
“Mas, bangun,” tegur Eiren yang merasa masih ada pelukan di pinggangnya.
Matahari sudah sangat menjulang tinggi ketika Eiren membuka mata dengan tangan Elio yang masih melingkar di pinggangnya sangat erat. Semalaman dia bahkan merasakan sikap Elio yang seperti anak kecil baginya. Elio saja tidak mau tidur jika tidak dengan mendekapnya. Rasanya itu seperti hal baru untuk Eiren.
Eiren merasakan ada gerakan disebelahnya dan menatap ke arah Elio yang tengah tertidur nyenyak. Perlahan, jemari lentik Eiren mengelus pelan wajah suaminya dan memberikan kecupan pelan di kening suaminya.
“Mas, bangun. Sudah siang ini,” ujar Eiren terus saja mencoba membangunkan suaminya, meski hasilnya tetap sama. Tidak mendapat respon apa pun dari pria yang ada di dekatnya.
Eiren menghela napas perlahan dan mencoba melepaskan dekapan Elio perlahan, tidak mau mengganggu tidur suaminya. Namun bukannya terlepas, dekapan tersebut semakin erat memeluknya, membuat Eiren hanya mampu berdiam diri dengan bola mata memutar.
Eiren diam sejenak, memikirkan apa yang dapat membangunkan suaminya. Sampai otak jahilnya menemukan cara untuk membuat Elio segera terbangun. Dengan perlahan, Eiren menarik napasnya dalam dan mengembuskannya perlahan.
“Aduh,” pekik Eiren keras. Dia sudah memasang wajah menahan sakit yang dibuat-buat.
Elio yang tengah asyik dalam mimpinya segera membuka atas dan dengan sigap melepaskan pelukannya. Dia sudah bangkit dan menatap Eiren dengan wajah cemas.
“Sayang, kenapa? Apanya yang sakit?” tanya Elio dengan wajah penuh kecemasan.
Eiren yang mendengar menata Elio dan mengulum sneyum. Dia segera bangkit dan menatap suaminya lembut, membuat Elio yang tengah dilanda panik mengerutkan kening heran.
“Sayang, kamu membohongiku?” tanya Elio dengan pandangan menyeldiik.
Eiren hanya menahan tawa dna melihat suaminya sudah mengelus dada lega. Dia tahu, ini sangat berisiko untuk Elio yang terlalu menyayanginya.
“Kamu kalau bercanda jangan begitu, sayang. Aku bahkan sampai mau jantungan rasanya. Aku takut kamu dan bayi kita kenapa-kenapa,” ucap Elio dengan tatapan kesal.
__ADS_1
Eiren mengerti hal itu dan memang sudah memprediksikannya. Dengan perlahan, dia mendekat ke arah Elio dan mengalungkan tangannya. Matanya menatap Elio yang tengah menahan kesal dan segera memberikan kecupan ringan di bibirnya. Matanya menatap suaminya dengan tatapan sangat lekat
“Maaf untuk itu, Mas. Soalnya kamu gak bangun-bangun. Aku kan jadi bingung mau banguninnya gimana,” jawab Eiren dengan wajah menyesal.
Elio yang mendengar meghela napas perlahan dan memeluk istrinya lembut. “Jangan ulangi lagi, sayang. Kamu boleh membangunkanku dengan apa pun, tetapi tidak dengan membohongi seperti tadi,” ucap Elio tegas.
Eiren mengangguk dan mendongak, menatap suaminya lekat. “Maaf. Aku cuma bingung mau membangunkanmu. Ini sudah hampir jam sembilan dan kamu sangat sulit untuk bangun.”
“Ini mash libur untukku, sayang. Kenapa harus cepat-cepat bangun,” ujar Elio mengingatkan Eiren mengenai cuti kerja yang sudah diambilnya.
Eiren yang mendengar berdecak eksal dan melepaskan pelukannya. Matanya menatap Elio dengan tatapan menyipit. “Kamu lupa, mas? Bukannya kita akan pergi ke kampus dan melakukan registrasi untuk kuliahku lagi,” jelas Eiren membuat Elio menepuk jidat seketika.
Lupa, batin elio dengan mata melirik ke arah Eiren lembut.
Eiren segera menyingkirkan selimut yang sejak tadi menutupi bagian kakinya dan segera melangkah turun. Dia baru akan menuju ke arah kamar mandi ketika Elio menggenggam tangannya, membuat Eiren menatap ke arah Elio dengan penun tanya.
