya Eiren ketika Elio mulai menolak panggilan tersebut.
Elio tersenyum tipis ke arah Eiren. “Gak penting,” jawab Elio enggan mengtakan bahwa yang menelfon adalah Rega. Dia juga sudah mengubah dering ponselnya menjadi mode diam.
Eiren kembali asyik berbincang bersama dengan Elio, menikmati waktu kebersamaannya. Bahkan, Elio tampak santai ketika melihat nama Rega tertera di layar ponsel. Dia tahu apa yang akan dikatakan oleh sepupumya di seberang.
__ADS_1
_____
Rega mendengus kesal ketika panggilan yang kesekian kali sudah diabaikan oleh Elio. Berulang kali dia bahkan sudah berusaha menghubungi sepupunya, tetapi hasilnya sama. Elio seperti tidak peduli sama sekali dengan urusannya.
“Ini orang ke mana sih. Susah banget dihubungi,” gumam Rega dengan tangan meremas keras ponselnya.
Rega menatap ke arah ranjang, tempat di mana Firda tengah bebaring dengan mata terpejam. Tangannya sudah diperban karena hal bodoh yang lagi-lagi dilakukan olehnya. Firda kembali melukai dirinya ketika mendengar kabar tentang pernikaah Elio dan Eiren yang termuat dalam surat kabar.
“Aku merasa Elio memang sudah berubah,” ujar Rega dengan perasaan kesal.
Rega menghela naps perlahan dan melangkah ke arah Firda berada. Perlahan, dia mulai duduk di tepi ranjang, menatap Firda yang masih tertidur nyenyak. Matanya mengamati wajah tirus yang tidak terawat dengan benar.
“Andai saja dulu kamu bilang dengan Elio. Dia tidak akan pernah meninggalkanmu hanya untuk seorang Eiren, Firda,” kata Rega sembari menatap Firda lekat.
Rega baru akan mengatakan sesuatu kepada Firda ketika ponselnya mulai berdering, menampilkan nama Elio yang ada di layar. Rega memilih menyingkir dan meninggalkan kamar Firda.
Firda yang sejak tadi sudah terbangun mulai membuka mata perlahan ketika terdengar suara pintu tertutup. Setitik air mata mulai mengalir dengan senyum tipis yang merasa masih ada luka di hatinya.
“Tetapi, semua sudah terlambat. Elio sudah melepaskanku dan memilih Eiren. Bagaimana pun aku hanya masa lalu yang tidak akan menjadi masa depan.”
_____
“Saka, jangan gila. Ini akan jadi panjang,” ucap Feli ketika Saka sudah memberhentikan mobil tepat di depan rumah kedua orang tuanya.
Pagi-pagi, Saka sudah memkasa Feli untuk ikut ke rumah dan tidakk mengatakan apa pun. Tetapi, ketika sudah sampai di depan rumah, Saka baru mengatakan tujuannya dan itu membuar Feli tdak setuju.
Saka mematikan mesin mobil dan mulai melangkah keluar, membiarkan Feli tetap di dalam mobil. Kakinya segera melangkah memutari mobil dan menuju ke arah pintu tempat di mana Feli berada, membukanya perlahan dan menatap kekasihnya lembut.
“Ayo keluar, sayang,” ucap Saka dengan suara lembut.
__ADS_1
Feli menatap Saka dengan pandangan ragu. Beberapa kali dia melayangkan protes, tetapi tidak dihiraukan sama sekali. Sampai ketika Saka mengulurkan tangan ke arahnya dan menatap penuh keyakinan.
“Percaya saja sama aku, sayang. Semua akan baik-baik saja,” kata Saka penuh keyakinan.
Feli yang mendengar seakan mendapat semangat yang sama. Dengan perlahan, dia mulai turun dan meraih tangan Saka, menggenggamnya erat dan mulai masuk. Sesekali matanya menatap ke arah Saka yang terasa memiliki rasa percaya diri tinggi.
Tuhan, semoga semua berjalan dengan baik, batin Feli dengan perasaan bimbang.
“Sayang, kalian sudah datang?” tanya Nabila, mama Feli yang sudah menatap dengan senyum manis.
Feli hanya tersenyum canggung dan menatap ke arah mamanya lekat. Tangannya masih digenggam Saka erat, membuat kedua orang tua yang ada di depannya mengerutkan kening heran.
Sejak kapan mereka akur?, pikir kedua orang tua mereka ketika melihat Saka dan Feli datang bersama.
Saka menghentikan langkah ketika sudah dekat dengan mama dan papanya. Matanya menatap serius kedua orang tua yang juga sudah menatapnya. “Ma, Pa, Saka mau bicara sesuatu,” ucaap Saka dengan serius, membuat Feli yang ada di belakangnya semakin tidak karuan.
Tidak ada jawaban dari kedua orang tuanya, sampai pada akhirnya, Saka menatap keduanya orang tuanya. Saka menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.
“Saka ingin menikahi Feli, Ma, Pa,” lanjut Saka membuat kedua orang tuanya membelalak terkejut.
“Apa?” teriak Rino-papa Saka yang sudah bangkit dan menatap dengan tatapan lekat. “Kamu gila, Saka? Kamu mau menikahi Feli yang statusnya adalah adik kamu?”
“Tiri,” sahut Saka menekankan pada statusnya dengan Feli. “Aku dan Feli hanya saudara tiri dan tidak ada hubungan sama sekali. Jadi, tidak masalah jika aku menikah dengannya, kan?”
Rino menatap anaknya dengan rahang mengeras, membuat Feli yang ada di dekat Saka merasa was-was. Dai takut jika ada pertengkaran dalam keluarganya.
“Apa pun itu, Papa gak mau tahu dan tidak akan pernah memberikan restu untuk ide konyolmu itu,” jawab Rino dengan wajah serius.
Saka yang mendengar mengangguk mengerti dan menatap ke arah papanya lekat. “Kalau Papa gak mau kasih restu, gampang. Saka tinggal hamili Feli dan semua beres. Kalian akan merestui hubungan kami,” celetuk Saka tanpa rasa bersalah, membuat Feli membelalak kaget.
__ADS_1
Apa?, batin Feli merasa tidak percaya dengan ide konyol Saka. Dasar gila.
_____