Elio meletakan dagunya di pundak Eiren dan memeluk istrinya dari belakang. “Kalau kamu ke kampus, jangan sampai dekat sama cowok, ya,” pinta Elio dengan pandangan serius.
“Kenapa?” tanya Eiren pelan.
“Karen aku tidak suka. Aku cemburu kalau ada pria lain yang mendekatimu, sayang,” jelas Elio dengan rengekan kecil.
“Tetapi kamu suka dekat sama wanita lain,” celetuk Eiren sembari menatap wajah Elio dari samping.
Elio menghela napas perlahan dan mencium pipi istrinya. “Itu dulu, baby. Sekarang aku cuma mau kamu dan janji gak akan dekat dengan wanita lain. Aku hanya mencintaimu, gadis pembangkang yang sulit sekali diaturnya,” jelas Elio membuat Eiren tersipu malu.
__ADS_1
Pada akhirnya, Eiren mengangguk dan menatap ke arah Elio lembut. “Iya, aku gak akan dekat sama cowok, Mas. Lagi pula aku ini wanita yang sedang mengandung, bagaimana mereka mau dekat denganku,” jawab Eiren dengan nada sedikit kesal. Apa Elio lupa jika bahkan perutnya sudah sedikit membucit, meski belum terlalu terlihat.
Elio tidak menjawab dan malah mengecupi wajah Eiren penuh semangat, membuat gadis tersebut tersenyum kecil dan menerima semua perlakuan Elio. Hingga akhirnya Elio melepasksannya dan membiarkannya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
_____
Sudah tiga puluh menit Eiren berada di kantin kampus dengan wajah cemberut. Matanya menatap pria yang sedang menyesap kopi dengan begitu santainya, membuat Eiren merasa kesal.
“Mas, kamu kenapa harus ikut, sih,” gumam Eiren dengan nada suara kesal. Matanya masih menatap Elio dengan malas. Terkadang dia berdecih kecil dan mengalihkan pandangan dari Elio yang terasa santai.
Elio meletakan cangkir berisi kopi hangat dan menatap Eiren lekat. “Aku tidak mau ada yang mendekatimu di kampus ini, sayang. Bagaimana pun aku masih tetap tidak untuk melepaskanmu seorang diri. Aku takut kalau kamu nanti pergi lagi,” ucap elio tidak masuk akal. Padahal dia hanya tidak bisa jauh dari Eiren.
Eiren yang mendengar bahkan sudah mengerutkan kening heran. Ada begit banyak perubahan selama dirinya mengandung, terutama Elio yang semakin manja. Jika mengenai rasa cemburu dan over, itu sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Eiren saat ini.
Padahal dia suka dekat dengan wanita lian, batin Eiren merasa bahwa Elio terlalu egois. Namun, dari pada mengatakannya, dia lebih memilih untuk diam dan menghindari pertengkaran.
“Sayang,” panggil Elio, membuat Eiren yang sejak tadi diam menatap ke arahnya lekat.
“Apa aku terlalu mengekangmu?” tanya Elio dengan pandangan lekat.
Harusnya Eiren menajwab iya. Namun, hasilnya berbeda. Eiren menggeleng dan mengumbar senyum tanpa bebannya. Matnya menatap Elio yang ada di depannya penuh kasih sayang.
“Aku gak tertekan sama sekali kok, Mas. Aku senang mendapat perhatian darimu. Tetapi, alangkah baiknya kaalu kamu menyeleaikan tugasmu. Nanti kamu bsia jemput aku ketika semuanya sudah selesai,” ujar Eiren mencoba mengemukakan pendapatnya.
Namun, namanya Elio tetap saja Elio. Dia langsung menggeleng cepat dan tersenyum manis. “Aku tetap tidak mau meninggalkanmu. Lagi pula di kantor sudah ada karyawan yang bisa menghandle semuanya. Untuk apa aku membayar mereka kalau pada akhirnya masih tetap aku yang berjalan?” kata Elio santai.
__ADS_1
Eiren yang mendengar menghela naps lelah dan menatap Elio yang sudah tersenyum tanpa dosa di hadapannya. Dasar Mas Elio. Sikap cemburunya itu loh, gak bisa dikondisikan, batin Eiren diikuti tawa kecil. Mengingat sikap cemburu Elio yang terasa menyebalkan dan sulit diartikan.
_____